Titisan Dewa

Titisan Dewa
Bangkitnya Keluarga Lun


__ADS_3

Sudah 5 hari mereka berada dipinggiran Kota NanBei, kakek Lun Xiao sudah mulai berlatih kembali dan memimpin Klan Lun yang beberapa tahun terakhir ini terpuruk sampai ketitik yang paling bawah. Dengan hadirnya YoLang dan anggota keluarga Lun lainnya yang terpisah selama 15 tahun lamanya mereka bangkit, membangun kembali kejayaan Klan Lun yang terkenal dengan keahlian mereka berdagang dan pernah terkenal dengan pendekar-pendekar yang berilmu tinggi seperti sang nenek Shin YuWen yang terkenal dengan julukan 'Pendekar Selendang Maut' karena senjatanya adalah sebuah kain selendang yang sudah banyak memakan korban.


YoLang mulai merencanakan pembangunan kembali kediaman Klan Lun yang terlihat sudah sangat tidak memenuhi syarat untuk sebuah Klan yang pernah mempunyai nama, setelah mendapat persetujuan sang kakek sebagai pemimpin Klan mereka mulai membangun kediaman itu yang lahannya sangat luas melebihi luas kediaman Naga Emas diKota TangJun daratan selatan Benua Besar. YoLang juga melengkapi kediaman Klan Lun dengan berbagai fasilitas latihan termasuk menara meditasi serta membuka cabang Perusahaan Dagang JinLong serta Paviliun Naga Emas di tempat tersebut, YoLang juga menempatkan 10 orang anggota pasukan Naga Hijau dan 20 anak murid perguruan Belati Emas untuk menjaga keamanan dan membantu bisnis keluarga Lun,...


"Kakek dan nenek...! fokus saja berlatih meningkatkan kekuatan dan mengawasi bisnis... selebihnya serahkan kepada saya dan istri-istri saya...!", kata YoLang kepada Lun Xiao dan Shin YuWen.


"Nak... jangan lupakan hutang darah yang sudah ditebarkan oleh siBanjingan BaiZhu itu...! kami tidak akan tenang jika dia belum diberi pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya kepada keluarga kita...!", kata Shin YuWen dengan tegas.


"Nenek tenang saja... kita pasti akan membalasnya...?", kata YoLang menenangkan sang nenek.


"Iya nek... saya tidak akan tinggal diam...!", kata PingYu/YoLun menambahkan.


"Kakek... nenek... pembangunan sementara berjalan... dan ayah LunPing akan mengawasi semua pekerjaan ini dibantu dengan... mmm... ibu Maya... sedangkan kami akan kembali ke Benua Pulau Hijau beberapa hari kedepan... kami akan melihat penyelesaian pembangunan Pelabuhan di sana... saya juga sudah membuatkan gerbang teleportasi... supaya anggota keluarga dapat setiap saat menemui kami di Kediaman Naga Emas...", kata YoLang menjelaskan.


"Baik nak... selesaikan semua urusanmu... dan kembali kesini... kita harus segera mengadakan pesta... karena terlihat ayah mertuamu itu sudah dekat dengan ibu mertuamu...! hehehe...", kata Shin YuWen.


"Iya Nek... itu juga sudah menjadi rencana kami anak-anak... dan kami sudah menyetujui mereka...!", kata PingYu/YoLun menambahkan.


"Sebaiknya acara itu kita laksanakan kalau pembangunan kediaman Klan Lun ini sudah selesai... juga pestanya kita bikin sederhana saja... jangan terlalu menyolok... kita harus menutupi banyak hal dari pihak Kerajaan BeiZuan karena ada beberapa pejabatnya adalah antek-antek Kerajaan Shima Daratan Timur... mereka semua sebenarnya adalah anggota Assosiasi Matahari Merah diBenua Besar ini...!", kata kakek Lun Xiao menjelaskan.


