
Pertemuan dengan keluarga Anbin mendapat angin segar bagi YoLang dan YoLun (nama baru bagi kakak Lun-nya yang tidak dia sengaja ucapkan saat bertemu Anbin) karena setidaknya mereka mengetahui asal keluarga Lun berada, yaitu dikota Arung daratan selatan benua Pulau Hijau ini. YoLang dan YoLun tidak menunggu lama dikota Lamur, setelah berpamitan dengan keluarga Anbin mereka langsung berangkat menuju kota Klentang dengan menggunakan sarana teleportasi milik YoLang dan sebelumnya YoLang telah menawarkan kepada keluarga Anbin untuk menemui paman MuDhong di desa YaoYo apabila masih menemui kesulitan dikota Lamur ini dan meninggalkan sepucuk surat untuk mereka bawa dan memberikan surat itu kepada paman MuDhong.
"Kak... kita akan segera berpindah ke kota Klentang... kakak istirahat saja di istana... nanti aku jemput kalau sudah sampai dirumahku...!", kata YoLang.
"Baik adik... kirim aku keIstana Naga Emas...!", kata YoLun menurut.
Whuuuzzz...
Seketika YoLun menghilang dan YoLang mulai membuat gerbang teleportasi dan memikirkan pondok para Rajawali yang berada diatas pohon yang juga merupakan pondoknya yang pertama saat memulai latihan dengan guru pertamanya sang Dewa Cahaya, setelah gerbang portal terbentuk YoLang masuk kedalamnya dan dalam hitungan detik dia sudah berada dipondok para Rajawali.
Khaakkk... khaakkk... (Ah... tuan bikin kaget saja, kata siHitam)
"Jula... Juli... bagaimana kabar kalian dan anak-anak kalian...?", sapa YoLang kepada para hewan Surgawi itu kemudian membelai kepala SiHitam dan SiPutih dan memberikan mereka masing-masing sepotong daging.
Khaaakkk... khaaakkk...
"Bagus... hei para junior... minta makanan kalian kepada ayah dan ibumu...!", katanya kepada para Rajawali kecil itu.
Chiiittt... chiiiittt...
Whuuuuzzzz...
YoLun yang lagi bermeditasi tiba-tiba ditarik oleh YoLang keluar.
"Adik... kalau mau panggil bilang-bilang dulu...! kakak lagi fokus mau meditasi jadi kaget ditarik keluar...!", kata YoLun karena terkejut tiba-tiba ada kekuatan yang menyedotnya keluar dari dunia jiwa.
"Maaf kakak... nih... kenalkan ini Jula siHitam dan ini Juli siPutih... dan Jula... Juli... ini YoLun nyonya kalian yang pertama dan siCeloteh nanti yang kedua... hehehe...", kata Yolang kepada mereka.
"Hai Jula... Juli...?", kata YoLun kemudian mengusap kepala mereka berdua tapi tiba-tiba siPutih secara sengaja mematuk ibu jari YoLun sampai berdarah dan langsung menghisap darah tersebut.
"Aduuuhhh...!", teriak YoLun sambil memegang ibu jarinya yang terluka.
"Hehehe... bagus Juli... kamu benar-benar tanggap... bagus... kakak...? itu pertanda Juli mengakui kakak sebagai tuannya... sama seperti Mayang...!", jelas YoLang kepada YoLun bahwa itu adalah proses pengakuan hewan peliharaan terhadap tuannya.
"Ohh... begitu...? ahh... Juli... terimakasih sudah mengakuiku...!", kata YoLun sambil kembali membelai kepala Juli dengan lembut.
Khaaakkk...
Setelah bersendagurau dengan para Rajawali sepasang kekasih itu turun dari pondok dan memasuki pondok ditengah yang adalah pondok latihan milik YoLang.
"Kak...kita latihan disini dulu... nanti malam baru kita kepaviliun untuk bertemu ayah dan ibuku...!", kata YoLang.
