
Saat tengah hari YoLang mendapat kabar bahwa kedua buyutnya telah menemukan tempat tinggal keluarga Mei, yang tempatnya berada didekat pasar besar kota Wui.
"Kakak... kita disuruh nenek buyut untuk menyusul kekediaman keluarga Mei...", kata LoryMei yang datang membawa berita.
"Baiklah... istriku ayo bersiap kita kesana sekarang... Lory kamu beritahu ibu Maya untuk bersiap...", kata YoLang kepada sang istri YoLun dan kepada adiknya LoryMei.
Kemudian mereka berempat keluar dari penginapan dan berjalan menyusuri jalan utama kota Wui menuju bagian barat kota dimana terdapat sebuah pasar besar, mereka memasuki jalan-jalan kecil untuk mencapai kediaman keluarga nenek buyutnya. Penghuni disekitar pasar besar itu kebanyakan adalah keluarga para pedagang yang kesehariannya berdagang didalam pasar dan mendirikan toko-toko kecil yang berderet disekitar pasar, tempat mereka menawarkan barang dagangan sekaligus menjadi tempat tinggal mereka. Menempati rumah sederhana dengan 2 buah kamar tidur dan sebuah ruangan makan sekaligus menjadi ruangan keluarga, untuk masuk kedalam rumah mereka harus melewati sebuah lorong kecil karena didepan rumah telah dijadikan toko kecil yang menjual aneka barang kelontong.
YoLang dan YoLun masuk kedalam rumah tersebut diikuti ibu Maya dan adiknya LoryMei dari belakang dan melihat kakek dan nenek buyutnya sedang berbincang-bincang dengan sosok lansia yang seumuran dengan mereka,...
"Nah... ini mereka datang... cucuku kesini nak... kenalkan ini kakakku satu-satunya... buyutmu juga... SanMei...! kakak ipar sudah tidak ada... dan mereka putra dan putri kakak SanMei serta anak-anak mereka...!", jelas LinMei dengan singkat.
"Salam nenek buyut... kakek dan nenek... paman dan bibi sekalian... kenalkan saya YoLang cucu buyut nenek LinMei dan kakek Surapong dan ini istri saya 'YoLun'... datang memberi hormat...!", sapa YoLang sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala dan kedua tangan saling menyilang didepan dada dan diikuti oleh YoLun yang juga ikut dikenalkan oleh YoLang.
"Neneeekk... kenalkan aku juga calon istri kakak YoLang... 'Mayang'...", tambah Mayang yang tidak mau kalah.
"Aku juga nenek buyut... 'LoryMei'... putri satu-satunya PiYo dan MaiLang... berasal dari kota Klentang daratan tengah benua Pulau Hijau...!", kata siCerewet memperlihatkan aksinya.
"Ahhh... anak-anak baik... sangat berbudi... mendekatlah cucu-cucu buyutku...! terimalah berkah dari keluarga buyutmu ini...!", kata SanMei kemudian menyentuh kepala YoLang, YoLun, Mayang dan LoryMei untuk memberikan Berkah Keluarga kepada para penerus keturunan keluarga Mei.
"Terimakasih nenek buyut...! semoga nenek buyut panjang umur dan berlimpah berkah...!", jawab keempat cucu buyut serempak.
Pertemuan keluarga Mei berlangsung meriah terlebih kedua kakak beradik SanMei dan LinMei yang saling melepas rindu, dan menceritakan pengalaman mereka yang selama puluhan tahun tidak bertemu, kemudian sang kakak SanMei menceritakan bagaimana kehidupan keluarga Mei mereka setelah ditinggal LinMei yang mengikuti suaminya sang 'Pendekar Belati Emas' Surapong kedaratan tengah. Dimulai ketika 5 tahun setelah LinMei meninggalkan keluarga besar Mei, ayah mereka meninggal karena menderita sakit kemudian disusul oleh ibu mereka 2 tahun kemudian. SanMei yang sudah menikah dengan seorang pedagang keturunan yang juga leluhurnya berasal dari benua besar, melanjutkan usaha keluarga mereka sebagai pedagang dan menetap dikota Wui tapi beberapa tahun kemudian sang suami mengalami kecelakaan dan tewas dalam perjalanan dagangnya.
