
Tiba didepan Wisma, YoLang langsung disambut nona Lun sang pelayan kediamannya yang sekarang disebut penduduk desa YaoYo dengan Wisma Pendiri Desa.
"Selamat datang kembali tuan muda...!", sambut nona Lun dengan wajah ceria melihat tuannya kembali.
"Terimakasih bibi Lun...! bagaimana kabarnya...?", kata YoLang.
"Baik tuan muda...! mari silahkan masuk...?", ajak nona Lun.
"Tuan muda... silahkan beristirahat...! saya kembali kegerbang desa dulu...!", pamit sang penjaga.
"Baik paman... dan terimakasih sudah mengantarkan saya...!", kata YoLang kepada penjaga itu sambil dia melangkah memasuki wismanya.
Didalam wisma YoLang melihat perubahan besar didalamnya, meja kursi tamu yang bagus, meja makan dan 6 buah kursinya kemudian melihat kamar tamu sudah terisi lengkap dan dia menuju kamarnya sendiri dan melihat tempat tidur yang dianggapnya sangat mewah ada sofanya dan 1 set meja kerja lengkap dengan kertas, benang pengikat dan alat tulis beserta botol tinta, juga menuju kamar sebelah yang disiapkan untuk kakek Yao (Guru resmi YoLang yang kedua sang Dewa Obat yang saat berkunjung sedang menyamar) dia melihat suasana yang sama dengan kamar miliknya. Setelah puas melihat keadaan dan suasana Wismanya, YoLang menuju kebagian belakang dan melihat telah berdiri 2 buah bangunan kemudian menuju kesalahsatu bangunan yang ternyata isinya penuh dengan tanaman herbal dan dia pindah kebangunan yang satu lagi untuk memeriksanya yang isinya beberapa peralatan untuk memelihara taman wismanya.
YoLang kembali kedalam wisma...
"Tuan muda teh hangatnya sudah saya siapkan dimeja makan...! silahkan diminum tuan...!", kata nona Lun memberitahu.
"Ahhh... terimakasih bibi Lun...!", kata YoLang
"Eennn... tuan muda... bolehkah saya meminta sesuatu kepada tuan muda...?", tanya sang pelayan.
"Ya... jangan sungkan bibi Lun...! bibi mau minta apa...? akan saya berikan...!', katanya dengan tegas.
"Tolong panggil nama saya saja... jangan dengan kata bibi... saya masih muda baru 19 tahun dan belum kawin... saya merasa aneh tuan muda memanggilku dengan kata bibi...!", kata nona Lun sambil tertunduk malu.
"Mmm... begini saja... saya juga masih anak anak dan usiaku baru 9 tahun lebih...! jadi aneh juga semua orang desa ini memanggilku dengan kata tuan muda...? eemm... baik... aku panggil kakak Lun...? dan kakak harus memanggilku adik Yo...! atau YoLang saja... bagaimana...?", tanya YoLang tawar-menawar dengan sang pelayan.
"Nah... itu baru cocok tuan muda...! tapi kalau saya dan juga penduduk desa diharuskan untuk memanggil dengan kata tuan muda... karena tuan muda adalah pendiri dan sesepuh desa ini... nama desa juga diambil dari nama tuan muda dan kakek Yao...!", kata nona Lun masih tidak setuju karena panggilan tuan muda sudah seharusnya bagi mereka kepada YoLang sebagai pendiri desa.
"Terserah sajalah... tapi yang pasti semua penduduk desa ini sudah saya anggap keluarga saya...! bukan sebagai bawahan atau pesuruh saya... tidak sama sekali... bagaimana kakak Lun...?", kata YoLang.
__ADS_1
"Baik terimakasih tuan muda... dan silahkan diminum tehnya...!", kata kakak Lun kemudian pergi kedapur.
YoLang sendirian dimeja makan sambil minum teh hangat buatan kakak Lun, lalu dia merencanakan untuk membuat gagang dan sarung pedang malam hari nanti agar sore ini dia bisa bertemu dengan paman MuDhong beserta anggota keluarga Mu lainnya, sekalian akan menanyakan masalah perguruan, pembuatan pil serta beberapa masalah lainnya yang berhubungan dengan kesejahteraan penduduk desa YaoYo.
"Hmmm... masih sore... lebih baik aku ke gudang herbal saja...!", gumamnya dalam hati kemudian menuju gudang herbal yang berada dibagian belakang wismanya.
