Titisan Dewa

Titisan Dewa
Mengobati Mayang


__ADS_3

Hampir 1 jam YoLang, Gurunya dan bibi Maya serta anaknya Mayang didalam restoran, setelah membayar dan tak lupa memberi persenan kepada para pelayan restoran mereka kembali kerumah bibi Maya.


"Kakek itu ada yang jual permen...!", teriak Mayang sambil berlari menuju penjual permen di pinggiran jalan.


"Hehehe... anak cerdas... ambil berapapun kamu mau... putri kecil...!", kata kakek Yao.


"Mayang...!", bibi Maya menatap tajam kearah putrinya.


"Biarkan saja bibi... aku ikut senang melihat Mayang gembira... jadi teringat adikku dirumah juga seorang putri... usianya sekarang 4 tahun dan celotehannya sama dengan Mayang...!", kata YoLang.


"Nanti kita mampir ditoko pakaian... tolong bibi pilihkan pakaian yang cocok buat Mayang juga untuk bibi... pilihlah beberapa dan jangan sungkan kebetulan aku punya uang...!", kata YoLang melanjutkan.


"Ahh... kami terlalu membuat tuan muda kerepotan... maafkan kami dan terimakasih untuk semua kebaikan tuan muda dan paman Yao...!", kata bibi Maya hormat.


"Tidak apa-apa bibi Maya... sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan bantuan dan kebetulan saya punya dan mampu...", kata YoLang.


"Ayo Mayang... kita ketoko pakaian...", ajak YoLang.


"Horee... aku beli baju baru...", teriak Mayang.


Dengan gembira Mayang menuju toko pakaian, karena selama 2 tahun sejak ayahnya meninggal dia tidak lagi mendapatkan pakaian baru.


"Selamat datang ditoko kami tuan dan nyonya...! silahkan melihat-lihat...", kata pelayan toko.


"Bibi pelayan...! tolong antarkan bibiku dan adikku ini untuk melihat pakaian yang terbaik ditoko ini...!", kata YoLang.


"Baik tuan muda... mari nyonya kesebelah sini...", kata sang pelayan.


Atas desakan YoLang akhirnya keraguan Bibi Mayang untuk membeli pakaian terbaik untuknya dan Mayang diturutinya, walaupun dia masih merasa tidak enak hati dan akhirnya dia memilih masing-masing 5 stel pakaian wanita beserta perlengkapan perempuan.


"Bagaimana Mayang... masih mau lagi...?, tanya YoLang.


"Kakak baju hangat aku belum punya... apalagi aku sering kedinginan kalau malam...", rengek Mayang.


"Bibi pelayan tolong tunjukkan baju hangatnya...", kata YoLang.


"Mari nyonya... adik... ikuti saya disebelah sini...", kata pelayan toko itu.


Setelah selesai,...


"Berapa semuanya bibi...!", tanya YoLang, sementara itu Mayang dan ibunya sudah diajak gurunya untuk membeli perlengkapan tidur dan yang lainnya ditoko sebelah.

__ADS_1


"Total semuanya 860 koin emas tuan muda...", kata pelayan toko.


"Ini terimalah... kembalian untuk bibi saja dan terimakasih sudah melayani dengan baik...", kata YoLang sambil berlalu.


Setelah puas berbelanja mereka kembali kerumah untuk mengobati Mayang, tapi sebelumnya YoLang menjelaskan jenis penyakit yang diderita oleh Mayang dan resikonya juga bagaimana kalau tidak diobati kepada bibi Maya. Sebelum YoLang mulai pengobatan dia mempersiapkan dirinya, dia bermeditasi sebentar mengumpulkan energi kekuatannya kemudian memberikan 2 butir 'Pil Peri Biru' untuk diminum oleh Mayang.


"Bibi... minumkan Pil ini dengan air hangat kepada Mayang...!", kata YoLang.


"Mayang jangan takut... nanti kalau merasa sakit... kamu tahan sedikit ya...?", kata YoLang.


"Baik kak...!", kata Mayang.


Pil sudah diminum oleh Mayang, dan YoLang segera menempelkan kedua tapak tangannya dipunggung Mayang kemudian mengalirkan hawa murni kedalam tubuh Mayang untuk menguatkan tubuhnya dan melancarkan aliran darah. Setelah itu YoLang kembali menyalurkan energi spiritualnya untuk membantu Mayang agar secepatnya dia menyerap obat yang sudah berada di dalam perutnya, 1 jam telah berlalu dan YoLang melihat proses penyembuhan organ Hati ditubuh Mayang mulai bereaksi. Segera dia kembali menyalurkan energi spiritualnya dan menggunakan pengobatan teknik 'Telapak Kapas' yang gunanya untuk mempercepat regenerasi sel-sel organ Hati yang rusak.


Bhuussss...


Bhuussss...


beberapa kali asap putih masuk kedalam tubuh Mayang,...


aaahhhhkk...


Bhuussss....


aaahhhhkk.....


Terlihat keseimbangan Mayang mulai goyah secepat kilat Kakek Yao ikut membantu,...


"Kamu dari depan... tetap dengan 'Telapak Kapas'... kakek dari punggung untuk menjaga kesadarannya...!", kata gurunya.


Secepat kilat YoLang berpindah kedepan dengan tangan menempel didada dan gurunya dipunggung Mayang, proses pengobatan sudah berlangsung selama 2 jam dan sosok murid dan guru itu masih terus menyalurkan energi ketubuh Mayang. Atas bantuan sang guru terlihat kondisi Mayang kembali normal walaupun terlihat ada beberapa tetes keringat keluar dari dahinya, dan setelah hampir 3 jam YoLang dan gurunya menarik tangannya dan memulihkan energi mereka sementara itu Mayang diberikan minum air hangat oleh ibunya.


