Titisan Dewa

Titisan Dewa
Tubuh Baru YoLun


__ADS_3

Setelah proses penggantian dari tubuh biasa menjadi 'Tubuh Roh', YoLun memulihkan dirinya dan membiarkan tubuh barunya menyesuaikan dengan organ-organ tubuh yang lain secara alamiah. YoLang yang sudah selesai mengisi kembali energi spiritualnya sudah bersiap dengan tindakan selanjutnya terhadap sang istri, proses peningkatan tingkat kualitas tulang selain membutuhkan waktu yang lama juga selama proses akan mengalami rasa sakit yang amat sangat, hal itu sudah sangat dipahami oleh YoLang karena sudah pernah merasakannya saat peningkatan tulangnya dari tulang Dewa menjadi tulang Penguasa. Untuk itu dia telah mempersiapkan YoLun dengan baik, memperhitungkan segala resiko untuk menekan tingkat kesalahan yang dapat terjadi selama proses.


"Istriku... apa kamu sudah siap...?', tanya YoLang.


"Sudah sayang... !", kata sang istri.


"Baik... proses peningkatan tulangmu sudah aku buat agak ringan... tapi menjadi lama prosesnya... akan ada tiga kali proses... tahap dari tulang biasa keTulang Super kemudian keTulang Naga dan terakhir ketingkat TuLang Kaisar... dan yang terakhir yang paling sakit... kamu harus tetap sadar...!", katanya menjelaskan.


"Kita akan menggunakan Tungku kali ini... karena suhu cairan harus tetap panas selama proses... kamu bisa mengangkat kepala untuk mengumpulkan udara setiap tahapan proses selesai... dan masuk kembali saat tahap selanjutnya mulai berjalan... bersiaplah... aku akan menjagamu...", kata YoLang kemudian membantu sang istri untuk masuk kedalam Tungku Hua yang terlihat sudah mengeluarkan asap putih tanda air didalamnya sedang mendidih.


Dengan perlahan YoLang memasukkan berberapa macam tanaman herbal dan cairan dari dalam botol giok yang sudah siapkan sebelumnya, sementara itu YoLun sedang bermeditasi didalam tungku yang berisi campuran air dan cairan herbal yang sedang mendidih. Terlihat mulai ada kerutan dari wajahnya pertanda proses sedang berlangsung, YoLang dengan menggunakan kesadaran spiritualnya terus memantau kondisi dan perubahan yang terjadi didalam tubuh sang istri tanpa melewatkan sedetikpun. 3 jam berlalu tahap pembentukan tulang Super sudah selesai dan terus berproses saat ini akan menuju ketingkat tulang Naga, karena terlihat YoLang memasukkan Darah Murni Dewa Naga kedalam tungku yang masih terlihat mengepulkan asap putih. Wajah cantik didalam tungku itu masih terlihat tegar melewati proses yang penuh dengan rasa sakit karena yakin sang pujaan hati selalu menjaganya dan mengawasinya, selama 5 jam proses kedua berlangsung dan saat ini memasuki tahap kritis menuju peningkatan kejenis tulang Kaisar.


Kerutan diwajah YoLun semakin terlihat dan sesekali meringis, sang suami tanpa henti membantu memberikan energi spiritualnya dengan segala kemampuan teknik tabib tingkat ilahi miliknya untuk mengurangi rasa sakit yang diderita sang istri. Wajah cantik didalam tungku terlihat sedang menahan rasa sakit sedangkan sosok tampan dari luar tungku sudah bermandikan keringat karena mengeluarkan sebagian besar kekuatannya untuk meredam penderitaan sang istri. Matahari telah terbit diujung timur dunia jiwa milik YoLang dan suara burung menyambut terbentuknya tulang baru YoLun yaitu 'Tulang Kaisar'


"Tetaplah berendam didalam tungku...! sampai airnya dingin karena proses selanjutnya adalah untuk mengeraskan tulang yang masih lembek itu... selama 5 sampai 6 jam lagi kamu akan merasa dingin karena cairan ini akan membeku... bertahanlah dan tetap sadar...!", kata YoLang kemudian menelan beberapa butir Pil.


"Heemmm... aku masih kuat suamiku... tenanglah... asal kau tetap membantuku seperti sebelumnya... eemm...?", kata sang istri memastikan agar YoLang tidak terlalu kuatir.


"Baiklah... aku sudah mengisi kembali energiku... mulailah...!", katanya kemudian melihat sang istri kembali masuk kedalam tungku karena cairan mulai dingin dan segera YoLang kembali bersiaga, memeriksa dan senantiasa mengalirkan energi kekuatan spiritualnya kedalam tubuh sang istri.


Proses pengerasan tulang YoLun berlangsung sampai tengah hari, dan mereka beristirahat untuk memulihkan energi dan stamina yang terkuras habis.


