
Semua sudah siap, YoLang telah membeli kereta kuda yang cukup bagus dengan 2 ekor kuda yang terlihat kuat, perbekalan sudah ditempatkan dibagian belakang kereta kuda dan mereka siap berangkat...
"Nak Yo... paman Yao...! bolehkah sebelum berangkat kita mampir dulu kemakam suami saya...? sekalian mau membersihkan makamnya...!", kata bibi Maya.
"Oh... iya... iya...! kita pasti akan kesana dulu...! Mayang kamu duduk sini dekat kakak dan tunjukkan jalan kearah makam ayahmu...!", kata YoLang yang sementara jadi kusir kereta kuda.
Menjelang sore kereta kuda dengan YoLang sebagai kusir kereta sudah meninggalkan kota Banto, didalam gerbong kereta tampak duduk dengan santai kakek Yao dan didepannya bibi Maya dan putrinya Mayang. Dengan kereta kuda perjalanan menuju desa YaoYo membutuhkan waktu sehari penuh untuk itu malam ini mereka merencanakan akan bermalam dijalan, sepanjang jalur jalan antara Kota Banto dan desa YaoYo sudah terdapat tempat peristirahatan yang sering dipakai oleh para pelintas untuk beristirahat dan YoLang membawa kereta gerbongnya menuju ketempat itu.
Area peristirahatan para pelintas terdapat beberapa bungalow, bagi pelintas yang menggunakan kuda pasti beristirahat dalam bungalow lain dengan YoLang beserta rombongan, bibi Maya bersama putrinya Mayang beristirahat didalam kereta sementara YoLang dan kakek Yao diluar kereta sambil membuat api unggun. Terlihat beberapa penunggang kuda sudah menempati 2 buah bungalow mereka datang dari arah desa YaoYo.
Keesokan harinya ketika matahari belum bersinar terlihat sebuah kereta kuda sudah meluncur dijalan lintas menuju kearah desa YaoYo, YoLang berharap untuk tiba didesa sebelum tengah hari maka dari itu pagi-pagi sekali mereka sudah jalan. Terlihat siputri kecil terkantuk-kantuk didalam kereta karena semalam dia tidak tidur karena melakukan meditasi, hal ini disarankan YoLang karena dia mengatakan meditasi dialam bebas seperti hutan sangat bagus sebab terdapat energi alam yang banyak dan jika diserap dapat meningkatkan kekuatan dengan cepat.
Menjelang siang hari dari kejauhan rombongan YoLang mulai melihat bangunan rumah desa YaoYo dengan tak sabar dia memacu kuda untuk segera sampai didesa tersebut, orang-orang desa yang mengenal sang kusir kereta segera memberitahu paman MuDhong atas kedatangan kereta tersebut. Sesampainya didepan sebuah rumah yang agak besar, kereta mulai berjalan dengan pelan kemudian memasuki halaman rumah itu, rombongan YoLang disambut oleh paman MuDhong dan 3 orang bawahannya.
"Selamat datang kembali tuan muda... dan paman Yao...!", kata paman MuDhong yang menjadi kepala desa YaoYo saat ini.
"Wah... terimakasih paman MuDhong...! dan saya sudah mendengar banyak tentang desa kita ini ketika diKota Banto... hehehe...!", kata YoLang.
"Ini semua karena bantuan tuan muda... kami hanya melakukannya saja... mari tuan muda silahkan masuk...!", ajak paman MuDhong.
"Ah... iya paman perkenalkan...! ini bibi Maya dan putrinya Mayang... dan bibi ini paman MuDhong kepala desa YaoYo... ini paman MuBai wakilnya... kemudian ini paman MuSung dan ini paman MuTeng...!", kata YoLang memperkenalkan mereka.
"Selamat datang di desa YaoYo nyonya... tuan putri... mari silahkan masuk... rumah ini milik tuan muda YoLang sebagai pendiri desa... dan nama desa juga dari nama kakek Yao dan tuan muda YoLang...!", kata paman MuDhong menjelaskan.
"Wah... kakak ternyata punya desa sendiri yah...! aku juga boleh bikin desa sendiri ya kak... tuh disebelah sana...!", celoteh si gadis cilik.
