Titisan Dewa

Titisan Dewa
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Pertarungan didalam kamar kesembilan 'Gua Jiwa' semakin seru, YoLang sudah babak belur dan belum ada satupun pukulannya yang mengenai sosok gurunya itu. Dengan kondisinya yang mulai menurun dia mengingat-ingat kembali perkataan gurunya sebelum dia memasuki Gua Jiwa ini...


'Bijaklah dalam mengambil keputusan'


"Tingkat kekuatannya rendah... tutur katanya kasar dan tidak sopan... serangan pukulannya semua mengarah ketitik yang mematikan... dia pasti bukan guru... dia orang lain yang menyamar menjadi guru untuk menipuku...!", katanya dalam hati.


Dengan mulai serius kembali YoLang mengalirkan energi spiritualnya keseluruh bagian tubuh...


"Langkah Cahaya"


Hiaaaatttt...


Whhuuuzzz...


Buugg...


Dhess...


Serangannya yang tiba-tiba berhasil mengenai punggung sebelah kiri dan leher sosok yang mirip gurunya itu...


"Ahhh... kau mulai serius bocah...? baiklah mari kita serius...", kata sosok itu...


Hhiiiaaattt,... Hiiaatt....


Whuuuzzz... Whuuzz....


Bhak.. Bhuk... Dheegg... Dhuuuggg


Jual beli pukulan kembali antara keduanya.


Hiiaatt,... Hhiiiaaattt....


Whuuzz... Whuuuzzz....


Bhuk.. Bhak... Dhuuuggg... Dheegg


Pertarungan sudah berlangsung selama 3 jam dan belum ada tanda-tanda berakhir.


Wuuuzzz... Shiiinnnggg


YoLang mengeluarkan Pedang Cahayanya


"Langkah Cahaya"


"Tebasan Seribu Pedang"


Hiiaaattt...


Swiinngg... Swiinngg... Swiinngg...


Dhuuaarr... Dhuuaarr... Dhuuaarr...


Tiga tebasan berbentuk cahaya spiritual mengenai tubuh sosok tersebut...


"Hahaha...! lumayan juga kau bocah bisa memberikan luka gores kepadaku...! baik terimalah ini...! dan pergilah keneraka...!", kata sosok itu sambil menyerang dengan menggunakan sepasang pedang dikedua tangannya.


Shinngg... Shinngg... Shinngg...

__ADS_1


Whuuttwhut... whuuttwhut... Whuuttwhut...


"Tebasan Seribu Pedang"


Whuutt... Whuutt... Whuutt...


Triinngg... traanngg.. traanngg...


Benturan pedang mengeluarkan percikan api, pertarungan keduanya berlangsung sangat cepat sehingga nampak hanya bayangan saja, dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya YoLang berusaha untuk segera mengakhiri pertarungannya yang sudah berlangsung kurang lebih 5 jam itu. Dia menyalurkan energi spiritualnya kearah Pedang Cahaya dan keseluruh tubuhnya, terlihat Pedang Cahaya mengeluarkan Cahaya Putih berkilauan dan berdengung,...


nnnguunnnggg...


"Langkah Cahaya"


"Elemen Cahaya"


"Niat Pedang"


"Tebasan Seribu Pedang"


Hhiiaaaatttt...


Whuuunnnggg... Whuuunnnggg...


Craasshhh... craasshhh...


Dhuuaarr... Dhuuaarr...


Tanpa memberi ampun YoLang menambah serangannya...


"Elemen Es"


Hhiiaaatttt...


Whheeeetttt... whheeeetttt...


Jleebb... jleebb... jleebb...


Dhuuaarr... Dhuuaarr... Dhuuaarr...


Aakkhhh...


Hhooeelkk...


Wwhhuuuuuuzzzzzz...


Seketika sosok tersebut lenyap sehabis menerima dua tebasan dan tiga tusukan pedang energi es dan saat itu juga YoLang terlempar dari dalam Gua Jiwa dan mendarat tepat dihadapan Gurunya sang Dewa Cahaya...


"Selamat muridku...! kau berhasil menyelesaikan misimu...!", sambut sang guru yang terlihat senang.


