Titisan Dewa

Titisan Dewa
Kota Wui


__ADS_3

Kemelut yang terjadi dikota Polak sebenarnya adalah ujung dari perselisihan antara 2 Pangeran Kerajaan Mola, Pangeran Pertama Kerajaan Mola merasa dilangkahi dan dianak tirikan oleh sang ayah Baginda Raja karena haknya sebagai putra pertama walaupun anak dari seorang selir tidak diangkat sebagai putra mahkota dan sebaliknya sang adik Pangeran Kedua yang adalah putra dari Permaisuri Kerajaan sudah diangkat sebagai putra mahkota diusianya yang masih muda yaitu 7 tahun. Dengan dukungan dari ibunya yang juga merasa ada pilih kasih dari sang Baginda Raja kepada putranya dan juga dukungan dari beberapa orang menteri, merestui putranya sang Pangeran Pertama yang berniat mendirikan kerajaannya sendiri yaitu didaerah perbatasan daratan selatan dengan daratan tengah dimana kota Polak berada.


YoLang menyimpulkan permasalahan ini setelah membaca pikiran pemimpin bandit Topeng Hitam yang ternyata mendapat bayaran dari orang suruhan Pangeran Pertama untuk membuat kekacauan didaerah perbatasan agar sang Pangeran lebih mudah menundukkan daerah tersebut menjadi wilayah kekuasaannya dan mendirikan kerajaannya sendiri disana. Hal ini juga yang membuat YoLang khawatir karena Kota Klentang hanya berjarak beberapa hari dari Kota Polak dan tidak menutup kemungkinan jika Pangeran telah menguasai daerah perbatasan ini dia juga akan menginvasi kota Klentang menjadi daerah kekuasaannya.


Ketika semua anggota rombongan berkumpul untuk makan malam direstoran, YoLang menyampaikan untuk mereka melanjutkan perjalanan pada besok hari.


"Malam ini kita persiapkan untuk perjalanan kita besok... jika ada kebutuhan sebaiknya dibereskan setelah makan malam...!", kata YoLang kepada semua anggota keluarganya.


"Nak... Bagaimana dengan permasalahan pemerintah kota ini...? Apa kamu tidak akan memberikan bantuan...?", tanya kakek buyutnya Surapong.


"Kakek... permasalahan disini biarkan pemerintah disini yang menangani... kita tidak usah ikut campur... yang harus kita tangani adalah kepalanya... yang berada dipusat Kerajaan Mola... kalau kepalanya sudah tunduk pasti ekor-ekornya akan mengikuti...", kata YoLang menjelaskan.


"Hmmm... kakak pintar juga ya...? menundukkan lawan dengan melumpuhkan kepalanya dulu... otomatis ekornya ikut tunduk juga... hehehe...", siCerewet mulai beraksi.


"Ya... nih calon istrinya... yang akan mendukung dari belakang... hehehe...", tambah siCeloteh yang tak mau kalah dan disisi lain YoLun hanya terseyum melihat tingkah kedua gadis kecil itu serta YoLang yang sedang geleng-geleng kepala. Sementara para orang tua hanya diam menikmati makan malam mereka karena sudah terbiasa melihat tingkah kedua gadis kecil itu.


"Ya sudah... yang mau belanja silahkan sana pergi berbelanja... dan yang mau istirahat silahkan kembali kekamar... Aku dan YoLun mau bermeditasi saja dikamar...!", kata YoLang kepada mereka.


"Kak... tambah... isi dalam cincin mulai sekarat...", kata LoryMei sambil membuka telapak tangannya kearah YoLang meminta sesuatu.


"Hmmm... baiklah... belanja yang perlu-perlu saja Lory... ", kata YoLang kemudian mentransfer satu juta koin emas kesetiap cincin jiwa seluruh anggota rombongan itu.


Surapong dan LinMei langsung menuju kamar penginapan untuk beristirahat demikian juga dengan YoLang dan YoLun yang akan melewati malam dengan bermeditasi, sementara yang lain berkeliling toko untuk berbelanja kebutuhan mereka sebelum melanjutkan perjalanan besok hari.


Hari masih pagi sekali tapi telah terlihat kesibukan sekelompok orang yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan, setelah membayar biaya sewa penginapan YoLang berserta rombongan mulai bergerak meninggalkan kota Polak menuju arah selatan kekota Wui, kota terbesar didaratan selatan yang juga merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mola dan dari penuturan pelayan di restoran ditempat mereka menginap bahwa, mereka akan membutuhkan waktu selama 7 hari jika menggunakan kereta kuda untuk sampai di kota Wui. Setelah 1 jam meninggalkan gerbang kota Polak,...


