
Mendekati kota Polak YoLang menarik semua anggota keluarganya serta 2 buah gerbong kereta kuda dari dalam dunia jiwa, kemudian menggunakan kereta kuda tersebut memasuki gerbang kota yang dijaga oleh beberapa penjaga kota.
"Berhenti... berikan identitas kalian...", cegat penjaga gerbang kota. Surapong yang memimpin rombongan digerbong kereta depan mengeluarkan token keluarganya untuk diperiksa.
"Hmm... keluarga Pong... kalian dari mana...? dan mau kemana...?", tanya sang penjaga.
"Kami dari kota Klentang daratan tengah tuan... kami melewati kota ini untuk menuju kota Arung...", jawab Surapong.
"Ohhh... pelintas dari daratan tengah... 5 koin emas biaya masuk setiap gerbong kereta... sudah termasuk biaya menginap selama 1 hari...", kata penjaga tersebut.
Setelah membayar biaya masuk mereka memasuki kota dan melihat keadaan kota yang ramai seperti kota Klentang tempat mereka berasal, kemudian mencari penginapan untuk mereka beristirahat dan sementara itu YoLang telah membagi kelompok kepada anggota keluarganya untuk menyebar mencari infomasi tentang keadaan kota dan daratan selatan serta keberadaan keluarga Lun. Kelompok YoLang terdiri dari YoLun, Mayang dan YoLang sendiri, kelompok kedua adalah PiYo, MaiLang dan LoryMei dan terakhir kelompok Surapong, LinMei dan Maya yang mencari informasi direstoran tempat mereka menginap karena penginapan yang mereka tempati memiliki restorannya sendiri. Kemudian PiYo dan kelompoknya mengunjungi beberapa toko yang terlihat ramai pengunjungnya untuk berbelanja sekalian mencari informasi, ditempat lain YoLang dan kedua pendampingnya mendatangi pasar yang terdapat banyak penduduk berlalu-lalang.
"Kak... dibagian dalam pasar sepertinya ada beberapa orang yang bukan penduduk kota ini... cara mereka berbicara seperti orang asing...", kata Mayang yang sedang mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk mengamati situasi dipasar itu.
"Iya... mereka adalah para pedagang dari daerah lain... ayo kita liat apa yang mereka perdagangkan...", ajak YoLang.
Ketiganya kemudian mendatangi sekelompok orang yang terlihat sedang tawar-menawar tumpukan gulungan kain bebagai macam corak dan jenis, dan ada juga yang menawarkan perabotan rumah tangga dari bahan batu giok dan batu alam lainnya. YoLun dan Mayang yang tertarik dengan beberapa jenis kain ikut menawar juga...
"Paman... kalau kain yang ini berapa harganya...?", tanya YoLun.
"Ahh...nona muda... itu kain satin terbaik yang kami miliki... Itu datangnya dari benua besar... dan harganya 100 koin emas untuk setiap gulungannya... tidak kurang...!", jawab sang pedagang.
"Kakak Lun... kita beli kain-kain itu buat persiapan nanti kalau acara pernikahan... hehehe...", kata siceloteh Mayang.
"Iya... untukmu juga adik Mayang...!", jawab YoLun sambil menggoda Mayang.
YoLang hanya diam pura-pura tidak mendengar percakapan kedua pendampingnya, tapi sambil mengedarkan kesadarannya untuk memeriksa orang-orang disekitarnya dan mendapatkan ada beberapa sosok yang mengeluarkan aura kebencian terhadap para pedagang kain tersebut. YoLang tidak memperdulikan hal tersebut karena situasi seperti itu sudah biasa terjadi antar sesama pedagang, setelah membeli beberapa gulungan kain dengan berbeda warna mereka bertiga berjalan kembali menelusuri kedalam pasar. 2 jam mereka menyusuri hampir keseluruh bagian kota yang ramai dan tidak ada informasi berharga yang didapatkan, kemudian mereka kembali kepenginapan dimana Surapong dan kelompoknya menunggu direstoran. Rombongan YoLang sejumlah 9 orang telah berkumpul disebuah meja besar sambil menikmati hidangan yang mereka pesan dan saling membicarakan informasi yang mereka dapatkan...
"Bagaimana kakek... informasi apa yang kakek dapatkan selama menunggu direstoran ini...?", tanya YoLang.
"Kakek hanya mendengar pembicaraan 3 orang... yang sepertinya dari kantor walikota... mereka membicarakan adanya surat dari pihak Kerajaan Mola...seperti akan ada penggantian tuan Walikota kota Polak ini karena tuan Walikota saat ini sudah dianggap tidak setia lagi kepada Kerajaan Mola...!", kata Surapong.
"Hmmm... mungkin ada hubungannya dengan cerita pemilik toko senjata yang kami datangi tadi...! pemilik toko mengatakan bahwa semua senjata yang dijualnya telah dibeli oleh pejabat walikota saat ini... yang informasinya senjata-senjata tersebut untuk para penjaga kota...!", sambung PiYo.
"Iya... 3 orang tadi juga mengatakan akan ada perekrutan penjaga kota yang baru sebagai tambahan kekuatan...!", kata Surapong.
