
YoLang mencari peta dan buku-buku tentang benua-benua lain sesuai informasi yang dia dapatkan dari paman AngLee, selama 2 jam dia berkeliling dalam perpustakaan kota Arung dan sudah beberapa buku yang dipegangnya. Selain buku pengetahuan tentang beberapa benua selain benua pulau hijau dia juga mengambil buku-buku pengetahuan tentang seluk-beluk perkapalan dan tentang pelayaran setelah itu dia menuju kemeja petugas perpustakaan,...
"Paman saya membutuhkan peta dan buku-buku ini... berapa biayanya paman...?",
"Ohh... apakah kamu seorang pelaut anak muda...? kamu juga seharusnya memiliki buku-buku pengetahuan tentang iklim dan cuaca serta buku ilmu perbintangan... karena pelayaran harus menguasai arah angin dan lokasi sesuai arah bintang... sebentar saya ambilkan...!", kata sang petugas kemudian menuju rak buku dan mengambil beberapa buku.
"Nah ini semuanya...! juga ini... buku dari seorang pelaut terkenal yang sudah berlayar sampai keujung dunia...! buku itu menceritakan pengalamannya berlayar selama 50 tahun...! dan bagus untuk menambah pengetahuanmu dalam berlayar nantinya... semuanya 2.500 koin emas...!", kata sang petugas.
"Ahh baiklah... aku ambil semuanya dan ini bayarannya... terimakasih paman...!", kata YoLang kemudian membayar dan meninggalkan perpustakaan itu.
Belum jauh YoLang meninggalkan perpustakaan dia mendengar panggilan dari adik iparnya LunGon.
"Kakak ipar...! maaf aku harus menemui teman wanitaku sebelumnya... ini dia... perkenalkan AngNie...! dia anak kedua paman AngLee adiknya AngBie yang kita temui pertama kali saat kepelabuhan...!", kata LunGon sambil memperkenalkan teman wanitanya.
"Ohh... apa kabar adik AngNie...! saya YoLang...!", kata YoLang menyambut perkenalan tersebut.
"Saya baik kakak YoLang...!", kata AngNie.
"Hmm... sebaiknya kita duduk direstoran itu sambil bicara dan minum teh hangat... tapi kalau adik berdua ingin makan sesuatu silahkan... aku yang akan menanggung biayanya...!", kata YoLang mengajak.
"Baiklah kak... ayo Nie... kita kesana...!", kata LunGon.
Kemudian mereka bertiga menuju ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari gedung perpustakaan, dan setelah memasuki restoran tersebut mereka mencari meja yang dekat dengan jendela dan memesan sepoci teh hangat dan beberapa makanan ringan.
"Bagaimana adik Gon... kamu terlihat seperti gelisah...? apa ada masalah dengan adik Nie...? tanya YoLang melihat dua sosok didepannya hanya diam tidak seorangpun yang memuka suara.
"Ahh...ohh... Itu... tidak kakak Yo... aku hanya canggung saja karena beberapa bulan tidak bertemu dengan adik AngNie...!", jawab LunGon yang menyembunyikan kegugupannya.
"Ahh.. begini kakak...! sebenarnya yang membuat kakak Gon risau dan gelisah adalah saya...! karena saya memaksa ingin ikut dengan kakak Gon... dan hal ini juga sudah saya sampaikan kepada kedua orangtuaku dan kakakku AngBie...! tapi kakak Gon masih ragu... katanya belum siap...! padahal saya tidak menuntut banyak... asalkan tetap berdekatan dengannya tidak terpisah lama dan jauh...! kata AngNie menjelaskan.
"Ohh... begitu...? wah kalau aku sih... gadis secantik adik AngNie tidak akan saya tinggalkan sendirian barang seharipun...! hehehe...", kata YoLang ambil bercanda.