"Bagaimana perasaanmu Mayang...?", tanya YoLang.


"Badanku terasa ringan kak...!", katanya.


"Mmm... sebelum tidur minum 1/2 butir pil ini dan 1 butir pil ini dengan air hangat terus istirahatlah...", kata YoLang menjelaskan.


Mayang segera melakukan apa yang dikatakan YoLang dan langsung masuk kamar untuk istirahat, dan diluar kamar YoLang kembali berbincang-bincang dengan bibi Maya,...


"Bibi Maya... nanti berikan pil-pil ini untuk Mayang... minumkan seperti dosis tadi setiap selesai makan pagi dan malam selama 1 minggu...!", kata YoLang.

__ADS_1


"Baik... nak YoLang... paman Yao... dan terimakasih sudah membantu kami...! saya sudah tidak tau lagi bagaimana membalas semua kebaikan tuan penolong berdua...!", kata bibi Maya dengan tulus.


"Tidak usah sungkan bibi... saya sudah menganggap bibi dan putri bibi sebagai keluarga saya dan saya sangat senang dapat membantu keluarga bibi...", kata YoLang merendah.


Kemudian YoLang mengutarakan rencananya kepada bibi Maya,...


"Bibi Maya... sebelumnya mohon maaf atas kelancangan saya... setelah melihat keadaan bibi dan Mayang saya berencana untuk membawa bibi dan Mayang untuk ikut dengan saya ke daratan tengah... dan disana bibi bisa tinggal ditempat saya... karena saya melihat kondisi tubuh Mayang yang perlu dilatih yang nantinya akan bermanfaat buat bibi dan orang lain... hal itu tentunya dengan persetujuan bibi dan Mayang...!", kata YoLang.


"Disana bibi bisa membantu ibu saya... karena kami punya usaha disana... selain toko obat ada juga kios daging yang kami kelola... dan untuk Mayang akan dilatih oleh saya dan guru saya nantinya... bagaimana bi...?", tanya YoLang setelah menjelaskan rencananya.


"Saya sudah tidak punya siapa-siapa disini... juga khawatir dengan keluarga suami saya yang begitu benci kepada kami... jadi kalau Mayang setuju saya ikut saja...! asalkan tidak membebani keluarga nak YoLang nantinya...!", kata bibi Maya.


"Kalau begitu... besok pagi bibi tanyakan pada Mayang... dan kalau bibi sudah lelah pergilah istirahat... biar saya dan kakek diruangan ini saja... kami akan bermeditasi sampai besok pagi...!", kata YoLang.


"Baik kalau begitu... saya tinggal dulu... untuk istirahat menemani Mayang...!", kata bibi Maya.


Setelah percakapan itu YoLang dan gurunya Dewa Obat mulai bermeditasi, sambil YoLang kembali berpikir untuk rencananya yang akan dia lakukan besok. Hari masih subuh sinar mentari belum menampakkan cahanyanya, tapi terlihat bibi Maya sudah bangun dan sedang menyiapkan beberapa cangkir teh hangat dan kue diatas meja. Sementara itu YoLang sudah berada dibelakang rumah melakukan perenggangan otot-ototnya setelah semalam bersemedi, lain hal dengan gurunya yang menghilang entah kemana...


"Wah... bibi baik sekali pagi-pagi sudah menyiapkan teh hangat...! terimakasih bibi Maya...?", kata YoLang.


"Itu sudah biasa nak Yo... kakekmu kemana...? aku belum melihatnya sedari tadi...!", kata bibi Maya.


"Kakek sedang keluar sebentar...", kata YoLang.


"Hmm... ada kue...? ehh.. selamat pagi kak...! hehehe... kak semalam tidurku terasa nyaman... lain dengan malam-malam sebelumnya... yang hampir setiap malam susah memejamkan mata... dan perasaan gelisah terus... apa itu artinya penyakitku sudah sembuh...?", tanya Mayang.


"Iya betul... tapi adik kecilku yang cantik ini harus minum obatnya selama seminggu...! setiap bangun pagi dan sebelum tidur malam...!", kata YoLang.


"Beres kak... itu tidak masalah...!", kata Mayang.


"Terus kalau sudah sembuh... apakah adik kecil mau belajar ilmu beladiri...?", tanpa YoLang.


"Ohh... tentu mau kak... biar Mayang bisa jaga ibu dari orang jahat... dan mau balas dendam sama beruang kutub yang bikin ayah celaka...!", kata Mayang.


"Bagus... bagus... tapi persoalan balas dendam ada yang kurang baik hasilnya... pertama masalah balas membalas tidak akan pernah putus... nah kalau sampai 7 turunan tidak pernah berhenti balas membalas...? berapa yang jadi korban...? belum lagi kalau masalah korban pertama terjadi karena salah paham... atau karena jebakan orang lain... atau karena tidak sengaja bagaimana...?", kata YoLang menjelaskan.


"Iya ya... bingung aku kak... kakak terlalu pintar... tapi aku mau belajar ilmu beladiri... biar kuat dan sehat hehehe...", kata si gadis kecil itu.


"Ya sudah... temui dulu ibumu ada yang mau dibicarakan denganmu... kakak minum teh hangatnya dulu nanti keburu dingin...", kata YoLang sambil meminum tehnya.


Sementara itu dibagian belakang rumah, Maya mulai menceritakan tentang pembicaraannya dengan YoLang kepada Mayang dan meminta tanggapan si gadis kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2