
Dari kejauhan YoLang dan YoLun melihat pemuda tersebut memasuki sebuah rumah yang sangat jauh dan layak disebut sebagai rumah melainkan sebuah gubuk, dan terlihat ada 3 buah gubuk yang bergandengan dan menjadi satu tapi memiliki 3 buah pintu masuk dan pemuda yang mereka ikuti masuk kedalam gubuk yang berada ditengah. YoLang dan YoLun mendekati gubuk tersebut...
Tok.. tok... tok...
Khraaakkk...
"Siapa ya... ehh... kalian yang tadi dipelabuhan itu...! mmm... ada apa mencariku sampai kesini...?", tanya sang pemuda yang membukakan pintu gubuknya.
"Eemm... bolehkan kami masuk...? Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan kepadamu saudara... ohh iya kenalkan... saya YoLang dan ini istriku YoLun...!", kata YoLang.
"Ehhh... Yo... Lun...? emm... silahkan masuk... maaf beginilah tempat tinggalku...!", katanya kemudian mengajak YoLang dan YoLun masuk.
Didalam gubuk itu Yolang merasakan adanya seseorang yang sedang terbaring lemah dikamarnya, kemudian gubuk sebelah kiri kosong tidak ada penghuninya dan sementara itu disebelah kanan ada dua sosok disana, seorang wanita setengah baya dan seorang anak perempuan yang seumuran dengannya.
Uhuukk... uhuuukk...
"Gon... ada siapa nak...?", terdengar suara seorang laki-laki dari dalam kamar sambil terbatuk-batuk.
"Ada temanku... ayah istirahat saja... nanti aku bangunkan kalau sudah saatnya makan...!", jawab sipemuda menanggapi suara dari dalam kamar itu.
"Begini saudara Gon... Kami berasal dari daratan tengah tepatnya dari kota Klentang... kami datang kedaratan selatan sebenarnya ingin mencari tau keluarga istri saya... kami sudah berkeliling mulai dari kota Polak, kota Wui dan sampai kesini kota Arung...!", kata YoLang menjelaskan maksud dan tujuannya bertemu dengan sipemuda itu.
"Hmm... apa nama keluarga itu ada hubungannya dengan nama istrimu itu Yo... Lun... apa benar...?", selidik si Gon.
__ADS_1
"Benar... awal kami bertemu istriku bernama Lun orang-orang memanggilnya nona Lun hanya itu... dan setelah kami menikah namanya saya tambahkan dengan nama saya menjadi YoLun...!", kata YoLang menjelaskan.
"Saya juga sudah bertanya-tanya tempat dimana istriku berasal yaitu dikota Banto daratan utara dan dari sana kami mendapat informasi asal keluarga Lun dari daratan selatan ini...!", jelas YoLang.
Krieeekkk...
"Si..siapa yang berasal... uhuukkk... Uhuukk... dari kota Banto...? seorang pria dewasa keluar dari dalam kamar dengan masih terbatuk-batuk langsung bertanya.
"A... ayah... ayaaaahhhh... aku siLun kecil ayah... dimana ibu... hiks...hiks...hiksss...", teriakan YoLun sambil menangis membuat semua yang berada didalam gubuk itu terkejut.
Dalam hitungan detik YoLun melompat mendapatkan sosok yang dipanggilnya ayah, kemudian memeluk sosok itu dengan erat sambil menangis tersedu-sedu dan mengulang-ngulang sebutan namanya siLun kecil. Sebutan tersebut adalah panggilan kesayangan sang ayah dan ibunya ketika YoLun berumur 3 sampai 4 tahun.
"Oohhh Dewa... anakku siLun kecil...? apakah benar ini nyata nak...! yaaa Dewa...! apakah kamu reinkarnasi ibumu...? wajahmu sama persis dengan ShinYu istriku...!", kata pria itu membalas pelukan YoLun dan melihat sosok didepannya sama seperti sang istri.
YoLang dan Gon masih bingung dan terkejut dengan situasi yang terjadi, karena situasi berlangsung dengan cepat tapi dia mencerna pembicaraan istrinya dengan sosok yang dipanggilnya ayah itu Yolang menarik kesimpulan bahwa dihadapannya saat ini adalah sang mertuanya laki-laki. Kemudian dengan perlahan YoLang membantu sosok yang dianggap sebagai mertuanya untuk duduk dan berkata...
"Paman duduklah dulu...! saya melihat paman dalam keadaan tidak sehat...! dan kau istriku tenanglah dulu mari kita bicarakan dengan perasaan tenang...!", kata YoLang.