"Kakak Lun...! aku ke gudang herbal dulu...? kalau paman MuDhong kesini... tolong katakan tunggu sampai saya selesai membuat pil...! karena ada beberapa hal yang akan saya bicarakan dengannya...!", kata YoLang ketika melewati kakak Lun di dapur.
"Baik tuan muda...!", jawab kakak Lun.
Didalam gudang herbal YoLang mulai memilah tanaman herbal didepannya sesuai dengan jenis pil yang akan dia buat, setelah itu dia mulai membuat pil dengan menggunakan Teknik Kuno (tanpa menggunakan tungku) karena dia rasa dengan teknik ini dia lebih cepat membuatnya. Dan hanya membutuhkan waktu 1 jam dia telah menghabiskan seluruh tanaman herbal yang tadinya memenuhi gudang itu saat ini telah berubah menjadi ribuan butir pil berbagai jenis dan sudah dia kemas kedalam botol giok kecil yang isinya 10 butir pil disetiap botol. Kemudian ratusan botol giok berisikan pil itu dia masukkan kedalam cincin jiwanya untuk dia serahkan kepada paman MuHoa sebagai penanggung jawab pil/obat sekaligus sebagai Alkemis dan Tabib didesa YaoYo ini.
Kembali YoLang memasuki wismanya dan langsung menuju ruangan tamu, karena sejak digudang dia telah merasakan aura tubuh paman MuDhong dan beberapa tetua Klan Mu sedang memasuki wismanya...
"Selamat sore kakek MuChin...! para tetua sekalian... paman MuDhong... apa kabar semuanya...!", sapa YoLang mendahului para orangtua tersebut.
" Selamat sore tuan muda... ahhh... semuanya baik baik saja... bagaimana dengan tuan muda...?", kata kakek MuChin yang memimpin keluarga Mu atau Patriak Klan Mu.
"Hahaha... tuan muda... biaya yang tuan muda berikan masih tersisa banyak... bahkan sudah kami pakai untuk membuat dermaga buat nelayan didanau... tapi sisanya masih setengah dari pemberian terakhir tuan muda...!", jawab MuDhong sang kepala desa YaoYo.
"Ahh... bagus...! itu disimpan saja paman... sewaktu-waktu dibutuhkan... pergunakan saja... asalkan untuk keperluan banyak orang tidak masalah... dan bagaimana dengan perguruan apa sudah mulai...?", tanya YoLang.
"Ya... justru kedatangan kami untuk menyampaikan kepada tuan muda bahwa Klan Mu akan berdiri lagi... dan pusatnya didesa YaoYo ini...! sesuai perkataan tuan muda... gedung Klan dan aula perguruan sudah selesai dibangun dan ditempati oleh kelima tetua dan keluarganya... dikomplex gedung Klan juga dibangun Toko Obat yang menjual pil dan tanaman herbal...", kata kakek MuChin sambil melanjutkan.
"Untuk perlengkapan lainnya masih kami usahakan... terutama berbagai jenis senjata untuk perguruan dan teknik... kemudian masalah peresmian berdirinya Klan Mu dan Perguruan kami sengaja menunggu kehadiran tuan muda... dan sekarang tuan muda sudah ada... kami sekaligus bermohon... kiranya tuan muda bersedia untuk menjadi Pelindung Klan Mu dan Perguruannya...!", kata ketua Klan Mu itu.
"Baik... saya bersedia...! karena ini juga adalah tanggungjawab saya... tapi... ingat maksud dan tujuan berdirinya desa ini...! harus sejalan dengan berdirinya Klan dan Perguruan itu...! paman MuDhong pasti sudah mengerti maksud saya... jangan ada tindak kekerasan, apalagi membunuh... upayakan pendekatan dan bantulah sebisa mungkin...! bantu yang lemah... buatlah seluruh penghuni desa ini sederajat dan jangan membeda-bedakan...! duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi... kecuali yang benar-benar berhati iblis dan sudah tidak bisa disadarkan... apalagi yang sudah menjurus kepada tindakan pemusnahan...! barulah pergunakan kekuatan yang kita miliki...!", kata YoLang menjelaskan.
"Masalah senjata dan teknik... tidak usah dipikirkan besok semuanya akan saya sediakan... termasuk senjata pusaka tingkat Kuno untuk para tetua Klan Mu...!", kata YoLang kemudian melihat hadirin didepannya terdiam sambil terkejut heran mendengar senjata tingkat Kuno karena senjata tertinggi di benua Pulau Hijau ini adalah tingkat Langit dan itu juga hanya Klan dan Sekte besar yang memilikinya.
