Titisan Dewa

Titisan Dewa
Desa YaoYo


__ADS_3

"Paman...! bolehkah saya mengenal paman...?", tanya YoLang.


"Ahh... nak Yo...! panggil aku MuDhong... pemimpin kelompok Kawasan Danau Es ini...", kata MuDhong.


"Lanjutkan paman...! aku akan mendengarkan...", kata YoLang.


"Baik...! sebelumnya maafkan kami sudah salah mengerti akan kebaikan kalian... kami semua adalah satu keluarga yaitu keluarga Mu berasal dari kota Lamur... 5 tahun lalu kehidupan Klan Mu pimpinan ayahku sangat maju... keluarga kami paling besar dalam kekuatan tapi dari segi kekayaan kami berada ditengah... dibawah 3 keluarga elit kota Lamur...", kata MuDhong melanjutkan.


"3 Klan teratas yaitu Klan Bao, Klan Cun, dan Klan Seng memiliki hak untuk memimpin kota dan itu sudah berlangsung ratusan tahun... disetiap kesempatan kami akan naik keposisi atas selalu ditekan oleh 3 keluarga itu... setahun kemudian kami menentang kebijakan pemerintah kota masalah pajak tinggal yang menyulitkan banyak penduduk kurang mampu dan terjadilah perselisihan antara keluarga elit... 4 keluarga elit mendukung sepenuhnya kebijakan itu dan 2 lainnya hanya ikut-ikutan...! dan 1 tahun kemudian keluarga kami 'Klan Mu' mulai tersingkir...!", kata MuDhong menambahkan.


"Akhirnya 2 tahun lalu kami mengambil keputusan untuk keluar dari kota Lamur... ada yang pindah kedaratan tengah tapi sebagian kekota Banto dan kami disini ada 30 orang... keluarga kami tinggal didesa Likan sebelah barat kota Banto... tujuan kami disini hanya untuk merampok harta 3 keluarga elit itu... karena kami sakit hati atas perlakuan mereka terhadap 5 orang pimpinan Klan Mu kami... termasuk ayah dan pamanku yang dipenjara sampai saat ini karena menentang kebijakan mereka...", kata MuDhong melanjutkan.


"Mmm... memang sungguh mendominasi ketiga keluarga itu...! terus bagaimana paman...", kata YoLang serius.


"Setiap ada yang melewati jalan ini khususnya dari keluarga Bao, Cun dan Seng pasti kami rampok... dan kalau melawan kami bantai... kalau yang lain kami melihat dulu kondisi mereka dan hanya menyita barang berharga mereka dengan paksa... sudah 2 tahun kami melakukan pekerjaan ini...! tanpa sepengetahuan keluarga kami... juga disetiap aksi kami selalu menyamar memakai topeng...!", kata MuDhong melanjutkan kisahnya.


"Apa paman akan begini terus...? apa paman merasa bahagia...? merasa puas merampok keluarga itu...? kemudian apa paman tidak takut ada dendam nantinya...?", tanya YoLang.


"Itulah nak Yo...! kami akhirnya mulai bosan dengan keadaan yang begini terus dan juga mulai frustasi...!", kata MuDhong berkeluh kesah.


"Paman MuDhong sebagai pemimpin, apakah akan didengar dan diikuti oleh semua bawahan paman...?", tanya YoLang.


"Sudah 2 tahun ini mereka setia mengikutiku dan mentaati semua perintahku...!", kata MuDhong.


"Baiklah paman...! saya punya rencana yang bagus... dan akan sangat membantu seluruh keluarga dan anggota keluarga... itupun kalau paman setuju...!", kata YoLang


"Apa itu nak Yo...!", tanya paman MuDhong terlihat serius.


"Begini...! paman dan anggota paman disini pasti setiap saat ada kerinduan selalu berkumpul dengan keluarga...? nah apa paman mau membuat sebuah desa untuk tempat tinggal seluruh anggota keluarga paman dan kelompok paman ini...?", tanya YoLang.


"Hmm... apa itu mungkin...? itu butuh biaya yang besar juga waktu yang lama...!", kata paman MuDhong berpikir panjang.


