Titisan Dewa

Titisan Dewa
Perjalanan keUtara


__ADS_3

Sudah 6 Bulan YoLang bersama gurunya sang Dewa Obat siBocah Jelek dan melakukan pelatihan dari semua pengetahuan yang diberikan oleh siDewa Obat, dan YoLang sudah menguasainya hampir sempurna, diusianya yang ke 8 tahun dia berencana untuk meluaskan pengalamannya untuk itu dia berpamitan dengan ayah dan ibunya serta adiknya LoryMei.


"Ayah... Ibu... adikku yang cantik... aku mau minta ijin... aku bersama guru akan ke Utara, menjelajah hutan disana sambil mencari tanaman herbal tingkat tinggi...", kata YoLang.


"Kakak... aku ikut ya?... aku juga perlu pengalaman sambil jalan jalan melihat pemandangan... disana katanya ada gunung putih... hewan hewannya juga serba putih...", kata sang adik dengan manja.


"Lory... itu karena disana daerahnya dingin sehingga disana dipenuhi oleh Salju... jadi yang putih itu karena gunungnya diselimuti oleh salju...", kata sang ayah kepada putri kecilnya yang berusia 2 tahun.


"Nak... kapan kalian berangkat...? biar ibu siapkan pakaian dingin untukmu dan gurumu pakai disana...", kata sang ibu yang mengkhawatirkan putranya.


"Dua hari dari sekarang Ibu... dan kau adikku nanti umurmu 5 tahun baru aku bisa mengajakmu itupun kalau ayah ibu mengijinkanmu...", kata YoLang sambil mencolek pipi adiknya.


"Baiklah... kalau begitu kami akan membelinya terlebih dahulu ditoko...", kata MaiLang.


Demikian interaksi keluarga itu di pagi hari dengan suasana gembira karena mereka jarang berkumpul lengkap setiap saat disebabkan sang putra sedang menjalani pelatihan bersama guru-gurunya. Keesokan harinya terlihat 2 sosok Guru dan Murid keluar dari Kota Klentang menuju Utara,


Daratan Utara tidak banyak berbeda dengan Daratan Tengah tempat keluarga YoLang tinggal hanya diutara terdapat musim dingin ditandai dengan turunnya salju walau disiang hari. Dengan keberadaan 2 Kota serta puluhan desa yang jaraknya saling berjauhan, Kota terbesar bernama Kota Lamur berada di tengah daratan dan Kota kecil bernama Kota Banto berada dipaling utara Daratan Utara.


"Guru... apakah guru sudah pernah keutara...?", kata sang murid.


"Belum... kenapa?... apa kamu takut kesasar?... hehehe... jangan khawatir... aku mengajakmu keutara karena ada bisikan dari langit...", kata sang guru.


"Ohh... maaf guru...! kalau begitu murid mengikuti kemanapun guru pergi...!", kata simurid.


"Ya... tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman kepadamu untuk berinteraksi dengan penduduk... dan selama dalam perjalanan kamu harus memanggilku kakek... biar tidak menimbulkan masalah juga segel kekuatanmu sampai tingkat Biru Akhir...", perintah sang guru.


"Baik kakek...!", kata YoLang kemudian mengatur tingkat kekuatannya sampai ditingkat Biru Akhir sesuai perintah sang guru.


Berjalanlah guru dan murid itu menuju daratan utara (tempat dimana kakek buyutnya Surapong pernah berguru), sengaja Dewa Obat mengajak berjalan saja tidak menunggang kuda karena mereka akan menyusuri hutan dan pegunungan untuk sekalian mencari tanaman herbal tingkat tinggi.


"Muridku... nanti setiap memasuki kawasan hutan, pegunungan dan danau coba kau edarkan energi spiritualmu untuk merasakan sesuatu yang aneh atau yang menarik perhatianmu...!", kata sang guru.


"Siap guru...!", lanjut sang murid.


Perjalanan untuk sampai ke Kota Lamur daratan utara membutuhkan waktu 7 hari dengan berkuda, melewati kawasan perbukitan dan 2 desa, sedangkan guru dan murid dengan mengandalkan kekuatan mereka berlari dan hanya terlihat dua sosok bayangan yang berpindah pindah. Setelah dua hari berjalan dan berlari sang guru berhenti,...

__ADS_1


"Coba kamu rasakan sesuatu disebelah barat sana...", kata siBocah Jelek.


"Itu cuman ayam hutan guru...", kata YoLang.


"Nah... itu...! sudah lama aku tidak makan ayam hutan... pergilah... tangkap buat makan malam kita...", kata sang guru sambil meneteskan air liurnya.


Secepat kilat YoLang menuju tempat ayam hutan berada, dan melihat sepasang ayam hutan sedang makan kemudian menangkap keduanya dan memasukkan kedalam cincin jiwanya.


"Sudah beres Guru... ayo kita lanjut...", kata sang murid.


"Ayo jalan... 1 jam lagi kita cari tempat istirahat yang bagus...", katasang guru sambil membayangkan lezatnya ayam panggang.