"Hmmm... ada sesuatu yang terjadi dikota ini... tapi ini masalah pemerintahan... kita tidak usah ikut campur...!", kata PiYo.
Ditengah perbincangan mereka terdengar suara gaduh dari arah jalan utama dan terlihat sepasukan penjaga kota berhenti dekat keramaian penduduk...
Creenngg... Creenngg...
"Perhatian-perhatian...! kepada semua warga kota Polak dengarkan pengumuman dari tuan Walikota...! akan diadakan penerimaan pasukan penjaga kota... dan kepada semua pemuda kota dan siapa saja yang berminat agar segera mendaftarkan diri...! pendaftaran tidak dipunggut biaya dan jika diterima menjadi penjaga kota akan mendapatkan gaji...!", kata seseorang membacakan pengumuman dari sang walikota.
Creenngg... Creenngg...
Dari dalam restoran YoLang dan anggota keluarganya mendengar pengumuman tersebut kemudian melihat reaksi para penduduk yang terlihat sangat antusias dengan adanya pendaftaran pasukan penjaga kota tersebut. Hari semakin sore dan semakin banyak orang datang untuk makan direstoran tempat YoLang dan keluarganya berada, kesempatan ini digunakan oleh YoLang dan ayahnya PiYo untuk mencari informasi yang lebih banyak tentang apa yang terjadi diKota Polak ini.
"Aku sudah tua... tapi tetap akan mendaftarkan diri untuk menjadi pasukan kota...!", kata seorang pengunjung yang duduk bersama 2 orang temannya.
"Tentu... kami juga... kita sudah hidup aman dan nyaman selama ini... sudah saatnya kita membantu tuan walikota menjaga keamanan kota kita...!", kata yang lain.
"Iya... saya mendengar dari saudara saya yang bekerja dikantor tuan Walikota...bahwa kota kita ditekan oleh pihak Kerajaan dengan menambah setoran pajak... dan mewajibkan mengirim sebagian hasil buruan setiap bulannya kepada Kerajaan... ini sudah keterlaluan dan pemerasan buat kita...!", kata seseorang yang lain.
__ADS_1
"Sementara itu pihak Kerajaan tidak pernah memberikan bantuan disaat kita mengalami kesulitan...!", kata seorang pengunjung.
YoLang dan PiYo mendengar percakapan para pengunjung restoran menjadi mengerti akan persoalan yang dihadapi oleh penduduk kota Polak, sang Walikota tidak mau membebani penduduknya dengan menaikkan pajak tapi lebih memilih untuk membangkang perintah dari Kerajaan yang sesuka hati menekan pemerintahan dibawahnya yang sekaligus akan menyusahkan para penduduknya. YoLang mulai merenung memikirkan tindakan para petinggi Kerajaan yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat kesulitan penduduknya, apakah kalau sudah menjadi seorang pemimpin apalagi sebagai seorang penguasa Kerajaan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya?. YoLang bercermin kepada tindakan sang Penguasa yaitu Kaisar Dewa bersama kelompok Dewa Penguasa bawahannya yang rela menunggu kelahiran Sang Terpilih sampai 1 juta tahun lamanya, sungguh sebuah perbandingan yang mencerminkan sebuah Keikhlasan para Dewa dan sifat Ketamakan manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Hal-hal kecil seperti itulah yang sering melahirkan sosok-sosok manusia yang akan membinasakan peradaban suatu kehidupan, mulai dari terjadinya konflik kecil sampai perang besar.
"Hmmm... hukum keseimbangan adakalanya kejam... tapi kalau sudah melibatkan banyak kehidupan...? ahhh... harus ada yang mencegahnya...!", kata YoLang dalam hati.
Rombongan keluarga YoLang melewati malam dengan menginap dipenginapan Kota Polak, dalam sebuah kamar terlihat YoLang, YoLun dan Mayang sedang melakukan meditasi, demikian juga yang terlihat dikamar Maya yang sedang ditemani oleh LoryMei juga melakukan hal yang sama, sedangkan Surapong dan LinMei sudah terlelap dalam mimpinya hal ini juga terjadi dikamarnya PiYo dan MaiLang. Malam semakin larut tapi samar-samar YoLang melihat ada pergerakan sekelompok orang yang datang dari kejauhan menuju Kota Polak, mereka bergerak seperti pencuri dan dari tubuh mereka mengeluarkan aura membunuh yang pekat. Dalam pikiran YoLang bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah sering melakukan pembunuhan karena aura hitam yang mereka keluarkan sudah sangat pekat...
"Suamiku... apa kau merasakan pergerakan aura hitam diluar kota...?", tanya YoLun tiba-tiba dalam kesenyapan meditasi mereka.
"Kakak... ada bandit yang berniat jahat kepada penduduk kota...!", tambah Mayang.
"Kalian berdua lanjutkan saja meditasinya... biar aku yang melihat kesana...!", jawab YoLang kemudian menghilang...
Whhuuuzzz...
"Kakak Lun... ayo kita ikut menghajar bandit-bandit itu...!", ajak Mayang.
"Adik May... kita jangan mencampuri... biarkan suami kita yang mengurusnya...!", kata YoLun kepada Mayang.
