
Harapan yang membuat kebahagiaan tapi membawa duka setelah mengetahui kenyataan, itulah yang dirasakan YoLun atau PingYu, dia merasakan bahagia ketika bertemu ayahnya tapi harus menerima kenyataan dengan duka yang pahit didalam dada mengetahui sang ibu tercinta telah tiada. Demikian juga dengan LunGon yang baru mengetahui bahwa sang ibu meninggal saat melahirkannya kedunia ini, dengan penuh perjuangan didalam hutan saat melarikan diri dari 'Assosiasi Matahari Merah' sebuah nama Hitam yang akan terpatri dengan baik didalam dadanya.
"Ayah mertua... aku akan mengobati ayah mertua... karena kalau terlalu lama penyakitnya akan membahayakan nyawa ayah mertua...", kata Yolang setelah memeriksa keadaan tubuh sang ayah mertua. Karena dari hasil pemeriksaan sang ayah mertuanya menderita penyakit di organ paru-parunya
"Nak apakah kamu seorang tabib...?", tanya LunPing.
"Ayah... suamiku seorang tabib juga seorang alkemis... ayah tidak usah kuatir... anakmu ini juga sudah belajar menjadi seorang alkemis dan tabib... tapi suamiku adalah ahlinya...", kata YoLun/PingYu
"Lakukanlah nak...", kata sang ayah mertua.
"Telanlah dulu pil ini ayah mertua... istriku kau bantu ayah menyerap pil dan alirkan keorgan paru-parunya... aku akan mengobati jaringan pernapasan ayah lebih dulu...", kata sang menantu.
"Baik suamiku...", kata YoLun/PingYu sambil menempelkan kedua telapak tangannya dipunggung sang ayah dan mengalirkan kekuatan spirituanya kedalam tubuh untuk mempercepat penyerapan khasiat pil oleh organ paru-paru yang sedang meradang.
YoLang memulai pengobatannya dengan teknik 'Telapak Kapas' melancarkan peredaran darah dalam tubuh, kemudian saluran pernapasan dibersihkan selanjutnya bersama khasiat Pil 'Peri Biru' meregenerasi organ paru-paru sang ayah mertua kembali normal seperti biasa. Setelah mengobati sang ayah mertua selama 2 jam YoLang memberikan Pil Stamina untuk mengembalikan stamina sang ayah mertua agar menjadi lebih bertenaga kembali.
"Bagaimana perasaan ayah mertua sekarang...", tanya YoLang setelah selesai mengobati sang ayah mertua.
"Ahhh... ayah merasa lebih baik sekarang... sakit didada juga sudah hilang... dan sepertinya ayah sudah bertenaga lagi... bisa kembali ikut kerja dipelabuhan bersama adikmu siGon itu...!", kata sang ayah yang merasa sehat.
"Ohhh... tidak... ayah harus ikut dengan kami mulai sekarang... begitu juga adik LunGon... dan tidak ada kata bantahan... suamiku punya tempat tinggal yang bagus untuk keluarga kita ayah...", kata YoLun setengah memaksa.
"Nak... kalau kami ikut kalian terus...! bagaimana keluarga lainnya...? kami semua tetap bersama susah dan senang... saling membantu satu dengan lainnya sejak kejadian 15 tahun silam...!", jelas LunPing.
"Siapa saja anggota keluarga kita yang ada ayah...", tanya YoLun.
"Ayah dan adikmu LunGon... disebelah ada pamanmu LunChao dan bibimu SitiHan serta anak mereka LunHansi sepupumu... dan disebelah kanan ada 2 orang pamanmu... LunFei dan LunFai mereka anak dari kakek LunMeng...!", jelas LunPing ayah YoLun/PingYu.
"Hmmm... suamiku bagaimana...?", tanya sang istri.
"Istana Naga Emas masih terlalu luas... aku berencana mencari seluruh keluarga Lun... termasuk yang berada diBenua Besar... eemmm...?", kata YoLang meyakinkan.
"Ahhh... kau memang yang terbaik sayang...! ayah...! bersiap kita pindah sekarang...! adik Gon juga bantu panggilkan seluruh anggota keluarga kita... nanti aku dan suamiku yang akan menjelaskan kepada mereka...!", kata YoLun kepada ayah dan adiknya.
"Baik kakak... aku pergi dulu...", kata LunGon sambil berlalu.
__ADS_1
Sementara itu YoLang telah menghubungi Mayang dan ibu Maya untuk segera datang ketempat yang telah dia tandai dan meminta agar mereka membawakan juga makanan yang cukup untuk dimakan oleh 15 orang, saat ini didalam rumah itu hanya ada mereka bertiga yaitu YoLang, YoLun dan sang ayah mertua LunPing dan YoLang mulai sedikit menjelaskan tentang siapa sebenarnya dirinya dan kedua pendampingnya serta adiknya LoryMei dan juga tempat yang akan menjadi kediaman ayah mertuanya beserta anggota keluarga Lun yaitu Istana Naga Emas.
