Titisan Dewa

Titisan Dewa
Pesta Rakyat


__ADS_3

Sebuah kereta kuda keluar dari halaman Wisma Pendiri Desa dan didalam gerbong kereta terlihat duduk berdampingan sepasangan anak muda dengan pakaian kontras berwarna putih dan terlihat sangat serasi antara keduanya, padahal terdapat selisih usia 10 tahun diantara mereka tapi melihat postur badan antara YoLang dan Lun orang menganggap keduanya seumuran. Hal itu karena postur badan YoLang yang tidak sesuai dengan umurnya demikian juga dengan kemampuannya berpikir yang melebihi orang dewasa, apalagi kekuatannya tidak heran karena YoLang adalah Sang Terpilih.


Kereta itu melaju perlahan menuju gedung Klan Mu, tempat dilaksanakannya acara pesta rakyat desa YaoYo, sepanjang perjalanan YoLang melihat suasana desa yang sepi karena seluruh penduduk telah diminta oleh kepala desa paman MuDhong untuk datang keacara pesta rakyat disebuah lapangan besar tempat latihan para murid perguruan klan Mu. Sepuluh menit kemudian kereta kuda tersebut memasuki pintu gerbang Klan Mu dan terlihat paman MuDhong dan beberapa tetua berdiri didepan pintu masuk gedung yang sedang menunggu, kemudian YoLang turun terlebih dahulu dan membantu kakak Lun turun dari dalam gerbong kereta.


"Ahh... maaf paman...para tetua...saya dan kakak Lun agak terlambat", kata YoLang mendahului para orang tua yang menyambutnya kemudian berjalan perlahan menuju pintu masuk gedung sambil menggandeng tangan kakak Lun-nya.


"Acaranya belum dimulai tuan muda... masih menunggu perwakilan dari pemerintah kota Banto... karena kami sudah sepakat untuk bekerja sama dengan pemerintah kota Banto untuk bersama membangun dan menjaga wilayah bagian utara ini... selain itu jaraknya lebih dekat untuk berkoordinasi... juga kondisi pemerintah kota Banto yang kami nilai sangat baik dan memperhatikan rakyatnya", jelas paman MuDhong.


"Hmmm... baguslah saya senang paman sudah berinisiatip melakukan hal itu... dan memang suatu keharusan kita penduduk desa memandang kepada yang lebih tinggi... asalkan mereka juga berlaku baik dan memandang kita...!", kata YoLang sambil berjalan mengikuti para tetua menuju tempat acara.


YoLang melihat begitu antusiasnya ratusan para penduduk desa yang hadir, mulai anak kecil sampai para lansia dan ditengah lapangan latihan sudah disediakan meja panjang yang sudah tersedia berbagai macam makanan demikian dengan guci-guci arak berderet diatas meja, setiap jarak 10 meter diatas meja panjang itu terdapat rusa panggang yang masih utuh dan masih banyak jenis hewan buruan dan ternak yang sudah siap disantap. Juga tak terlupakan pesanan YoLang ikan bakar khas danau es tempat desa YaoYo berada.


Didepan Aula perguruan telah didirikan panggung ukuran sedang tempat duduk para tamu dari kota Banto, para tetua klan Mu dan petinggi desa YaoYo, termasuk YoLang yang sudah disiapkan tempat duduknya yang akhirya oleh paman MuDhong disiapkan dua tempat duduk untuk pasangan berjubah putih tersebut. Mata semua orang yang hadir terbuka lebar hampir tidak mengenali sosok elegan wanita berjubah putih yang duduk berdampingan dengan seorang anak muda dengan jubah putih juga, yang mereka ketahui sebagai orang yang mendirikan dan membuat Desa YaoYo seperti saat ini.


"Betapa beruntungnya nona Lun bisa berdampingan dengan pendiri desa...!", kata seorang ibu.


"Ya...ternyata nona Lun sangat cantik dan pantas untuk mendampingi pendiri desa...!", kata ibu yang lain.


"Wah... itukan anak yatim yang dipunggut oleh paman MuDhong dikota Lamur...? tak menyangka... anak pengemis kota Lamur ternyata seorang putri dari kerajaan didaratan tengah...!", kata seorang gadis.


"Eh... ayahku bilang... jika pendiri desa memanggil nona Lun 'kakak' tapi melihat mereka sepertinya itu sepasang kekasih... beruntungnya nona Lun bisa mendapat orang baik, tampan dan kaya seperti pemuda pendiri desa kita ini... aku juga mau jika dilamar jadi istri kedua...?", kata gadis yang lain.