"Kak... lumayan buat latihan bertarung yang sesungguhnya... hehehe...", kata Mayang.
"Adik... ingat pesan para Dewa Guru...! untuk tidak menunjukkan kekuatan kita secara sembarangan...! apalagi digunakan untuk menghajar orang...?", kata YoLun menjelaskan.
"Ehh... kak... yang mau kita hajar kan orang jahat...! pasti Dewa Guru setuju kalau aku membuat para penjahat itu babak belur... hehehe...!", kata Mayang masih ngotot.
"Sudah... lanjutkan meditasi kita... sambil menunggu suami kita kembali...!", kata YoLun kepada Mayang kemudian melanjutkan meditasi mereka.
"Kalian berhati-hati jangan sampai terlihat oleh penjaga gerbang kota... yang lain siapkan tali... kita panjat tembok sebelah timur untuk masuk kedalam kota...!", kata seorang bandit yang merupakan pemimpin kelompok itu.
"Baik kakak pertama... aku dan 2 orang akan menyiapkan talinya...", kata seorang bandit kepada pemimpinnya.
"Adik ketiga dan keempat segera buat kekacauan didalam... bakar rumah penduduk dan ambil harta mereka... yang melawan penggal saja...!", kata sang pemimpin dengan ganasnya.
YoLang yang mendengar rencana para bandit-bandit itu segera bertindak dengan kemampuan teknik tingkat Ilahinya dia berkata pelan...
"Cahaya Meraih Bintang"
Whuuussss...
Sembilan orang bandit terangkat keatas udara seperti tersedot oleh sebuah kekuatan yang besar kemudian...
"Hembusan Kapas Surgawi"
Whuuunnngggg...
Masih dalam keadaan terkejut dan bingung kesembilan bandit tersebut merasakan sebuah kekuatan yang mendorong mereka kemudian melesat terlempar kearah pintu gerbang kota dimana terdapat para prajurit kota yang sedang berjaga...
Bhuk... bhuk... bhuk... bhuk...
Aduuhh... Uuhhh...
__ADS_1
Suara tubuh berjatuhan keatas tanah terdengar susul-menyusul...
"Heiii... siapa disana...? diam ditempat... jangan bergerak...! kalian telah terkepung...", teriakan para penjaga yang sedang siaga melihat sosok-sosok bertopeng yang tergeletak tumpang tindih diatas tanah.
"Cepat tangkap dan ikat mereka... mereka adalah bandit-bandit Topeng Hitam...!", kata pemimpin penjaga gerbang kota.
"Ampun tuan...!", kata para bandit setelah mereka tertangkap.
Sementara itu ditempat lain YoLang sedang berhadapan dengan pemimpin bandit Topeng Hitam yang belum mengetahui sembilan anak buahnya telah tertangkap dan terikat oleh para penjaga gerbang kota...
"Siapa kalian... kenapa membuat kekacauan dikota ini...!", tanya YoLang.
"Hei... anak muda... jangan kau campuri urusan kami... aku adalah pemimpin Topeng Hitam... kalau kau masih sayang nyawamu...? pergilah dari sini...!", kata sosok pemimpin bandit Topeng Hitam.
"Maaf paman... saya tidak bisa membiarkan kejahatan terjadi didepan mata saya...! lebih baik paman sadar dan menyerahkan diri...! semua anak buah paman sudah tertangkap oleh prajurit kota... dan sebentar lagi mereka akan kesini untuk menangkap paman...",
"Bocah brengsek... tidak sayang nyawa...? terimalah pelajaran dariku...!", kata pemimpin bandit itu yang marah mendengar anak buahnya telah tertangkap kemudian menyerang YoLang...
Whuuttt... whuuttt...
Hiiaattt...
Whuuttt... Whuuttt...
Whuuzz... Whuuzz...
Semua serangannya mengenai tempat kosong karena YoLang dengan cepat menghindar sambil memeriksa pikiran dan ingatan sang pemimpin bandit Topeng Hitam tersebut.
Sriiiing...
Swiing... Swiing...
Pemimpin bandit mulai gusar menghadapi YoLang kemudian mengeluarkan pedangnya dan menyerang kembali dengan tebasan-tebasan pedangnya kearah YoLang.
Swiing... Swiing...
Whuuzz.. Whuuzz...
"Jari Dewa"
Zzheeebbb...
"Ahhh... bajingan kau... lepaskan aku...", teriak sang pemimpin Topeng Hitam yang telah dilumpuhkan YoLang dengan tekniknya kemudian mengangkat tubuh orang itu keudara dan melemparnya kearah gerbang kota.
"Cahaya Meraih Bintang"
Whuuusss...
"Hembusan Kapas Surgawi"
Whuuunnggg...
Bhuuukkk... Aduuh...
__ADS_1
"Hei... Itu masih ada satu lagi... cepat tangkaapp...!", teriak para penjaga kota.
Setelah melumpuhkan dan menyerahkan kesepuluh bandit Topeng Hitam itu, YoLang kembali kekamar dipenginapan menemui kedua pendampingnya yang sedang fokus bermeditasi.