Titisan Dewa

Titisan Dewa
Menderita


__ADS_3

Teknik Pusaran Cahaya sudah 100%, Langkah Cahaya 70%, Mata Cahaya 20%, Tebasan Seribu Pedang 80% dan Hujan Pedang 20%. Pencapaian YoLang dalam memahami dan penguasaan 5 teknik dari gurunya Dewa Cahaya sungguh memuaskan dan untuk seorang ahli beladiri tingkat tinggi hasil tersebut biasa biasa saja tapi untuk seorang anak kecil yang usianya belum 6 tahun adalah seorang Jenius. Kata bermain seperti anak seumurannya tidak pernah terlintas dalam benaknya, istilah tidur telah dilupakannya yang ada hanyalah berlatih dan berlatih, pagi sampai sore dengan latihan phisik dan teknik sedangkan dimalam hari sampai subuh dia melakukan meditasi dan secara terus menerus memahami semua ilmu yang diberikan gurunya yang semuanya telah berada dalam kepalanya.


Tanpa disadarinya ternyata ada sepasang mata memancarkan cahaya putih selalu mengawasinya dari langit, sesekali mengangguk namun ada kalanya menggeleng melihat sang bocah berlatih,...


"Ahh... terlalu lama... masih lembek... ahh... tidak bertenaga... hmm... bagus... ya... begitu... ya... bagus... mmm... terus berputar...!", kata sosok itu dari balik awan dan beberapa saat kemudian melesat turun menuju tempat sang murid berlatih...


"Murid menyapa guru...!", kata YoLang sambil membungkukkan badannya tanda hormat. Dan tanpa basa-basi sang guru langsung berkata...


"Bangkitlah...! muridku... mulai hari ini aku akan bersamamu sampai beberapa bulan kedepan... aku akan menuntunmu... sebab tubuhmu masih harus ditempa lebih keras lagi agar pondasi tubuhmu semakin kokoh...!", kata gurunya.


"Terima kasih guru... murid siap menerima pelatihan dari guru...!", kata YoLang.


"Bagus...! carilah 5 buah batu disungai, dengan berat yang paling kecil 5 kg dan yang terbesar 50 kg dan bawa kesini... ingat kamu hanya punya waktu 10 menit tidak lebih...!", kata sang guru Dewa Cahaya.

__ADS_1


Segera YoLang bergegas berlari menuju sungai yang tak jauh dari komplex paviliun keluarganya karena jarak kesungai kurang lebih 500 meter dari lokasi pondoknya, sedangkan sang guru mulai menyiapkan hal lainnya. Tangga kayu yang dibuat untuk YoLang naik keatas menuju pondoknya dibongkar oleh sang guru dan diganti dengan tali seukuran lengan tombak yang terbuat dari anyaman kulit kayu yang kuat menjulur kebawah dari pondok ketanah, ada juga tali yang membentang setinggi pondok terikat kuat antara pohon yang satu kepohon berikutnya seperti pagar tali mengitari pondok.


Selesai memasang tali tali itu sang guru menunggu muridnya kembali dari sungai sudah ada 3 buah batu yang dibawa YoLang masih 2 lagi yang belum yaitu yang paling besar 50kg dan yang terkecil 5kg, sambil duduk menggoyang-goyang kakinya melihat sang murid datang berjalan perlahan sambil terbungkuk-bungkuk membawa beban berat dalam keranjang rotan dipunggungnya.


"Kamu terlambat...! ini sudah 15 menit...! sebagai hukuman sekarang kamu kembali kepondokmu... cepat...!" kata sang guru memperlihatkan wajah marah.


Dengan nafas memburu YoLang berjalan cepat menuju pondoknya, tetapi sesampainya disana sang bocah kebingungan mencari tangga tempat dia naik keatas...


"Guru...! tangga kepondokku kemana... bagaimana aku keatas sana...?", kata YoLang bingung.


"Tanggamu sudah kuganti dengan seutas tali yang menggantung itu...! mulai sekarang pakai tali itu untuk naik kepondokmu...! dan sebagai hukuman sekarang kamu naik turun sebanyak 5 kali... cepaaaatttttt!!!", teriak sang guru.


Dengan lemas YoLang mulai memanjat tali naik menuju pondok dengan ketinggian 10 meter itu... hanya tekad dan semangat untuk lebih menjadi kuat YoLang naik turun sampai 3 kali dan masih tersisa 2 kali lagi...

__ADS_1


"Guru...! bolehkah aku istirahat sebentar...?", kata YoLang yang tangannya mulai gemetar kelelahan.


"Ohh...! boleh anak manis...? hehe... istirahatlah dipondokmu selama 15 menit tapi kamu harus membawa 2 buah batu terkecil itu ikut bersamamu keatas...!", kata sang guru sambil menunjuk tumpukan 5 buah batu sungai yang diambil YoLang sebelumnya.


😱😓😓😓... kaget dan menyesal...


"Ohh Dewa... tolonglah aku...", katanya dalam hati. Padahal yang menyuruhnya barusan adalah seorang Dewa 😁, setelah menyelesaikan hukuman,...


"Sekarang lari keliling lapangan dengan membawa batu dipunggung... dan masing-masing batu harus kamu bawa berlari sebanyak 5 putaran... cepaaaattttt!!! ", perintah sang guru.


"Siap laksanakan guru...!", kata YoLang dengan semangat, padahal dalam batinnya berulang-ulang ada kata toobaaat dan ampuuun.


Sambil menunggu sang murid menyelesaikan tugasnya lari berkeliling lapangan, sang guru menuju kolam dan melempar 10 buah batu giok berwarna hijau ukuran sekepalan tangan yang menyebar kebeberapa tempat.

__ADS_1


__ADS_2