"Kakek...nenek... dan semuanya kembalilah keIstana Naga Emas... aku akan berteleportasi untuk mempersingkat waktu perjalanan kita...!", kata Yolang kepada anggota rombongannya.

__ADS_1


"Baiklah nak... kirim kami kesana...", jawab sang kakek buyut.


Whhuuuzzz... Whhuuuzzz...


Dua buah gerbong kereta kuda seketika lenyap dan berpindah kedalam dunia jiwa, dan YoLang melesat keudara kemudian mengedarkan kekuatan spiritualnya dan berteleportasi ketempat yang dapat dilihatnya dari udara, dan pada setiap 5 Km dia berhenti untuk memeriksa lokasi dan menandai lokasi-lokasi tersebut. Menjelang malam YoLang berhenti dan bermaksud menemui keluarganya didalam dunia jiwa, karena dia ingin memastikan keadaan kota Wui kepada kedua buyutnya itu.


"Seingat kakek dan nenek dibagian sebelah mana dari kota Wui yang terdapat pemukiman penduduk... biar kita naik gerbong kereta kuda dari tempat itu menuju kota Wui... Karena aku merasa pasti akan banyak penjaga dan prajurit kerajaan disekitar kota...", tanya YoLang.


"Iya kamu benar nak...! satu kilometer sebelum kota Wui ada sebuah benteng prajurit Kerajaan... dan hanya itu saja... tidak ada desa atau perkampungan lainnya... kecuali yang mengarah keKota Arung... banyak desa berjejeran sepanjang jalan lintas menuju kota pelabuhan itu...!", kata Surapong menjelaskan.


"Hmmm... baiklah kita istirahat saja dulu... hari sudah gelap... besok kita lanjutkan...!", kata YoLang kemudian menuju kamar utama diIstana Naga Emas miliknya.


Sesampainya didalam kamar utama tersebut dia melihat istrinya YoLun dan calon istrinya Mayang sudah tertidur lelap, dia memeriksa kedalam tubuh kedua kekasihnya. Setelah memastikan kondisi tubuh mereka dalam keadaan baik, Yolang mulai bermeditasi melewatkan malam sambil memikirkan beberapa rencana yang akan dijalankannya setelah berada diota Wui tapi belum ada 5 menit bermeditasi dia merasakan ada gerakan dari sang istri YoLun yang turun secara perlahan dari tempat tidur dan mendekatinya yang sedang duduk bersila diatas lantai kemudian terdengar bisikan...


"Suamiku... bangunlah sebentar...!", kata sang istri lembut ditelinga YoLang.


"Itu... aku menunggumu untuk... emmm...!", kata YoLun yang langsung duduk dipangkuan sang kekasih sambil berhadapan dan tanpa menunggu ijin dari sang suami dia sudah memulai mengalunkan lagu sendunya dibibir sang suami. YoLang yang mengerti akan maksud sang istri ikut mengalunkan musik lagu tersebut dengan menarik sang istri kedalam dekapannya kemudian melepas kain penutup bagian bawah sang istri dan dirinya sendiri, setelah itu dia membuat sebuah array/formasi yang menutup keduanya agar suara aneh yang mereka dengungkan tidak terdengar oleh sang calon istri yang masih terlelap diatas tempat tidur. Sudah beberapa kali suara hentakan musik Rock diatas lantai kamar utama yang didendangkan oleh sepasang kekasih itu, tapi belum ada tanda-tanda mereka berhenti, bergoyang sambil menghentakkan kaki mengikuti irama lagu cadas, sampai sang suami merasakan cengkaraman yang kuat dipunggungnya akibat luapan hasrat sang istri yang kembali mencapai nada puncak irama Rock N' Rollnya untuk yang kelima kalinya.


"Huhhh... hahhh... emmm... Cchhuuuppp...! terimakasih suamiku...!", kata sang istri mesra.


"Hmmm... istirahatlh dulu... aku melanjutkan meditasiku dulu...!", kata sang suami sambil membantu sang istri mengenakan kembali kain penutup bagian bawahnya dan kainnya sendiri.


Tanpa terasa hari sudah menjelang pagi, YoLang bangun untuk segera keluar dari dalam dunia jiwa untuk melanjutkan perjalanannya dan sebelum keluar dia menatap dua sosok yang dikasihinya yang masih terbaring diatas tempat tidur, lelap dengan mimpi mereka.


Whhuuuzzz...


YoLang kembali melesat keudara dan bergerak kearah selatan sambil menandai tempat-tempat yang dilewatinya, 2 jam dia berteleportasi seperti bayangan yang tiba-tiba muncul kemudian menghilang didetik berikutnya sampai dia mulai merasakan keberadaan banyak kehidupan manusia diarah depannya. Dia turun dan mulai berlari mendekati lokasi yang dirasakannya ada sekelompok orang, dari jarak 1 km barulah dia melihat dengan jelas adanya sebuah benteng pertahanan prajurit kerajaan.

