Titisan Dewa

Titisan Dewa
Jula dan Juli


__ADS_3

Atas perintah YoLang kedua Rajawali itu mengitari desa YaoYo dari udara dan mengamati seluruh penduduknya selama 2 jam, kemudian kembali dikediaman YoLang.


"Bagaimana Jula... Juli...?", sambut YoLang.


Khaaakkk... khaaakkk...


"Bagus... burung baik...!", kata YoLang sambil mengelus-elus kedua burung itu kemudian mengirim keduanya kembali kedalam cincin jiwanya.


Dari yang YoLang pahami bahwa hewan jenis burung Rajawali adalah salah satu hewan yang berada ditingkat teratas dalam sistem rantai makanan, dan juga Rajawali Dua Alam termasuk hewan buas tingkat Surgawi dimana burung ini memiliki kecerdasan selayaknya manusia walaupun tidak sesempurna manusia dan disaat kekuatannya berada di tingkat Spiritual God mereka bisa berbicara dan berubah bentuk tubuhnya menjadi sosok manusia.


Saat ini kedua Rajawali berada ditingkat Surgawi Awal Alam Tinggi/Alam Kultivator atau Emas Akhir puncak kekuatan Alam Fana, mereka seperti YoLang harus menginjakkan kakinya di Alam Tinggi untuk mengalami kesengsaraan Petir/Pembaptisan kekuatan agar kekuatannya meningkat.


Keesokan harinya saat semua orang masih khusuk dengan meditasinya masing-masing terdengar langkah kaki mendekati kamar YoLang,..


Tok.. tok.. tok...


"Kakak...!", suara ribut dari sigadis kecil.


"Kak... bangun...!",


Kriieeekkk...


"Hmm... kamu tidak bermeditasi ya semalam... pagi-pagi sudah sibuk...?", tanya YoLang.


"Ada kakak...! mana Juli... aku mau terbang sama Burungku...!", kata Mayang.


Whuuzzz....


"Juli temani tuanmu yang cerewet itu jalan-jalan...!", kata YoLang kepada siPutih.


Khaaakkk...


"Yes... ayo juli... da da... kakak yang tampan dan baik hati...!", celoteh si gadis cilik.


"Jangan jauh-jauh...!", kata YoLang.


"Selamat pagi tuan muda... silahkan teh hangatnya...!", kata bibi Lun sang pelayanan.


"Ehh... bibi Lun... terimakasih...!", kata YoLang.


"Sama-sama tuan muda... sudah menjadi tugas saya melayani tuan muda dan keluarga... dan juga mau menyampaikan pesan dari tuan MuDhong bahwa tanaman herbal pesanan tuan muda sudah tersedia digudang belakang...!", kata sang pelayanan melanjutkan.


"Ohh... iya... terimakasih bibi Lun...!", kata YoLang.


Tanpa menunggu lama, YoLang bergegas kearah gudang yang berada dibelakang kediamannya dan menemukan banyak tumpukan tanaman herbal, dia mulai memilah-milah jenis herbal sesuai dengan jenis Pil yang akan dibuatnya. Tanpa memakai Tungku Hua yaitu tungku tingkat Ilahi miliknya dia mulai meracik Pil dengan menggunakan Teknik Kuno, hanya dalam waktu 10 menit 10 batch resep Pil Energi selesai dibuatnya, dengan jumlah herbal yang ada setiap resep 20 kali dia meraciknya. Setelah 3 jam berlalu YoLang selesai meracik semua herbal dalam gudang dan terlihat ratusan botol giok dengan tutup botol berbeda warna terhampar diatas lantai, 3 jenis Pil yang masing-masing ada ribuan butir rencananya akan dia serahkan kepada paman MuDgong untuk digunakan oleh seluruh penduduk desa YaoYo.


Setelah selesai meracik Pil YoLang menemui paman MuDhong yang sedang mengawasi pekerjaan para tukang...


"Paman...!", panggil YoLang.


"Ehh... tuan muda...! lihat itu...! sebentar lagi 5 unit rumah selesai... kalau kecepatan mereka seperti ini... 2 bulan lagi pembangunan desa kita akan selesai... kedepannya tinggal menambah sesuai kebutuhan...", kata paman MuDhong.


"Bagus... saya ikut senang paman...!", kata YoLang.


"Ini semua juga karena tuan muda...!", kata paman MuDhong.

__ADS_1


"Oh iya paman...! ini hasil dari herbal yang sudah dikumpulkan... yang tutupnya berwarna merah adalah Pil Energi... yang biru Pil Body dan warna Hijau adalah Pil Stamina... semuanya saya serahkan kepada paman untuk kebutuhan seluruh penghuni desa...!", kata YoLang menjelaskan, kemudian menyerahkan cincin jiwa yang berisi ratusan botol giok berisikan Pil.


