Titisan Dewa

Titisan Dewa
Mencari Keluarga Lun


__ADS_3

"Baik pertama saya menyampaikan bahwa besok saya akan kembali ke kota Klentang dan akan membawa kakak Lun...! karena kami sudah ditakdirkan untuk bersama... kedua saya mohon bantuan untuk merawat Wisma karena sewaktu-waktu kami akan kembali kesini...! ketiga saya akan memberikan hadiah kepada semua yang ada diruangan ini... dengan syarat untuk menggunakannya dengan bijak... tidak merugikan orang lain tapi sebaliknya jadikan untuk bermanfaat kepada banyak orang... bagaimana...?", kata sang pelindung menjelaskan maksudnya.


"Kami mengerti tuan muda...! dan berjanji untuk melakukan seperti yang tuan muda sampaikan...!", kata kakek MuChin mewakili mereka yang hadir.


"Baik... bersiaplah saya akan memberikan sedikit kekuatanku...!", kata YoLang kemudian mendekati kakek MuChin dan kakek MuFeng dan mentransfer energi kekuatannya dengan menempelkan telapak tangan kanannya kearah perut kakek MuChin dan telapak tangan kiri kepada kakek MuFeng.


*Kakek MuChin


Bhuuummm.... Ungu Akhir


Bhuuummm.... Hitam Akhir


Bhuuummm.... Emas Akhir


*Kakek MuFeng


Bhuuummm.... Ungu Mahir


Bhuuummm.... Hitam Mahir


Bhuuummm.... Emas Mahir


Masing-masing mereka mendapat kenaikan 3 tingkat kekuatan dalam sekali jalan, dan dari keenam petinggi Klan Mu tersebut kakek MuChin yang tertinggi ditingkat Emas Akhir sedangkan kelima tetua lainnya ditingkat Emas Awal dan Emas Mahir dan yang terendah adalah paman MuDhong dengan tingkat kekuatan berada ditingkat Hitam Akhir.


"Dan saya juga ingin menyerahkan kalung ini... yang bisa digunakan oleh kakek MuChin dan kakek MuFeng... jika desa YaoYo dan Klan Mu berada dalam keadaan darurat maka pecahkan buah kalung ini...! itu adalah tanda buat saya nantinya... ingat baik-baik hanya dalam keadaan darurat saja...!", kata YoLang menjelaska, kemudian menyerahkan 2 buah kalung pemanggil kepada mereka.


"Saya kira sudah cukup... atau sekiranya masih ada yang akan disampaikan dari kakek sekalian dan paman... silahkan...!", kata YoLang.


"Dari kami hanya ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada tuan muda...! dan selamat telah mendapat pendamping hidup...! kami mendoakan untuk tuan muda Yo... dan nyonya Lun selalu bahagia...?", kata kakek MuChin mewakili mereka semua.


"Sama-sama kakek... dan paman MuDhong terimakasih sudah mau menolong dan merawat kakak Lun selama ini...! dan hadiah yang saya berikan tadi adalah permintaan kakak Lun untuk kakek sekalian dan paman... dan terakhir untuk kakek MuHoa nanti cek gudang herbal diwisma ada titipan saya disana... baik saya pergi dulu...!", katanya kemudian...


Whuuuzzz...


YoLang kembali ke Wisma Pendiri Desa dan muncul dikamarnya dan melihat sang kakak sedang bermeditasi, setelah merasakan desiran angin akibat munculnya sang kekasih yang tiba-tiba, dia terbangun dari meditasinya.


"Bagaimana adik... sudah diberikan hadiahnya...?", tanya kakak Lun karena merasa berhutang budi kepada paman MuDhong yang telah menyelamatkannya.


"Sudah kak... dan paman MuDhong berterimakasih kembali dan mereka mengucapkan selamat berbahagia kepada tuan muda Yo dan nyonya Lun...!", kata YoLang sambil menatap sang kakak.


"Hmmm... apakah adik menceritakan kepada mereka...? kita belum menikah adiiiik...! dan kamu belum cukup umur... badan adik saja yang tidak normal...!", kata kakak Lun yang sudah bersandar manja didada bidang sang kekasih.


