Titisan Dewa

Titisan Dewa
Bertemu Titisan Lain


__ADS_3

Pembangunan desa YaoYo sudah berlangsung selama 1 bulan, terlihat 10 buah rumah sudah berdiri dan berjejer dikedua sisi jalan kawasan Danau Es yang sebelumnya dikenal dengan Kawasan Misterius tapi sekarang mulai dikenal dengan 'Kawasan Desa Pelindung' karena sudah sebulan desa itu selalu melindungi para pelintas yang melewati kawasan itu. Terlihat hampir semua penduduk desa YaoYo sedang bekerja menambah beberapa bangunan lainnya, kereta barang dari arah kota hilir mudik membawa barang pesanan demikian juga dari arah hutan berdatangan kereta pengangkut kayu untuk bahan bangunan.


"Bagaimana paman MuDhong...? apalagi kira-kira yang kurang...?", tanya YoLang.


"Saya kira jumlah material masih cukup tuan muda... itu semua untuk pembangunan desa sampai 2 bulan kedepan... mungkin setelah itu kami akan melakukan evaluasi dan melihat apalagi yang perlu dibangun...!", kata MuDhong.


"Tugas paman selanjutnya adalah kekota Lamur... bertemu dengan pimpinan kota untuk masalah pembebasan pimpinan Klan Mu yang ditahan dan usahakan tanpa kekerasan...!", kata YoLang.


"Kemudian terus memotivasi anggota keluarga agar jangan berputus asa... dan mengambil jalan pintas yang akan merugikan orang lain dan diri sendiri serta keluarga... saya melihat potensi mereka sangat baik demikian juga sumber daya yang ada dikawasan ini sangat besar...", kata YoLang menjelaskan.


Perbincangan mereka semakin mendalam apalagi sang guru Dewa Obat beberapa kali menambahkan atau menyambung perkataan YoLang, berbagai rencana kedepan sudah dibicarakan dan akan segera dimulai ketika kehidupan desa sudah berjalan normal.


"Jadi begitu paman... saya dan kakek akan melanjutkan perjalanan kekota Banto... kemudian ke'Gunung Biru'...!", kata YoLang.


"Baik... saya akan melaksanakan semua yang tuan muda sampaikan dan mudah-mudahan cepat terlaksana...!", kata MuDhong.


"Oh iya paman... jangan lupa pesan saya tadi untuk menugaskan 1 kelompok khusus untuk mencari tanaman herbal... agar saat kami kembali sudah tersedia...", kata YoLang melanjutkan.


Di pagi yang cerah terlihat 2 bayangan sedang melesat dengan cepat menuju Kota Banto, tidak ada yang menghalangi perjalanan mereka hingga sebelum malam menjelang 2 sosok tersebut mulai berjalan memasuki gerbang kota.


"Berhenti...! tuan-tuan mau kemana...?", kata penjaga gerbang.


"Salam paman... kami pengelana dari daratan tengah datang mengunjungi keluarga kami dikota ini...!", kata YoLang.


"Ohh... pendatang...? maaf...! bukan penduduk tuan-tuan diharuskan membayar biaya masuk kota sebesar 500 perak perorang...!", kata penjaga itu sopan.


"Terimalah ini paman... dan terimakasih...", kata YoLang sambil memberikan 2 koin emas.


Memasuki kota sosok guru dan murid itu mulai melihat-lihat keadaan kehidupan penduduk kota, terlihat nyaman dan aman tidak ada pengemis dan suasana kota ramai serta tertata rapi walau tidak terlalu mewah tapi gedung-gedung terawat dengan baik.


"Guru aku mau mencari pasar... persediaan bumbu masak sudah habis...", kata YoLang.


"Baik... nanti kita ketemu di restoran itu...!", kata sang guru.