"Baik adik... kakak meditasi dulu... masih banyak yang harus kakak pahami...dan jangan ganggu lagi... Cuuupp...!", kata YoLun langsung menutup matanya bermeditasi dan tak lupa mencuri sebuah kecupan dibibir sang kekasih.
"Hmmm... sabar kakak... tunggu saatnya... dan cepatlah jadi kuat...!", kata YoLang dalam hati dan ikut bermeditasi menunggu orangtuanya kembali, karena dia tahu kedua orangtuanya tidak berada dipaviliun.
YoLang bangun dari meditasinya setelah merasakan keberadaan orang tuanya dipaviliun dan kemudian membangunkan juga sang kekasih untuk bertemu dengan mertuanya.
"Kak... bangun...! kedua mertua kakak sudah menunggu... kakak...! mmm... Chuuuppp...!", dipaksa berhenti bermeditasi dengan teknik terlarang bagi yang berusia dibawah 17 tahun.
"Hmmm... Ayo... apa harus berganti pakaian yang bagus...? adik... kakak harus kasih hadiah apa sama ayah ibumu...?", tanya YoLun yang mulai terlihat gugup untuk bertemu kedua mertuanya.
"Hehehe... kakak tenang saja... mmm... pakai yang warna biru muda saja...!", kata YoLang yang tahu semua warna pakaian YoLun karena dia yang membelikan secara diam-diam dan memberikan cincin jiwa yang sudah berisi puluhan stel pakaian wanita berbagai jenis.
"Hmmm... yang ini ya... baik... tutup matamu adik...jangan mengintip...!", kata YoLun memerintah sang kekasih.
"Ya... cepat...!", kata YoLang sambil menutup kedua matanya.
"Hmmm... ayo... kita jalan saja...!", ajak Yolang dan kemudian keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan tengah paviliun keluarga PiYo dan MaiLang.
"Salam Ayah... Ibu...", sapa YoLang kepada kedua orang tuanya.
"Salam Paman...Bibi...", sapa YoLun.
"Ehh... putraku...! mmm... kamu pasti mantuku itu...?", sambut MaiLang yang langsung menebak YoLun, karena tanpa sepengetahuan YoLang dan YoLun sang Kaisar Dewa telah memberitahukan tentang siapa sosok disamping YoLun kepada PiYo, MaiLang dan kepada Maya dan putrinya Mayang yang juga adalah pasangan YoLang kedua.
"Eh... ibu dan ayah sudah tahu...?", tanya YoLang kaget.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin anakku...?", kata PiYo sambil memainkan alis matanya kearah Yolang, dan itu adalah isyarat karena kata-kata itu sama yang didengar Yolang waktu menerima pengetahuan dari sang 'Kaisar Dewa'.
"Emmm... kami harus memanggilmu apa mantuku...?", tanya MaiLang yang sejak bertemu terus mengandeng tangan YoLun.
"YoLun... paman dan bibi bisa memanggilku dengan nama itu... seperti YoLang memanggilku...", kata YoLun dengan sopan.
"Hahaha... putraku sudah besar sekarang... memang putra PiYo...", kata sang ayah bangga.
"Kakaaak...!", suara teriakan adiknya LoryMei.
"Kak... Kakak Brandal... cepat sana dipanggil Guru... hehehe... kakak Lun jangan ikut... tinggal disini... kenalkan yang kedua Mayang...! itu adik ipar siCerewet LoryMei...", kata siCeloteh yang sudah tau siapa sosok gadis didepannya.
"Hai... kakak ipar...? ayo kekamarku...! kakak Bandal jangan bengong disitu... Guru sudah menunggu sana...!", siCerewet tambah heboh.
"Hmmm... baiklah aku pergi... ayah... ibu... aku latihan dulu...!", kata YoLang lemas menatap YoLun yang dibawa kabur oleh siCerewet dan siCeloteh kekamar kemudian dia berlalu...
