
Lama YoLang termenung didalam dunia jiwanya karena mencerna hal-hal yang tidak dia sangka dan hanya berlangsung dalam hitungan jam saja. Dan dia teringat kata siBocah Tua tentang isi kamar suci diistana, segera dia melayang diudara untuk melihat sekeliling dan ternyata Istana yang dimaksud siBocah Tua berada dibelakang Pavilivin yang dibuatnya saat dunia jiwanya ini baru dibuat oleh gurunya sang Dewa Naga, karena terhalang bangunan paviliun dan istana yang dimaksud siBocah Tua berjarak 5 Km dari tempatnya saat ini.
YoLang terbang melesat menuju kearah istana megahnya, terlihat dari jauh istana dengan 3 buah kubah berwarna keemasan dan ditengahnya adalah sebuah kubah besar dengan ornamen 2 naga emas sedang beradu kepala saling menyilang. Halaman istana tertata rapi dengan adanya taman bunga, kolam ikan dengan bungalownya dan keliling halaman istana dipagari dengan tembok setinggi 5 meter dan yang menarik bagian belakang istana terdapat lahan yang luas seperti sebuah perkebunan buah, YoLang mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk merasakan keberadaan seseorang tapi tidak merasakannya. Kembali dia bertanya tanya siapa yang merawat taman dan perkebunan ini?, seketika dia memperhatikan sebuah keanehan lagi bahwa hampir semua pohon telah berbuah dengan seluruh buahnya berwarna emas,...
"Ahh... iya... pengetahuan yang diberikan oleh siBocah Tua belum aku pahami... maaf Dewa Guru...!", bergumam dalam hati YoLang kemudian mulai menyelami pikirannya kembali untuk mencerna seluruh isi pengetahuan yang diberikan siBocah Tua.
"Hmmm... Kebun Buah Kehidupan... Pohon Kehidupan... Sarang Madu Kehidupan... mmm... nantilah aku check satu persatu...",
Setelah memahami banyak pengetahuan walau belum seluruhnya, YoLang berniat melihat kedalam istananya, melesat dia memasuki bagian dalam istana yang pertama ditemuinya adalah ruang besar bisa untuk 200 orang berkumpul (Ruang Utama) kemudian masuk kedalam lagi sebuah ruangan terdapat 3 buah kursi tahta berjejer dan dibelakangnya tirai emas bergambar naga tergantung dari langit-langit istana sampai kelantai, didepan kursi tahta ruang berderet kursi saling berhadapan (Ruang Tahta) dan seluruh lantai ditutupi dengan karpet merah bercorak emas. YoLang juga melihat 2 kubah samping kiri dan kanan merupakan sebuah kediaman, begitu juga kubah tengah yang merupakan tempat kediaman utama istana karena terdapat taman dan kolam pribadi didalamnya.
YoLang masih berkeliling dan menemukan banyak ruangan dan kamar tidur baik ditengah, samping kiri dan kanan juga dibagian belakang sampai ke dapur istana dan dalam pikirannya...
"Wah... mengurusnya bagaimana...?apakah harus membawa satu desa kesini...? mau makan saja harus jalan 100 meter baru sampai ke meja makan...! itu perpustakaan dan itu ruang pengobatan dan kamar sucinya dimana...? ahh... coba masuk kediaman utama dulu...",
Kemudian YoLang berjalan memasuki bagian tengah istana dibawah kubah besar, ada 3 kamar besar dan yang paling besar berada ditengah dan dia memasuki yang paling besar tapi didalamnya masih juga ada ruangan dan kamarnya masih masuk melewat sebuah pintu lagi, dia menerobos sampai melihat didalam ada sebuah tempat tidur yang sangat mewah dan besar, mungkin 10 orang juga masih cukup untuk tidur bersama. Didalam kamar utama itu masih juga ada 2 ruangan samping kiri kamar tidur ada sebuah ruangan untuk bermeditasi dan sebelah kanannya adalah yang dimaksud oleh siBocah Tua sebagai 'Kamar Suci', yang dinding ruangan dipenuhi rak kayu dan berbagai jenis Kitab Surgawi, Senjata Surgawi, Inti Kristal Elemen, botol-botol giok berbagai ukuran dan kotak-kotak batu giok dan kayu yang setelah diperiksa adalah semuanya dibutuhkan YoLang antara lain dalam botol giok ada 'Air Suci Surgawi', berbagai jenis 'Darah Murni', dan beberapa Teknik tingkat Surgawi/Ilahi yang hanya dimiliki oleh jajaran Dewa Penguasa. Bergetar hati YoLang melihat isi 'Kamar Suci' itu dan membuat dia berpikir panjang,...