"Suamiku ini ayah mertuamu...! aku tidak pernah lupa dengan wajah ayahku...! kenapa kamu masih memanggilnya paman...?", kata sang istri masih labil dengan pertemuan tak terduga ini.
"Ennmm... Iya..iya...! maafkan saya ayah mertua...!", kata YoLang menuruti kemauan sang istri yang terlihat tidak mau lepas dari pelukan sang ayah.
"Ahhh... benar nak mari kita perjelas situasi ini... mmm... sebaiknya kamu nak yang pertama... jelaskan padaku apa dan bagaimana hubungan kalian dengan keluarga Lun di kota Banto...!", tanya sosok itu sambil tetap memandang YoLun yang seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Baik ayah mertua... saya YoLang berasal dari kota klentang didaratan tengah... waktu saya sedang berpetualang ke daratan utara tepatnya di 'Danau Es' yang dikenal juga dengan kawasan hutan misterius untuk mencari beberapa herbal langka sebagai bahan pembuatan Pil",
YoLang menceritakan awal pertemuannya dengan keluarga Mu atau klan Mu yang kemudian paman MuDhong yang sudah mengangkat nona Lun menjadi anaknya dan hidup bersama keluarga Mu selama 15 tahun, kemudian cerita paman Mudhong bagaimana dia menemukan nona Lun waktu itu dan cerita tentang keluarga Lun atau Klan Lun di pinggiran kota Banto serta tersiarnya kabar tentang keluarga Lun yang menghilang secara misterius dan hanya menyisakan nona Lun yang sebatang kara dan masih berumur 5 tahun, kemudian diangkat anak oleh paman MuDhong. YoLang juga menceritakan bagaimana pertemuannya dengan nona Lun kemudian saling suka dan jatuh hati serta menikah tanpa menyebutkan campur tangan para Dewa dalam pernikahan mereka, selanjutnya rencana petualangannya didaratan selatan ini sekaligus mencari keberadaan keluarga Lun atau Klan Lun.
"Begitulah kisahnya ayah mertua...! dan maafkan saya jika sudah memperistri YoLun tanpa seijin ayah mertua...!", kata YoLang menjelaskan.
"Hmmm... maafkan ayahmu ini nak... uhuukkk... Uhuukk... cerita yang sebenarnya begini...!", sosok sang ayah mertua mulai menceritakan kisahnya,...
Keluarga Lun atau Klan Lun yang terdiri dari 5 keluarga datang ke benua hijau untuk berdagang dan berpetualang, (kisah keluarga Lun dalam perjalanan dari benua besar sampai dibenua hijau di chapter kemudian) keluarga ini dipimpin oleh LunXiao seorang saudagar kaya dan istrinya ShinYuwen seorang pembudidaya beladiri, dengan kedua anak laki-laki mereka LunPing dan LunChao, juga keluarga adik kedua LunXiao, yaitu LunWei dan istrinya serta LunYue seorang anak perempuan, ada juga keluarga adik ketiganya LunFefei dan suaminya, sepupu LunXiao yaitu LunDa berserta keluarga dan sepupu keduanya LunMeng bersama keluarga. Dari semua anggota keluarga itu sebagian besar adalah pedagang hanya ShinYuwen dan LunFefei dan suaminya yang adalah ahli beladiri dari Benua Besar, saat itu LunPing, LunChao dan LunYue masih remaja berusia antara 12 sampai 14 tahun, setelah tiba di kota Arung, daratan selatan benua Pulau Hijau mereka mulai berdagang mencari peruntungan dengan banyaknya barang bawaan dari Benua Besar.
Awal-awal berdagang keluarga Lun sukses besar, kemudian mereka mulai melirik daratan tengah dan daratan utara. Akhirnya pilihan keluarga ini adalah daratan utara untuk tempat berdagang yang baru, maka berangkatlah kelima keluarga ini keutara dan menetap dikota Banto. Secara rutin 5 keluarga ini bergantian untuk mengambil barang dagangan yang dikirimkan dari Benua Besar untuk dibawa keutara dan sebaliknya membawa barang-barang khas daratan utara untuk dikirimkan keBenua Besar, dan yang terakhir sang pemimpin keluarga LunXiao dan istrinya ShinYuwen kembali ke Benua Besar untuk mengatur pengiriman dan penerimaan barang dari daratan utara, juga LunWei sekeluarga dan LunDa sekeluarga kembali ke kota Arung untuk mengatur barang-barang dari dan keutara serta menerima dan mengirim barang-barang tersebut keBenua Besar. Dan yang tertinggal di daratan utara hanyalah keluarga LunFefei dan keluarga LunMeng serta LunPing dan LunChao kedua anak laki-laki dari LunXiao dan ShinYuwen, LunPing dan LunChao sering mendapat tugas untuk bolak-balik dari kota Banto ke kota Arung untuk mengantar dan mengambil barang dagangan mereka.
