Titisan Dewa

Titisan Dewa
Jangan Kau Buat Pingsan


__ADS_3

Dua buah Gerbong Kereta Kuda bergerak perlahan menyusuri jalan dikawasan hutan perbatasan daratan tengah dan daratan selatan, sudah hampir 3 jam mereka dalam perjalanan menuju daratan selatan dan saat itu matahari mulai terbenam diufuk barat pertanda malam akan menjelang. Kereta gerbong didepan dengan YoLang sebagai kusirnya membawa ibu Maya, Mayang, LoryMei dan YoLun sedangkan kereta gerbong kedua PiYo yang menjadi kusir keretanya dan didalam gerbong duduk dengan santai Surapong, LinMei dan MaiLang. YoLang yang berada didepan rombongan itu mulai mencari tempat untuk mereka berhenti dan beristirahat.


"Ayah... kita berhenti dan beristirahat disini...!", kata YoLang kepada ayahnya yang berada digerbong kereta kuda dibelakangnya.


"Baik nak...", jawabnya kemudian menghentikan kereta gerbong yang sedang dibawanya.


Setelah gerbong kereta kuda itu berhenti, mereka turun sambil merenggangkan kaki dan tubuh mereka. YoLang memberitahukan kepada mereka bahwa akan bermalam ditempat itu dan akan melanjutkan perjalanan besok hari, padahal dalam rencananya dia akan mengirim semua rombongan itu kedalam dunia jiwanya dan dia sendiri yang akan berteleportasi kelokasi yang sudah dia tandai dalam pikirannya setelah mengambil ingatan kedua buyutnya. Hal ini dia lakukan untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka, tapi dia tetap akan mengunjungi setiap kota yang berada didaratan selatan ini untuk mencari informasi yang dibutuhkannya terutama keberadaan anggota keluarga istrinya yaitu Klan Lun.


"Kakak... kenapa kita harus istirahat disini... kirim saja kami keIstana Naga Emas... biar kakek dan nenek buyut bisa tidur enak...!", kata LoryMei setengah berbisik.


"Sssssttt.... jangan keras-keras...! mereka belum tahu tentang tempat itu... tunggu kalau mereka berdua mulai ngantuk baru akan kupindahkan kalian semua kesana...!", jawab YoLang menjalankan rencananya.


"Ohhh... hehehe... baiklah...!", tersenyum LoryMei yang mengetahui rencana sang kakak.


Malam mulai merangkak dan melihat sang bulan yang sedang mengintip peradaban dunia fana sambil memancarkan cahayanya, rombongan YoLang terlihat sedang beristirahat, ada yang duduk mengelilingi api unggun yang dibuat PiYo juga ada yang tiduran dalam gerbong kereta kuda termasuk Surapong dan LinMei. Kemudian tanpa mereka sadari YoLang telah memindahkan mereka semua kehalaman depan Istana Naga Emas beserta gerbong- gerbong kereta kuda yang salah satunya sedang dipakai oleh kedua buyutnya beristirahat. Kemudian YoLang mengedarkan kesadaran spiritualnya merasakan dan fokus pada ingatan kedua buyutnya tentang kawasan hutan dan sungai berbatu putih itu dan...


Whhuuuzzz.....


Mendengar adanya aliran air sungai yang deras, YoLang mulai memeriksa lokasi yang baru saja dia datangi ini. Mengedarkan kesadaran spiritualnya seluas 5 km dan melihat hanya ada kawasan hutan lebat dan sebuah jalan tanpa seorangpun manusia.


"Hmmm... mudah-mudahan benar ini tempat yang dimaksud nenek buyut...", gumamnya dalam hati kemudian masuk kedalam dunia jiwa untuk melihat keluarganya.


"Suamikuuuu... tempat apa ini...? astaga kita masuk perangkap siluman...!", teriak LinMei karena kaget sudah berada ditempat lain.


Kraakkk... buhk... Bruuaaakkk...


Dengan cepat LinMei menarik tangan suaminya untuk segera keluar dari dalam gerbong kereta tempat mereka beristirahat sebelumnya, melompat dan keduanya tersungkur diatas tanah saling tindih.


"Aduuhhh... kamu kenapa istriku...? ahhh... punggungku... uuhhh...!", rintihan Surapong yang jatuh keatas tanah dan tertindih tubuh sang istri yang tiba-tiba menariknya dari dalam gerbong kereta.


"Lihat itu...! ada istana siluman... ohhh... kemana yang lain...? cepat cari mereka suamiku...!", LinMei histeris karena kaget melihat Istana Naga Emas dan tidak melihat anggota keluarga yang lain, padahal mereka sengaja meninggalkan kedua buyutnya itu untuk memberikan kejutan.

