
Kriiieeeekkk...
Dalam meditasinya YoLang masih mendengar pintu kamar dibuka dan mengetahui siapa yang masuk.
"Huhhhh...",🤫
"Kakak kenapa...?", tanya YoLang.
"Eh...! adik aku kira tertidur... sudah pagi... mau kakak buatkan teh hijau...?", tawar sang kakak.
"Hmmm... ya... baiklah...", kata sang adik masih dengan posisi bermeditasi.
Kemudian kakak Lun keluar kamar untuk membuatkan teh seperti yang ditawarkannya kepada YoLang, sementara itu YoLang bangun dan merenggangkan otot-ototnya kemudian duduk diatas tempat tidur memikirkan ide yang akan dilakukannya hari ini, karena dia berencana kembali ke kota Klentang dalam seminggu lagi, bertepatan sebulan sudah dia lewati setelah penggantian Tulang dan Darahnya dan terlihat kakak Lun-nya masuk sambil membawa sepoci teh hijau hangat dan dua buah cawan.
"Ayo adik Yo... minum selagi hangat...!", kata kakak Lun sambil menuangkan teh hangat kecawan dan menyerahkan kepada YoLang.
"Terimakasih kak... kakak juga ikut minum temani aku...!", kata YoLang sambil menatap kakak Lun dan memeriksa tubuhnya dan melihat bahwa kakak Lun belum memiliki kekuatan hawa murni, meridiannya belum terbuka sama sekali.
"Iya kakak ikut minum...adik... terimakasih ya... sudah menganggap aku sebagai kakak... baru kemarin kakak merasa bahagia mempunyai keluarga kembali...", kata kakak Lun sambil tertunduk sedih mengingat dirinya yang sebenarnya sebatang kara.
Tanpa dia ketahui YoLang sudah bisa melihat dan membaca pikiran dan isi hati kakak Lun-nya.
"Kakak tidak usah bersedih begitu... kakak sekarang memiliki aku... aku akan melindungi kakak...", kata YoLang kemudian menarik kakak Lun-nya yang terlihat mulai meneteskan air mata, untuk duduk disampingnya diatas tempat tidur.
Kakak Lun-nya mendekat dan memeluk YoLang sambil meneteskan air mata bahagia, kepalanya bersandar didada adiknya dan merasakan belaian tangan dikepalanya membuat dia tenang walau ada perasaan aneh didalam dadanya.
"Kak... kakak mau belajar bermeditasi dan beladiri...?", tanya Yolang yang masih memeluk kakak Lun-nya dan membelai rambutnya yang panjang.
"Iya... kakak mau asalkan adik yang mengajarkannya... kakak tidak mau belajar diperguruan... diwisma saja bersama adik", jawab kakak Lun sambil memindahkan kepalanya dari dada YoLang ke bahu dan tetap melingkarkan kedua tangannya dipinggang YoLang.
"Hmmm... baik... mulai hari ini kakak akan aku ajari... dan selain itu kakak harus membaca kitab-kitab ini... tapi sebelumnya... mmm... aku harus membuka beberapa titik meridian kakak dulu... pertama dibagian belakang leher... kedua dijari... ketiga ditelapak kaki... setelah berlatih 6 jam ada lagi yang harus dipijit beberapa titik dipunggung, bawah pusar dan dikedua tangan... banyak yang harus dibuka ada tiga ratusan titik...", jelas YoLang.
"Baik... apa saja asal adik yang melakukannya... kan kemarin adik sudah melihat semuanya...?", kata kakak Lun tertunduk malu.
"Hehehe... itu kecelakaan kak... tidak sengaja... tapi kalau sekarang sengaja karena aku harus menyentuh titik itu... tapi tujuannya baik... untuk kesehatan dan kekuatan kakak nantinya...", kata YoLang sambil mengelus kepala kakak Lun dan mengecup pelan keningnya.
"Hmmm... kapan kita mulai adik Yo...", tanya kakak Lun sambil menegakkan kepala menatap YoLang.
"Kalau kakak siap...! sekarang kita mulai...!", kata YoLang.
"Baik... lakukan sekarang...!", kata kakak Lun kemudian berbalik membelakangi YoLang.
__ADS_1
Kemudian YoLang mulai menggunakan jarinya dan mengerahkan teknik 'Jari Dewa' mulai menyentuh kulit halus seperti giok didepannya dibeberapa titik.
Setelah membuka titik awal dan titik akhir, YoLang melanjutkan membuka jalur aliran energi dengan menghilangkan hambatan antar titik meridian dan menutup titik persimpangan yang belum perlu, kemudian mulai terlihat hubungan alur lalulintas energi telah terbentuk. Segera YoLang mulai mengisi sedikit demi sedikit hawa murni kedalam tubuh kakak Lun-nya dan,...