5 tahun kemudian diKota Arung LunPing bertemu dengan ShinYu anak saudagar dari benua besar kemudian keduanya menikah dikota Arung tapi mereka kembali dan menetap dikota Banto untuk mengurus perdagangan keluarga Lun. Dan setahun kemudian dari pasangan LunPing dan ShinYu lahirlah seorang anak perempuan yang mereka beri nama PingYu yang artinya seorang anak perempuan yang akan membawa kedamaian dan menyebarkan kebahagiaan dialam semesta, bisnis dagang keluarga Lun memiliki harapan yang cerah, karena barang-barang yang mereka kirimkan ke Benua Besar banyak diminati, sampai suatu ketika terjadi perselisihan antara pedagang besar dari benua besar dan keluarga Lun yang saat itu termasuk pedagang besar mendapat imbasnya, karena yang mengawali perselisihan ini adalah sebuah kelompok dagang besar yang memiliki kekuatan armada kapal laut yang besar dan didukung banyak ahli beladiri tingkat tinggi dari benua besar. Selama kurun waktu 4 tahun assosiasi pedagang ini berusaha untuk mengambil alih perdagangan yang dijalankan oleh keluarga Lun.
Saat itu PingYu atau YoLun baru berusia 4 tahun lebih dan ibunya ShinYu sedang mengandung adiknya yaitu LunGon atau siKuat Gon kemudian datanglah para pendekar dari assosiasi pedagang besar ini untuk memaksa keluarga Lun menyerahkan bisnisnya dan tunduk kepada assosiasi ini, organisasi ini terkenal dibenua besar dengan nama 'Assosiasi Matahari Merah' dan dilaut juga mereka sangat berkuasa dengan armada kapal laut yang besar serta ada selentingan para pedagang yang tidak mau tunduk kepada mereka akan dibajak ditengah laut saat membawa barang dagangan oleh kelompok bajak laut yang bernama 'Bajak Laut Matahari Merah'. Sebuah organisasi dagang yang terselubung karena segala usaha mereka diakhiri dengan kekerasan dan paksaan menggunakan kekuatan mereka yang besar dan tidak segan-segan membunuh.
"Orang-orang Assosiasi Matahari Merah yang membawa kami semua secara paksa dan membakar semua milik kami dikota Banto sampai menjadi debu...!", kata LunPing.
"Saat kejadian itu waktu tengah malam, kami sedang tertidur dan kami dibuat tak sadarkan diri dengan cara dibius oleh mereka... Dan dalam perjalanan kami hanya mendengar seluruh kediaman keluarga telah dibakar habis menjadi debu...!", kata LunPing.
"Ketika mendekati Kota Lamur hari masih gelap kelompok Assosiasi yang membawa kami dicegat oleh sekelompok pemburu... saat itulah kami dan beberapa orang melarikan diri masuk kehutan dan bersembunyi selama 5 hari...!", kata LunPing melanjutkan.
"Saat itulah ibumu sakit padahal sedang mengandung adikmu kurang lebih 7 bulan... ditambah dengan kesedihannya kehilangan putri kecilnya yaitu kamu nak...? namamu PingYu... dan itu nama panggilan kesayangan kami kepadamu dan nama lengkapmu adalah Lun Pingyu... dan ditengah hutan ibumu melahirkan adikmu LunGon, dan tidak bisa bertahan dia hanya bisa menggendong bayi LunGon selama 10 menit kemudian meninggal...!", kata sang ayah dengan sendu sambil menitikkan airmata mengingat kejadian 15 tahun yang lalu.
__ADS_1
YoLang dan LunGon yang mendengar kisah dari ayahnya sempat juga emosi namun perasaan sedih dan terharu lebih menguasai mereka sehingga mereka berduapun ikut menitikan airmata. Dan disisi lain YoLun atau PingYu tak berhenti menangis dan hampir pingsan mendengar kisah dari ayahnya dan sangat berduka kehilangan sang ibu yang diharapkannya masih hidup.