
Mereka berempat kembali kepenginapan dan mengatur rencana setelah melihat dan mendengar rencana Pangeran Pertama dan sekutunya, selain akan merugikan banyak penduduk juga akan mengorbankan banyak nyawa jika terjadi perlawanan oleh pihak pemerintahan kota Polak. Karena yang berdiri dibelakang Pangeran Pertama ada sekelompok bandit yang tidak memiliki perasaan belas kasihan, yang mereka pikirkan hanyalah kekuasaan, harta dan kepuasan.
"Kita akan mengejar kelompok bandit-bandit itu kak... keluarkan Juli kami akan akan terbang menyusuri jalan lintas menuju kota Polak...!", kata LoryMei.
"Baiklah... adik Lory akan bersama Mayang menunggangi Juli... sisir jalur jalan lintas sampai kota Polak... sementara aku dan YoLun akan menyisir jalur bagian timur... Ingat jangan membunuh kalau tidak terpaksa... cukup lumpuhkan saja... dan satu lagi... samarkan wajah dan tubuh kalian agar tidak mudah dikenali...!", kata YoLang mengingatkan kedua gadis itu.
Whuuuzzz... Whuuuzzz...
YoLang mengeluarkan Juli dan Jula setelah mereka berada diatap gedung penginapan,...
"Juli...! antarkan Mayang dan Lory... terbang setinggi mungkin agar tidak terlihat orang dari bawah...!", kata YoLang.
Khaaakkk...
"Baik kak... kami berangkat duluan... ayo Juli... terbang...!", kata Mayang kemudian mereka melesat keudara dengan cepatnya.
"Istriku...! gunakan pakaian hangatmu terbang malam begini pasti dingin...!", kata YoLang mengingatkan sang istri sebelum mereka terbang.
"Suamiku apakah kita juga akan menyamarkan wajah kita...?", tanya YoLun.
"Iya... lebih baik begitu...! biar kedepannya aman buat kita...! eennmm...?", kata YoLang.
Jula terbang melesat kearah timur kota Wui, sedangkan Juli yang membawa Mayang dan LoryMei terbang mengarah bagian utara dari kota Wui. Malam semakin larut dan suasana langit daratan selatan semakin dingin tapi tidak menghentikan sepasang Rajawali Dua Alam terbang sambil membawa tuan mereka untuk mencari para bandit, Juli sudah meninggalkan kota Wui sejauh 50 Km kearah utara dan Jula dibawah kendali YoLang sudah berada 30 Km sebelah timur kota Wui. Setiap jarak 5 Km YoLang memeriksa keadaan dibawahnya untuk melihat aura kehidupan manusia baik yang diam maupun yang bergerak.
"Jula... pindah arah dan sekarang mengarah keutara...!", kata YoLang.
Khhaaakkk...
Setelah 2 jam terbang diudara YoLang merasakan adanya aura kehidupan beberapa orang dibawah mereka, dan setelah memeriksa ternyata mereka adalah sekelompok pemburu yang sedang menuju hutan perburuan yaitu 'Hutan Mogabon' hutan perburuan terbesar didaratan selatan ini. Jula kembali melesat terbang mencari buruan tuannya sampai menemukan puluhan orang berpakaian hitam dengan berbagai senjata ditangan mereka sedang duduk berkumpul mengitari api unggun.
"Berhenti Jula...! kita periksa mereka dari atas sini...!", kata YoLang kemudian memeriksa sekelompok orang berpakaian hitam dibawahnya.
"Hmm... Itu kelompok 'Kelelawar Malam' ada 32 orang dan pemimpin kelompok yang berada didalam kemah dan sedang istirahat... bagaimana istriku...? kau mau main-main sebentar dengan mereka...?", kata YoLang sambil menantang sang istri.
"Hmm... boleh juga... aku pinjam belatimu sayang... dan kamu cukup melihatnya dari sini jangan ikut campur...!", kata sang istri dengan tegas.
"Baiklah...cukup lumpuhkan mereka sampai tidak bisa bertempur...! dan tahan pemimpinnya untuk mencari informasi...?", kata YoLang
"Baik suamiku... aku turun...!", kata YoLun kemudian melesat turun kebawah dan mendekati kelompok itu.