Hari mulai malam, dinginnya udara daratan utara terasa mulai menusuk daging.


"Guru ada gua disana...!", kata YoLang.


"Ayo kita kesana... cuaca mulai terasa dingin...", kata sang guru yang kelihatan mulai gemetar.


"Guru langsung kegua... murid cari kayu bakar dulu...", kata sang murid sambil pergi.


Hari keempat perjalanan menuju kota Lamur dibagian tengah daratan utara mereka melewati jalur lembah yang sisi kirinya tebing dari gunung batu sedangkan sebelah kanan perbukitan dengan hamparan pohon pinus yang terlihat belum terjamah oleh manusia,


"Guru... aku kehutan pinus itu... siapa tau ada buah pinus yang jatuh ke tanah...!", kata YoLang.


"Pergilah... aku kesebelah sana..?", kata sang guru sambil menunjuk kearah depan.


Mereka berpisah arah, sang murid kekanan dan sang guru lanjut kearah depan, YoLang berkeliling hutan pinus itu dan menemukan banyak buah pinus sebagai bahan obat/pil demikian juga dengan gurunya, dari atas bukit hutan pinus itu YoLang melihat kearah barat dimana ada sebuah desa, bergegas dia mencari gurunya...


"Guru 5 kilometer sebelah barat ada desa bagaimana kalau kita kesana...? kata YoLang.


"Ohh... kebetulan hari sudah mulai sore... sebaiknya kita kesana sekalian cari penginapan...", kata sang guru.


Maka bergeraklah keduanya menuju desa yang dilihat YoLang, mendekati pintu gerbang desa mereka berjalan seperti biasa selayaknya penduduk. Kemudian memasuki desa tanpa adanya penjaga di gerbang desa yang menandakan desa tersebut aman-aman saja, keduanya berjalan menyusuri desa untuk mencari kedai makan atau penginapan tapi terlihat suasana desa yang sepi,...


"Salam paman... perkenalkan aku YoLang dan ini kakekku... adakah penginapan di desa ini...?", tanya YoLang kepada salah satu penduduk yang kebetulan berpapasan dengan mereka dijalan.

__ADS_1


"Ya... salam juga nak... berjalanlah lurus 200 meter didepan ada penginapan sekaligus rumah makan satu satunya didesa ini...", kata orang itu.


"Terimakasih paman... kami jalan dulu...", kata YoLang dengan hormat.


Menuju penginapan mereka memperhatikan suasana desa tersebut sepi tidak banyak penduduknya, sesampainya dipenginapan hanya seorang penjaga dan kondisi bangunan yang mulai tidak terawat.


"Salam paman... kami membutuhkan 2 kamar untuk 1 malam... apa masih ada kamar yang kosong...?", tanya YoLang kepada penjaga penginapan tersebut.


"Ada... 400 koin perak untuk 1 kamarnya sudah dengan makan malam dirumah makan...", kata penjaga itu.


"Baik paman tolong berikan 2 kamar terbaik untukku dan kakekku...!", kata YoLang sambil menyerahkan 2 koin emas.


"Nak.. ini sudah lebih... biayanya 800 koin perak saja...", kata penjaga itu sambil mengembalikan 1 koin emas kepada YoLang.


"Selebihnya untuk paman saja...", kata YoLang.


"Ahh... kamu baik sekali nak... terimakasih... mari paman antar kekamar...", katanya kemudian mengambil 2 buah kunci kamar.


"Makannya diantar kekamar atau mau makan dirumah makan nak...?", kata petugas itu lagi.


"Kami akan kerumah makan paman...!", kata YoLang.


"Baiklah ini kunci kamarnya dan kalau ada perlu bisa memanggil paman nanti...", kata penjaga penginapan itu sambil berlalu.


Kondisi kamar penginapan cukup bersih walau terlihat tidak terawat dengan baik, segera YoLang membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan yang baru dari cincin jiwanya. Hari mulai gelap dan malampun tiba lampu penerangan mulai terlihat disetiap sudut desa terlebih dipenginapan dan rumah makan yang menjadi satu, tempat YoLang dan gurunya menginap.


Dirumah makan, sambil menunggu makanan datang, kembali mereka melihat penjaga penginapan yang menyambut mereka sebelumnya, dia berjalan mendekati kearah YoLang dan gurunya duduk.


"Ahh... kebetulan paman kesini... mari duduk paman...!", kata YoLang.


"Kenalkan paman... namaku YoLang dan ini kakekku Yao... kami dari daratan tengah menuju Kota Banto untuk menemui kerabat disana...", kata YoLang.


"Ohh... saya Ekes... pemilik penginapan dan rumah makan ini...", katanya paman Ekes.


"Paman Ekes... keadaan desa ini memang sepi begini...? kemana penduduk yang lain...?", tanya YoLang penuh selidik.

__ADS_1


"Begini nak YoLang dan saudara Yao... sebelumnya ada 80 keluarga lebih dan sekitar 200 orang penduduk tinggal didesa Watu ini... kemudian hampir setengahnya pindah kedaratan tengah karena kesulitan hidup disini.


__ADS_2