
Setelah semalam menginap di desa Linow mereka melanjutkan perjalanan ke Kota Lamur, yang adalah kota terbesar di daratan utara ini.
"Berhenti...! siapa kalian...dari mana...? dan apa tujuan datang kekota ini...?", kata penjaga gerbang kota kepada YoLang dan gurunya.
"Aku dan kakekku hanya singgah semalam dikota ini... dan akan melanjutkan perjalanan ke Kota Banto... kami mau menemui kerabat disana...", kata YoLang.
"1 koin emas untuk masuk kota setiap pendatang...", kata penjaga gerbang kota.
"Mmm... biaya masuk sebesar ini...? bagaimana penduduk mau betah tinggal disini...?", kata YoLang dalam hati sambil membayar 2 koin emas kepada penjaga.
Memasuki kota mereka terlihat pemandangan yang jauh berbeda dengan kotanya Klentang, walaupun gedung-gedung besar berjejer disepanjang jalan utama kota tapi setiap sudut terdapat beberapa pengemis yang duduk menanti uluran tangan orang yang lewat dan banyak juga para pedagang kecil disepanjang pinggiran jalur jalan utama tersebut.
Banyaknya pengemis dan penataan pedagang kecil yang tidak terpusat membuat keadaan kota terlihat semrawut dan tidak nyaman. Demikian juga dengan para penjaga kota yang hilir mudik didalam kota menandakan situasi kota yang tidak aman.
Sambil berjalan mereka mencari penginapan atau hotel sederhana, dan memberikan beberapa koin perak kepada setiap pengemis yang mereka temui.
"Hei... berhenti... jangan lari...!", teriak seseorang sambil mengejar seorang anak laki-laki seumuran dengan YoLang.
Brruuukk...
Karena tergesa-gesa anak itu menabrak keranjang buah milik pedagang pinggiran jalan,...
"Aduuuh...! ampun paman...!", kata anak itu.
"Hei... kemana matamu hahh...!", sipedagang marah karena jualannya berantakan.
"Maaf paman aku tergesa-gesa...! harus pulang...", kata anak itu.
"Dapat kau... ayo kembalikan obat itu... atau lunasi kekurangannya...!", kata orang yang mengejarnya.
"Am... ampun... paman...! biarkan obat ini saya bawa dulu nanti saya lunasi sore ini... tolong saya paman... ibu saya sedang sakit...!", kata anak itu bermohon.
Melihat kejadian dihadapannya membuat YoLang tersentuh hatinya apalagi melihat orang-orang disekitarnya tidak ada yang perduli dengan keadaan tersebut, bergegas dia menghampiri ketiga orang tersebut dan membantu anak itu berdiri,...
__ADS_1
"Paman berdua sabar... biarkan temanku ini...! dan aku akan membayar obat yang dibawanya... kemudian kerugian paman pedagang ini juga akan saya ganti...!", kata YoLang.
"Akan aku lepaskan dia...! tapi lunasi dulu sisa pembayaran obatnya... masih kurang 180 koin perak...!", kata pemilik toko obat.
"Buah daganganku rusak semua...! tidak bisa dijual lagi...! kerugianku semua 800 koin perak...!", kata si pedagang.
"Baik... baik...! ini untuk paman pemilik obat... dan ini untuk paman pemilik buah...", kata YoLang sambil memberikan masing-masing 1 koin emas kepada mereka.
"Saudaraku...! ambillah dan kau bawa pulang buah yang masih bisa dimakan...!", kata YoLang juga kepada anak itu.
"Terimakasih saudara...! kenalkan namaku Anbin... maaf aku harus cepat pulang ibuku sakit butuh obat ini...!", kata anak itu.
"Ibumu sakit apa...? dan ayahmu kemana...?", tanya YoLang kepada Anbin.
"Ayahku masih ditahan dipenjara kota... karena kami belum bisa membayar tunggakan pajak sudah 6 bulan ini... ibuku sakit sudah sebulan dan tidak bisa bangun dari tempat tidur...!", kata Anbin menjelaskan tentang masalahnya.
"Hmm... antarkan kami kerumahmu...! kakekku bisa menyembuhkan berbagai penyakit... siapa tau kami bisa menolongmu...!", kata YoLang kemudian melirik gurunya yang mengangguk tanda setuju.
"Uuhuuk... uuhuukk... nak...! kaukah itu...?", kata suara seorang perempuan dari dalam kamar.
"Iya ibu...!", kata Anbin kemudian memasuki kamar ibunya dan mengajak YoLang bersama gurunya.
"Bu... aku membawa tabib untuk memeriksa penyakit ibu...! silahkan kakek... tolong periksa ibuku...!", kata Anbin.
"Mmm... (memeriksa kondisi tubuh) nak... ibumu tidak apa-apa...! cucuku bisa mengobatinya...!", katanya sambil melirik YoLang.
"Ahh... baik coba kuperiksa tangan bibi...!", kata YoLang sambil memeriksa denyut nadi ibunya Anbin.
YoLang melihat kedalam tubuhnya dan menyimpulkan jenis penyakitnya.