"Nanti setelah berada didalam dunia jiwa... aku atau YoLun akan menjelaskan dengan rinci... dan untuk sekarang tolong ayah mertua meyakinkan anggota keluarga yang lain agar mereka mau ikut bersama kita...!", kata YoLang menjelaskan.
"Nak... apa ayahmu ini bisa mendapatkan kekuatan sepertimu...?", tanya LunPing setengah tidak percaya.
"Ayah... siapa saja bisa mendapatkannya asalkan dengan latihan yang keras... percayalah dengan bantuan istriku siLun kecil... ayah mertua dan yang lainnya dalam waktu dekat bisa seperti jagoan terkuat di Benua Besar sana... apalagi saya melihat adik LunGon sudah memiliki kekuatan yang setara dengan tingkat Hijau Akhir...!",kata YoLang menjelaskan.
"Hijau Akhir apa itu nak...!", tanya sang ayah mertua.
"Ayaahh.. Itu tingkatan kekuatan seorang pembudidaya hawa murni atau tenaga dalam atau... Pendekar... Ya... seorang pendekar mempunyai tingkatan kekuatan... ahhh... nanti saja ayah akan mempelajarinya...!", kata siLun kecil.
"Oh iya ayah... makam ibu berada dimana...? suatu saat nanti aku akan bersiarah kesana...!", kata YoLun kembali mulai sedih karena terlihat diwajahnya yang sayu dan mata mulai berair dan duduknya tidak jauh dari sisi ayahnya.
"Hmm... makam ibumu dan beberapa orang anggota keluarga kita berada disekitar hutan antara Danau Es dan perbatasan daratan tengah... jauh kedalam hutan karena kami berlari tanpa henti selama 2 hari 2 malam kemudian bersembunyi selama 3 sampai 4 hari... ayah masih mengingatnya kalau melihat lokasi hutan itu...!", kata sang ayah.
Beberapa saat kemudian datanglah ibu Maya dan Mayang yang terlihat wajahnya sedikit trenyuh karena melihat kondisi tempat tinggal keluarga Lun, kemudian mereka masuk dan mengeluarkan berbagai macam makanan dari dalam cincin jiwa. Makanan yang sesuai dengan pesanan YoLang mereka beli disebuah restoran, setelah mengatur makanan-makanan tersebut mereka berdua diperkenalkan oleh YoLun kepada sang ayah.
"Ayah ini ibu Maya... dan yang ini Mayang calon istri suamiku... mereka belum nikah karena siCeloteh ini belum cukup umur dan masih berlatih dengan keras...!", kata YoLun.
"Ohhh... begitu... ahhh... salam saudari Maya... nak Mayang...!", kata sang ayah kemudian terkejut mendengar penjelasan anaknya.
"Maaf kakak... anakku ini memang suka bertingkah seperti itu sesuai dengan umurnya...", kata Maya membuka suasana ceria didalam ruangan itu.
"Ibuuuu... kecil-kecil begini aku adalah salah satu yang terpilih...? eemmm...? lawan tidak akan kucari tapi jika bertemu aku takkan lari...! hahh...! bagaimana calon suamiku... hehehe...", kata siCeloteh mulai beraksi.
"Iya...iya... calon istriku yang...eemmm...?", kata YoLang tanpa meneruskan kata-katanya.
Tak lama kemudian berdatangan beberapa orang dan langsung memasuki ruangan dimana YoLang dan lainnya berada...
"Astaga... Dewa... ShinYu kamu masih hidup...? dan terlihat menjadi muda kembali...!", kata seorang perempuan setengah baya.
"Adik Siti... Itu bukan ShinYu... tapi itu adalah siLun Kecil... PingYu...! Apa kau masih mengingatnya...? kata LunPing menjelaskan kepada mereka yang baru datang siapa saja orang-orang didepan mereka satu persatu.
"Astaga...! aku seperti melihat ibumu nak... kami semua mengira kamu ikut menjadi korban oleh 'Assosiasi Matahari Merah' dikota Banto 15 tahun yang lalu...!", kata bibi Siti.
__ADS_1
"Baiklah semua sudah berkumpul... mari kita makan malam dulu... sambil kita mengenal satu dengan lainnya...!", ajak LunPing
LunPing membuka pembicaraan saat mereka mulai makan, dengan memperkenalkan YoLang sebagai menantunya, kemudian Maya dan Mayang yang juga sebagai calon istri YoLang. Begitupun sebaliknya LunPing mengenalkan anggota keluarga Lun yang tersisa dari kejadian 15 tahun yang lalu yaitu adiknya LunChao bersama istrinya SitiHan dan anak mereka LunHansi yang berusia 10 tahun. Kemudian 2 orang saudara sepupunya LunFei dan LunFai yang diumurnya 30 dan 32 tahun tapi belum menikah,...
"Inilah semua sisa anggota keluarga Lun yang selamat dari kejadian 15 tahun yang lalu, sedangkan keluarga LunFefei dan keluarga LunMeng tewas terbunuh dalam pelarian termasuk ibumu ShinYu...!", kata LunPing menjelaskan.