"Apa ada dikeluarga paman yang mengerti tentang alkemis...?", tanya YoLang selanjutnya.


"Paman saya MuHoa... dia adalah alkemis tingkat-5... juga sebagai tabib dikeluarga Mu... tuan muda...!", kata paman MuDhong.


"Nah... nanti malam sampaikan pada kakek MuHoa untuk menemui saya...!", kata YoLang.


"Baik tuan muda...! akan saya sampaikan...!", kata paman MuDhong.


Kemudian YoLang kembali kekediamannya, sesampainya dia belum melihat keberadaan Mayang bersama siPutih,...


Whuuuzzz...


Khaaakkk...


"Jula... cari siPutih dan Mayang...", kata YoLang.


Khaaakkkkk...


Whuukk... whuukk... whuukkk... (suara kepakan sayap Jula siHitam menuju angkasa).


YoLang memasuki kamarnya tapi sebelum itu dia melihat bibi Maya sedang mendapat latihan dan petunjuk dari Dewa Obat disamping kediamannya, kemudian YoLang masuk kekamar dan mengeluarkan alat tulis berikut setumpuk kertas kosong dari dalam cincin jiwanya dan mulai menulis teknik yang sudah pernah dia berikan kepada keluarga inti dikota Klentang juga dia menciptakan beberapa teknik baru yang merupakan turunan dari teknik miliknya yang sudah dia sederhanakan agar mudah dipelajari. Semua teknik ciptaanya berada pada tingkat Langit dan rencananya teknik-teknik ini akan dia tinggalkan kepada keluarga Mu didesa YaoYo ini.


Khaaakkk... khaaakkk...


"Kakak... aku pulang...! hehehe... lihat ini kak... apa yang kubawa...?", kembali si celoteh berisik dari luar kamar YoLang.


Seketika konsentrasi YoLang buyar mendengar suara berisik dari luar kamarnya,...


"Weee... kami kerjasama kakak...! siPutih yang menangkap dan aku menjaga ikan-ikan ini...! hehehe...", kilah si gadis kecil.


"Bibi Lun...!", si celoteh berlalu tanpa melihat YoLang yang sedang menatapnya menuju dapur.


YoLang hanya terdiam sambil geleng-geleng kepala kemudian memasukkan siHitam dan siPutih kedalam ruang dimensi cincin jiwanya, kemudian menuju ruangan makan sambil menunggu bibi Lun menyiapkan makanan.


Setelah selesai makan siang YoLang kembali kekamar untuk melanjutkan menulis teknik- teknik ciptaannya sambil menitip pesan kepada mereka untuk tidak mengganggu karena ketelitian sangat diperlukan dalam membuat rangkaian gerakan sebuah teknik oleh sebab itu dia sangat berhati-hati.


Matahari telah terbenam di ufuk barat malampun menjelang teknik ciptaannya telah selesai ditulis diatas beberapa lembar kertas kemudian diikat menjadi satu buku setiap tekniknya dan diatas meja terlihat sudah ada beberapa buku.


YoLang sedang duduk didepan kediamannya sambil minum teh hangat buatan bibi Lun, sambil menunggu makan malam dia mengeluarkan sepasang Rajawali dari dalam cincin jiwanya,...


Khaaakkk... khaaakkk...


"Jula...! Juli...! periksa area sekitar desa dengan radius 5 kilometer dan segera kabarkan jika ada yang mencurigakan...! dan ini... makanlah...!", kata YoLang.


khaaakkk... khaaakkk...


Whuukkk... whuukkk... whuukkk...


Setelah makan potongan daging pemberian YoLang kedua Rajawali itu mengepakkan sayapnya terbang keangkasa menuruti perintah YoLang.


"Kakkaaakk.... dipanggil ikan danau nih...!", siceloteh kembali beraksi.


"Mayang...!", bibi Maya mulai kesal melihat tingkah Mayang.

__ADS_1


"Iya... iya... aku datang... mmm... sedaaappp, siapa yang masak...? bibi Maya yah...! enak kelihatannya...!", kata YoLang.


"Weee... ibu tadi latihan sama kakek Yao...! ini saya yang masak sama bibi Lun...", kata Mayang.


"Ayo... makan jangan ribut...!", kata bibi Maya.


Kehebohan kembali terjadi dimeja makan karena ulah Mayang.


"Eeehhh... jangan dihabiskan kakaaakk...! sisakan 1 ekor buat siPutih...! itu buat ongkos dia menangkap ikan didanau tadi siang...!", kata siceloteh tiada henti.


"Sudah...! tadi kakak sudah memberikan satu potong besar daging kepada siPutih juga siHitam...!", kata YoLang.