"Anbin... minumkan Pil ini kepada ibumu 1 butir setiap selesai makan pagi... siang dan malam selama 10 hari... minumnya dengan air hangat dan obat yang kau beli simpan saja dulu...", kata YoLang sambil menyerahkan 3 botol giok berisi masing-masing 10 butir Pil Body.
"Dan bibi istirahat saja dulu jangan banyak bergerak... kalau bibi minum obatnya secara teratur dua minggu lagi... bibi akan sembuh...", kata YoLang sambil beranjak keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Terimakasih saudara YoLang dan kakek Yao yang sudah membantu... tapi bagaimana caranya saya membayar biaya pengobatan dan pil ini...? terus terang kami keluarga sudah tidak mampu... semenjak ayah ditahan untuk bekerja pada walikota sebagai tebusan pembayaran pajak kami yang menunggak... dan saya hanya bisa bekerja serabutan setiap hari untuk sekedar biaya makan kami sehari-hari...", kata Anbin berkeluh kesah.
"Saudaraku... kamu tak perlu membayar...! hanya jadilah orang baik dan bantulah orangtuamu sebisamu... dan kebetulan aku ada lebih ini... terimalah... dan lunasi pajak dan bebaskan ayahmu... selebihnya untuk kebutuhan kalian keluarga...", kata YoLang sambil memberikan kantong berisikan 200 koin emas.
"Oohhh... terimakasih Dewa...! terimakasih saudaraku YoLang dan kakek Yao... kalian adalah Dewa penolong keluarga kami...", kata Anbin sambil berlutut tapi langsung dicegah oleh YoLang yang menahan bahunya untuk tidak berlutut.
"Saudara Anbin...! kami hanya orang biasa... tidak layak mendapatkan penghormatan seperti itu... berlututlah hanya kepada kedua orangtuamu dan gurumu...!", kata YoLang.
"Saudara YoLang... kakek Yao... aku berjanji menjadi orang baik dan akan membalas kebaikan kalian kepada keluarga kami...", kata Anbin.
"Saudara Anbin tidak usah dipikirkan... sudah menjadi kewajiban kami membantu... dan kau juga bisa melakukan hal seperti ini... sebisa yang dapat kau lakukan untuk membantu orang lain yang membutuhkan... dan itu adalah balasan atas kebaikan yang kami berikan...!", kata YoLang kemudian berpamitan.
Dari semua kejadian yang dialami oleh YoLang semenjak didesa Watu, itu semua adalah bentuk implementasi dari semua latihan yang diterimanya dari kedua gurunya, dan sebelum memberikan bantuan YoLang terlebih dahulu memeriksa kesadaran orang tersebut apakah jujur, tulus dan berniat baik? hal hal tersebut yang akan menjadi pertimbangan YoLang untuk memberikan bantuan. Tapi gurunya masih belum puas dengan beberapa kejadian ini, untuk itu sang Dewa Obat masih akan membawa muridnya ini berkelana didaratan utara untuk lebih dalam memahami berbagai sifat dan karakter manusia serta bagaimana tanggapan dan tindakan yang akan dilakukan oleh muridnya.
Kembali mereka berdua kejalan utama kota Lamur untuk mencari penginapan.
"Muridku... kedepannya apabila ada suatu yang akan dilakukan, lakukanlah sendiri... gurumu ini hanya akan memberikan saran seperlunya tapi seluruh tindakan olehmu saja jangan libatkan guru... mengerti...!", kata sang guru.
"Baik guru... ehh... kakek...", kata YoLang sambil tersenyum.
Hari sudah sore dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencari restoran untuk makan dan setelah makan barulah mencari hotel atau penginapan murah untuk beristirahat, dan beberapa saat kemudian mereka menemukan sebuah restoran yang sepi dari pengunjung, berdua masuk dan duduk dibagian tengah dengan harapan jika ada pengunjung lain mereka bisa mendengar dan mendapatkan informasi dari percakapan mereka.
Dua sosok guru dan murid terlihat santai menyantap makanan yang tersaji menanti datangnya pengunjung lain namun sampai selesai makan tak ada satupun pengunjung yang datang, akhirnya mereka memutuskan untuk lanjut dan mencari penginapan. Berjalan sejauh 100 meter mereka melihat sebuah rumah tinggal yang lumayan besar tapi didepannya terdapat tulisan 'Penginapan Murah'. Rumah itu terlihat bersih dan terawat kemudian berdua memasuki rumah itu dan menemukan seorang gadis muda usia 17 tahun menyambut mereka,
"Selamat datang di Penginapan Murah tuan-tuan... apakah tuan-tuan akan menginap...?", kata sang gadis.
"Saya dan kakekku membutuhkan 2 kamar untuk 1 malam...", kata YoLang.
"Ada... kami menyediakan kamar terbaik kebetulan ada 2 dan masih ada juga beberapa kamar biasa yang kosong... kamar terbaik 1 koin emas semalam dan 600 koin perak untuk kamar biasa...", kata gadis penjaga penginapan itu.
"Berikan kami 2 kamar terbaik...", kata YoLang kemudian memberikan 3 koin emas.
"Mari ikut saya tuan dan anak muda...", kata sang penjaga penginapan dan menuntun YoLang dan kakek Yao kekamar mereka.
__ADS_1