Bhuuummm... Putih Akhir
Bhuuummm... Kuning Akhir
Bhuuummm... Hijau Akhir
Bhuuummm... Biru Akhir
Menaikkan 4 tingkat ranah Alam Fana kakak Lun-nya tidak membuat YoLang puas, dia menambah membuka 70% jumlah keseluruhan titik meridian tubuh kakak Lun-nya hingga ke tingkat yang sudah dapat membentuk selaput Dantian Bawah (2 inci dibawah pusar), namun sebelumnya dia menempelkan kedua telapak tangannya untuk membantu kakak Lun menstabilkan aliran energi yang baru mengalami kenaikan 4 tingkat sekali jalan. Setelah melihat keadaan kakak Lun sudah stabil, YoLang kembali membuka jalur yang menghubungkan ke 70% titik meridian kakak Lun (jumlah keseluruhan titik meridian dalam tubuh sebanyak 361 titik) kemudian melanjutkan dengan mentransfer energi murninya ke tubuh kakak Lun. dan...
Bhuuummm... Merah Akhir
Bhuuummm... Coklat Akhir
Bhuuummm... Ungu Akhir
Bhuuummm... Hitam Akhir
YoLang kembali membantu kakak Lun-nya untuk menstabilkan aliran energi dalam tubuhnya yang kembali mengalami kenaikan 4 tingkat dalam sekali jalan.
YoLang dengan tingkat kekuatannya sekarang berada diranah Alam Dewa, sudah bisa mentransfer energi kepada seseorang sampai meningkatkan kekuatan orang itu sampai 2 ranah yaitu ranah Alam Fana dan Alam Tinggi. Apalagi YoLang tinggal 1 tahap lagi memasuki tingkat kekuatan ranah Alam Surgawi, karena saat ini dia berada dipuncak kekuatan ranah Alam Dewa tingkat True God tahap-4 (tahapan tingkat ranah alam Dewa 1 sampai 5). Setelah beberapa saat YoLang kembali memeriksa tubuh sang kakak dan melihat dalam keadaan baik-baik saja, kemudian dia membangunkan kakak Lun-nya.
"Kak... bangun... sudah cukup... dan mari kita lanjutkan", kata YoLang sambil mengeluarkan 2 butir Pil Energi dan 2 butir Pil Stamina dari dalam cincin jiwanya.
"Hahhh... adik... badan kakak terasa ringan... dan aneh... seperti ada angin didalam tubuh kakak yang berputar-putar...!", kata kakak Lun yang terlihat wajahnya tambah cerah bersemangat dan tatapan matanya semakin tajam.
"Sabar kak... itu yang namanya energi murni sumber tenaga dalam kakak... dan itu harus dikeluarkan dengan cara menguras tenaga kakak melalui latihan phisik yaitu berlari, mengangkat beban dan lain-lain... nanti aku ajarkan... sekarang kakak telan pil-pil ini...", jelas YoLang kemudian memberikan 4 butir pil kepada kakak Lun.
"Nah... sekarang kakak bermeditasi lagi... untuk menyerap energi yang ada di pil tadi... aku akan membantu kakak...", kata YoLang kemudian kembali menempelkan kedua telapak tangannya dipunggung sang kakak, untuk membantu dia menyerap energi pil dan menyalurkannya ketitik-titik meridian. Hanya butuh waktu 15 menit kembali lonjakan energi murni kakak Lun meledak-ledak dan...
Bhuuummm... Emas Awal
Bhuuummm... Emas Mahir
Bhuuummm... Emas Akhir
Tersenyum YoLang menatap sang kakak yang 1 tahap lagi menuju ranah Alam Tinggi.
__ADS_1
"Kak... lanjutkan meditasinya... aku pergi sebentar...!", kata YoLang kemudian masuk kedalam dunia jiwanya untuk mengambil bahan herbal dikebun herbal miliknya, untuk membuat Pil 'Membangkitkan Langit' yang didalam pengetahuan alkemisnya yang diberikan sang gurunya Dewa Obat bahwa itu adalah pil tingkat Legenda untuk membentuk dantian baru atau memperbaiki dantian yang rusak atau sengaja dilumpuhkan. Setelah menemukan bahan-bahannya YoLang langsung membuat pil tersebut dan setelahnya dia kembali ketempat kakak Lun-nya sedang bermeditasi.
Whuuuzzz...
Kini terlihat wajah lain sang kakak dengan raut wajah terlihat tegas didukung dagu tirus yang kokoh menampilkan wajah seorang pendekar wanita yang kuat dan tegas, walaupun tetap terlihat anggun dan cantik apalagi jika tersenyum dengan menampilkan sepasang lesung dipipinya. Sambil duduk bersila dihadapan sosok cantik yang sedang bermeditasi YoLang memeriksa keadaan tubuh kakak Lun yang baik-baik saja, terlihat aliran energi semakin lancar tinggal menunggu pondasi phisiknya kuat dan kokok barulah YoLang mengisi energi spiritual kedalam tubuh kakak Lun-nya setelah dia membentuk dantian didalam tubuhnya.