"Terimakasih Guru...!", kata YoLang sambil membungkuk hormat.


"Mari kita kembali...!", kata sang guru kemudian menggandeng tangan muridnya.


Whuuuuzzzz......


Kembali dua sosok murid dan guru sudah berada didalam pondok, duduk bersila dan saling berhadapan.

__ADS_1


"Muridku...! hasil pelatihanmu didalam dunia jiwaku... sangat memuaskan karena kamu menyelesaikannya hanya selama 15 hari... diAlam Surgawi para Prajurit Dewa berlatih dengan waktu yang paling cepat mereka capai untuk menyelesaikan latihan sepertimu sepanjang pengetahuanku adalah selama 20 hari...!", kata Dewa Cahaya.


"Wah...! tidak kusangka selama itu aku berada disana guru...!", kata YoLang kaget.


"Hehehe... putaran waktu didalam dunia jiwa berbeda karena sudah saya atur berlawanan dengan dunia luar ini...! jika kita berada didunia ini selama 1 Jam maka didalam dunia jiwa itu sama dengan 1 hari, jadi 15 hari di dalam dunia jiwa sama dengan 15 jam didunia ini...!", kata sang guru menjelaskan.


"Semua pengetahuan yang kuberikan telah terbuka... energi Spiritual sudah kau miliki... pahamilah semua itu dengan sempurna... aku akan menjelaskan sedikit tentang 2 teknik terakhir, simak dengan baik...!", kata sang guru dan mulai menjelaskan...


"Cahaya Meraih Bintang", adalah teknik untuk menarik segala sesuatu yang kau inginkan, semua benda atau makhluk hidup baik yang berada di darat, didalam/dasar laut, di udara atau yang tertanam ditanah atau yang berada didalam tanah. Berikutnya,...


"Cahaya Menggenggam Bulan", teknik untuk menyerap energi/kekuatan seseorang atau benda atau menyerap inti sebuah benua", ingat kedua teknik ini sangat berbahaya, dan jangan pernah memberikan kedua teknik ini kepada orang lain sebab bisa disalahgunakan untuk hal hal yang akan merugikan banyak orang atau makhluk hidup. Bijaksanalah menggunakan kedua teknik ini karena selain dianggap tabu oleh sebagian orang juga menggunakan teknik ini akan sangat menguras energi spiritualmu sehingga akan membuatmu dalam bahaya. Dan selebihnya dapat kau pelajari melalui pengetahuan yang sudah kuberikan...


"Baik guru", kata sang murid.


"Aku juga melihat tingkat kekuatanmu naik dengan drastis... seiring kenaikan tingkatmu harus diseimbangkan dengan perkembangan dan kekuatan phisikmu... jangan pernah berhenti melatih kekuatan phisikmu dan dengan kualitas 'Tubuh Kekosongan' milikmu... kamu bisa meningkatkan kekuatan phisik tubuhmu jauh lebih kuat... nanti ada saatnya...! setelah ini latihan rutin seperti biasa... tapi fokus terlebih dahulu untuk memahami semua ilmu pengetahuan yang kuberikan dengan sempurna... Aku akan kembali keAlam Surgawi melaksanakan tugas dari Kaisar Dewa... tetapi aku tetap mengawasimu dan sesekali akan berkunjung jika ada kesempatan atau jika kamu memanggilku melalui kalung yang kuberikan itu...", kata sang guru Dewa Cahaya.


"Terimakasih Guru...! murid akan melakukan dan mengikuti semua perkataan guru...!", kata sang murid sambil menunduk hormat.


Whhuuzzz.....


Seketika gurunya lenyap dari hadapannya, hari mulai gelap segera dia membersihkan diri dan turun dari pondoknya menuju Paviliun dimana kedua orangtuanya berada. Sesampainya disana dia tidak menemukan kedua orangtuanya, dia lanjut memasuki kamarnya dan mengambil beberapa stel pakaian biasa untuk dipakai berlatih juga ada 2 stel pakaian mewah karena ada jubahnya. Setelah itu menuju ruang makan dan menunggu kedatangan ayah ibunya...


