Titisan Dewa

Titisan Dewa
Desa Watu


__ADS_3

Sambil makan perbincangan antara ketiganya berlangsung sampai larut dan dari perbincangan yang akrab itu YoLang dan gurunya mengetahui sebab berkurangnya penduduk desa Watu tersebut. Pengenaan pajak yang tinggi oleh pemerintah Kota Lamur menyebabkan banyak penduduk pindah, pekerjaan penduduk desa pada umumnya bertani, berburu dan mencari tanaman herbal mirip desa Klentang sebelum berkembang menjadi kota.


"Paman Ekes kalau tanaman herbal oleh penduduk desa dijual atau ada alkemis didesa ini yang meraciknya...?", tanya YoLang.


"Kalau itu oleh penduduk ditampung dulu dilumbung desa kemudian setiap minggunya dijual ke kota Lamur bersama hasil lainnya...", kata paman Ekes pemilik penginapan.


"Jenis herbal apa saja hasil desa ini paman...?", kata YoLang selanjutnya.


"Banyak ada tingkat 4~8 dan ada 1-2 jenis herbal tingkat tinggi... itu semua dijual ke kota karena didesa ini tidak ada alkemis...", kata paman Ekes.


"Saudara Ekes... bisakah kami melihat herbal herbal itu...? kebetulan saya seorang alkemis" kata sang guru yang menyamar jadi kakeknya dengan nama kakek Yao.


"Wah.. sudah malam mungkin besok pagi baru bisa... kebetulan kepala desa adalah kakakku dan dia yang memegang kunci lumbung herbal...", kata paman Ekes.


"Masih ada waktu karena kami berencana melanjutkan perjalanan siang hari... siapa tau ada herbal yang kami butuhkan...?", kata kakek Yao yang sedang menyamar.


Guru dan Murid kembali kekamar penginapan mereka bukan untuk beristirahat tapi keduanya melakukan meditasi dikamar masing-masing, ada terlintas dipikiran YoLang untuk sedikit membantu kesulitan yang dialami penduduk desa Watu ini. Keesokan harinya dengan diantar oleh paman Ekes sang pemilik penginapan mereka menuju lumbung desa yang tempatnya berada disamping rumah kepala desa yang juga adalah kakak paman Ekes.


"Salam kakak... perkenalkan mereka ini adalah saudara Yao seorang alkemis dan ini cucunya YoLang, mereka berniat untuk melihat tanaman herbal dilumbung mungkin ada yang cocok...", kata paman Ekes kepada kakaknya sang kepala desa.


"Wah... salam saudara Yao... nak YoLang dan adik... mari ikuti aku kelumbung...", kata sang kepala desa sambil menuju lumbung yang berada disamping rumahnya.


Ditempat penyimpanan herbal itu juga ada hasil pertanian lainnya yang siap dijual, tapi YoLang dan gurunya hanya tertarik dengan tanaman herbal, setelah melihat tumpukan tanaman herbal didepannya YoLang melihat ada 2 jenis yang tingkat tinggi dan selebihnya tingkat sedang dan rendah.


"Paman... biasanya kalau dijual dikota berapa hasil yang didapat kalau semua laku dijual...?", tanya YoLang.

__ADS_1


"Dari semua hasil desa kalau dijual kekota Lamur hasil tanaman herbal yang banyak senilai 60 sampai 80 koin emas... itu akan dibagikan merata kesetiap penduduk Desa Watu ini...", kata kepala desa.


"Baik paman kami akan membeli semua tanaman herbal ini bagaimana...?", kata YoLang sambil melirik gurunya yang sedang mengangguk menyetujui tindakan muridnya.


"Wah... saudara Yao... nak YoLang... apakah serius mau membeli semuanya...?", kata kepala desa terkejut dan senang mendengar maksud YoLang.


"Iya paman... kalau paman setuju kami akan membayarnya sekarang... bagaimana...?", kata YoLang selanjutnya.


"Ah... baik... baik...! kami setuju saja tentu dengan harga yang sesuai dengan dikota, kurang sedikit tidak apa-apa... tunggu sebentar saya siapkan karung untuk mengepaknya...", kata sang kepala desa.


"Tidak usah saudara kepala desa... mohon ijin saya menggunakan tempat ini untuk sekalian meracik herbal-herbal ini biar tidak repot membawanya...", kata Dewa Obat yang menyamar.


"Betul paman kakek saya akan langsung membuat Obat karena jenis herbal yang ada sudah lengkap untuk beberapa jenis Pil... dan ini paman tolong diterima sebagai pembayaran tanaman herbal itu...", kata YoLang menyambung sambil memberikan kantung berisikan 200 koin emas.


"Ahhh... ini terlalu banyak nak YoLang...", kata kepala desa.


Transaksi sudah terjadi dan saat ini Guru dan Murid sedang membuat Pil di lumbung desa Watu.


