
Pembangunan desa YaoYo masih berlanjut dan menurut perkiraan paman MuDhong 3 bulan lagi selesai 100%, dan semua itu meliputi 150 buah rumah tinggal, 1 gedung perguruan, 1 Paviliun besar untuk Klan Mu, 2 Lumbung desa, 2 pos penjaga dan gerbang desa, 1 rumah makan, 1 toko obat dan 1 penginapan kapasitas 50 orang, ditambah perluasan jalan utama desa dan jalan cabang dalam desa, lahan pertanian serta pengairannya, kandang peternakan dan area nelayan danau.
Setelah mendengar semua proses pembangunan secara keseluruhan YoLang terkagum-kagum untuk itu dia menambah lagi keuangan paman MuDhong sebanyak 5 juta koin emas serta meminta untuk menyiapkan peralatan rumahtangga dikediamannya diganti dengan yang terbaik, begitu juga yang dipenginapan serta fasilitas perguruan dan gedung Klan Mu.
YoLang melihat semuanya berjalan dengan baik dan sesuai rencana makanya dia memutuskan untuk kembali ke kota Klentang, kemudian dia menemui paman MuDhong untuk berpamitan.
"Paman saya akan kembali ke kota Klentang dan kalau ada urusan yang mendesak tolong segera hubungi saya...!", kata YoLang.
"Baik tuan muda... akan saya laksanakan dengan baik sesuai petunjuk yang sudah tuan muda sampaikan...!", kata paman MuDhong.
Setelah berpamitan dia kembali kekediamannya untuk melihat kesiapan bibi Maya dan putrinya Mayang.
"Bagaimana bibi...? apakah sudah siap...?", tanya YoLang.
"Sudah nak Yo...!", kata bibi Maya.
Kemudian dia keluar rumah dan mengeluarkan siHitam dan siPutih,..
Whhuuuzzz...
Whhuuuzzz...
Kkhhaaakkkk... kkhhaaakkkk...
"Bibi Maya dan Mayang bersama siPutih... aku dan kakek dengan siHitam...!", kata YoLang.
"Paman kami berangkat...!", kata YoLang.
"Hati-hati tuan muda...!", kata paman MuDhong.
"Ayo Jula... Juli...!", perintah YoLang kepada kedua hewan peliharaannya itu.
Whuukk... whuukk... whuukk... whuukk...
Kepakan sayap 2 ekor Rajawali membawa YoLang dan rombongannya keangkasa, terbang tinggi sehingga terlihat hanya 2 buah titik hitam yang melayang dengan cepat menuju kota Klentang kearah bagian selatan dari desa YaoYo. Terlihat wajah kegirangan dari siceloteh Mayang dan tak henti-hentinya dia melihat kekiri dan kanan menikmati pemandangan alam dari ketinggian angkasa daratan utara ini, dan mereka telah mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dengan keadaan suhu yang dingin dan angin yang kencang diketinggian dengan memakai pakaian tebal dan berbulu melingkar dari kepala sampai leher dan itu adalah pakaian khas daratan utara daerah yang bersuhu dingin.
Perjalanan dengan menunggang burung Rajawali menuju kota Klentang, YoLang memperkirakan akan memakan waktu 2 hari, karena kekuatan hewan Surgawi ini belum maksimal dan saat kekuatannya sudah ditingkat Alam Dewa kecepatannya akan seperti lesatan cahaya. Sudah seharian penuh mereka terbang dan mereka telah melewati perbatasan daratan utara dan daratan tengah, terlihat disamping kiri adalah kawasan hutan Tembo dan atas perintah YoLang, Jula dan Juli mulai menurunkan ketinggian terbangnya kebawah untuk mencari tempat beristirahat yang aman.
Hari telah gelap dipinggiran sebuah hutan tampak 4 sosok sedang mengelilingi api unggun untuk menghangatkan badan, khususnya kedua wanita yaitu Maya dan putrinya Mayang dan tanpa sepengetahuan ibu dan anaknya ini sang Dewa Obat yang menyamar sebagai kakek Yao telah membuat Array Formasi Perlindungan seluas 50 meter persegi untuk mereka. Dengan posisi bermeditasi keempat sosok itu melewati malam dengan tenang tanpa gangguan, hanya suara jangkrik dan burung malam yang menemani keheningan meditasi mereka.
Matahari belum bersinar kabut embun masih menyelimuti kawasan hutan itu tapi terlihat keempat sosok mulai bersiap melanjutkan perjalanan mereka menuju kota Klentang.
Whuukk... whuukk...
whuukk... whuukk...