"Ya... itu alasan saya untuk mengatakan bahwa saya akan membawa kakak pergi... kalau tidak nanti saya dianggap penculik...! hehehe... dan juga kita sudah disahkan oleh petir Langit...", kata YoLang menatap kakak Lun-nya sambil memainkan kedua alis matanya.

__ADS_1


"Hmmm... terserah kamu saja adik... kakak ikut saja... asal kita selalu dekat...!", katanya sambil memberikan senyum terindah menampilkan sesuatu yang sangat disenangi YoLang.


"Kak... jangan berhenti senyumnya... itu... ahh... manis sekali... hehehe... kakak tau dari mana aku suka melihat lesung dipipi kakak...?", tanya YoLang senang.


"Mmm... tau saja... karena adik selalu melirik pipi kakak kalau tersenyum... hehehe... Cuupph...!", katanya dan memberikan kecupan kilat dibibir sang kekasih.


Malam terasa pelan beranjak, menuju pagi yang tak kesampaian. Sepasang kekasih yang disahkan oleh sang Kaisar Dewa, penguasa Semesta, pemimpin para Dewa Penguasa yang tersisa, para Bocah PanjelSolasi, siBocah Tua, terlihat sedang tidur beristirahat saling berpelukan didalam kamar mewah, disebuah Istana megah didalam dunia jiwa siBocah Brandal. Lembayung fajar belum juga merekah tapi sosok cantik berambut panjang, pemilik lesung dipipi terlihat mulai menggeliat dan mengangkat kepala memandang sang kekasih yang masih berada dialam mimpinya kemudian memberikan kecupan hangat dikening dan berbisik...


"Adik... bangun... sudah mau pagi... katanya kita harus berangkat pagi-pagi...!", katanya dengan lembut.


"Hmmm... mmm... kak... sedikit lagi... masih gelap...!", kata sang kekasih manja kemudian mendekap sosok yang membangunkannya itu dan membawanya kembali tidur.


"Hmmm... adik... kamu dari semalam mengajak kakak tidur disini... tapi adik tidak menjalankan kewajiban adik terhadap kakak... padahal kakak sudah siap...!", kata kakak Lun-nya ingin memastikan.


"Kak... kewajiban saya kan menjaga dan melindungi kakak... ennn... juga memberikan kekuatan... hehehe...", katanya sambil lebih mengeratkan pelukannya.


Kakak Lun yang dari semalam sudah bersiap-siap dan menunggu, tapi sampai pagi tidak terjadi sesuai yang ada dipikirkannya. Dan dia berpikir apakah karena usia sang kekasih yang masih anak-anak karena sesuai pengakuan YoLang dia baru berusia 10 tahun, tanpa diketahuinya sang kekasih mengetahui semua yang ada didalam pikirannya juga tidak mengetahui bahwa sang kekasih adalah seorang Titisan dari para Dewa yang umur mereka sudah belasan juta tahun, dan jika ditelusuri secara mendalam maka kekuatan dan energi yang diberikan para Dewa kepada YoLang telah berpengaruh sangat besar terhadap alam pemikiran, batin dan mentalnya ditambah dengan peningkatan kualitas tubuh, tulang dan darahnya bisa dikatakan YoLang telah mewarisi 5% dari umur para Dewa tersebut. Hanya YoLang masih menahan diri sekaligus menguji ketahanan jiwa/spiritualnya yang selalu dia gunakan dalam setiap aktivitasnya.


YoLang akhirnya berpikir mencari cara terbaik untuk tidak mengecewakan pasangannya terlebih dia mengetahui bahwa kekasihnya sudah dewasa dan sangat membutuhkan kehangatan sebagimana para pasangan pada umumnya.


"Ayo kakak... kita kembali ke Wisma dan siap-siap berangkat...!", kata YoLang bangkit dari tempat tidur dan merangkul pinggang sang kekasih untuk beranjak turun.


"Mmm... baiklah kakak menurut saja...!", kata sosok yang terlihat kecewa tapi masih ngotot kemudian melingkarkan tangannya keleher sang kekasih untuk menciumnya...