"Kak... aku belum ada pekerjaan tetap nanti kalau dia ikut terus aku cari uangnya bagaimana...? sanggah LonGun
"Hehehe... kalian berdua kalau sudah saling suka tinggal bilang saja kekakakmu...! tidak ada masalah... apalagi dalam waktu dekat kita akan keBenua Besar...! mungkin 10 tahun kita disana...!", kata YoLang tambah mengoda sepasang anak mudah didepannya karena mendengar tarikan nafas yang dalam dari AngNie.
"Hufftt... terserah kakak Gon saja... aku hanya pasrah walau ditinggal selama itu...! tapi tidak menjamin jika nantinya ada yang lain datang melamarku...!", kata AngNie sambil menunduk.
__ADS_1
"Sudah sana bicarakan berdua... kita masih ada urusan di sini sampai 3 hari kedepan... dan aku akan menginap dipenginapan 'Anak Laut' dekat pelabuhan...!", kata YoLang memberikan waktu kepada keduanya.
"Baiklah kak... kami pergi dulu...!", kata LunGon kemudian membawa AngNie pergi.
Setelah menyelesaikan tagihan direstoran YoLang pergi kepenginapan yang dia maksudkan untuk menyewa sebuah kamar dan beristirahat disana sambil membaca buku-buku yang dia beli dari perpustakaan kota Arung, dengan kemampuannya YoLang dapat membaca dengan cepat dan memindahkan semua isi buku-buku tersebut kedalam pikirannya sambil dia memahami dengan sempurna isi buku-buku tersebut dia mulai mendapatkan berbagai ide kedepannya...
"Hmm... kayu yang terbaik untuk bahan membuat kapal hanya ada di Benua Merah...! mmm... 'Kayu Maha Dewa' umur diatas 100 tahun... sangat sulit untuk dicari... seandainya ada informasi pembuatan kapal dari bahan logam...? tapi seharusnya bisa... apa aku harus mencobanya...? Ahh... nanti saja...!", bergumam YoLang dalam hati.
"Aku juga harus mengajarkan ilmu navigasi ini dan ilmu perbintangan kepada YoLun... hehehe... pemilik Tubuh Roh akan dengan cepat memahami isi buku-buku ini...!", kata YoLang dalam hati.
Hari yang ditunggu-tunggu YoLang akhirnya tiba setelah 3 hari menunggu dia mendapat kabar dari adiknya LunGon bahwa ayah AngNie sedang mencarinya untuk memperlihatkan kapal yang akan disewa oleh YoLang, dan kapal tersebut telah selesai melewati tahap uji coba berlayarnya dan sedang bersandar di pelabuhan. YoLang segera bergegas kepelabuhan untuk menemui paman AngLee yang telah menunggunya disana...
"Nak YoLang...! ahh... aku telah menunggumu...! nah itu lihatlah kapal yang kumaksudkan...! bagaimana penilaianmu...?", kata paman AngLee.
"Hmm... kapal yang besar... dan terlihat kuat dan kokoh...!", jawab YoLang.
"Tentu saja nak Yo...! karena kapal itu baru sebulan yang lalu selesai pembuatannya... bahan-bahan dan orang yang membuatnya berasal dari Benua Merah... dan aku telah menghabiskan setengah kekayaanku hanya untuk membuat kapal ini...!", kata paman AngLee.
"Woahh... besar sekali biayanya...?", kata YoLang yang terkejut mendengarnya.
"Nak YoLang...! kapal ini dapat mengangkut barang dalam jumlah besar... dan dilantai atas khusus untuk membawa penumpang dan bisa menampung sampai 100 orang... mari kita naik dan melihat-lihat kedalam kapal...!", kata paman AngLee menerangkan kemudian mengajak YoLang untuk naik keatas kapal.