__ADS_1


Berbagai pembicaraan dan gosip terjadi dan menyebar keseluruh lapangan latihan murid perguruan klan Mu, tempat dilaksanakannya acara pesta rakyat dalam rangka syukuran berdirinya desa YaoYo dan kembali berdirinya Klan Mu serta Perguruan Klan Mu ditempat baru yaitu desa YaoYo, karena dulunya klan papan tengah itu berada dikota Lamur. 30 menit berselang tampak menaiki panggung kehormatan kakek MuChin beserta beberapa sosok laki-laki berbadan tegap dan langsung duduk dideretan kursi bagian depan berdamping dengan tempat duduk sepasang muda-mudi berpakaian jubah putih. Yolang dengan santai duduk disamping kakak Lun-nya yang sesekali memegang tangan sang kakak, kemudian melihat kedatangan 3 orang dari kota Banto mulai memeriksa kekuatan dan pikiran serta ingatan orang- orang itu.


"Hmmm... Hitam Awal... Coklat Mahir... Ungu Awal... Ungu Mahir... ahh... orang-orang baik...", gumam YoLang dalam hati.


"Adik Yo... ada apa... kenapa senyum-senyum sendiri...?", tanya kakak Lun.


"Tidak apa-apa kakak... aku tersenyum karena didampingi putri cantik seperti kakak... hehehe... ", kata YoLang bercanda.


Kemudian terdengar paman MuTeng mulai berbicara tanda acara segera dimulai, diawali selamat datang kepada semua yang sudah hadir, kemudian memperkenalkan tamu dari kota Banto yang ternyata hadir adalah komandan penjaga kota Banto mewakili Walikotanya yang sedang latihan tertutup. Setelah itu diperkenalkan satu persatu pemimpin Klan Mu dan para tetuanya, Kepala desa YaoYo dan petinggi desa lainnya dan terakhir Pendiri Desa seketika YoLang berdiri menghadap para tamu dipanggung kehormatan kemudian menundukkan kepala sambil menyilangkan tangan didepan dada tanda hormat, dan menghadap kelapangan melakukan hal yang sama kepada para penduduk desa tanda hormat dan menghargai kedatangan para penduduk.


Hal ini menambah kekaguman orang-orang yang sudah mengenal YoLang lebih dulu, kemudian acara berlanjut dengan penampilan kakek MuChin sebagai kepala keluarga Mu yang menyampaikan asal usul, latar belakang dan keberadaan Klan Mu dari dulu sampai saat ini kemudian memproklamirkan berdirinya Klan Mu serta Perguruan Klan Mu didesa YaoYo. Setelah itu dia memanggil anaknya MuDhong untuk menerima pelantikan sebagai kepala desa yang disaksikan dan disahkan oleh wakil pemerintah kota Banto, acara pelantikan begitu hikmad karena ada acara sumpah sebagai kepala desa yang isi sumpahnya sesuai dengan harapan YoLang. Dan terakhir acara penunjukkan sosok Pelindung Klan Mu dan Perguruan Klan Mu yang juga sebagai pendiri Desa YaoYo, kemudian YoLang berdiri menuju tempat yang disediakan untuk berbicara dan dia mengambil posisi menghadap kearah dimana samping kirinya panggung kehormatan dan samping kanan adalah lapangan latihan tempat para penduduk berada. Kemudian YoLang mulai berbicara yang intinya adalah membangun bersama untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan, menjaga keseimbangan alam dan manusia serta saling membantu dan menghormati hak-hak hidup setiap makhluk hidup.


Kemudian kakek MuChin berdiri diikuti seluruh tetua dan petinggi Klan Mu dan menghadap kearah para penduduk dan terlihat YoLang melirik sang kakak Lun dan memanggilnya untuk berdiri berdampingan didepan para penduduk.


"Setuju... setuju... setuju"


Suara serempak sahut menyahut bergema dilapangan tersebut, disaksikan perwakilan dari Kota Banto kemudian terlihat kakek Muchin diikuti para tetua dan petinggi serta seluruh anggota keluarga Mu menunduk dan menyilangkan tangan didepan dada tanda hormat kepada YoLang yang berdiri didampingi kakak Lun-nya, kemudian YoLang membalas penghormatan mereka dan berkata...


"Saya YoLang menerima Penghormatan ini dan bersedia serta akan berusaha menjalankan amanat dengan sebaik-baiknya", kata YoLang dengan tegas.