YoLun berjalan mendekati kelompok berpakaian hitam yang sedang menghangatkan diri disekitar api unggun, dia yang sudah mengganti wajah dan tubuhnya menyerupai anggota kelompok tersebut dan segera berbaur kemudian ikut duduk untuk menghangatkan tubuh disekitar api unggun.
"Saudara Bun... siapa orang itu...? aku baru melihatnya...?", kata seorang bandit yang baru melihat YoLun yang sedang menyamar dan ikut duduk berbaur dengan mereka.
"Ahh... adik Ma... itukan si LuanWu saudaranya LuanWa... sudahlah kalau kamu sudah mengantuk tidur saja... jangan mengganggu yang lain... perjalanan kita masih jauh...!", kata seseorang yang dipanggil Bun itu.
"Hmm... aneh baru sekarang aku melihatnya...! Ahh... pusing amat...! hooaamm...", katanya.
Kelompok kelelawar malam sudah ada yang pulas tertidur, tapi masih ada juga yang masih terjaga dan saling berbincang-bincang. YoLun sudah mengerahkan kekuatan spiritualnya walaupun belum sekuat YoLang dan kedua gadis kecil tapi untuk melumpuhkan anggota kelompok disekitarnya dia yakin bisa, dan perlahan-lahan terlihat anggota kelompok yang berada didekatnya mulai tumbang seperti tertidur. Dengan setengah berbisik YoLun mengerahkan teknik meminjam pikiran seseorang sehingga orang tersebut seakan-akan dibawah kendalinya,...
"Cahaya Rembulan"... tidurlah...!
"Cahaya Rembulan"... tatapan kaku...!
Sudah sebagian anggota kelompok itu dibawah kendalinya, tapi masih ada yang memiliki kekuatan jiwa yang kuat dan sulit ditumbangkan olehnya,...
"Mmm... masih ada juga yang bisa bertahan... hmm... terpaksa harus dengan kekerasan...", bergumam YoLun dalam hati untuk mengambil tindakan selanjutnya karena melihat tekniknya tidak sepenuhnya berhasil menguasai anggota kelompok tersebut yang berjumlah 32 orang.
"Langkah Cahaya"
__ADS_1
Whuuzz... whuuzz...
"Jari Dewa Pelumpuh Tulang"
Zheebb... zheebb... Zheebb...
Ahhh... Arrggg... Uhhh...
Beberapa anggota kelompok Kelelawar Malam tumbang berjatuhan karena tidak memiliki kekuatan lagi terkena totokan jari YoLun yang bergerak seperti cahaya melumpuhkan mereka.
"Awaaaasss...! ada penyusup...! bangun kawan-kawan... ada penyerangan...!", teriak anggota kelompok tersebut yang sadar dan melihat beberapa temannya telah tumbang dan tak berdaya.
YoLun melihat situasi sudah tidak bisa dia kendalikan dengan sepenuhnya kemudian mengambil keputusan untuk bertindak lebih keras, dia mengeluarkan Belati yang dibawanya dengan kemampuannya dia menyerang...
"Menyerahlah...! dan kembalilah kejalan yang benar...! dan aku akan mengampuni nyawa kalian...!", kata YoLun mengancam.
"Brengsek...! siapa kau... terimalah ini...! hiaattt...!", sambil mengeluarkan goloknya seorang anggota kelompok kelelawar malam itu menyerang YoLun.
"Langkah Cahaya"
Whuuzzz... Whuuzzz...
Chraaasss...
Ahhhkkk...
"Jari Dewa Pelumpuh Tulang"
Zheebbb...
Uuhhhh...
"Kepung penyusup itu...!", kata seorang anggota kelompok bandit itu.
"Hei... bajingan serahkan nyawamu...!", kata seorang yang lainnya.
"Brengsek... habisi dia...!", kata seorang bandit.
Hiaatttt... Chiiiaattt...
"Makan Golokku ini...! Hiaaattt...!", kata seorang bandit.
Menerima serangan bertubi-tubi dari beberapa anggota kelompok kelelawar malam YoLun melesat menghindar sambil memberikan serangan,...
"Langkah Cahaya"
"Asmara Petir Rembulan"
Whuzzz... jdeeer...whuzzz... jdeeer...
Ahhkk... aduuhh... arrgghh... ahhkk...
Whhuuuzzz...