"Hahaha... nanti suatu saat kamu boleh buat kerajaan sendiri...!", kata YoLang sambil menggoda Mayang (sesuatu yang akan menjadi kenyataan kelak).
Mereka memasuki rumah besar itu yang ternyata dibangun dan dipersiapkan untuk menjadi tempat kediaman YoLang dan kakek Yao, memiliki 3 buah kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga digabung dengan ruang makan, dapur dan ada kamar pelayan juga. Ditempat lain dia masih melihat para tukang masih melakukan pekerjaannya membuat beberapa rumah tinggal sedangkan yang sudah selesai dan sudah ditempati berjumlah 22 buah rumah.
"Paman MuDhong... apakah semua keluarga paman sudah datang...? bagaimana dengan para sesepuh keluarga Mu...?", tanya YoLang.
__ADS_1
"Yang dari desa Likan sudah datang semua..., dari kota Banto masih ada 5 keluarga yang belum datang... sementara yang didaratan tengah sudah saya kirim kurir kesana untuk menjemput mereka tuan muda...!", kata paman MuDhong menjelaskan.
"Para sesepuh sudah dibebaskan pemerintah kota Lamur... sekarang mereka masih berkumpul disebuah rumah dan untuk masing-masing sementara dalam tahap pembangunan tuan muda...!", kata paman MuDhong.
"Iya paman... kita harus menyiapkan 1 rumah untuk setiap keluarga dan itu harus...! agar mereka merasa nyaman... setelah itu baru kita bangun fasilitas desa seperti kantor desa, lumbung desa dan pos penjagaan untuk keamanan desa...!", kata YoLang.
"Kemudian saya merencanakan untuk membangun tempat usaha yang akan dikelola oleh pemerintah desa... yaitu penginapan dan rumah makan... dan juga saya akan membuka lahan pertanian untuk dikelola oleh penduduk desa...!", kata YoLang melanjutkan.
"Selebihnya untuk berburu... nelayan didanau... beternak... silahkan masing-masing yang mengaturnya... dan terakhir membuat Perguruan Beladiri karena banyak bakat yang saya lihat dari para penduduk desa...!", kata YoLang menambahkan.
"Dan ini...! tolong paman yang atur untuk membuat semua yang saya katakan tadi... berilah upah yang pantas kepada setiap pekerja...!", kata YoLang sambil memberikan sebuah cincin jiwa yang berisi 1 juta koin emas didalamnya.
"Terimakasih tuan muda... semuanya akan kami lakukan seperti yang tuan muda sampaikan...!", kata paman MuDhong sambil melihat isi didalam cincin jiwa yang diberikan YoLang kemudian terperangah karena tumpukan koin emas didalamnya.
"Baik paman...! kami mau istirahat dulu dan nanti sore saya mau bertemu dengan para sesepuh... sekalian berkenalan dan minta petunjuk mereka...!", kata YoLang.
"Akan kami sampaikan tuan muda...! silahkan beristirahat dan kalau tuan muda memerlukan sesuatu... ada nona Lun yang siap membantu dan juga yang akan menjadi pelayan tetap tuan muda...! dan juga akan tinggal dikediaman tuan muda ini...!", kata paman MuDhong sang kepala desa YaoYo.
"Kita akan tinggal disini beberapa hari...! saya mau menyelesaikan beberapa pekerjaan... bibi Maya dan Mayang bisa berlatih...!", kata YoLang kepada bibi Maya sedangkan Mayang telah keluar dan berkeliling desa ditemani bibi Lun.
Sore harinya YoLang bertemu dengan para sesepuh keluarga Mu yang diantaranya ada ayah paman MuDhong, sesampainya di sebuah rumah dia melihat sudah duduk menunggu 5 sosok pria paruh baya usia 55~60 tahun.
"Salam... kakek semua...! perkenalkan saya YoLang...!", kata YoLang dihadapan 5 sosok paruh baya itu.
"Salam nak YoLang...! mari duduk dulu...!", kata seseorang yang mengajaknya duduk.