Whuuuzzz...
Dengan sekejap mata dia telah berada didepan pondok latihannya dan masuk kedalam menemui gurunya sang Dewa Naga.
"Murid memberi hormat kepada Guru...!", katanya dan bersujud didepan gurunya.
"Bangkit... dan duduklah muridku...!", kata sang guru.
"Bagus... semua sudah menyatu dan saling menyesuaikan... muridku...! kekuatan phisikmu sekarang sudah 500 kali lebih kuat dari sebelumnya... diAlam Fana ini cukup kau gunakan kekuatan energi murni phisikmu... untuk bertarung meluaskan pengalamanmu... sambil mengingat keseimbangan kehidupan dialam dimana kamu berpijak. Sedangkan energi spiritualmu cukup kau gunakan secara terbatas atau dalam keadaan terdesak... jangan memperlihatkan kekuatanmu yang sesungguhnya... segel pada batas puncak ranah dialam dimana kau berada...!",
"Aku sudah selesai dengan siCerewet dan siCeloteh itu dan sekarang aku ingin melihat sejauh mana kau memahami kedua teknik yang kuberikan... ayo kita kelapangan latihan...!", perintah sang guru.
Whuuuzzz... whuuuzzz...
Keduanya sudah berada dilapangan latihan.
"Mulailah dengan 'Amukan Badai Naga' dari awal sampai membuka semua teknik kombinasinya... mulailah...!", perintah sang guru sambil membuat Array/Formasi tingkat Surgawi diseluruh area lapangan latihan.
"Baik Guru... Murid mohon petunjuk...!", kata sang murid dan mulai memainkan teknik dengan hanya menggunakan tenaga phisik tanpa hawa murni/tenaga dalam juga tanpa energi spiritual.
Hiiaatt...
Hiiaa...
Walaupun gerakannya tidak secepat saat dia mengunakan energi spiritual tapi melihat gerakannya sang guru sudah dapat menilai bahwa pukulan dan gerakan yang ditunjukkan muridnya sudah sempurna, tinggal mengontrol dan kecepatan mengalihkan pusat kekuatan saat digunakan dengan kekuatan spiritual.
"Bagus muridku...! kau telah menguasainya dengan sempurna... sekarang pergunakan pedang latihan... dan mulailah langkah awal 'Pedang Naga Api' dan tunjukkan 1 kombinasi dengan energi spiritualmu sebesar 5%... mulailah...!", kata sang guru.
Hiiaattt...
Whesss... whusss... whesss...
Hiaaa...
"Langkah Cahaya"
"Pedang Naga Api"
Hiiiaaaatttt...
Whhuuuzzz... Whhuuuzzz...
Dhuuuaaarrr... dhuuuaaarrrr...
Kubah Array/Formasi buatan sang guru bergetar hebat ketika 5% kekuatan energi spiritualnya ikut bermain dengan pedang cahaya ditangannya, tanah lapangan latihan teraduk-aduk seperti selesai dibajak akibat terkena serangan tersebut.
"Hmmm... 5% bisa membuat Array/Formasiku bergetar...? muridku tenaga macam apa yang kau miliki...? yang kamu tunjukkan kepadaku sudah berada diluar nalarku sebagai seorang Dewa Penguasa... kau benar-benar menentang Langit...muridku...!", Puji sang guru dan terheran-heran melihat pencapaian YoLang, karena dia tidak mengetahui kalau 5% kekuatan Boss Besar mereka diatas Langit yaitu Kaisar Dewa, telah diturunkan kepada YoLang.
"Ahh... maafkan muridmu Guru... murid hanya mengikuti petunjuk Guru...!", jawab Yolang dengan hormat.