__ADS_1


"Hmmm... sudah waktunya mengeluarkan mereka...!", katanya dalam hati kemudian mengirim suara kepada seluruh anggota keluarganya untuk bersiap dan naik kegerbong kereta kuda, setelah menunggu 10 menit dia mendengar suara istrinya YoLun memberitahukan bahwa mereka sudah siap. Kemudian,...


Whhuuuzzz... Whhuuuzzz...


Dua buah gerbong kereta kuda sudah berada dijalan lintas menuju kota Wui yang akan melewati sebuah benteng pertahanan prajurit Kerajaan Mola. Gerbong kereta didepan ditumpangi oleh LinMei, LoryMei dan YoLun serta Surapong dan YoLang duduk di tempat kusir kereta, dan gerbong kereta kedua terlihat PiYo yang menjadi kusir dan didalam gerbong duduk MaiLang, Maya dan Mayang. Kedua gerbong kereta berjalan pelan melewati benteng tersebut setelah melewatinya barulah terlihat sebuah kota besar dihadapan mereka juga terlihat iring-iringan sepasukan berkuda sedang mengawal sebuah kereta kerajaan yang terlihat mewah bergerak keluar dari gerbang kota menuju kearah mereka,...


"Hei... kalian berhenti dan minggir...! berikan jalan Pangeran Pertama mau lewat...!", kata komandan pasukan itu yang memacu kudanya mendahului iring-iringan untuk membuka jalan.


YoLang yang berada digerbong depan segera menghentikan kereta kudanya kemudian diikuti oleh gerbong kereta dibelakangnya, mengikuti perintah sang komandan pasukan itu, setelah beberapa saat lewatlah iring- iringan pasukan tersebut yang sedang mengawal kereta kerajaan yang ditumpangi oleh Pangeran Pertama Kerajaan Mola sambil meninggalkan debu yang beterbangan. YoLang dan rombongannya melanjutkan perjalanan memasuki kota Wui, setelah membayar biaya masuk dipintu gerbang dua buah gerbong kereta kuda memasuki kota.


"Kakek... pimpin jalan... karena kakek yang mengetahui lokasi tempat tinggal keluarga nenek buyut...!", kata YoLang.


"Ahhh... baiklah... hanya saja semuanya sudah berbeda jauh... bangunan-bangunan sudah banyak... kakek sudah tidak bisa menemukan jalan menuju kediaman keluarga buyutmu...", kata Surapong


"Hmmm... kalau begitu kita akan bertanya saja nanti... sekarang kita cari penginapan dulu...", kata YoLang.


YoLang melihat sebuah penginapan yang gedungnya besar terdiri 5 lantai dan terlihat mewah kemudian masuk...


"Selamat datang di penginapan 'Sejahtera' tuan muda...", sambut seorang pelayan.


"Salam bibi... saya mau menyewa beberapa kamar... apa masih ada kamar yang kosong...?", tanya YoLang.


"Kamar VIP kami masih tersedia tuan muda biayanya 25 koin emas perhari sudah dengan biaya makannya... dan kamar biasa juga masih ada dengan biaya 3 koin emas perhari... Silahkan tuan mau pilih yang mana...?", kata sang pelayan menjelaskan.


"Mmm... baik berikan saya 4 buah kamar VIP... dan tolong carikan keempat kamar yang berdekatan...! dan ini biaya sewa kamar selama 1 minggu! lebihnya untuk bibi saja...", kata YoLang kemudian membayar 750 koin emas kepada sang pelayan.


"Terima kasih tuan muda... mari saya antarkan kekamar pesanan tuan muda...", kata sang pelayan ramah, kemudian mengantarkan rombongan keluarga YoLang menuju kamar VIP dilantai 5 gedung penginapan tersebut.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kamar, masing-masing dari mereka membuat rencananya sendiri terutama kedua gadis kecil yang sudah siap-siap berdandan dengan cantik dan mengenakan pakaian terbaik mereka akan berkeliling kota Wui, satu-satunya kota terbesar di Benua Pulau Hijau. Surapong dan LinMei akan mencari tempat kediaman keluarga Mei, yang sudah 50 tahun mereka tinggalkan sedangkan PiYo dan MaiLang akan mencari informasi tentang keadaan dan situasi Kota Wui dan disisi lain YoLang, YoLun dan ibu Maya akan menunggu dipenginapan sambil membuat rencana petualangan mereka di daratan selatan ini.


__ADS_2