"Maaf tuan muda... tuan dan nyonya besar lagi berkunjung kerumah Ketua Perguruan sejak siang tadi... katanya ada pesta pernikahan pamanmu Randang...!", kata seorang pelayan.


"Oh... baiklah bi... terimakasih... biar saya susul kesana saja...!", kata YoLang dan bergegas kembali kekamar dan berganti dengan pakaian mewahnya yang berjubah.


#Paviliun Kakek Ratong


Acara pernikahan Paman Randang dan Bibi Rose telah selesai dilaksanakan pada siang hari tadi, dan pesta sudah berlangsung sejak sore sampai malam hari. Saat ini dalam Paviliun tersisa keluarga inti saja yaitu :


Buyut sebelah Ayah : Surapong dan LinMei Kakek - I : Ratong dan Jamilah Paman : Randang & Rose (br nikah) Kakek - II : Putong & Muning Ayah : Piyo dan Mailang Anak : Aku (YoLang)


Buyut sebelah Ibu : Manlang dan Lenbi Kakek - I : Roulang dan Binki Paman : Bua dan Sarah Anak : LenMa Kakek - II : Kailang dan SunWeng Ibu : Mailang dan Piyo Anak : Aku (YoLang) Kakek - III : Builang dan Sailong Paman : Tulong dan Jieran Anak : JieTien


Pertemuan Keluarga Besar dalam suasana pesta menjadikan suasana semakin meriah karena saat inilah masing-masing keluarga menceritakan keadaan keluarganya dan pusat perbincangan selain kepada pengantin baru juga terutama Sang Buyut yang tidak nampak batang hidungnya...


"Cucuku Piyo... kemana buyutku YoLang...?hanya dia seorang yang tidak kelihatan... apa dia sakit...?", kata Surapong.


"Ahh... kakek... maafkan kami... sudah seminggu ini putra kami itu tekun berlatih di pondoknya...!", kata Piyo.


"Hmm... jangan kalian paksakan...! dia masih kecil... biarkan dia sampai berusia 10 tahun baru diberikan latihan yang keras... untuk sekarang dasar-dasarnya dulu... dan cukup seminggu 2 kali...!", kata sang buyut.


"Baik kakek...! akan kami lakukan...", kata Piyo.


"Agak sulit aku kira...! anak itu agak lain... selain berkemauan keras dia juga cerdas dan pintar... sekali ambil buku di perpustakaan 5 buah... seminggu kemudian sudah selesai semua dibacanya... padahal buku-buku itu tingkat Bumi bukan buku biasa...!", kata Ratong sang ketua Perguruan.


"Biarkan saja... jangan halangi buyutku itu... tugas kita adalah mengawasi dan mengarahkan anak itu...! karena aku sudah melihat anak itu seorang Jenius... teknik Pedang yang kuajarkan hanya sebulan sudah dikuasainya... dahulu siPiYo setahun baru menguasai 80%...!", kata LinMei.


"Ya... aku setuju...!", kata beberapa yang hadir.


"Benar... sebaiknya seperti yang nenek LinMei katakan...", kata Bua menambahkan.


"PiYo...! ditingkat apa sekarang buyutku itu... karena terakhir bertemu dengannya waktu dia berkunjung diperguruan dia sudah ditingkat Putih Akhir...", kata ManLang.


"Sebulan yang lalu tingkatnya sudah naik Kuning Awal... mungkin dengan dia berlatih dengan tekun saat ini kami yakin beberapa minggu lagi naik Kuning Mahir...!", kata Piyo. (Jika mereka mengetahui tingkat YoLang saat ini adalah Hitam Awal dipastikan mereka semua akan muntah darah)


"Wah... memang benar benar jenius... anak yang belum genap 6 tahun sudah ditingkat Kuning Awal...? sangat membanggakan keluarga...!", kata Roulang.

__ADS_1


Terdengar derap kaki kuda berpacu dan berhenti didepan Paviliun.


"Aku datang... Salam semua buyutku tercinta... Salam semua kakek... nenekku tersayang... Salam hormat buat Paman dan bibi sekalian... Ayah... Ibu... aku rindu kalian semua...! hai... sepupu-sepupuku cantik...?", kata sang Bocah yang datang dengan heboh.


__ADS_2