Setelah itu dengan komando paman MuTeng semua hadirin mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan, suara canda tawa dari para penduduk menambah kemeriahan acara tersebut. YoLang yang diikuti oleh kakak Lun disampingnya terlihat mendatangi keempat orang perwakilan pemerintah kota Banto dan menyapa mereka.

__ADS_1


"Salam... paman semua... bagaimana keadaan paman semua... ?", tanya YoLang yang masih berdiri berdampingan dengan kakak Lun.


"Ahh... tuan muda Pendiri Desa... kami menikmati acaranya... dan tidak menyangka tuan masih begitu muda... saya kagum kepada tuan muda", kata sang komandan penjaga kota Banto itu.


"Terimakasih paman... dan ini ada hadiah kecil buat paman berempat dari saya dan kakak saya ini... tolong diterima", kata YoLang sambil menyerahkan masing-masing 3 botol giok kemudian menjelaskan isi botol itu dan sebuah pedang tingkat Langit kepada mereka.


"Wah... tuan muda sungguh bermurah hati... ini pedang tingkat langit sama seperti punya walikota Banto... sekali lagi terima kasih tuan muda YoLang dan nona Lun", kata sang komandan itu terlihat senang, demikian juga ketiga pengikutnya.


"Juga saya mengirim hadiah buat tuan Walikota ini... tolong disampaikan", kata YoLang melanjutkan kemudian menyerahkan sebuah kotak kayu berukir naga diatasnya, yang isinya sebuah pedang tingkat legenda dan 6 botol giok.


"Ahhh... baik tuan muda akan kami sampaikan hadiah ini kepada Walikota... terimakasih tuan muda", kata sang komandan penjaga kota itu.


Acara pesta berlanjut sampai malam hari, dimana acara pertunjukkan tarian khas daratan utara ditampilkan para anggota klan Mu juga ada beberapa ketrampilan beladiri yang lebih mengarah kepertunjukkan akrobatik ditampilkan, makanan masih tersedia dan guci arak masih banyak berderet diatas meja, panggang tubuh hewan buruan dan ternak terlihat sudah koyak-koyak tertinggal beberapa potong tulang diatas meja. Para tamu dari kota Banto sudah kembali sejak sore hari, dan diatas panggung kehormatan terlihat para tetua dan petinggi Klan Mu masih lengkap menemani YoLang dan kakak Lun menikmati acara pesta tersebut dan disaat itu YoLang mengambil kesempatan untuk mengatakan kepada kakek MuChin dan paman MuDhong bahwa mulai saat ini nona Lun sudah dia anggap sebagai kakaknya dan sudah menempati kamar yang diperuntukkan untuk kakek Yao, jadi YoLang berharap mereka juga akan memperlakukan nona Lun sebagaimana mestinya walau YoLang tidak berada didesa.


"Baik tuan muda... kami akan mengikuti seperti perkataan tuan muda, kami juga sangat berharap nona muda Lun setia mendampingi tuan muda YoLang...", kata kakek MuChin dan diiyakan oleh seluruh tetua dan petinggi Klan Mu.


"Baiklah kakek... paman... saya dan kakak Lun akan kembali kewisma... masih ada yang akan aku kerjakan malam ini... silahkan melanjutkan pestanya...", kata YoLang kemudian mengajak kakak Lun untuk meninggalkan tempat acara kembali kewisma dengan kereta kuda.


Perlahan Kereta kuda meninggalkan gedung Klan Mu menuju Wisma Pendiri Desa, dan didalamnya terlihat sepasang muda-mudi duduk berdampingan sambil saling lirik dan bergandengan tangan dengan erat.


"Kakak terlihat capek tidur saja... nanti aku bangunkan kalau sudah sampai diwisma... ", kata YoLang dan dibalas anggukan lemah dari kakak Lun yang memang terlihat sudah mengantuk.

__ADS_1


Kemudian YoLang dengan perlahan melingkarkan tangannya keleher kakak Lun-nya dan menarik kepalanya bersandar dibahu YoLang sambil memberikan kecupan dikening sang kakak yang terlihat sudah tertidur dan mengelus kepala sang kakak yang menyender dibahunya. Sampai diwisma kakak Lun masih asyik tertidur pulas kemudian YoLang turun membuka pintu wisma dan menggendong sang kakak yang masih tertidur, membawanya masuk kekamar dan membaringkan kakak Lun diatas tempat tidurnya. Kemudian YoLang keluar kamar kakak Lun-nya dan kembali kekamarnya sendiri untuk bermeditasi.


__ADS_2