"Keluarga kita yang berada di kota Arung waktu itu, ikut juga menghilang tapi kami beranggapan mereka melarikan diri kembali kebenua besar karena tidak mendengar adanya pembunuhan... mereka adalah kakek Lunwei bersama istrinya AngYue dan anak mereka LunYue juga keluarga LunDa dan istrinya AngFei dan anak mereka LunAng...", tambah LunPing.
"Setelah kejadian itu kami semua tidak lagi memakai nama keluarga Lun, karena kami masih mendengar orang-orang dari Assossiasi Matahari Merah masih mencari anggota keluarga kami untuk dibunuh...!", kata LunPing.
"Paman... dimana lokasi markas Assosiasi itu...? aku ingin berkenalan dengan mereka...!", tanya Mayang yang terlihat emosi.
"Mayang...!", cegah Maya sambil menatap sang putri dengan tajam.
"Nak Mayang... mereka tidak mempunyai markas dibenua Pulau Hijau... karena mereka berasal dari Benua Besar... tapi mereka sering datang secara terselubung dengan kapal-kapal dagang mereka... tanda keberadaan mereka adalah adanya sebuah bendera berwarna merah dan terdapat sulaman Matahari dari benang emas ditengahnya...!", kata LunPing menjelaskan.
"Saudara-saudaraku semua... aku telah berbicara banyak dengan anakku PingYu dan menantuku YoLang... dan aku telah memutuskan untuk ikut dengan mereka kedaratan tengah yaitu dikota Klentang... kita akan memulai kembali usaha dan bisnis kita disana... untuk kalian semua ketahui juga bahwa keluarga menantuku ini adalah pemimpin dikota itu dan mereka mempunyai sebuah perguruan beladiri yaitu perguruan 'Belati Emas', mungkin kalian pernah mendengar cerita tentang seorang pendekar yang mengegerkan daratan selatan ini puluhan tahun yang silam...? 'Pendekar Belati Emas'...! dia adalah kakek buyut dari menantuku ini...!", kata LunPing menjelaskan.
"Kalau kakak sudah menambil keputusan kami akan mengikuti kakak...", jawab LunChao
"Ya... kami setuju juga...!", kata yang lain.
"Baiklah kalau semuanya sudah setuju...! setelah ini bersiap-siaplah kita akan segera pergi... tapi sebelumnya serahkan tanah dan kediaman kita ini kepada paman Chong... biar dia yang akan mengurusnya nanti... dan kamu menantuku bagaimana selanjutnya...?", kata LunPing selanjutnya.
"Ehh... iya ayah mertua... enmm... sebentar ada sesuatu yang harus aku urus dulu...", kata YoLang yang secara diam-diam menyiapkan 7 buah cincin jiwa dasar-4 dan mengisinya dengan 1 juta koin emas didalamnya.
"Enmm... istriku tolong kau bagikan cincin-cincin ini dan jelaskan cara menggunakannya... dan ibu Maya dan Mayang ajaklah beberapa orang untuk berbelanja kebutuhan mereka...!", kata YoLang setengah berbisik.
PingYu atau YoLun setelah menerima cincin-cincin tersebut langsung membagikan kepada 7 orang anggota keluarga Lun termasuk ayah dan adiknya, kemudian ibu Maya dan Mayang mengajak semua perempuan yang ada didalam ruangan tersebut untuk pergi berbelanja segala kebutuhan mereka. Sementara para wanitanya pergi berbelanja para pria berdiskusi tentang apa yang akan mereka perbuat setelah mengikuti rencana LunPing, terlebih setelah mereka melihat isi dalam cincin jiwa yang diberikan oleh PingYu/YoLun semakin menambah keyakinan mereka bahwa tidak salah mengikuti YoLang.
"Ayah mertua, adik... dan paman sekalian... malam ini juga kita akan berangkat ke kota Wui...disana sudah menunggu ayah dan ibuku serta kedua buyutku... juga kalau mereka setuju ada keluarga nenek buyutku yang akan ikut serta ke kota Klentang...!", kata YoLang.
"Terserah kamu saja menantuku... aku hanya akan membawa beberapa barang peninggalan istriku dan tidak ada barang berharga lainnya yang tersisa... kepingan emas sudah terjual semua untuk biaya hidup kami sehari-hari...!", kata LunPing.
"Kakak ipar... nanti ajarkan aku beladiri... Aku ingin jadi pendekar sepertimu...", kata LunGon.
__ADS_1
"Hehehe... Itu sudah menjadi rencanaku adik ipar...? dan juga kakakmu akan melatihmu nanti", kata Yolang.
Setelah menyerahkan tanah dan gubuk mereka kepada orang kepercayaan LunPing yaitu paman Chong sambil berpamitan, mereka dikumpulkan YoLang didalam ruangan kemudian secara bersamaan mereka dipindahkan kedalam dunia jiwa, dan hanya tersisa YoLang dan YoLun/PingYu yang akan kembali kekota Wui dengan menunggangi Jula siHitam dan terbang menikmati suasana malam hari diatas langit antara kota Arung dan kota Wui.