"Apa maksud Kaisar Dewa memberikan Harta Surgawi miliknya kepadaku...?",
"Seberat itukah tugas-tugas Langit dimasa depan...?",
"SIAPA... sebenarnya yang membuat Kaisar Dewa dan kelompok 'Dewa Penguasa PanjelSolasi' khawatir...?',
Seorang anak kecil dari Ras manusia dan baru berusia 10 tahun, karena menjadi Sang Terpilih oleh para Dewa Penguasa, saat ini berubah menjadi seorang manusia Setengah Dewa karena dialam pemikirannya sudah memikirkan masalah Alam Semesta,
Tingkatan Makhluk Hidup diAlam Semesta
Hewan.
- Hewan Ternak.
- Hewan Buas.
- Hewan Siluman.
- Hewan Roh.
- Hewan Surgawi.
- Hewan Mistik/Ilahi.
Manusia.
- Manusia Biasa.
- Manusia Super.
- Manusia Pilihan.
Peri.
__ADS_1
- Elf.
- Mage
- Assassin.
Dewa.
- Dewa Biasa.
- Dewa Dunia.
- Dewa Nirwana.
- Dewa Pencipta.
- Dewa Penguasa.
*Iblis. Tidak masuk tingkatan makhluk hidup karena terdiri dari semua Ras yang Memberontak dan selalu memusuhi semua makhluk hidup.
Setelah melihat isi 'Kamar Suci' dan menandai lokasi istana, ruang tahta, kamar suci dan kamar mewahnya, YoLang kembali kekamar diWisma untuk melihat keadaan kakak Lun-nya yang sedang bermeditasi.
Whhuuuzzz...
"Ehhh... kemana orangnya...? Hmmm... dunia luar sudah pagi ternyata... hehehe...", katanya dalam hati sambil mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk memeriksa keadaan Wisma dan menemukan sang kakak sedang berlatih phisik sendirian halaman dibelakang.
YoLang tanpa sadar bahwa dia telah berada didunia jiwanya selama 1 hari, dan dia belum mengatur perputaran waktu didalam dunia jiwanya karena belum mempelajari teknik 'Hukum Ruang dan Waktu' yang adalah Teknik Tingkat Ilahi. (waktu didalam dunia jiwa bisa diatur lebih cepat dari dunia luar, 1 jam didunia luar sama dengan 1 hari didunia jiwa).
Dari dalam kamarnya YoLang memeriksa performansi tubuh kakak Lun yang sedang berlatih dan melihat kondisinya belum stabil dan masih rapuh sehingga perlu ditempa terus dengan latihan yang rutin apalagi tingkat kualitas tubuhnya adalah tingkat manusia normal/biasa, tapi YoLang telah memiliki kemampuan dan bahan serta cara untuk merubah struktur tubuh kakak Lun-nya menjadi kualitas lebih tinggi, setelah dia selesai berlatih phisik sampai pondasinya kokoh. Berbagai rencana sudah mulai dia susun juga dengan proses pelatihannya yang saat ini belum selesai dengan guru ketiganya yaitu siDewa Naga.
"Hehh... adik pergi kemana semalam...? kakak mau bertanya...latihan apa lagi yang harus kakak jalani...?", tanya sang kakak dengan semangat.
"Aku lagi buat senjata kakaaak... ini buat kakak... bukalah...", kata YoLang sambil menyerahkan sebuah kotak dari batu giok berwarna hijau penuh dengan ukiran.
"Waaaahhh... Busur kaca...? adik... bagus sekali senjata ini... kakak suka... terimakasih", kata kakak Lun-nya kemudian memeluk dan memberikan kecupan dikedua pipi sang adik sebagai ungkapan terimakasih.
"Hehehe... dan ini tekniknya...!", sambil menyentuh dahi sang kakak dan mentransfer teknik dasar menggunakan busur panah juga pengetahuan tentang siapa sebenarnya mereka berdua dan yang lainnya.