Berjalan menyusuri jalan utama YoLang mencari lokasi pasar berada, dan melihat ada banyak orang yang keluar masuk dari sebuah lorong dan ternyata pasarnya berada didalam lorong tersebut. Memasuki kawasan pasar YoLang mulai mencari kios yang berjualan bumbu masak...


"Bibi... tolong bumbu masak yang lengkap... khusus untuk memanggang daging...!", kata YoLang.


"Ini nak... perbungkusnya 50 koin perak...", kata bibi penjual.


"Saya ambil semuanya bibi...!", kata YoLang.

__ADS_1


"Wah... mau ada pesta ya...! 1 koin emas dan 150 koin perak semuanya...", kata sang penjual.


"Baik... terimakasih bibi...", kata YoLang sambil memberikan 5 koin emas.


"Ahhh... terimakasih nak... kamu baik sekali...", kata bibi penjual dengan senang.


Selesai berbelanja YoLang kemudian bergegas keluar dari pasar menuju restoran tempat gurunya menunggu, perlahan dia berjalan meninggalkan pasar dan ketika sampai dipintu gerbang pasar dia melihat seorang ibu yang menjual beberapa ikat sayur dan terlihat mulai layu sambil menggendong seorang anak perempuan berumur 5 tahun.


"Maaf bibi... berapa harga sayurnya...?", tanya YoLang.


"Ehh... tuan muda... saya menjualnya murah saja... 10 perak seikat...", kata sang bibi penjual.


"Apa masih ada...? atau tersisa 5 ikat saja...?", tanya YoLang.


"Ahh... memang cuman itu yang bisa saya jual... dan sudah cukup untuk membeli makanan untuk anak saya ini...", kata sang bibi.


"Mmm... maaf bibi... suaminya kemana...?", tanya YoLang mulai menyelidik, dan dia melihat ada ketulusan dan kejujuran dipikiran bibi ini, dan juga dia melihat anak perempuannya yang dalam kondisi tidak baik karena ada organ dalam yaitu hatinya tidak berfungsi dengan baik walau diluarnya terlihat sehat.


"Ya itu... sudah tidak ada...!", kata bibi itu.


"Ahh... maafkan saya bibi... tinggalnya dimana bibi...?", tanya YoLang selanjutnya.


"Tidak jauh dari sini tuan muda... ada 300 meter kearah selatan...", kata sang bibi.


"Hmm... maaf tuan muda... rumah saya sudah tidak layak untuk dikunjungi...", kata bibi tersebut.


"Tidak masalah buat saya... ayo bibi...!", kata YoLang mengajak.


Sambil menenteng 5 ikat sayur YoLang berjalan mengikuti sang bibi menuju rumahnya, dan tak lupa dia membeli 2 bungkus makanan diwarung makan. Kemudian mereka berhenti didepan sebuah rumah kecil yang hanya ada 1 kamar tidur dan ruangan makan dengan perabotan sederhana...


"Inilah tempat tinggal kami berdua tuan muda...", kata sang bibi.


"Mmm... cukup baik... apa cuma bibi dan adik ini yang tinggal disini...? atau ada sanak keluarga lain...?", tanya YoLang.


"Sebenarnya semua keluarga suami saya ada di kota ini... hanya saja karena mereka tidak menyetujui pernikahan kami sebelumnya sehingga kami diusir dari keluarga... terlebih setelah suami saya meninggal karena kecelakaan waktu berburu diGunung Biru mereka tambah mengutuk saya...", kata bibi berkeluh kesah.


"Hmm... begitu... oh iya namaku YoLang saya dari daratan tengah singgah ke kota ini mau ke gunung biru... dan sebenarnya saya bersama kakek saya yang sedang menunggu direstoran... begini bibi... saya melihat putri bibi sedang tidak sehat... dan harus segera diobati... kebetulan saya pernah belajar pengobatan mungkin bisa membantu...", kata YoLang menjelaskan.