"Muridku...! sebaiknya kita bagi 2 herbal herbal ini aku membuat Pil Energi (untuk menambah energi murni menjadi kekuatan) dan Pil Peri Biru (untuk menyembuhkan luka luar secara instan)... dan kamu buatlah Pil Body (untuk menyembuhkan sakit Flu dan Demam) dan Pil Stamina (untuk menambah Stamina tubuh)...!", kata sang guru sambil memilah tumpukan herbal menjadi 2 bagian.


"Baik Guru...!", kata sang murid.


Dengan kemampuan Guru dan Murid saat ini untuk membuat Pil tingkat menengah dan tinggi mereka tidak menggunakan tungku (*Teknik Kuno), setelah mereka memisahkan herbal sesuai resep masing-masing langsung mereka menyemburkan api kearah tumpukkan herbal, YoLang sekali meracik 5 batch dan gurunya langsung sekaligus semua herbal untuk satu jenis Pil (maklum Dewa*).


Proses pembuatan Pil oleh keduanya berlangsung selama 3 jam dan setelah selesai nampaklah puluhan botol giok dengan tutupnya berlainan warna itu adalah untuk membedakan jenis obat didalamnya, ratusan Pil telah dibuat oleh mereka berdua kemudian keluar dari lumbung dan menemui sang kepala desa dan adiknya paman Ekes sang pemilik penginapan di desa Watu itu.

__ADS_1


"Paman Ekes dan paman kepala desa... kami sudah selesai dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami... tapi sebelumnya ini ada hadiah buat paman berdua dan tolong bantu bagikan kepada seluruh warga desa yang membutuhkan jangan dipungut biaya...", kata YoLang sambil menyerahkan puluhan botol giok berisikan Pil dan menjelaskan jenis dan nama Pil serta kegunaannya.


"Terima kasih...! saudara Yao dan nak YoLang... atas nama penduduk desa Watu ini kami sekali lagi mengucapkan terimakasih... budi baik kalian tidak akan kami lupakan dan semoga tiba ditujuan dengan selamat...!", kata sang kepala desa dengan hormat.


"Sama-sama paman... hal itu sudah menjadi kewajiban kami yang mempunyai kelebihan sedikit untuk membantu... baiklah kami pamit...!", kata YoLang sambil berjalan meninggalkan desa Watu.


Perjalanan ke Kota Lamur dari desa Watu membutuhkan waktu 4 hari dan melewati desa Linow sedangkan untuk mencapai desa Linow dari desa Watu membutuhkan waktu selama 2 hari, setelah keluar desa Watu kembali sosok murid dan guru itu melintasi hutan, perbukitan sampai gunung, hal ini dilakukan karena mereka juga menjelajah wilayah hutan untuk mencari herbal.


Beberapa tempat dilalui dan mereka mendapatkan beberapa jenis tanaman herbal, jikalau malam tiba berdua mencari gua untuk berlindung dari dinginnya malam.


"Guru...! apakah kita akan singgah di desa berikutnya atau langsung menuju kota...?", kata sang murid.


"Sebaiknya kita singgah dulu sambil melihat- lihat... siapa tau ada yang bisa kita lakukan disana...!", kata sang guru.


Setelah 2 hari meninggalkan desa Watu sampailah mereka di desa Linow, keadaan desa hampir sama dengan desa sebelumnya hanya perbedaannya desanya lebih besar dari desa Watu dan didesa Linow ini ada berdiri beberapa kios. Kemudian mereka mencari penginapan dan mendapatkan sebuah gedung berlantai 3, restoran kecil dilantai 1 dan 2 lantai diatasnya sebagai penginapan.


"Salam bibi... kami memerlukan 2 buah kamar yang terbaik untuk semalam...", kata YoLang kepada resepsionis penginapan itu.


"Semua kamar sama biayanya semalam 500 perak sudah dengan makan malamnya...", kata sang resepsionis.


"Baik kami ambil 2 kamar yang bersebelahan dan makanannya biar kami kerestoran...", kata YoLang sambil memberikan 2 koin emas.


"Ahh... baik sekali terimakasih nak.. mari ikut saya...", kata sang resepsionis senang mendapatkan tips yang lumayan banyak.


Mendapatkan kamar bersebelahan dilantai 2 YoLang dan gurunya langsung beristirahat menunggu tibanya makan malam, karena mereka merencanakan makan sambil mencari informasi tentang desa Linow tersebut. Saat di restoran sudah ada 2 meja terisi beberapa orang di tiap meja, dengan kemampuan yang guru dan murid ini miliki mereka bisa mendengar percakapan yang terjadi di meja sebelah kanan dan didepan mereka.

__ADS_1


Dari yang mereka dengarkan beberapa masalah sama dengan desa Watu, yaitu masalah pajak pemerintah Kota dan alasan berpindahnya beberapa warga desa kedaratan tengah.


__ADS_2