SanMei mempunya 2 orang anak, yang tertua seorang putra telah menikah dengan penduduk lokal dan belum mempunyai keturunan kemudian seorang putri yang juga sudah menikah dengan keturunan pemburu wilayah timur daratan selatan ini dan mempunyai seorang anak laki-laki. Putrinya sering tinggal bersama SanMei karena sang suami yang adalah seorang pemburu jarang berada dirumah. LinMei yang melihat keadaan kakak perempuannya sangat prihatin dengan kondisi rumah tinggal mereka dan usaha dagang yang terlihat kurang beruntung.
"Kakak San... bagaimana kalau kau ikut kami kedaratan tengah... peruntungan didaratan tengah sangat terbuka lebar kak... aku dan suamiku akan menjamin kehidupan kakak dan anak-anak kakak kalau mereka mau ikut kedaratan tengah...!", kata LinMei membujuk sang adik.
"Betul kakak ipar... anak kami juga adalah seorang pemimpin kota... sekarang dia yang menjabat sebagai Walikota di kota Klentang didaratan tengah...!", kata Surapong menambahkan.
__ADS_1
"Adik Lin... kalau aku sendiri setuju saja usulan kalian berdua... tapi untuk anak-anak dan cucu saya...? aku harus menanyakan kesediaan mereka dulu...!", jawab SanMei.
"Ya...baiklah aku dan suamiku akan menunggu kepastian darimu kakak San...! kami juga masih akan keKota Arung... cucu buyutku ada keperluan disana mencari keluarga istrinya...!", kata LinMei.
"Ohh iya kakak ipar... apakah kakak pernah mendengar tentang keberadaan keluarga Lun atau Klan Lun...?", tanya Surapong.
"Hmmm... Klan Lun dulunya sama seperti kita... datang dari benua besar dan berdagang diBenua Pulau Hijau ini... tapi sudah lama aku tidak pernah mendengar tentang keberadaan keluarga itu...", jawab SanMei.
"Emmm... baiklah kakak... kami pamit dulu... kami semua menginap di penginapan 'Sejahtera' yang berada dipusat kota... dan ini... ada sedikit rejeki untuk kakak dan keluarga... terimalah jangan sungkan...!", kata Surapong kemudian memberikan beberapa ratus ribu koin emas kepada SanMei kakak iparnya.
YoLang bersama YoLun tidak ikut kembali kepenginapan seperti dengan yang lain, tapi mereka berdua berencana mencari tempat-tempat keramaian dimana mereka bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan keluarga Lun atau informasi tentang kota dan daratan selatan lainnya. Tempat yang mereka tuju adalah sebuah restoran mewah yang tepat berada didepan Istana Kerajaan Mola, karena mereka merasa akan ada banyak anggota atau pegawai/pelayan istana kerajaan yang akan datang mengunjungi restoran tersebut...
"Selamat datang direstoran kami tuan muda dan nona... silahkan masuk...! apakah tuan muda dan nona akan makan diruangan VIP atau tempat biasa...?", tanya sang pelayan.
"Hmmm... kami ditempat biasa saja... dan kalau bisa meja kami yang menghadap kearah jalan...", kata YoLang.
"Mari tuan muda dan nona silahkan ikuti saya...", ajak sang pelayan membawa YoLang dan YoLun kesebuah meja dekat jendela restoran yang menghadap kejalan utama kota Wui sehingga terlihat dengan jelas halaman depan Istana Kerajaan Mola.
"Tolong sajikan makanan terbaik dari restoran ini... untuk kami dan minumnya teh hijau hangat...", kata YoLang.
"Baik tuan muda dan nona... silahkan ditunggu... kami agar segera menyiapkan pesanannya", jawab sang pelayan kemudian berlalu.
"Istriku... apakah kamu ada rencana lain...?", tanya YoLang kepada sang istri.
"Tidak ada sayang... aku hanya menemanimu saja... sambil melihat-lihat kota besar ini...", jawab sang istri.
"Ya... baiklah... nanti kita akan melihat beberapa toko herbal dan obat... juga toko senjata... sekalian mencari informasi",
"Baiklah... terserah kamu saja... aku akan mengikutimu...!", kata YoLun.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat terlihat pesanan mereka datang yang dibawa oleh 4 orang pelayan dan segera meja makan dipenuhi oleh bermacam-macam menu makanan ditambah sepoci teh hijau yang masih mengepulkan asap putih, YoLang dan YoLun mulai menikmati makanan mereka, sambil memperhatikan beberapa pengunjung yang baru masuk kedalam restoran tersebut dan memperhatikan perbincangan mereka. Sampai selesai makan mereka berdua tidak mendapatkan informasi yang berarti, kemudian memutuskan untuk kembali kepenginapan setelah membayar biaya kepada pelayan restoran.