"Hahh... ini semua karena aku... maafkan nenekmu ini nak...!", kata sang nenek yang terlihat sedih, karena awal mula pertikaian antara Assosiasi Matahari Merah dengan Klan Lun adalah ketika Shin YuWen tidak mau menerima pinangan BaiZhu dan kemudian menikahi tunangannya Lun Xiao suaminya saat ini.


"Sudahlah nek... kita akan mengatasi mereka semua...! tapi seperti yang suamiku sampaikan... belum sekarang...! kita harus menyelidiki dulu dengan baik dan membuat rencana yang matang...!", kata PingYu.

__ADS_1


Setelah mengatur segala hal di Kediaman Klan Lun, YoLang juga sudah memanggil salah satu perwira tingginya yaitu Komandan pasukan Naga Hijau Wang Yuan untuk memimpin anggotanya sebanyak 10 orang serta 20 anak murid perguruan Belati emas untuk tetap berjaga dan mengawasi kediaman Klan Lun serta membantu usaha bisnis mereka. Kemudian YoLang membawa kedua istrinya dan kedua orangtuanya menuju desa YaoYo untuk melihat persiapan pelabuhan YaoYo,...


"Nak... kita mampir sebentar dipaviliun kita... sudah lama ibu tidak melihat rumah kita itu...!", kata MaiLang ketika mereka sudah berada di Kota Klentang.


"Baik ibu... aku juga sudah rindu dengan pondok latihanku...! hehehe...", kata YoLang.


"Ahh... kalian ini... ayah juga ingin mengambil peralatan berburu ayah... hehehe... siap tau ada gunanya diBenua Besar...?", kata PiYo.


Sesampainya di paviliun milik PiYo dan MaiLang itu, mereka melihat paman Bua dan bibi Sarah yang sekarang tinggal dipavilun sedang berada dibagian belakang paviliun tepatnya diruang alkemis dan sedang meracik Pil. Setelah puas melihat-lihat paviliun itu mereka melanjutkan perjalanan mereka kedesa YaoYo dan tiba diWisma Pendiri Desa yang saat ini sedang ditinggali oleh paman MuTeng dan keluarganya,...


"Ahh... selamat datang kembali nak YoLang... ohh... ada tuan PiYo dan nyonya MaiLang juga... mari silahkan masuk...!", sambut paman MuTeng melihat mereka keluar dari gerbang portal.


"Terimakasih paman Muteng... kami akan langsung menuju kepelabuhan... apa kereta saya bisa digunakan paman...?", kata YoLang.


Beberapa saat kemudian kereta kuda berserta gerbongnya telah siap dihalaman Wisma itu, segera YoLang, YoLun, Mayang, PiYo dan MaiLang masuk kedalam gerbong kereta kemudian paman Muteng yang mengendalikan kereta kuda tersebut mereka menuju pesisir pantai timur dimana pelabuhan YaoYo berada. Perjalanan selama 2 jam dinikmati oleh para wanita didalam gerbong kereta itu karena pemandangan alamnya yang indah, YoLun dan Mayang juga memperkenalkan bukit bunga dikejauhan tempat sang Dewi Peri Alura pernah tinggal kepada ibu mertua mereka MaiLang dan menjelaskan tentang tempat tersebut,...


"Wah... nak... pemandangan dibukit itu memang indah... kapan-kapan ajak ibu kesana ya...!", kata MaiLang kepada kedua mantunya itu.


"Iya ibu... bunga-bunganya juga masih banyak tumbuh subur disana... sengaja kami tingalkan agar tetap tumbuh dan berbunga dibukit itu...!", kata Mayang.


"Nak... jalan lintas ini jangan kau ijinkan untuk dibangun pemukiman... nanti akan merusak pemandangan yang indah disepanjang jalan lintas ini... sampaikan ini kepada para tetua Klan Mu...!", kata MaiLang kepada putranya YoLang.


"Baik ibu... akan saya sampaikan kepada kakek MuChin dan paman MuDhong...!", kata YoLang.