"Kenalkan... saya MuChin ayahnya MuDhong... sebelah kiri ini kakak saya MuFeng dan disebelah kanan MuHoa adik saya... kemudian yang ini sepupu-sepupu saya MuBing dan MuGao...!", kata kakek MuChin memperkenalkan jajaran petinggi Klan Mu.
Setelah perkenalan YoLang menceritakan asalnya dan perjalanannya serta tujuannya mendirikan desa YaoYo, demikian juga para sesepuh menceritakan sejarah Klan Mu sampai berakhir ketika kelima sesepuh ini dipenjara oleh pemerintah kota Lamur.
"Kakek MuChin... sebagai pemimpin Klan Mu...! nantinya yang akan mengarahkan paman MuDhong dan yang lainnya untuk membuat masa depan desa YaoYo ini lebih baik...!", kata YoLang.
__ADS_1
"Masih banyak yang akan dilakukan untuk kemajuan desa YaoYo... termasuk kemajuan tingkat hidup penduduknya serta bisa berguna dan membantu penduduk sekitar desa ini...!", kata YoLang selanjutnya.
"Saya yang kebetulan memiliki sedikit dana... hanya bisa membantu paman MuDhong dan teman-temannya dari segi itu... dan sedikit memberi semangat...!", kata YoLang menambahkan.
"Ah... tidak... tidak..!. nak YoLang sudah berbuat banyak untuk mereka... juga terhadap Klan Mu... kami sebagai orang tua sangat berterimakasih dan mendoakan yang terbaik buat nak YoLang beserta keluarga...!", kata kakek MuChin tulus.
"Suatu saat saya ingin bertemu dengan keluarga nak YoLang dikota Klentang... sekaligus ingin menjalin kerjasama dengan mereka... karena... bagaimanapun juga nak YoLang sudah kami anggap sebagai bagian dari anggota keluarga Mu...!", kata kakek MuChin menjelaskan.
Perbincangan mereka berlanjut sampai hari menjelang malam, dengan penuh suasana kekeluargaan YoLang sangat diterima ditengah para sesepuh Klan Mu itu kemudian dia pamit undur diri dan kembali kekediamannya. Dikediamannya YoLang sudah ditunggu oleh bibi Maya, Mayang dan kakek Yao diruangan keluarga untuk makan bersama,...
"Uhh... kakak lama sekali...! perutku sudah sejak tadi berteriak minta diisi nih...!", kata Mayang dengan cemberut.
"Mayang...!", sela bibi Maya sambil melotot kearah Mayang.
"Hehehe... maaf aku terlambat...! ayo makan aku juga sudah lapar...!", kata YoLang.
Selesai makan mereka berbincang-bincang ringan kemudian YoLang berkata,...
"Saya ingin mengenalkan anggota keluarga yang baru...!", kata YoLang sambil mengeluarkan 2 ekor burung Rajawali Dua Alam yang sangat besar karena kepala mereka hampir menyentuh langit-langit rumah.
"Nah... yang bulunya Hitam namanya 'Jula'... dan yang berbulu Putih namanya 'Juli'...!", kata YoLang.
"Jula dan Juli sepasang kekasih dan mereka bisa menjadi tunggangan kita kembali kekota Klentang...", kata YoLang kepada bibi Maya dan putrinya Mayang yang terheran-heran melihat keberadaan dua ekor burung itu sambil mulut mereka membentuk huruf 'O'.
Kehebohan terjadi diruangan itu karena Mayang langsung mendekat kearah Juli siPutih kemudian seperti dengan sengaja Juli melukai jari Mayang dan menyedot darahnya,...
Aduuuhhh...
"Hehehe... itu tandanya Juli suka padamu Mayang...! dan dia sudah mengakuimu sebagai tuannya...!", kata YoLang kepada siputri kecil sambil mengobati jarinya yang dilukai oleh Juli siPutih.
"Jula... Juli...! tandai bibi Maya...! setelah itu tandai juga desa ini dan seluruh anggota keluarga Mu...!", perintah YoLang kepada kedua Rajawali Dua Alam tersebut...
__ADS_1
Khhaaakkk...
Khhaaakkk...