"Itu benar tuan muda... putri saya sudah ada penyakit bawaan sejak lahir... dan tidak ada tabib yang bisa menyembuhkannya... kata orang pintar umur putri saya hanya 10 tahun... hal ini juga menjadi kekecewaan keluarga suami saya... dan membuat mereka tambah membenci saya... eennmm... panggil saja Maya... itu namaku dan Mayang nama putriku ini...!", kata bibi Maya.


"Baiklah bibi Maya... saya akan mencoba mengobati adik Mayang... tapi sebelumnya maukah bibi dan adik Mayang ikut saya...? kita cari kakekku dulu...!", ajak YoLang.

__ADS_1


"Baik tuan muda... tapi apa tidak merepotkan tuan muda dan kakeknya...?", tanya bibi Maya.


"Ahh... tidak...! sekalian kita makan direstoran saja... makanan bungkus itu biar simpan saja dulu...", kata YoLang.


"Tunggu sebentar tuan muda... biar kami berganti pakaian yang pantas...", kata bibi Maya.


Setelah berganti pakaian bertiga mereka berjalan menuju restoran tempat sang guru menunggu, dalam perjalanan YoLang merencanakan sesuatu untuk kehidupan bibi Maya dan putrinya karena dia melihat ini adalah salah satu kewajibannya. Kemampuan dan Harta yang tak ternilai didalam cincin jiwanya adalah pemberian Dewa, sudah selayaknya dia gunakan untuk kebaikan apalagi kelangsungan hidup seseorang yang tidak mampu. Sesampainya direstoran dia melihat gurunya duduk seorang diri sambil minum teh hijau hangat,...


"Maaf kakek... aku agak lama... perkenalkan ini bibi Maya dan putrinya Mayang...!", kata YoLang sambil mengajak bibi dan putrinya duduk.


"Salam paman...!", kata bibi Maya.


"Ibu... itu kakek Dewa yang ada didalam mimpiku!... hihihi... kakek mana permennya... kata kakek waktu itu mau kasih permen...!", celoteh putri kecil itu.


"Huss... Mayang sama orangtua harus sopan...! heemm...?", kata ibunya sambil menatap tajam putrinya.


"Hahaha... panggil aku kakek Yao... nanti pulang kita mampir beli permen untukmu putri cantik...! hehehe...", kata sang Dewa.


"Hmm... benar... berarti pertemuan ini memang keinginan langit... dan sudah menjadi tugasku...!", bergumam YoLang dalam hati.


"Tepat cucuku...! hehehe... kamu tidak salah...!", kata gurunya melalui teknik pengiriman suara...


"Paman pelayan...!" kata YoLang.


"Iya tuan muda... ada yang bisa saya bantu...?", kata sang pelayan.


"Tolong sediakan makanan yang terbaik untuk kami...!", kata YoLang.


Sambil menunggu makanan datang YoLang kembali mendapat suara kiriman dari gurunya


"Kamu mampu menangani putri cantik itu... lihat tubuhnya spesial... itu juga termasuk berkah dari langit... hehehe... cocok...!", kata gurunya melalui pesan suara.


"๐Ÿคจ... maksud gu... kakek...?๐Ÿค”...", kata YoLang setengah berbisik tidak mengerti maksud gurunya.


Dimeja makan telah tersaji bermacam-macan makanan dan tanpa komando si putri cilik langsung mulai mengambil makanan, YoLang dan gurunya hanya tersenyum senang melihat wajah kegembiraan Mayang sementara ibunya memandang dengan perasaan malu.


"Ayo... Mayang cepat habiskan... setelah selesai makan kita beli permen...!" kata kakek Yao.


"Iya... kakak juga akan belikan baju baru untukmu...!", sambung YoLang.


"Waduh... kami sudah merepotkan paman dan tuan muda... maafkan kami...", kata bibi Maya.

__ADS_1


Suasana ceria dan gembira terlihat dimeja tempat mereka makan.


__ADS_2