__ADS_1


Perbincangan mereka terhenti setelah kereta kuda tersebut memasuki kawasan pelabuhan YaoYo, dan mereka melihat keramaian yang ada di sekitar pelabuhan yang telah berdiri banyak gedung dan toko-toko, para pedagang sudah banyak yang membawa barang dagangan mereka kepelabuhan ini karena sudah bersandar 2 buah kapal layar yang besar dengan bendera berwarna Kuning dengan gambar Naga Emas ditengahnya. Kapal Layar Naga Hijau dan Kapal Layar Naga Hitam yang sedang berlabuh, tengah memuat barang-barang dagangan milik para pedagang untuk diangkut keBenua Pulau Hitam. Terlihat juga sebuah gedung yang besar dengan papan nama Perusahaan Dagang JinLong dan didepannya telah didirikan sebuah panggung dan sementara dihiasi oleh anggota keluarga Klan Mu,...


"Kakek MuChin bagaimana persiapannya...?", tanya YoLang ketika sampai digedung Perusahaan tersebut.


"Ahh Nak... sudah hampir selesai... dan dipastikan besok pagi acara peresmiannya akan dihadiri juga oleh tuan Walikota...!", kata kakek MuChin.


"Bagus... apa tanggapan tuan walikota dengan adanya pelabuhan ini...?", tanya YoLang.


"Hehehe... tuan walikota sangat bersyukur karena kamu sudah mau membuat dermaga pelabuhan ini... dan tuan walikota menyerahkan semua urusan pelabuhan kepada kita...! demikian juga dengan segala macam perizinan sudah dilimpahkan kepada kita... pihak Walikota hanya meminta agar kita bisa mempekerjakan banyak orang yang berasal dari daratan utara ini sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan para penduduk...", kata kakek MuChin menjelaskan.


"Ya itu salah satu tujuanku membuat pelabuhan ini...! apakah ada anak buah kapal kita yang berasal dari penduduk daratan utara ini...?", tanya YoLang selanjutnya.


"Benar nak...! dimasing-masing kapal Naga itu terdapar 6 orang penduduk daratan utara ini... dan mereka sudah diajarkan oleh para ahli pelayaran dari kota Sompoi...", kata kakek MuChin.


"Hmm... bagus...! kakek sudah mengatur semua dan terlihat sangat memuaskan...!", kata YoLang.


YoLang dan kedua istrinya serta kedua orangtuanya menginap diHotel yang berada dipelabuhan YaoYo, Hotel tersebut juga dikelola oleh anggota keluarga Mu yang mempekerjakan beberapa orang penduduk yang tinggal disekitar pelabuhan karena selain Hotel juga terdapat Restoran didalam satu gedung itu. Keesokan harinya suasana pelabuhan sangat ramai, banyak pengunjung yang berdatangan dari kota Banto dan kota Lamur karena mereka mengetahui adanya acara peresmian pelabuhan YaoYo, tidak ketinggalan kakek Putong yang adalah Walikota Kota Klentang dan nenek Muning ikut hadir dalam acara peresmian tersebut. Dipanggung acara tersebut terlihat kedua Walikota sedang berbincang akrab,...


"Ohh... jadi nak YoLang itu cucu saudara Putong...? hahh... sungguh aku tak menyangka... akan lahir seorang anak sejenius itu dibenua kita ini saudara Putong...!", kata sang walikota Kota Banto.


"Ya... dia anak yang baik... dan selalu membantu siapa saja yang mengalami kesusahan tanpa memandang siapa orang itu... dan hanya satu yang paling dia benci yaitu pengkhianat...!", kata Putong.


Acara peresmian berlangsung meriah dan ditutup dengan mengantar kedua kapal Naga berlayar menuju Benua Pulau Hitam membawa banyak penumpang dan barang dagangan mereka, YoLang juga sudah membuat gerbang teleportasi antara pelabuhan dengan desa YaoYo sehingga mempermudah anggota keluarganya untuk melakukan aktivitas perdagangan. Setelah menyelesaikan semua urusan, mereka berlima kembali keBenua Besar diKediaman Naga Emas kota TangJun daratan selatan.

__ADS_1


__ADS_2