Dua sosok yang sedang berpelukan itu telah berada diWisma mereka untuk bersiap-siap melakukan perjalanan kekota Lamur mencari informasi tentang keluarga Lun yang 15 tahun yang lalu menghilang secara misterius. Setelah berpamitan dengan paman MuDhong yang mengantarkan 2 ekor kuda untuk mereka, bergeraklah sosok pasangan muda itu memacu kuda dengan cepat menuju kota Lamur, sebenarnya YoLang bisa menggunakan teknik teleportasi miliknya tapi dia ingin membuat sang kekasih nyaman dengan selalu berdua. Terbukti setelah jarak cukup jauh dari desa YaoYo, mereka berdua sudah berboncengan diatas seekor kuda yang berlari pelan sambil menikmati pemandangan dan duduk didepan bersandar didada bidang sang kekasih. YoLang membiarkan kudanya berlari sendiri sambil menarik kuda satunya dibelakang, dan dia sendiri tak pernah melepaskan pelukan dari tubuh kakak Lun-nya dan itulah cara lainnya memberi kehangatan kepada pasangan yang sedang kecewa.


"Kak... pemandangannya bagus... itu yang disana...!", katanya menghibur karena silesung belum terlihat sejak mereka keluar dari desa YaoYo.


"Hmmm... adik... nanti kita cari siapa dikota Lamur...?", tanya kakak Lun yang mulai memegang tangan kekar yang melingkar dipinggangnya dan menyandarkan kepala didada bidang sosok dibelakangnya.


"Aku punya saudara laki-laki disana... nanti kita kerumahnya dan coba bertanya...!", jawab YoLang.


"Hmmm... baguslah... adik... kamu sayang kakak...?", tanya kakak Lun tiba-tiba.


"Ya... jelas... apa kakak tidak percaya...? ini kedua tanganku dari tadi sudah menjaga kakak... itu tandanya sayang kakaaaak...!", jawabnya asal sambil sengaja menampilkan gaya lugunya karena tahu kakaknya masih ragu.


"Hmmm...", hanya bergumam.


"Aku sayang kakak... nanti kalau kakak sudah selesai pelatihannya aku kasih hadiah yang kakak inginkan...", katanya merayu.


"Janji...? Awas Lupa...!", singkat dan tegas kata yang keluar sambil menatap tajam kewajah didepannya.


"Iya janji... dan ini...", tidak dia teruskan kata-katanya karena bibir keduanya telah berpagutan dan merekat tidak terlepaskan dan terlihat tangan kakak Lun melingkar erat dileher YoLang yang enggan melepaskan kemudian keduanya saling menarik diri karena kakak Lun-nya mulai kehabisan udara dalam paru-parunya.

__ADS_1


"Hahh... hahh... mmm... weee...!", katanya sambil menggoda, menayangkan silesung dipipi kearah sipenikmat dihadapannya.


Dan keduanya tertawa senang menikmati suasana kebahagiaan, sambil memacu kembali kuda mereka dengan cepat meninggalkan debu yang beterbangan dihempas irama derap kaki kuda yang melaju dengan kencang. Tanpa istirahat mereka terus melaju kearah kota Lamur dan tiba setelah hari sudah sore, setelah membayar biaya masuk kota kepada penjaga gerbang YoLang membawa mereka kepinggiran kota dimana keluarga saudara Anbin tinggal.


Dari kejauhan dia melihat sebuah rumah yang didepannya banyak perabotan rumah tangga dari kayu, dan melihat sosok anak muda seusia dengannya sedang memotong balok kayu,...


"Saudara Anbin...!" teriak YoLang senang melihat Anbin yang sedang bekerja.


"Astaga... saudaraku YoLang...?", sambut Anbin kemudian berlari mendapatkan YoLang dan memegang tali kekang kuda yang ditunggangi saudaranya itu.


"Bagaimana kabarmu saudara Anbin... ehh... maaf... ini... kenalkan YoLun tunanganku...! hehehe...", kata YoLang sebisanya karena bingung belum menyiapkan kata yang tepat.


"Ohh..eh... wah... hai...saudari YoLun...? kenalkan saya Anbin saudaranya YoLang... ayo... masuk dulu... maaf... berantakan...!", kata Anbin sibuk mengatur perabotan yang menghalangi jalan masuk rumah.


"Silahkan duduk saudara Yo... saudari YoLun... maaf aku sendirian dirumah... ayah ibuku lagi menjaga toko perabotan kami dipusat kota...! sore baru kembali...!", kata Anbin.