Kehebohan berhenti setelah acara makan selesai karena Mayang harus ikut kakek Yao untuk diberikan latihan malam ini, sementara bibi Maya kembali kekamar untuk bermeditasi dan YoLang keruangan tamu untuk menunggu kedatangan para sesepuh Klan Mu, sebelum itu dia memberitahukan kepada bibi Lun untuk menyajikan teh hangat jika mereka sudah datang. Tidak lama menunggu dia melihat rombongan itu tiba dan masuk kedalam,...


"Salam kakek sekalian... dan Paman MuDhong... mari silahkan duduk...!", sambut YoLang.


"Terima kasih tuan muda...!", kata paman MuDgong mewakili rombongan itu.


"Baiklah... terimakasih sudah datang kakek sekalian... pertemuan malam ini saya khusus akan memberikan pemahaman mendalam tentang Alkemis... dan sedikit pengetahuan tentang keTabiban kepada kakek MuHoa... dan 5 teknik tingkat langit kepada kakek MuChin dan kakek MuFeng...!", kata YoLang menjelaskan dan menyerahkan 5 buku teknik kepada kakek MuChin, kemudian mendekati kakek MuHoa dan menyentuh kepalanya dan mentransfer pengetahuan tentang Alkemis dan Tabib sampai ketingkat Master Alkemis sama seperti kakeknya Roulang di kota Klentang.


"Nah... untuk kakek MuHoa tolong dipahami pengetahuan yang saya berikan...! dan setelah kakek menguasainya kakek sudah menjadi seorang Master Alkemis... dan hasil herbal desa YaoYo bisa kakek olah untuk keperluan penduduk desa... jika ada yang lebih bisa untuk dijadikan lahan bisnis desa dan nanti yang akan mengaturnya adalah paman MuDgong...!", kata YoLang.


"Kemudian kakek MuChin dan kakek MuFeng...! 5 teknik yang kuberikan pertama adalah teknik "Getaran Langit Bumi"... ini adalah Teknik Meditasi untuk menyerap energi Alam... inti sebuah benda... atau inti hewan buas... juga teknik untuk membangkitkan titik-titik meridian... Kedua adalah teknik "Mata Bintang"... adalah teknik untuk melihat jarak jauh dan melihat tingkat kekuatan seseorang yang sama tingkatnya dengan kita... Ketiga adalah teknik "Tapak Bumi" adalah teknik beladiri tangan kosong yang mengandalkan kekuatan hawa murni... Keempat adalah teknik "Tebasan Langit" adalah teknik beladiri dengan menggunakan senjata jenis pedang dan yang kelima adalah teknik "Tarian Petir Ilahi"...! adalah teknik beladiri dengan menggunakan senjata jenis Tombak...!", kata YoLang menjelaskan.


"Dan tolong diingat... semua yang kuberikan untuk dijaga dan jangan disalahgunakan... pergunakan untuk membantu yang lemah dan yang membutuhkan pertolongan kita yang mampu...!", kata YoLang menjelaskan panjang lebar.


"Untuk semua yang sudah saya jelaskan apakah ada yang ditanyakan...?", kata YoLang.


"Ahh... saya rasa sudah sangat jelas nak YoLang... juga kami akan sangat selektif untuk menurunkan ilmu-ilmu ini dan yang jelas hanya pada keluarga inti yang akan mewarisinya...!", kata kakek MuChin.


"Baik... untuk kakek MuHoa bagaimana...?", tanya YoLang.


"Saya butuh waktu untuk mempelajarinya... dan sama seperti kakak MuChin saya juga akan memilih pewaris ilmu ini yang dapat dipercaya serta yang bertanggungjawab...!", kata kakek MuHoa.


"Paman MuDhong apa ada yang mau disampaikan...?", tanya YoLang.


"Ya sedikit tuan muda...! kita membutuhkan banyak kuda... karena beberapa sudah mati kelelahan waktu mengangkut kayu dari hutan... dan kami merencanakan membeli dari keluarga tuan muda di kota Klentang...!", kata paman MuDhong.


"Bisa juga hanya terlalu jauh...! begini saja buatlah kelompok pemburu... dan di hutan Tembo sebelah selatan dari sini banyak terdapat kuda liar yang bisa dijinakkan... dan disana juga banyak tanaman herbal...!", kata YoLang menjelaskan.


"Ohh... baik... baik... ! akan kami laksanakan tuan muda...! dan semua sudah jelas...! kalau begitu kami pamit tuan muda... dan selamat beristirahat...!", kata paman MuDhong mewakili rombongan itu sambil berpamitan pulang.


Setelah rombongan itu pulang YoLang memanggil siHitam dan siPutih kembali,...


Sssuuuiiittttt.....


Khaaaakkkk... khaaaakkkk...


"Bagaimana?... aman?...!", tanya YoLang.


Khaaakkkk...


"Bagus...! masuklah...! ", kata YoLang.


Whuuuzzzzz....

__ADS_1


__ADS_2