2 ekor Rajawali kembali mengepakkan sayapnya, terbang keangkasa membawa YoLang dan kakek Yao dipunggung Jula siHitam kemudian bibi Maya dan putrinya Mayang dipunggung Juli siPutih.
"Ayo Juli... balapan sama Jula...", siceloteh mulai beraksi.
Khaaakkk...
"Lewat diatas mereka cepaattt...?", teriak Mayang.
__ADS_1
Wuuuussss...
"Bagus Juli... tambah kecepatannya...!", kata Mayang.
Wuuuuuussssss...
"Hehe.. hehe...! perempuan didepan...! dan selamanya para pria mengekor...!", kata siceloteh lagi.
"Mayang...!", bibi Maya melotot tajam kearah putrinya.
"Hati-hati Mayang...!", kata YoLang.
"Tenang kakak... siPutih sudah sejiwa denganku... ayo Juli gaaasss...!", kata Mayang.
Wuuuussssss...
Kakek Yao hanya tersenyum melihat keusilan Mayang dan dia senang melihat keceriaan siputri kecil itu, tanpa istirahat mereka terus melesat diangkasa biru padahal matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka tanda bahwa mereka telah melewati makan siang mereka. 5 jam kemudian saat matahari sudah condong kebarat mereka mulai melihat keberadaan gedung-gedung Kota Klentang, melewati angkasa kota itu terlihat kesibukan penduduk dan beberapa saat kemudian 2 ekor Rajawali mendarat dengan selamat diarea belakang paviliun keluarga PiYo. Mereka berada tepat dibawah pondok latihan YoLang.
"Akhirnya aku pulang...!", gumam YoLang dalam hati.
"Kakak itukah rumahmu...?", kata Mayang sambil menunjuk sebuah pondok yang berada diatas pohon.
"Ya begitulah... tapi nantinya itu bakal menjadi rumah Jula dan Juli serta anak-anak mereka...", kata YoLang.
Kkhhaaaakkkk.... kkhhaaaakkkk.... (yes... dapat rumah baru kata kedua rajawali)
"Bibi Maya... dan Mayang tunggu sebentar...!", kata YoLang kemudian memanjat tali menuju pondoknya.
Didalam pondok YoLang mengatur tempat untuk Jula dan Juli serta mengeluarkan sarang mereka dari dalam cincin jiwanya dimana terdapat dua butir telur rajawali kemudian memeriksa keadaan telur-telur itu serta sedikit memberikan energi spiritualnya agar kedua telur itu cepat menetas.
"Baik guru...! murid tinggal dulu...", kata sang murid dengan hormat, kemudian turun kembali kebawah pohon menemui bibi Maya dan Mayang.
"Bibi... Mayang ayo...! ikut saya menemui kedua orangtuaku dan adikku...!", ajak YoLang.
Bertiga mereka menuju paviliun keluarga PiYo dan MaiLang, terlihat para pelayan sedang mengurus halaman dan gudang belakangan paviliun kemudian mereka masuk kedalam tapi hanya melihat LoryMei diruangan tengah sedang asyik membaca sebuah kitab,...
"Adikku yang cantik...! apa kabarmu...? kakak pulang...!", sapa YoLang mengagetkan sang adik.
"Kakaaakkk...!", teriak sang adik sambil berlari mendapatkan sang kakak kemudian memeluk melepas rindu.
"Hehehe... adik kecilku tambah cantik...!", kata sang kakak sambil membelai rambut adiknya yang mulai panjang.
Tiba-tiba muncul 2 sosok berwajah cantik dari arah belakang YoLang,...
"Ehh... ada Dewi-Dewi dari surga...! kakak...! siapa mereka...?", tanya LoryMei sambil tetap menggandeng tangan kakaknya.
"Ohh... iya... maaf... kenalkan ini bibi Maya dan ini putrinya Mayang...!", kata sang kakak menjelaskan.
"Salam bibi... saudari Mayang... kenalkan saya LoryMei... putri tunggal keluarga PiYo dan MaiLang dan ini putra tunggal mereka juga... hehehe...", kata LoryMei memperkenalkan dirinya dan menunjuk kakaknya.
"Salam nona Lory...!", kata bibi Maya.
"Duhh... cantiknya kakak Lory... panggil aku adik saja kak...! umur kakak lebih tua setahun dariku... itu kata kakak Yo... dan aku punya teman namanya Juli... nanti kita main sama-sama...!", celotehnya kambuh.