Didalam ingatannya kakak Lun melihat banyak tulisan berjalan dan mendengar banyak suara-suara bergema, terkejut dan terharu sekaligus bahagia mengetahui banyak hal yang barusan diberikan oleh adiknya.
"uumm... a..adik... a..a..apa semua itu be..benar...?", kata kakak Lun masih tak percaya tapi dia lebih mengeratkan pelukannya dan air mata kebahagiannya telah jatuh membasahi pipinya.
"Itulah takdir kakak...! awalnya Mayang yang aku ketahui dari guruku yang pertama dan semalam Suara Langit memberitahukan hal baru itu... apakah kakak setuju...?", kata YoLang menatap wajah cantik berlesung dipipi kemudian menghapus butiran airmata dikedua pipinya dan membalas pelukan kakak Lun-nya.
"Kakak sangat senang dan bahagia...! asalkan adik tetap bersama kakak... dan kita akan saling menjaga...hmmm...?", kata kakak Lun yang masih memeluk sang adik.
"Kakak akan bersamaku terus setiap saat... aku akan membawa kakak kemanapun aku pergi... karena aku mendapat tugas dari langit untuk membuat kakak lebih kuat seperti seorang Dewi...!", kata YoLang kemudian membawa sosok dalam pelukannya keistana mereka didalam dunia jiwanya.
Whhuuuzzzz... whhuuuzzzz....
"Inilah rumah kita kakak...!", kata YoLang.
__ADS_1
"Istana...? ini mimpi-kan adik...?", kata kakak Lun takjub dengan pemandangan dihadapannya seperti merasa berada di alam mimpi.
Kemudian YoLang membawa kakak Lun berkeliling melihat istana mereka sambil menjelaskan tempat dan ruangan yang mereka lewati dan sampailah dibangunan induk istana dimana terdapat 3 buah kamar besar, kemudian menjelaskan hubungannya dengan 3 buah kursi di ruang tahta dan ketiga kamar besar dihadapan mereka.
"Ini kamar-kamar utamanya... karena kakak adalah yang pertama... maka kakak pilih mau yang sebelah mana..?", tawar YoLang.
"Hmmm... kakak pilih yang ditengah... hehehe... ayo masuk... mau lihat seperti apa kamarnya...", katanya dan menarik sang adik masuk kamar yang sebenarnya adalah kamar milik YoLang itu.
"Wah... besar sekali... adik kamu buat tempat tidur besar itu buat nampung istri berapa banyak...? astaga... adik... cukup kakak sama Mayang saja... jangan tambah lagi... kalau siDewa kasih lagi... langsung tolak... bilang tidak mau...!", kata kakak Lun-nya sewot.
"Hehehe... kakak... jumlah kursi di ruang tahta ada berapa...? dimasa depan istriku cuma ada kakak dan Mayang.
"Hmmm... semoga ayah dan ibu senang di surga atas dan bisa melihat putrinya ini bahagia...!", kata kakak Lun sambil menatap Langit.
"Kakak... bersabarlah... akan kita cari tau dimana keberadaan kedua calon mertuaku itu...!", kata YoLang menghibur.
Dari penuturan paman MuDhong bahwa kakak Lun ditemukannya di kota Lamur saat usianya 5 tahun, seorang diri duduk dipinggir jalan sambil mengemis karena kelaparan dan menurut cerita orang-orang kota Lamur bahwa keluarga anak tersebut diculik, karena tiba-tiba disuatu pagi dipinggiran kota beberapa rumah penduduk kehilangan anggota keluarga mereka secara misterius dan disalah satu rumah ditemukan seorang anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan kedua orang tuannya, dan yang aneh adalah semua mereka yang menghilang secara misterius itu mempunyai hubungan keluarga satu sama lain yaitu keluarga Lun.
"Baiklah kakak... bagaimana kalau besok kita pergi kekota Lamur dan mencari tahu apa masih ada keluarga kakak yang lain tinggal disana...?", kata Yolang.