"Kalau saja siBocah Tua mau turun dan melihatmu pasti dia akan sangat bangga muridku... tapi sayang dia hanya tau memerintahkan semuanya kepada kami dan juga untuk kamu ketahui kamu akan mendapat 1 guru tambahan lagi... kata siBocah Tua umurnya masih muda... belum ada 5 juta tahun julukannya siBocah Brandal dan aku belum mengenalnya... kamu hat-hati nanti saat berlatih bersamanya...!", kata sang guru dan membuat YoLang sangat terkejut hampir pingsan mendengar perkataan gurunya tentang julukan tersebut.
__ADS_1
"Mu... murid mendengar perkataan Guru...!", jawab YoLang hampir ketahuan, karena dia tahu semua gurunya bisa membaca pikiran lawan bicaranya tapi YoLang telah belajar bagaimana menghindari kecurigaan para Dewa Penguasa tersebut berkat teknik tingkat Ilahi yang diberikan sang Penguasa, siBocah Tua, Kaisar Dewa.
"Hmmm... apalagi yang kau perlukan muridku...! aku rasa semua yang kumiliki sudah ada padamu...!", tanya sang guru sambil menatap sang murid dengan tersenyum puas.
"Murid mohon nasehat dan petunjuk Guru selanjutnya... untuk bekal murid dimasa depan dalam mengemban tugas-tugas dari Langit...!", kata YoLang.
"Baiklah... Ingat baik-baik... 'Kekuatan bukan Segalanya... tapi Kemunian Hati dan Tindakan Suci yang Terutama...! Kemurnian dari Kekuatan yang Suci adalah Kunci Keseimbangan Alam Semesta ini...! jadilah rendah hati seperti Intan yang berada diBumi yang paling dalam...! dan seperti permukaan Air Laut yang dapat kau gunakan untuk berCermin...! dan jadilah Kuat seperti Naga Api yang berada diatas Langit sambil Menggenggam Sang Surya...! yang akan mengamuk ketika Badai Keserakahan mengguncang Peradaban diAlam yang kau Pijak...!", kata sang guru menjelaskan.
"Terimakasih Guru...! Murid akan mendengarkan dan melaksanakan pesan dan pertunjuk Guru...!", kata YoLang kemudian bersujud hormat didepan gurunya sang Dewa Naga.
"Muridku... dalam petualanganmu aku ada pesan pribadi untukmu... sebagai Pemilik Darah Murni Ras Naga... yang juga sudah kau miliki... ketika bertemu dengan Ras Naga dimanapun dialam semesta ini ajak mereka bersamamu...! jadikan mereka keluargamu...! mereka akan mendengarkanmu sama seperti mereka memandangku... karena keberadaan kami sudah tidak banyak... jumlah penduduk kotamu ini lebih banyak dari pada keberadaan ras kami dialam semesta ini... tapi itu bukan tugas utamamu...!", kata sang guru.
"Murid akan berusaha semampu murid melaksanakan pesan Guru...!", jawab YoLang.
"Aku serahkan 'Lencana Naga' kepadamu untuk Memimpin Ras Naga dimasa depan", kata sang Dewa Naga kemudian mengeluarkan sebuah tongkat pendek panjangnya sejengkal orang dewasa berbentuk seekor Naga Emas lalu melayang dan masuk diantara kedua alis mata YoLang dan seketika didahinya muncul gambar Naga Emas yang memancarkan cahaya keemasan kemudian menghilang.
"Mereka hidup menyebar dan berada diseluruh Alam yang ada di Semesta ini... kumpulkan mereka dan pimpin kembali menjadi Ras Penguasa Hewan Ilahi... Aku sudah selesai denganmu dan nantikan siBocah Gila menggantikanku...! kita akan segera bertemu lagi...! Aku pergi...!", kata sang guru kemudian menghilang.
Wwhhuuuuuzzzzz......
Kepergian sang guru membuat YoLang merasa ada sesuatu yang kembali menjadi kurang dengan dirinya, perasaan yang selalu terjadi ketika berbulan-bulan bersama guru-gurunya kemudian berpisah.