"Ba... baik tuan muda...! peresmiannya sesuaikan dengan waktu tuan muda...! kami menunggu saja... kapan tuan muda siap...!", kata ketua Klan Mu.
__ADS_1
"Besok siang saja sekalian kita pesta rakyat... syukuran berdirinya desa YaoYo... Klan Mu dan Perguruan...! bagaimana...?", tanya YoLang meminta persetujuan mereka.
"Kami segera menyiapkan acaranya untuk besok siang tuan muda...!", kata paman MuDhong.
"Lanjutkan paman... dan kakek MuHoa...! ini ada perbekalan yang menjadi tanggungjawab kakek... juga gudang herbal saya sudah kosong... hehehe... kemudian kakek MuChin dan paman MuBai nanti malam temani saya di aula Perguruan Klan Mu...!", kata YoLang kemudian memberikan sebuah cincin jiwa berisikan ratusan botol giok kepada sang Alkemis dan sekaligus Tabib desa YaoYo itu.
"Silahkan diminum tehnya tuan muda dan para tetua sekalian...!", kata suara dari belakang YoLang.
"Ahhh... terimakasih kakak Lun... kakak memang yang terbaik...!", jawab YoLang kepada kakak Lun dan kembali hadirin didepannya dibuat melongo mendengar YoLang menanggil kakak kepada pelayan Wisma Pendiri Desa itu.
Setelah pembicaraan mereka selesai beberapa tetua langsung kembali ketempatnya untuk mempersiapkan acara pesta rakyat besok siang, dan yang tertinggal kakek MuChin dan paman MuBai yang akan bersama YoLang keAula Perguruan, setelah menyelesaikan beberapa hal didalam kamarnya YoLang berangkat menuju aula perguruan bersama kedua tetua itu. Sesampainya disana dia melihat sebuah area yang sangat luas, ada lapangan terbuka disekeliling gedung aula dan dibelakang aula berderet beberapa bangunan untuk gudang senjata, perpustakaan, ruang istirahat murid dan ruang kesehatan juga terlihat disamping kanan komplek perguruan berdiri dengan megah gedung besar berlantai 2 tempatnya Klan Mu, dilihat sepintas semua itu terkesan Mewah untuk ukuran sebuah desa.
"Kakek... buatkan daftar jenis dan jumlah kebutuhan senjata... pertama untuk pusaka Klan Mu, kedua untuk para tetua Klan Mu dan petinggi desa YaoYo, ketiga untuk murid elit perguruan dan para penjaga desa dan keempat untuk kebutuhan latihan para murid perguruan begitu juga untuk teknik... teknik apa saja yang dibutuhkan... saya langsung kebangunan penyimpanan senjata dan bekerja disana...!", kata YoLang.
"Baik tuan muda...! segera kami buatkan daftarnya...!", kata paman MuBai kemudian berlalu.
"Tuan muda... beberapa waktu yang lalu para pencari herbal menemukan 2 pohon kayu jati tua di hutan sebelah timur danau... itu kami tempatkan di bagian belakang gedung senjata mungkin berguna untuk dibuat senjata latihan para murid...!", kata kakek MuChin.
YoLang segera mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk memeriksa kedua batang pohon itu, kemudian betapa terkejutnya YoLang setelah mengetahui jenis pohon dan kandungan dalam kayunya.
"Mmm... kakek...saya minta tolong... sampaikan kepada yang menemukan kayu itu agar pagi-pagi sekali temani saya ketempat dia menemukan kayu itu...!", kata YoLang.
Sesampainya dibelakang gedung penyimpanan senjata dia melihat dua batang pohon besar yang berukuran pelukan tangan 2 orang dewasa dan panjangnya sekitar 15 meter.
"Sangat bagus untuk batang tombak... dan busur panah... juga untuk senjata-senjata latihan para murid nanti...!", gumamnya dalam hati.
"Tuan muda ini daftarnya...!", kata paman MuBai yang baru datang dari gedung Klan Mu sambil menyerahkan daftar yang diminta YoLang.
"Baiklah... kakek... paman... kedua batang pohon ini akan saya ambil untuk bahan pembuatan senjata...!", kata YoLang.
"Ohh... tentu saja tuan muda... memang pohon ini diambil dihutan untuk keperluan itu... jadi silahkan tuan muda mengambilnya...?", kata kakek MuChin.
__ADS_1