"Aku akan membantu mewujudkannya dengan syarat...! pertama semua anggota paman disini harus setuju dan mengikuti perintah paman... kemudian yang terpenting...? bahwa mulai hari ini semua aksi perampokan dihentikan...! itu langkah pertama paman...! bagaimana...?", kata YoLang menjelaskan rencana dan maksudnya.


"Semua anggota keluarga saya itu akan mengikuti semua perintahku...! hmm... tapi untuk meyakinkan mereka...? paman butuh bantuanmu...! ", kata paman MuDhong.


"Sekarang paman boleh mengumpulkan seluruh anggotanya...!", kata YoLang.


"Mmm... baiklah...!", kata paman MuDhong.


Sssuuuuiiiiiitttttt.... ssuuuiiitttt....


Ssuuuiiittt....

__ADS_1


Ssuuuiiittt....


Suara siulan keras dari paman MuDhong sebanyak 2 kali sebagai tanda panggilan kepada anggotanya yang sedang bertugas, disusul dua suara siulan lainnya sebagai jawaban. Kemudian berdatangan puluhan orang dari dua arah berbeda...


"Ada apa Boss...!", kata pemimpin kelompok pertama.


"Kenapa kakak memanggil kami...? apa ada sesuatu...?", tanya kelompok lainnya.


"Iya... mana kelompok MuSung...? kenapa tidak kembali...? segera panggil semua tanpa terkecuali...!", perintah MuDhong.


"Siap kakak...!", kata seseorang.


Ssuuuiiiiittttt.........


Ssuuuiiittt...


"Maaf Ketua... kami terlambat... posisi kami agak jauh dari sini...!", kata pemimpin kelompok yang baru datang.


"Hmm... apakah kalian masih mau mendengarkan kata-kataku...?", tanya MuDhong.


"Siap Ketua...!", kata mereka serempak.


"Apakah kalian mau berubah nasib...? dan kembali menjadi orang baik-baik...?", kata paman MuDhong.


"Jawab pertanyaanku...! itu sudah jelas...!", kata paman MuDhong tegas.


"Siap...! kami mau Ketua...!", jawab mereka kompak.


"Bagus...! dengarkan aku...! mulai detik ini hentikan aksi kita...!", kata paman MuDhong singkat.


Wah... ada apa ini...?


Terus kita akan berbuat apa...?


Apa Ketua sedang sakit...?


Nanti aku kerja apa...?


Aduh istriku mau melahirkan...?


Berbagai macam pertanyaan terlontar dari para anggota kelompok itu, kemudian saling mengungkapkan ekspresi mereka sehingga membuat suasana jadi ribut oleh suara mereka.


"Diiiaaammm...! dan dengarkan...!", kata MuDhong mendominasi.

__ADS_1


"Mulai hari ini...! kita akan mengubah jalan hidup kita yang salah arah ini...! dan saya sudah memikirkan dengan baik dan penuh pertimbangan...! karena hal ini juga menyangkut seluruh anggota keluarga kita...!", kata paman MuDhong menjelaskan.


"Kita akan membuat sebuah Desa ditempat ini...! dan akan menjadi tempat tinggal seluruh anggota keluarga Mu yang beberapa tahun lalu terbuang dari kota Lamur...!", kata paman MuDhong melanjutkan.


"Ada Dewa penolong yang akan membantu kita untuk mewujudkan akan hal itu... dan aku percaya kepadanya... demikian juga dengan kalian harus percaya kepadaku dan kepada Dewa penolong itu...!", kata paman MuDhong menambahkan.


"Yang setuju silahkan duduk...! dan yang tidak setuju berdiri dan sampaikan alasan dan masalahmu...!", kata paman MuDhong.


".." 🙄🤔🤔 hening karena semua sedang berpikir apa yang sedang terjadi.


Selama 5 menit suasana hening tanpa suara dan terlihat semuanya duduk dan menatap sang Ketua MuDhong dengan wajah mereka yang serius.


"Baik...! terimakasih kalian masih setia kepadaku...", kata MuDhong memecahkan suasana yang membisu itu.


"Selanjutnya kita dengarkan langkah selanjutnya yang harus kita lakukan... nak Yo... silahkan...!", kata paman MuDhong.


"Baik...! paman sekalian... maafkan aku yang muda ini akan memberikan saran dan masukan buat paman semua untuk kembali kejalan yang lebih baik...!", kata YoLang memulai kata-katanya.