"Ahhh... mental dan jiwaku masih rapuh...! aku harus lebih banyak berlatih lagi...!", katanya dalam hati. dan...
Whhuuuzzz...
YoLang telah berada didepan kamar Ibu Maya atau calon mertuanya yang kedua karena Maya adalah ibunya Mayang,...
Tok... tok... tok...
Krieeekkk...
"Nak Yo... masuk... ada perlu sama ibu...?", tanya Maya kepada calon menantunya.
"Ennmmm... iya ibu Maya... mau memberikan Senjata Pedang ini buat ibu Maya... namanya 'Pedang Rajawali Putih' tingkat Dewa... ibu Maya bisa menggunakan pedang ini untuk latihan agar terbiasa...!", kata YoLang.
"Wah... nak...pedang tingkat Dewa...? kamu menantuku yang terbaik... hehh... itu siCelotehmu... semalaman ngegosip sama kakaknya Lun... tuh masih dikamar siCerewet ajak mereka kepondokmu biar mereka terbiasa rukun dan jangan dulu menyentuhnya dia masih kecil... tunggu dia sampai cukup umur... supaya kamu nggak pusing nanti... hehehe... itu sudah resiko punya dua... tapi ibu yakin kamu bisa... karena kamu putra yang terpilih... ibu berterima kasih padamu nak... jaga baik-baik mereka... restu ibu bersama kalian bertiga...!", kata ibu mertuanya Maya sambil menyentuh kepala sang menantu dan memberikan restu dan berkahnya sebagai orang tua.
"Terimakasih ibu Maya... mau menerimaku dan saya tidak akan mengecewakan harapan ibu Maya...!", jawab YoLang sopan.
"Hmmm... ya sudah... sana... temui istri dan calon istrimu... ibu mau meditasi dulu...!", kata ibu Maya.
"Baik ibu... aku pergi dulu...!", kata YoLang kemudian menghilang.
Whhuuuzzz...
YoLang sudah berada di depan kamar PiYo dan MaiLang...
Tok... tok... tok...
"Ayah Ibu... aku ada perlu sebentar...!",
Kriiieeekkkk....
"Kenapa nak... latihanmu sudah selesai...? sini masuk dulu...!", tanya MaiLang yang keluar dari dalam kamar menemui putranya.
"Sudah bu... guru juga sudah pergi... kembali ke atas Langit... katanya menunggu lagi guru yang lain... ini ada pedang buat ayah dan ibu... ini aku buat sendiri... buat ibu... 'Pedang Badai Petir' tingkat Surgawi... dan ini untuk ayah... 'Pedang Amarah Neraka' sama juga seperti punya ibu... tingkat Surgawi...!", kata sang putra.
"Apa katamu nak... ti... ting... tingkat Surgawi...? astaga nak... kamu buat sendiri...?", kata PiYo terkejut hampir pingsan.
"Hehehe... ayah bisa pingsan kalau melihat pedang Lory... ini dia... 'Pedang Amukan Phoenix Api'... Tingkat Ilahi...hehehe...", kata Yolang dan...
Bhhrrruuukkk... (suara tubuh terjatuh kelantai)
"Ayah...! aisshhh... aku bilang juga apa...", kata sang putra yang kaget melihat ayahnya jatuh pingsan
"Suamiku...! sayang... hei bangun... astaga nak tolong ayahmu...!", kata MaiLang panik.
__ADS_1
YoLang segera mengangkat ayahnya dan mendudukkannya diatas lantai kamar dan mengalirkan kesadaran spiritualnya kedalam tubuh ayahnya yang sedang pingsan untuk menstabilkan aliran darah yang mendapat kejutan akibat dari bekerjanya jantung yang terlalu cepat, dan beberapa saat kemudian ayahnya kembali tersadar dari pingsannya dan masih menanyakan pedang tingkat ilahi buatan Yolang sang putra.