"Cukup istriku...! lumpuhkan saja mereka... jangan dibunuh... mereka hanya mengikuti perintah pemimpinnya...!", kata YoLang yang tiba-tiba telah berada disampingnya.
"Hmm... maaf sayang... aku hanya membela diri...!", sanggah YoLun.
"Siapa kalian berdua...! kenapa melukai anak buahku...!", kata seseorang dengan tegas dan terlihat marah.
__ADS_1
"Siapapun kami... tapi mulai saat ini kalian bukan lagi kelelawar malam...! tapi akan menjadi kelinci jinak dan penurut...! hehehe...", kata YoLang.
"Bajingan...! terima seranganku... hiaaattt...!", kata pemimpin kelompok kelelawar malam yang terbangun mendengar keributan diluar tenda tempat dia sedang beristirahat.
"Golok Penghancur Raga"
Hiaa... Hiaaatttt...
Swuuttt... whuuttt...
YoLang yang telah bersiaga segera menghindar dan membalas dengan memberikan serangannya,...
"Langkah Cahaya"
Whuuzz... Whuuzz...
"Cahaya Meraih Bintang"
Zzhheeebbb...
"Amukan Badai Naga"
Dhuukkk... Dhesss...
Bhuuukkk... Bruuaakk...
Aahhkkk...
Sang pemimpin terlempar sejauh 10 meter dihantam serangan YoLang dengan tekniknya 'Amukan Badai Naga' dan tersungkur diatas tanah dan terlihat darah segar menetes keluar dari sudut bibirnya.
"Si..siapa kau sebenarnya...!", kata sang pemimpin kelompok Bandit Kelelawar Malam itu
"Aku adalah siPemilik Malam...! datang untuk mengambil nyawamu...! hehehe...",
"Aahhkkk... ampuni aku...!", kata sang pemimpin bandit tersebut.
"Baik kalau itu maumu...!", kata YoLang.
"Tidak denganku sayang...! aura membunuhnya sudah sangat pekat...! entah sudah berapa nyawa yang diambilnya... dan ini adalah hukuman untuknya...!", kata YoLun menyela sang suami yang akan mengampuni ketua kelompok itu.
Chraassshhh...
Ahhkkk...
"Ahhh... tanganku...! tolong jangan bunuh aku... aahhkk...!", kata sang pemimpin yang tangannya telah ditebas dengan belati oleh YoLun.
"Itu adalah hukuman yang ringan untukmu...! ingat aku adalan siRembulan Malam... akan datang mengambil nyawamu jika kau berbuat jahat lagi...!", kata YoLun mengancam sang ketua kelompok Kelelawar Malam.
"Suamiku hilangkan ingatan mereka... aku akan membereskan yang lain...!", kata YoLun kemudian berlalu, dan hanya terdengar suara tebasan belati diiringi raungan mengaduh dari anggota kelompok itu yang salah satu tangannya terpisah dari tubuh mereka.
Semua anggota bandit Kelelawar Malam telah lumpuh dan terbaring tak sadarkan diri diatas tanah dengan sebelah tangannya yang sudah terpisah dari tubuh mereka, dengan kemampuannya sebagai Tabib Ilahi YoLang mengobati ke 32 orang tersebut agar tidak kehabisan darah. Kemudian YoLang menghilangkan ingatan mereka tentang kejadian yang mereka alami dimalam ini, dan menyelipkan beberapa ratus ribu koin emas kesaku mereka dan kemudian meninggalkan mereka.
"Ayo kita lanjut istriku...! masih ada anak buah Pangeran Pertama yang berkeliaran menuju kota Polak...!", ajak sang suami kemudian mereka melesat keudara diatas punggung Jula yang sudah menanti mereka berdua.
"Ayo Jula kita cari yang lain...!", kata YoLang.
Whuuusss...
Jula melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu dan kembali menyusuri hutan sekitar jalan lintas menuju kota Polak, YoLang dan YoLun yang berada diatas punggung Jula mulai mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk merasakan keberadaan para pasukan pengintai yang dikirim oleh Pangeran Pertama. Sementara itu ditempat lain Juli yang membawa Mayang dan LoryMei terlihat sedang menukik dari ketinggian langit menuju sebuah lokasi pinggiran hutan dimana terdapat puluhan orang yang sedang beristirahat melewati malam dan menanti sang mentari bersinar.
__ADS_1