"Kita akan melanjutkan dengan peningkatan jenis darah nanti malam... sekarang kita istirahat dulu sambil memulihkan diri...!", kata YoLang.


"Baik...", kata YoLun.


Berdua dalam kesenyapan masing-masing karena sedang fokus bermeditasi dan memulihkan kondisi tubuh mereka sambil menunggu malam, waktu yang mereka rencanakan untuk melakukan proses peningkatan jenis darah YoLun. Dengan tenang YoLang menunggu malam hari tiba, dia tidak terlalu kuatir lagi karena proses kali ini tidak terlalu sulit dan tidak memerlukan waktu yang lama seperti yang pernah dia alami.


"Bersiaplah istriku... dan minumlah cairan ini terlebih dahulu dan seraplah...! kemudian masuk kedalam tungku...!", kata YoLang sambil memberikan Darah Kaisar yang sudah dicampur dengan Air Suci untuk diminum YoLun.

__ADS_1


Setelah tubuh sang istri sudah berada didalam tungku, kembali YoLang memasukkan cairan dari 3 buah botol giok. Dan terlihat cairan dalam tungku seakan bergerak memasuki tubuh sang istri, YoLang hanya memperhatikan proses cairan itu memasuki tubuh YoLun dan sesekali membantu mengarahkan agar cairan itu agar secepatnya menyebar keseluruh tubuh sehingga mempercepat proses. Waktu berlalu begitu lambat dan saat hari masih gelap tapi proses yang dialami YoLun sudah selesai dan saat ini terlihat pemilik Lesung dipipi sedang bermeditasi memulihkan dirinya ditunggui sang kekasih yang senantiasa mengawasi dan membantunya saat mengalami kesulitan.


"Istriku tugasmu sampai sebulan kedepan adalah bermeditasi...! jangan pernah menggunakan kekuatan phisikmu untuk beraktifitas... ingat itu...! dan biarkan tubuh, tulang dan darah barumu saling menyesuaikan diri dengan organ-organ lain didalam tubuhmu secara alamiah... dan sementara itu kamu pelajari dan pahami semua pengetahuan yang akan kuberikan...!", kata YoLang menjelaskan kemudian mentransfer sebagian besar pengetahuan yang berada didalam pikirannya kepada sang istri.


"Terimakasih suamiku...", kata sang istri.


"Itu sudah tugas dan kewajibanku sayang...!", kata sang suami.


"Hmm... aku akan tetap berada disini...! pindahkan saja keluarga siJula kesini untuk menemaniku... dan kau selesaikan semua urusanmu tapi jangan lupa kewajibanmu pagi dan malam itu...eemmm...?", kata sang istri memperingatkan.


"Iya... aku tau istriku... Cchhuuppp...!", kata YoLang sambil memberikan sebuah kecupan di kening sang istri.


"Hmmm... kamu memang yang terbaik...!", kata YoLun.


"Aku kepaviliun dulu... sebentar lagi Jula dan Juli akan kesini menemanimu...!", katanya kemudian menghilang.


Whhuuuzzz...


Hal ini semua berasal dari ide PiYo ketika melihat potensi keluarga besar mereka dan kemampuan para penduduk desa waktu itu yang ingin merubah tingkat kehidupan mereka kearah yang lebih baik, dengan modal hasil menjual kelopak bunga 'Anggrek Hitam' dia mendapatkan sejumlah harta kekayaan yang tidak ternilai kemudian membangun desa mereka menjadi sebuah kota yaitu Kota Klentang. Tidak berhenti disitu dengan potensi keluarga besar mereka yang rata-rata adalah pemburu dan pembudidaya beladiri turun temurun sehingga berdirilah Perguruan Belati Emas yang saat ini sudah terkenal sampai di daratan utara, dibawah kepemimpinan yang bijaksana oleh Putong ayah PiYo sebagai Walikota, membawa kesejahteraan bagi seluruh penduduk kota Klentang.


Setelah selesai membuat teknik-teknik yang dia anggap sesuai kondisi perguruan saat ini, Yolang menemui ayah dan ibunya yang dia tahu sedang berada diberanda paviliun.


"Salam ayah...ibu...!", sapa Yolang sambil mencium kedua tangan ayah bundanya itu sebagai penghormatan seorang anak kepada orang tua yang telah membuat dia berada didunia ini.


"Ehhh... nak... bagaimana latihan tertutup istrimu...?", tanya MaiLang sang ibu.


"Berhasil dengan baik ibu...! dan sekarang YoLun sedang dalam tahap penyesuaian dalam tubuhnya... kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan...!", kata sang putra menjelaskan.


"Ayah... aku telah membuat beberapa teknik sederhana untuk melengkapi perpustakaan perguruan... jika ayah berkesempatan bertemu kakek Ratong tolong disampaikan kitab-kitab ini...!", kata YoLang kepada ayahnya sambil memberikan tumpukan kitab teknik buatannya.