Selama 2 hari dikota Wui YoLang belum mendapatkan kabar tentang keluarga sang istri yaitu keluarga Lun, akhirnya dia meminta pendapat dari sang istri..
"Istriku... bagaimana kalau kita mencarinya dikota Arung sesuai informasi sebelumnya dari keluarga Anbin...?", tanya YoLang.
"Suamiku... terimakasih sudah memperhatikan keluargaku... aku senang mendengarnya... tapi bagaimana dengan kedua buyut dan kedua orangtuamu...? mereka masih butuh waktu untuk bersama dengan keluarga nenek buyut yang baru bertemu setelah terpisah puluhan tahun lamanya...!", kata YoLun memberi pertimbangan.
"Enmm... kita pergi bersama Mayang dan Ibu Maya... biar yang lain tetap disini... bagaimana...?", kata YoLang.
"Baiklah... tetapi beritahu yang lain... agar supaya mereka mengerti...!", kata YoLun.
"Siap tuan putri... hamba akan melaksanakan perintah... enmmm...?", kata YoLang sambil bercanda.
Kemudian YoLang menemui seluruh anggota keluarganya tentang rencananya menuju kota Arung untuk mencari keluarga sang istri dan atas usul kedua buyutnya, agar YoLang bertanya kepada buyutnya SanMei tentang situasi dan keadaan jalan menuju kota Arung. YoLang yang menyetujui usul kedua buyutnya segera pergi kekediaman buyutnya SanMei untuk menanyakan beberapa hal...
"Salam nenek...", sapa YoLang ketika sampai dirumah buyutnya itu.
"Ehhh... cucuku... mari nak... duduk dekat buyutmu... ada apa...? terlihat kamu tergesa-gesa seperti ada yang penting...?", tanya sang buyut.
"Betul nek... aku dan istriku berencana ke kota Arung untuk mencari mertuaku dan anggota keluarganya yang sudah lama terpisah dengan istriku... dan informasinya keluarga mereka berasal dari kota Arung...! Apa nenek mengetahui tentang seluk beluk kota Arung itu...?", tanya YoLang.
"Nak... keluarga kita adalah pedagang dan semua barang dagangan kita asalnya dari kota Arung... karena disana adalah kota pelabuhan dan semua barang-barang yang didatangkan dari luar benua masuknya dikota Arung ini...!", kata sang buyut kemudian menjelaskan dengan rinci tentang keadaan kota Arung sebagai kota pelabuhan, dengan banyaknya orang asing yang memiliki berbagai macam karakter, juga adanya tindakan kejahatan jika terlihat orang baru karena dikota Arung terkenal dengan kelompok-kelompok bandit didalam kotanya.
"Berapa lama sampai kesana nek... kalau aku naik kereta gerbong...?", tanya YoLang.
"Hmmm... kalau berangkatnya pagi dan tidak berhenti... sorenya kamu sudah sampai... karena jalan lintas menuju kota arung akan melewati 3 desa... hanya saja jarak antar desa agak jauh butuh 2 sampai 3 jam... dan ada beberapa bandit yang suka mengganggu jika melihat orang baru yang melintas... cukup kau kasih upeti saja kalau dicegat oleh mereka...", jelas SanMei sang buyut.
"Mmm... begitu ya... baiklah nek... nanti selama aku dan istriku kekota Arung... nenek bisa tinggal bersama kedua buyutku dipenginapan... gunakan saja kamar kami... dari pada tidak ditempati... karena aku sudah membayar biayanya selama 1 minggu...!", kata YoLang.
__ADS_1
"Ohhh... baiklah nenek akan kesana...", kata sang buyut.
YoLang kembali kepenginapan untuk memberitahu sang istri dan calon istrinya Mayang serta ibu Maya yang akan dia ajak menuju kota Arung, dan rencananya mereka akan menunggangi JuLa dan JuLi agar lebih cepat tiba di kota Arung dan juga untuk menghindari kelompok bandit yang akan mencegat mereka yang jelas adalah orang baru didaerah itu. Hal ini sudah dipikirkan YoLang untuk sedikit mungkin menimbulkan konflik dalam petualangannya karena misi yang diembannya adalah untuk menempa dirinya dan para pendampingnya agar dapat menahan emosi dan lebih menguatkan ketahanan jiwa mereka.