"Ahh... tidak apa-apa saudaraku... bagaimana usaha keluarga kalian...? apa masih mendapat hambatan...?", tanya YoLang yang mengerti kesulitan keluarga Anbin sebelumnya.


"Ya... begitulah saudara Yo... masih saja ada yang coba-coba... tapi aku sudah berlatih... lihat ini...!", kata Anbin sambil menunjukkan otot lengan tangannya.


"Wahh... bagus saudaraku... kamu naik 1 tingkat sekarang Biru Awal...", kata YoLang senang melihat perkembangan Anbin.


Keakraban mereka terlihat karena sering terdengar mereka tertawa bersama menceritakan pengalaman mereka selama ini, dan kesempatan itu YoLang menanyakan tentang kejadian 15 tahun lalu dan keberadaan keluarga Lun dikota Lamur ini karena di tahu Anbin memiliki banyak informasi dan pengetahuan tentang daratan utara sebab Anbin banyak bergaul dan berteman dengan para petualang yang sering melakukan petualangan digunung biru dan singgah dikota Lamur juga beberapa kali Anbin ikut serta sebagai penunjuk jalan bagi para petualang.


"Ahh... keluarga Lun atau dulu Klan Lun mereka salah satu Klan kecil dikota ini, karena hanya beberapa keluarga yang bernaung dibawah Klan itu dan tempatnya itu... sebelah kedai kopi... nah disitu terdapat beberapa rumah yang dulunya milik keluarga Lun yang menghilang secara misterius...!", cerita Anbin sambil menunjuk tempat yang tidak jauh dari rumahnya.


"Ohh... begitu... saudara Anbin... apakah masih pernah mendengar ada keluarga Lun lainnya dikota Lamur ini sekarang...?", tanya kakak Lun yang mulai penasaran.


"Aku belum pernah mendengarnya lagi... tapi nanti coba kita tanyakan pada ayahku... karena dia tahu persis kejadian waktu itu...", kata Anbin kemudian.


Pertemuan dirumah Anbin berlangsung sampai sore dan ketiga sosok anak muda itu terlihat bertambah akrab, ditemani sepoci teh hangat dan sepiring kue yang dibeli dari kedai kopi mereka menikmati sore hari itu sambil menunggu kedatangan orang tua Anbin pulang dari menjaga toko perabotan mereka dipusat kota Lamur. dan setelah menunggu beberapa saat terlihat dua sosok dewasa memasuki rumah...


"Ehhh... nak YoLang...? sudah lama nak Yo...?", tanya ibu Anbin


"Salam paman... bibi... ahh... belum lama bibi... bagaimana keadaan paman dan bibi...?", tanya YoLang.


"Ya... beginilah nak Yo... seperti yang terlihat... semua ini berkat nak Yo dan kakek Yao...!", kata ibu Anbin lagi.


"Betul nak YoLang... tanpa bantuanmu mungkin aku masih dipenjara...!", kata ayah Anbin selanjutnya.


"Ahh... paman dan bibi tidak usah sungkan... sebenarnya kedatanganku kesini karena ingin bertemu dengan paman, bibi dan saudaraku Anbin... juga ingin mencari berita tentang keberadaan Klan Lun atau anggota keluarga Lun yang masih ada dikota Lamur ini...!", kata YoLang.


"Ahhh... itu... Klan Lun dulu lokasinya dikomplex pinggiran kota ini... semua milik Klan Lun... dan aku waktu belum menikah sering membuat perabotan diKlan Lun... keluarga Lun berasal dari daratan selatan yang mencari peruntungan diutara ini dan menetap dikota Lamur ini...!", cerita ayahnya Anbin.

__ADS_1


"Keluarga Lun datang keutara dipimpin oleh tuan LunXiao sebagai patriak Klan Lun mereka datang dari kota Arung didaratan selatan...! dan cerita miring yang aku dengar... mereka diculik oleh saingan bisnis mereka untuk kembali ke selatan untuk membayar hutang atau pinjaman... apa... saya kurang jelas mengetahuinya... karena hanya mendengar sepotong-sepotong cerita orang juga... dan kejadianya sudah 15 tahun yang lalu...!", cerita ayahnya Anbin.


__ADS_2