Sesampainya mereka diatas kapal YoLang melihat betapa luasnya kapal itu dengan panjang 40 meter dan lebar 12 meter kemudian tingginya 8 meter jika diukur dari bawah kapal, didalam kapal terdapat kamar-kamar untuk para penumpang dan dibagian bawahnya terdapat ruangan-ruangan untuk menempatkan barang-barang muatan, dia kembali keatas kapal dan menuju bagian depan atau anjungan kapal. Dari pengetahuan yang dia baca kapal ini adalah jenis kapal layar segitiga yang bergerak dengan kekuatan angin, dengan 3 buah layar besar berbentuk segitiga terpasang kokoh ditiga buah tiang yang terpancang dengan kuat dibadan kapal. Kemudian puluhan tali penahan dan beberapa tali pengendali layar juga ada beberapa layar kecil didepan dan belakang kapal sebagai layar bantu untuk mendorong kapal. Ditengah kekagumannya melihat kondisi dan suasana kapal terlihat paman AngLee datang mendekat dengan seseorang...
"Nak Yo... Ini adalah kepala tukang yang membuat kapal ini...!", kata paman AngLee
"Ahh... salam paman...! kenalkan nama saya YoLang... yang akan menyewa kapal ini...! dan paman...?", kata YoLang sambil bertanya kepada kepala tukang tersebut.
"Saya AmPhong...! asli penduduk Benua Pulau Merah dan keluarga kami ahli membuat kapal... kapal ini kami bangun selama 8 bulan karena agak besar ukurannya...! dan seperti yang tuan muda YoLang lihat... sebuah kapal yang kuat dan cepat...! hehehe...", kata paman AmPhong bangga menunjukkan buah karyanya bersama anggota keluarganya.
"Saya kagum dan sangat terkesan paman AmPhong... apakah paman mempunyai gambar struktur kapal ini...?", tanya YoLang.
"Oh ya tentu...! setiap kami membuat sebuah kapal... kami membuat gambarnya terlebih dahulu... mulai dari rangka kapal... strukur bangunan kapal... dan bagian-bagian kapal lainnya... seperti tempat barang... kamar... anjungan dan ruang kemudi kapal... semua bagian kapal ini lengkap gambarnya... dan biasanya setelah menyerahkan kapal kepada pemiliknya... gambar-gambar tersebut kami serahkan kepada pemilik kapal atau kami letakkan diruangan kapten kapal...!", kata paman AmPhong menjelaskan.
"Ohh... begitu... baiklah paman AmPhong terimakasih informasinya...!", kata YoLang.
"Sama-sama tuan muda...! saya pamit dulu mau menyelesaikan beberapa urusan dengan tuan AngLee...!", kata paman AmPhong kemudian pamit.
__ADS_1
Diatas kapal YoLang masih diam dan merenung... berbagai macam ide dan rencana terlintas dalam pikirannya dan dia mulai menetapkan satu persatu rencananya, pertama dia akan langsung membeli kapal tersebut kemudian memberikan nama kapal dengan 'Naga Laut' dan akan menyewa paman AmPhong dan keluarganya untuk mengajarkan YoLang dan anggota keluarganya untuk mengendalikan kapal sambil berlayar menuju Benua Pulau Merah tempat paman AmPhong berasal.
"Hmm.. sebaiknya aku segera memberitahu anggota keluarga lainnya dan bersiap-siap...", katanya bergumam dalam hati, kemudian melihat LunGon yang sedang berbincang dengan AngBie dan AngNie,...
"Adik AngBie...! tolong sampaikan kepada ayahmu... saya ingin bertemu dan akan segera menyelesaikan pembicaraan saya tentang kapal ini...!", kata YoLang.
"Baik kakak Yo... akan saya sampaikan...!", kata AngBie kemudian berlalu.
"Adik Gon dan adik Nie bagaimana kalian berdua apa sudah ada titik temu dengan masalah kalian...?", tanya YoLang kepada pasangan itu.
"Hehehe... karena kakak sudah menjamin... maka semalam saya sudah melamar AngNie kepada kedua orangtuanya...! dan tinggal menunggu acara lamaran yang resmi dari ayah... yang rencananya beberapa minggu kedepan akan bertemu dengan keluarga AngNie...!", kata LunGon senang dan terlihat AngNie tertunduk malu.