"Sudahlah adik... hampir semua orang Klan Mu bertahun-tahun mencari kabar keluarga kakak... tapi tidak menemukan jejaknya, ahh... adik... bantulah kakak untuk berterimakasih kepada paman MuDhong yang sudah begitu baik kepada kakak...", kata kakak Lun dengan manja dan sudah tidak ragu-ragu lagi merangkul dan memeluk YoLang karena sudah mengetahui siapa dirinya bagi YoLang.
"Hmmm... baiklah tuan putri... hamba akan melaksanakan perintah tuan putri...!", katanya sambil membelai rambut kakak Lun-nya dengan mesra.
Setelah puas melihat-lihat istana, mereka berdua kembali keWisma dan langsung menuju tempat latihan dikawasan berumput sebelah selatan Danau Es. Beban latihan kakak Lun bertambah baik waktu, jumlah dan jarak setiap jenis latihan, begitupun dengan latihan menggunakan beban dan keduanya melakukan pelatihan sampai sore hari sedangkan untuk latihan ketahanan tubuh YoLang tidak mau mengambil resiko lagi melakukannya didanau dan dia sudah membuat sebuah tong besar yang terbuat dari kayu untuk kakak Lun-nya melakukan latihan diwisma. Setelah membersihkan diri mereka berdua duduk diruangan tengah Wisma,...
"Kak... kakak latihan sendiri dulu... aku mau menemui paman MuDhong untuk memberitahukan bahwa kita akan kekota Klentang besok pagi dan juga untuk mencari orang baru yang akan mengurus wisma ini...", kata YoLang sambil minum teh hijau hangat buatan sang kakak.
"Hmmm... adik jangan lupa... berilah paman MuDhong bekal untuk mengurusi desa ini...!",
"Iya kakak... nanti aku pikirkan... aku pergi dulu kak...", katanya kemudian menghilang.
Whuuuzzz...
YoLang tiba dikomplex gedung Klan Mu dan langsung masuk menuju ruang pertemuan Klan Mu karena dia merasakan keberadaan sosok yang dia cari sedang berada disana,...
"Salam... kakek... paman...!", katanya kepada kakek MuChin dan paman MuDhong yang sedang berkumpul dengan beberapa anggota Klan Mu lainnya.
"Salam tuan muda... ahh... kebetulan tuan muda ada disini... ada hal yang akan kami sampaikan kepada tuan muda... tapi sebaiknya kita keruang pertemuan tertutup... mari tuan muda...!", kata kakek MuChin.
"Ennn... MuSung... MuTeng... beritahu ayah kalian untuk menyusul kami keruangan pertemuan tertutup...!", katanya lagi.
Didalam ruang rahasia bawah tanah tempat pertemuan tertutup para petinggi Klan Mu telah duduk YoLang sebagai pelindung Klan, MuChin sebagai Patriak Klan Mu, MuFeng kakak MuChin sebagai Wakil Patriak, MuHoa adik MuChin yang juga seorang Alkemis sebagai Tetua Pertama, MuDhong anak MuChin sebagai Tetua Muda juga sebagai Kepala Desa YaoYo dan masih menunggu 2 saudara sepupu MuChin yaitu MuBing sebagai Tetua Kedua dan MuGao sebagai Tetua Ketiga. Tak beberapa lama kemudian kedua tetua masuk dan ikut duduk dalam pertemuan.
"Maafkan tuan muda... kami berdua agak terlambat...", kata kakek MuBing.
"Jangan sungkan kakek... saya yang harus minta maaf mengganggu waktu kakek semuanya... dan kakek MuChin silahkan langsung saja... karena saya juga ada beberapa penyampaian kepada semua yang hadir saat ini", kata YoLang dengan sopan.
"Baik tuan muda... kami sudah mendapat beberapa keuntungan dari hasil penjualan pil yang tuan muda berikan... dan kami akan menyerahkan uang tersebut kepada tuan muda...", lapor kakek MuChin.
"Untuk para tetua ketahui... semua yang saya berikan adalah untuk kebutuhan Desa YaoYo juga Klan Mu... Nah... pergunakan semuanya untuk hal-hal yang bermanfaat dan mensejahterakan seluruh penduduk dan keluarga desa YaoYo ini", kata YoLang.
__ADS_1
"Terimakasih tuan muda... hanya itu yang akan kami tanyakan... dan sekarang silahkan dari tuan muda... kami akan mendengarkan...!", kata kek MuChin.