"Langkah selanjutnya adalah membuang anggapan orang tentang kawasan misterius ini sebagai kawasan berbahaya... menjadi kawasan yang aman...! karena nantinya ada sebuah desa dijalur jalan lintas ini...! caranya...? siapapun yang melewati jalan lintas dikawasan ini agar dilindungi...! buat dua kelompok yang terdiri dari 5 orang yang tugasnya mengawal... dan kelompok lainnya yang terdiri dari 3 orang yang pura-pura melakukan perampokan... dan tempatkan 2 kelompok tersebut dikedua ujung jalur jalan lintas kawasan ini... aksi ini dilakukan selama 1 bulan sampai orang-orang yang lewat merasa aman melalui kawasan ini...!", kata YoLang menjelaskan.


"Kemudian membuat kelompok yang tugasnya membangun beberapa rumah sederhana disekitar jalur jalan yang melintasi kawasan ini... juga ada beberapa orang yang akan membeli kebutuhan pembangunan lainnya dikota... sekalian secara bertahap menjemput keluarga masing-masing untuk datang dan tinggal disini...!", kata YoLang melanjutkan.


"Setelah pembangunan rumah tinggal selesai dilanjutkan untuk membuka lahan pertanian disekitar danau... aku dan kakekku akan membantu semua proses pembangunan desa ini juga dengan biayanya...! dan paman semua yang akan mengerjakannya... karena saya yakin dengan potensi yang ada dikawasan ini cocok untuk lahan pertanian... dan nelayan ikan dari danau... kayu dari hutan... bisa juga berburu dikawasan hutan... dan masih banyak hal lain yang akan menjadi sumber kehidupan penduduk desa nantinya... asalkan kalian bersungguh-sungguh...!", kata YoLang menambahkan.


"Bagaimana...? apakah ada pertanyaan...?", tanya YoLang mengakhiri penjelasannya.


"Nak YoLang... apakah kamu seorang Dewa yang menyamar...?", kata seorang anggota.


"Hahaha... paman aku orang biasa... ayahku hanya seorang pemburu dan dulunya kami juga tinggal didesa... hanya saja sekarang desa kami sudah berubah menjadi kota hehehe...!", kata YoLang senang karena melihat rencananya mulai ditanggapi oleh kelompok bandit tersebut.


Sementara gurunya menatap sang murid dari samping dengan senyum kagum...


"Kapan kami mulai...?", kata beberapa orang yang terlihat mulai bersemangat.


"Silahkan paman MuDhong mengatur kelompok dulu...!", kata YoLang.


Dengan patuh mereka membentuk kelompok sesuai arahan YoLang, dan terlihat 2 kelompok masing-masing 8 orang mulai bergerak menuju ujung Kawasan Danau Es. Terlihat juga kelompok 10 orang sedang menuju lokasi dimana rencana lokasi desa yang akan dibangun, mereka mulai membersihkan dan meratakan area lokasi tersebut. Sementara itu 4 orang yang ditunjuk MuDhong untuk membeli bahan bangunan dan peralatan lainnya dikota Banto, menerima cincin jiwa dasar-3 dengan masing-masing cincin berisi 20.000 koin emas sedangkan paman MuDhong menerima sebuah cincin jiwa dasar-5 yang berisi 100.000 koin emas. Kemudian YoLang menjelaskan kepada mereka cara menggunakan cincin jiwa tersebut...


"Ohh... Dewa...! nak YoLang... paman Yao... kalian benar-benar jelmaan Dewa...? terberkatilah kalian berdua beserta seluruh keluarga...", kata MuDhong hormat sambil bersujud.


"Ahh... jangan paman...! kami tidak bisa menerima penghormatan seperti itu... karena bersujud hanya dilakukan kepada kedua orang tua dan kepada guru... maafkan kami paman MuDhong...!", kata YoLang.


"Paman Yao dan nak YoLang... ijinkan saya atas nama keluarga Mu... untuk menghormati tuan penolong berdua dengan mengabadikan nama paman Yao dan nak Yo... sebagai nama desa yang akan dibangun ini dengan nama 'Desa YaoYo'.

__ADS_1


__ADS_2