"Kakak... bangun...!", kata YoLang.
"Ehhh... adik... hmmm... apalagi yang harus kakak lakukan...? atau istirahat dulu...?", tanya kakak Lun.
"Ahhh... jangan istirahat kak... keluarkan dulu energi didalam tubuh kakak... ayo kita keluar...!", ajak YoLang sambil menarik tangan kakaknya menuju belakang wisma tempat kediaman mereka.
Kakak Lun yang sedang ditarik tangannya hanya menurut karena dia tahu dengan pasti adiknya tidak akan membuat sesuatu yang menyusahkannya, berdua mereka berlari menuju pinggiran hutan sebelah selatan danau es karena YoLang tau disana ada hamparan luas tanah berumput. 15 menit mereka berlari dan sampai dilokasi tempat YoLang akan menempa tubuh phisik sang kakak.
"Nah... kita sampai... sekarang kakak berlari mengelilingi area ini... seperti tanda yang aku buat itu 5 putaran... ayo kak... mulai", kata YoLang yang sebelumnya dengan kekuatan energi spiritualnya telah membentuk sebuah lintasan sejauh 500 meter mengelilingi area hamparan berumput itu, untuk kakak Lun-nya berlari. Setelah 5 putaran selesai..
"Bagus kak... sekarang tambah kecepatan kakak... dan berlari 10 putaran lagi...", tambah YoLang dan sang kakak merasa masih kuat tanpa protes langsung berlari lagi.
YoLang tersenyum melihat sang kakak menunjukkan kesungguhan dalam awal latihannya ini, dan saat dia melewati putaran ke-5, dibelakangnya mulai terlihat membentuk gundukan tanah setinggi 50 cm dan 1 meter dengan rentang jarak 100 meter ada halangan gundukan tanah yang YoLang buat dengan menggunakan kekuatan spiritualnya.
"Bagus kak... tambah kecepatannya sambil melewati rintangan-rintangan itu", kata YoLang.
Dan diputaran ke-8, YoLang menambah rintangan sehingga rentang jarak menjadi setiap 50 meter terdapat rintangan, setelah menyelesaikan latihan awal Yolang membuat rintangan dari balok kayu setinggi 50 Cm dan 1 Meter dan meletakkan rintangan tersebut di lintasan dengan rentang jarak 1 meter.
"Bagaimana kak... masih kuat...?", tanya YoLang.
"Boleh adik... kakak masih cukup kuat...!", katanya.
"Bagus kak... aku akui semangat kakak memang yang terbaik... sekarang kakak melompat... lewati rintangan itu dengan menggunakan tumpuan 2 kaki... 2 kali bolak balik tanpa berhenti... ayo mulai...!", perintah sang adik kemudian memuji tekad dan semangat sang kakak dalam latihan phisik perdananya.
Aksi lompat melompat kakak Lun telah selesai dan mulai terlihat wajah kelelahan, keringat mengucur dengan deras dari sekujur tubuhnya dan wajahnya mulai kemerah- merahan juga jalannya terlihat tidak stabil lagi.
"Hehehe... bagus kak... sekarang instirahat dulu... duduk sini dan luruskan kakinya...", kata YoLang dan tersenyum melihat sang kakak kelelahan dan kakinya mulai gemetar.
Kemudian dengan kemampuan teknik 'Telapak Kapas' YoLang memegang kedua kaki kakaknya dan mulai menstabilkan alirah darah dikedua kaki mulus seputih giok dihadapannya itu, selama 5 menit melakukan terapi itu terlihat kondisi kakinya sudah membaik dan aliran darah dibagian kaki sudah lancar dan normal kembali.
"Bagaimana perasaanmu kak...?", tanya YoLang.
"Hmmm... sudah mendingan tapi kakinya masih perlu istirahat... sedikit lagi baru lanjutkan...!", tawar kakak Lun-nya dengan teknik/jurus senyum lesung dipipinya yang menggoda karena dia tahu itu kesenangan YoLang yang selalu menatapnya jika tersenyum sambil melihat lesung dipipinya.
"Hehehe... kakak mulai pintar... aku tau kakak masih capek... jadi istirahatkan saja dulu kakinya tapi tidak dengan tangannya... caranya kaki keatas dan kepala kebawah dan bertumpu dikedua tangan... nah lakukan aku bantu kakak menahan kakinya...!", kata YoLang kemudian menahan kaki kakaknya yang berada diatas sedangkan kepalanya menghadap kebumi.
__ADS_1
"Nah... kakak boleh istirahat selama 1 jam... hehehe...", kekeh YoLang yang mengerjai kakak Lun-nya. Dan kakak Lun hanya menurut saja, karena dia merasa tangannya kuat menahan beban tubuhnya dalam posisi itu tanpa curiga sedikitpun jika dia dikerjai oleh adiknya.