__ADS_1


"Hehehe... kakek... nenek... itu Istanaku bukan tempat siluman...!", kata YoLang yang tiba-tiba muncul dibelakang kedua lansia tersebut.


"Hahhh...! nak apa yang kamu bicarakan...? lihat semua orang hilang...! mungkin sudah ditangkap para siluman... ohhh... tidak...!", kata LinMei yang semakin histeris dan cemas melihat keadaan yang sangat asing dan aneh didepannya.


"Istriku... tenanglah dulu... dan bantulah aku berdiri... punggungku masih sakit...!", sela Surapong yang masih tersungkur diatas tanah.


"Nenek... tenang... mari ikut aku...!", kata YoLang kemudian membantu kakek buyutnya berdiri dan menggandeng tangan keduanya masuk kedalam Istana Naga Emas miliknya yang berada didalam dunia jiwa.


Bertiga mereka mulai memasuki ruangan depan Istana dan sampai diruangan tahta dimana terdapat tiga buah kursi besar dan megah, dimana yang sebelah kiri dan kanan sudah duduk dengan anggunnya YoLun dan Mayang yang mengenakan pakaian kebesaran mereka serta mahkota selayaknya Permaisuri Kerajaan dan YoLang melangkah maju dan duduk dikursi tahtanya kemudian sebuah mahkota emas turun dari langit-langit Istana dan melekat dikepala YoLang kemudian tubuhnya diselimuti kabut emas dan...


Whhhuuussss...


Yolang telah berpakaian lengkap selayaknya seorang Raja yang duduk dikursi tahtanya didampingi kedua permaisurinya yang duduk disamping kiri dan kanan serta dibelakang kursi tahta berdiri PiYo, MaiLang, Maya dan LoryMei. kemudian terdengar suara dari sang Terpilih...


"Selamat Datang diIstana Naga Emas... kakek dan nenek buyutku... hehehe...", kata YoLang.


"Haahh... naaakk...! jangan kau buat pingsan buyutmu ini...? jelaskan ada apa dengan semua ini...!", kata LinMei yang terkejut dan penasaran dengan semua yang dilihatnya.


"Neneeeekkk... kita semua sedang berada didalam dunia jiwa kakak YoLang... dan ini... namanya Istana Naga Emas dan itu Rajanya dan kedua Permaisurinya... hehehe...", jelas sicerewet LoryMei.


"Hmmm... aku masih cucu buyutmu kakek... seorang anak yang masih kecil... hehehe...", kata YoLang sambil bercanda.


Kemudian dengan diantar oleh dua anak gadis, kedua lansia itu berkeliling Istana Naga dan mendapat penjelasan dari Mayang dan LoryMei tentang seluk-beluk Istana Naga Emas tersebut. Malam semakin larut tapi kehebohan masih terjadi dalam Istana Naga Emas... karena permintaan sang nenek buyut ingin melihat kamar utama sang Raja Istana Naga Emas, merasakan kenyamanan dan empuknya kasur sang Raja kemudian ingin merasakan makanan Istana yang mau tidak mau disetujui oleh sang pemilik Istana. Setelah puas berkeliling akhirnya sang nenek buyut sudah duduk bersama anggota keluarga lainnya di ruang makan istana...


"Cucuku...! kau harus merekrut banyak orang untuk mengurusi Istanamu ini... cari koki Istana yang bagus, biar masakannya enak... hehehe...", kata LinMei sambil menikmati masakan yang dibuat secara instan oleh MaiLang dan Mayang.


"Nenek... dunia jiwaku ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang... dan hanya orang-orang yang kupercayai yang bisa berada disini... dan nenek jangan pernah membicarakan hal ini diluar sana...! cukup kita saja yang mengetahuinya...!", kata YoLang menjelaskan.


Sementara itu tiga sosok gadis muda sudah berkumpul dikamar utama membicarakan banyak hal tentang urusan perempuan, dan diruangan makan masih terdengar suara dentingan sendok makan dari LinMei yang masih menikmati makanannya ditemani MaiLang dan Maya. Kemudian ditempat lain Surapong, PiYo dan YoLang sedang mendiskusikan rencana perjalanan mereka selanjutnya...


"Kakek kita sudah berada dipinggiran sungai seperti yang diceritakan oleh nenek buyut... dan untuk sampai keKota Polak setahu kakek berapa lama lagi...?", tanya YoLang.

__ADS_1


"Kakekmu dulu hanya mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang tingkatnya masih rendah... dan untuk sampai ke kota Polak... kakek membutuhkan waktu selama 2 hari dari tempat itu...!", jawab Surapong.


"Baiklah... aku akan mengeluarkan semua anggota keluarga ketika sudah dekat dengan kota... aku mau memeriksa keadaan diluar dulu...!", kata YoLang kemudian menghilang keluar dari dunia jiwa.


