Titisan Dewa

Titisan Dewa
Perburuan Hari Kedua


__ADS_3

Jenis mata uang :


1 Koin Emas \= 1.000 Koin Perak


1 Koin Perak \= 1.000 Koin Perunggu


Harga Barang :


Permen \= 1 Koin Perunggu


Makanan \= 20 Koin Perak


Pakaian \= 50 - 100 Koin Perak


Senjata Biasa \= 500 - 1.000 Koin Perak


Tingkat Bumi \= 20 - 100 Koin Emas


Tingkat Langit \= 100 - 500 Koin Emas


Tingkat Legenda \= 100ribu - 1juta Koin Emas


Tingkat Kuno \= (?) Koin Emas


Tingkatan Senjata :


Biasa

__ADS_1


Dasar - rendah - menengah - tinggi


Bumi - rendah - menengah - tinggi


Langit - rendah - menengah - tinggi


Legenda - tinggi - pusaka - surgawi


Kuno - tinggi - pusaka - surgawi


Dewa - pusaka - surgawi - maha dewa


Dengan senyum bahagia Piyo menyimpan bunga Anggrek Hitam temuannya didalam pondok, sebelumnya dia sudah membuat sebuah wadah dari anyaman ranting pohon yang berbentuk pot bunga dan tak lupa dia memasukkan serbuk kayu yang dicampur dengan tanah dan lumut kedalam wadah pot tersebut.


Matahari mulai beranjak naik walau masih ada tersisa kabut embun yang menyelimuti bagian dalam hutan, bergegas keempat pemburu itu memasuki kawasan hutan yang masih berada diarea luar hutan karena semakin kedalam tingkat kesulitan semakin tinggi karena tingkat hewan buruan semakin tinggi tingkatannya apalagi kawasan area inti hutan atau area terlarang.


Area Luar :


Hewan Biasa dan 2-3 jenis Hewan Buas


Area Dalam :


Hewan Buas tingkat 1 sampai tingkat 3 dan Hewan Siluman tingkat rendah


Area Inti / Terlarang :


Hewan Buas tingkat 4 sampai 9

__ADS_1


Hewan Siluman tingkat rendah sampai tingkat tinggi. (menurut catatan Kuno para leluhur keluarga didesa Klentang).


Beriringan mereka berempat mencari sarang kuda liar, 2 jam menelusuri lebatnya hutan sampai mereka melihat seekor Ular Phyton seukuran paha orang dewasa sedang bergulat melilit seekor anak kuda dan mulut ular yang sedang menggigit kaki kiri bagian belakang anak kuda tersebut.


"Ambil posisi kiri dan kanan...! kita ambil Ular itu...! kulitnya sangat berguna dan harganya mahal kalo dijual selain itu dagingnya enak untuk dimakan...!", kata Randang.


"Benar...! dagingnya juga bagus untuk sumber tenaga dalam... terlebih empedu ular adalah bahan bagus untuk obat...!", kata Bua yang keluarganya adalah ahli alkemis dan paling mengerti jenis jenis bahan pembuatan obat.


"Baik...! tebas kepalanya sebelum dia membunuh anak kuda itu...!", kata Piyo sambil mencari posisi.


Randang yang menggunakan senjata Tombak sepanjang hampir 2 meter, dan dengan mata tombak tajam terbuat dari besi pilihan melompat sambil mengarahkan tombaknya kebagian leher sang ular. Dengan gesitnya ular tersebut berkelit sambil melepas gigitannya dari kaki kuda, kemudian mengangkat kepalanya pertanda sang ular marah dan bersiap untuk menyerang musuhnya...


Zzzzzzzzzzz...


Zzzzzzzzzzz...


Dua kali patukan ular meleset, karena secara gesit Randang menghindar sambil berusaha menyerang kembali dengan tombaknya, tiba tiba...


Zzzzzzz...


Swiinngg...


Crashss...


Darah menyembur dari leher ular tersebut akibat terputusnya kepala ular dari badannya, Tulong yang lihai memainkan pedang berhasil mendapat kesempatan dari arah samping kiri dan menebas leher ular tersebut saat sang ular sedang fokus menyerang Randang. Selang beberapa menit kemudian lilitan ular ditubuh anak kuda dapat dilepas, walaupun agak pincang akibat bekas gigitan ular dikaki kuda tersebut masih dapat berdiri. Segera Tulong mengobati kaki anak kuda tersebut dan membalutnya dengan sobekan kain,


setelah mengobati kaki anak kuda dan memasukkan tubuh ular dalam keranjang rotan mereka bergerak kearah sungai dimana perkiraan mereka terdapat kawanan kuda liar yang sedang beristirahat sambil minum, benar saja 50 meter sebelum aliran sungai mereka melihat sekawanan kuda liar sedang menikmati air sungai yang jernih.

__ADS_1


__ADS_2