__ADS_1


"Ohh... baik... besok ayah dan ibumu akan keperguruan... melihat murid-murid kami disana... hmmm... nak...! sebaiknya kamu juga ikut melatih diperguruan... siapa tahu ada murid yang berbakat yang cocok denganmu... cobalah kamu lihat-lihat kesana...!", kata PiYo.


"Ahhh... aku belum mempunyai waktu yang banyak ayah... pelatihanku belum selesai... guru keempat juga belum datang... dan setelah itu masih ada guru yang kelima... belum lagi kewajiban dan tugasku melatih YoLun...! tapi setelah semua selesai tidak menutup kemungkinan aku akan ikut melatih diperguruan...!", jawab YoLang.


"Ya... kamu atur waktumu sebaik-baiknya... kami kedua orangtuamu sudah ikhlas... walau beberapa kali kami sangat merindukan kalian karena kalian masih tetap putra dan putri kecil kami...!", kata PiYo sambil menerawang karena merasa kehilangan saat merindukan putra putrinya yang masih kecil dan sering terpisah dengan mereka karena telah menjadi pilihan Langit.


"Baik ayah... ibu... aku akan sering kembali kesini...!", kata YoLang setengah menghibur kedua orangtuanya.


YoLang dapat melihat apa yang ada didalam pikiran dan hati kedua orangtuanya, tapi juga dia melihat ada sisi ketulusan dan keikhlasan mereka karena bagaimanapun keputusan Langit sudah turun dan keduanya juga mengetahui akan hal itu karena sejak awal kelima Dewa Penguasa utusan sang Kaisar Dewa telah bertemu dengan PiYo sebelum YoLang dilahirkan. Untuk itu YoLang telah menetapkan untuk sekalian membawa kedua orangtuanya saat berpetualang dan menempatkan mereka didalam dunia jiwanya, agar dimasa depan mereka setiap saat dapat bertemu dengannya dan adiknya LoryMei dan dapat menambah penghuni Istana Naga Emas miliknya.


Setelah bertemu dengan kedua orangtuanya, YoLang menuju pondok latihannya selain untuk melihat pelatihan Mayang dan LoryMei juga ingin melihat keadaan pondoknya yang sudah jarang dia tempati, baik yang berada diatas pohon atau pondok tengah yang berada dibawah. kemudian dia melesat kearah air terjun tempat dimana dia melakukan penempaan jiwa dan daya tahan tubuhnya, tempat yang dulu dia tempuh berjam-jam untuk sampai tapi sekarang hanya dalam sekejab dia sudah berada dibawah air terjun itu dan dia masih melihat batu-batu sungai yang dia jadikan beban untuk berlatih. Setelah puas berkeliling ditempat-tempat favoritnya dia kembali kedalam dunia jiwa.


Whhuuuzzz...


Didepannya kini terlihat sang istri sedang fokus dalam meditasinya, dan diluar kamar mewahnya ini 2 ekor Rajawali Dua Alam, Jula siHitam dan Juli siPutih dengan setia menemani tuan putri mereka bermeditasi. YoLang bergegas keluar kamar kembali untuk melihat kedua peliharaannya itu.


"Jula... Juli... kalian berdua bisa kembali... dan nanti akan kupanggil lagi... dan ini... makanlah...!", katanya kepada para Rajawali tersebut sambil memberikan masing-masing sepotong daging.


Khhaaakkk... khhaaakkk...


Whuuhhkk... whuuhhkk... whuuhhkk...


Kedua Rajawali langsung terbang kembali ketempat mereka yang dibuat YoLang didalam kubah besar digedung induk Istana Naga Emas, dan setelah kedua Rajawali itu pergi YoLang kembali memasuki kamarnya untuk menemani sang istri, dan kemudian dia ikut juga bermeditasi sambil mencari ide tentang sesuatu yang akan dilakukannya besok hari. Matahari didalam dunia jiwa sudah condong kebarat dan tidak lama lagi malam akan menjelang, terlihat sepasangan penghuni kamar mewah sedang bermeditasi tidak terusik oleh pergantian waktu dari terang menjadi gelap diluar kamar mereka. Beberapa saat kemudian YoLun terbangun dan merasakan bahwa hari sudah malam kemudian melihat sang suami yang setengah gelisah dalam meditasinya...


"Sayang... bangunlah sebentar... ada sesuatu yang ingin kubicarakan...!", katanya sambil mendekat.


"Hmmm... ada apa istriku...?", tanya YoLang.


"Bagaimana kalau kau ajak ibu Maya kesini saja... dari pada ibu Maya sendirian juga dikamarnya... supaya aku bisa berlatih bersama ibu Maya disini...? bagaimana...?", tanya YoLun.

__ADS_1


"Enmmm... baiklah nanti coba aku tanyakan sama ibu Maya nanti... juga aku berencana untuk mengganti pedang ibu Maya dengan tingkat Surgawi...", katanya.


__ADS_2