Whhuuuzzz...


Didunia nyata malam semakin larut, suara binatang malam sahut-menyahut menyambut sosok seorang anak muda yang sedang berjalan memperhatikan tempat dia berada dan sekitarnya. YoLang berjalan menyusuri jalan kearah kota Polak didaratan selatan ini, setelah memeriksa area seluas 5Km dia tidak menemukan keberadaan seorangpun yang ada hanya hewan-hewan buas berbagai jenis yang mendiami hutan. YoLang kemudian melesat terbang diatas langit agar bisa melihat dengan jangkauan yang lebih luas sambil menandai tempat yang dilewatinya, dengan kemampuan spiritual yang dimilikinya bisa saja dia berteleportasi secara acak ketempat yang bisa dilihatnya, tapi tidak dilakukannya karena dia ingin melihat situasi dan menandai tempat-tempat yang dilewatinya, karena dalam pikirannya suatu saat akan berguna.


Ditengah kesunyian malam YoLang masih bergerak, melesat dengan cepat dan tidak lupa menandai tempat yang dilewatinya serta mengedarkan kesadaran spiritualnya dan setelah 2 jam dia telah menyusuri kawasan hutan sejauh 100Km dari tempat pertama dia berada dan mulai merasakan keberadaan sebuah desa kecil yang penduduknya tidak lebih dari 30 orang. YoLang segera bergerak menuju desa tersebut dan melihat mereka keadaan desa yang terdiri dari pondok- pondok sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu serta beratapkan daun alang-alang yang dianyam, mereka sedang lelap dengan tidur malamnya dan mencoba melihat pikiran mereka


"Hmmm... penduduk terpencil... sepertinya mereka adalah kelompok pemburu dan hidup berpindah-pindah... mmm... aku tunggu sampai pagi saja...", katanya dalam hati dan mencari pohon besar untuk beristirahat menunggu pagi.


Sambil menunggu matahari terbit YoLang mempersiapkan penyamarannya, merubah wajah menjadi seorang pemuda dewasa, membawa busur dan memikul seekor rusa betina diatas pundaknya kemudian dia berjalan menuju arah desa sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya.


"Salam paman... adakah kedai makan didesa ini...?", tanya YoLang kepada seorang pria yang baru saja keluar dari pondoknya.


"Hahh... anak muda... hari masih pagi... orang-orang belum bangun... juga tidak ada kedai makan didesa kecil ini... kalau kamu mau ikut saya saja... istriku lagi membuat teh hangat dan sarapan...!", jawab pria itu seadanya kemudian mengajak YoLang


"Ahh... terimakasih... paman terlalu baik untuk orang asing sepertiku...!", kata YoLang selanjutnya mengikuti pria tersebut masuk kedalam pondok.


"Ohhh... tidak mengapa... seperti biasanya kita sesama pemburu harus saling membantu... tapi kemana kelompokmu anak muda... apa kau tersesat...?", kata pria itu.


"Aku hanya berdua dengan kakekku... yang sedang melatihku berburu dan kami dalam perjalanan pulang karena kehabisan bekal...", jawab YoLang.


"Begitu... ya sudah nanti kau bawakan sedikit makanan buat kakekmu dan juga hewan buruanmu tinggalkan saja disini... biar aku membayarnya...", kata pria itu sambil menawarkan untuk membeli rusa yang dibawa YoLang.


"Baik paman... cukup tukarkan saja dengan makanan yang secukupnya... tangkapan kami masih ada beberapa disana...!", kata YoLang selanjutnya.


Dalam pembicaraan mereka YoLang mulai mencari informasi tentang asal-usul mereka dan perjalanan perburuan mereka serta tentang daerah daratan selatan yang mereka ketahui, tidak banyak informasi yang didapatkan YoLang hanya sekitar kehidupan kelompok pemburu tersebut yang hidup berpindah-pindah dikawasan hutan perbatasan daratan tengah dan daratan selatan dan hanya sekali-kali menuju kota Polak untuk menjual hasil buruan mereka dan membeli kebutuhan hidup mereka dihutan.


"Ini anak muda... untuk bekal diperjalanan bermasa kakekmu... aku rasa cukup karena sore nanti kalian sudah bisa mencapai kota Polak...!", kata pria tersebut kemudian memberikan makanan secukupnya kepada YoLang.

__ADS_1


"Terimakasih paman... saya pergi dulu...!", jawabnya kemudian meninggalkan desa itu.


YoLang meninggalkan desa pemburu itu dan melanjutkan perjalanannya kearah kota Polak yang menurut informasi dari pria pemburu tersebut tidak jauh lagi karena hanya dengan berjalan kaki akan tiba pada sore hari.


__ADS_2