__ADS_1
"Ohh... kemana temanmu adik May...! kenapa tidak diajak kesini juga...! ehh... kamu bisa guling-guling diudara tidak...? aku bisa...!", kehebohan mulai terjadi.
"Adik... ayah dan ibu... kemana...?", tanya YoLang.
"Pergi keperguruan kak...! sebentar lagi pulang... tunggu saja... ayo Mayang...! ikut aku kekamarku...!", kata LoryMei sambil mengajak Mayang.
"Bibi Yul...!", kata YoLang memanggil pelayan dipaviliunnya.
"Saya tuan muda...!", bawang sang pelayan.
"Tolong bantu... antarkan bibi Maya kekamar tamu disebelah kanan... dan carikan paman Wei... aku ada perlu...!", kata YoLang.
"Bibi Maya istirahat dulu... dan silahkan ikut bibi Yul kekamar...!", kata YoLang.
"Baiklah nak Yo...", kata bibi Maya sambil mengikuti pelayan.
Perbincangan diruang tengah itu berhenti ketika YoLang tinggal seorang diri sambil menunggu seseorang yang dibutuhkannya.
"Tuan muda memanggil saya...?", suara seseorang.
"Ahh... betul paman Wei... kesini paman...! duduklah...!, begini... saya minta dicarikan tukang untuk membuat tiga buah pondok...! tempatnya persis dibawah pohon tempat pondok saya berlatih...! buat berjejer dan setiap pondok diberi jarak 10 meter dan ukurannya 6x6 meter... lengkap dengan kamar mandinya...!", kata YoLang sambil menjelaskan tujuannya.
"Segera saya laksanakan tuan muda...!", jawab sang pengurus rumahtangga paviliun itu.
"Baik... terimakasih paman Wei...!", kata YoLang.
Kemudian YoLang menuju keberanda paviliun dan duduk santai sambil menunggu kedua orangtuanya pulang. Alasan YoLang untuk segera membuat pondok latihan sebanyak 3 buah itu karena dalam perjalanan pulang dia telah diberitahu oleh Dewa Obat gurunya, bahwa sang guru telah mendapat pesan dari langit untuk melatih dan membimbing LoryMei dan Mayang menjadi kuat untuk membantu YoLang atas tugas-tugas dari Langit dimasa depan.
"Silahkan diminum teh hangatnya tuan muda...", kata bibi Yul.
"Terimakasih bibi Yul...", kata YoLang.
Sambil minum teh hangat YoLang memikirkan beberapa rencana untuk peningkatan kekuatannya dan keluarganya juga bibi Maya dan Mayang serta kedua Rajawali peliharaannya, juga rencana petualangannya kedaratan selatan yang akan membawa serta kakek dan nenek buyutnya, karena keluarga nenek buyutnya masih ada yang tinggal didaratan selatan. Dari kejauhan terdengar derap langkah kuda menarik kereta, dan terlihat kereta kuda milik keluarganya memasuki halaman paviliun,
"Ohh... anakku... kamu sudah pulang...? sejak kapan kamu tiba...?", kata MaiLang saat turun dari kereta dan terus berlari mendapatkan anaknya kemudian memeluk melepas rindu.
"Sudah satu jam ibu...! Salam ayah...!", sambut YoLang sambil mencium kedua telapak tangan orangtuanya.
"Bagaimana petualanganmu nak...?", tanya PiYo sang ayah.
"Suamiku...! kita kedalam saja... dan makan malam...!", potong MaiLang sambil menarik sang putra masuk kedalam menuju ruang makan.
"Ayah... ibu...!", teriak sang putri rumah sambil menggandeng tangan seorang gadis cantik sebayanya.
"Kenalkan... ini Mayang calon kakak iparku...! hehehe...!", kata LoryMei.
"Lory...? maaf... salam paman... bibi...", kata Mayang hormat.
"Ehh... ini... nak Mayang siapa Lory...?", tanya MaiLang kaget dan bingung ada orang asing dikediamannya.
"Tuh...!", Lory menunjuk YoLang untuk memberikan penjelasan.
"Ini.. anu... ayah ibu... nanti aku jelaskan... kita duduk dulu...ennn... sebentar...!", kata sang putra rumah kikuk kemudian berlalu menuju sayap paviliun bagian selatan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian YoLang kembali keruang makan diikuti seorang perempuan dewasa yang cantik.
"Ayah.. ibu... kenalkan ini bibi Maya dan itu putrinya Mayang...! mereka berasal dari kota Banto daratan utara...! selebihnya kita makan malam dulu... ayo silahkan duduk bibi Maya...!", jelas YoLang sambil mengajak bibi Maya duduk bersama.