"Baguslah... setelah resmi kalian ikut kami berpetualang ke Benua Pulau Merah...! Bagaimana...?", kata YoLang menawarkan.
"Aku ikut kakak Gon saja...!", kata AngNie yang malu-malu.
"Kami pasti akan ikut kakak... sambil mencari pengalaman...!", jawab LunGon kemudian terlihat AngBie datang mendekati mereka,...
"Kakak Yo... ayah sudah menunggu diruangan kapten...!", kata AngBie.
"Baik... terimakasih... saya kesana sekarang", kata YoLang kemudian berjalan menuju kamar yang diperuntukkan untuk kapten kapal menemui paman AngLee yang sedang menunggunya ditempat tersebut...
"Mari masuk nak Yo...! nah silahkan duduk... bagaimana rencanamu selanjutnya nak Yo...?", tanya paman AngLee.
"Begini paman... rencana awal saya akan menyewa kapal ini... tapi setelah melihatnya saya jadi tertarik untuk membelinya... bagaimana paman...? persoalan harga silahkan paman kemukakan...!", kata YoLang langsung tanpa berbelit-belit.
"Waahh... kamu serius nak Yo...? hmm... nak YoLang kembalikan saja nilai yang saya keluarkan selama pembuatan kapal ini...! saya tidak akan mengambil untung...! hanya kalau saya akan mengirim barang keBenua Pulau Merah...? nak YoLang jangan memasang tarip mahal kepada saya...! bagaimana...?", kata paman AngLee melakukan negosiasi.
"Hahaha... paman sudah membantu saya... jika paman akan mengirim barang dengan menggunakan kapal saya... paman tidak usah membayarnya...! hitung-hitung kita akan menjadi keluarga juga nantinya...? karena saya mendengar adik ipar saya sudah mau melamar anak paman Lee...! hehehe...", kata YoLang tertawa senang.
"Ahh... iya... Itu keduanya sudah lama berhubungan dan kami sudah lama mengetahuinya...! dan nak Gon juga adalah anak yang baik karena sudah lama bekerja dengan keluarga kami dipelabuhan ini...! dan kembali kepersoalan kapal... nak YoLang bisa membayar saya sebesar 80 juta koin emas...! itu yang saya keluarkan waktu membuat kapal ini...!", kata paman AngLee.
"Ahh... baiklah saya akan membayar sebesar itu... dan mohon bantuan paman untuk menyampaikan keinginan saya untuk menyewa paman AmPhong dan anggotanya untuk ikut saya...! dan berlayar sampai Benua Pulau Merah...!", kata YoLang kemudian menyiapkan koin emas seperti permintaan paman AngLee dan memasukkan koin emas tersebut kedalam cincin jiwa dasar-3.
"Ohh... baik akan saya sampaikan kepada saudara AmPhong...! karena mereka juga akan kembali pulang keBenua Pulau Merah setelah selesai dengan kapal ini...!", kata paman AngLee
"Baik paman... ini pembayarannya... silahkan paman periksa...!", kata YoLang sambil menyerahkan cincin jiwa yang telah dia isi dengan 80 juta koin emas kemudian menjelaskan cara penggunaan cincin jiwa tersebut kepada paman AngLee.
__ADS_1
"Ahh... cincin penyimpanan...? ini barang langka nak Yo...! ahh... sudah sesuai...! surat-surat pembelian dan akta kepemilikan kapal akan saya urus semuanya nak YoLang tinggal menerima bersih nantinya mungkin 2 hari lagi selesai...!", jawab paman AngLee yang senang mendapatkan cincin jiwa.
"Baik paman dan untuk sementara kapal akan saya titipkan disini dan adik ipar saya LunGon yang akan menjaganya...!", kata YoLang kemudian berpamitan.