
"Bagaimana keadaan perguruan kita ini paman apa masih banyak murid yang berlatih...?", kata PiYo.
"Ya... masih seperti dulu hanya anak-anak dari desa Klentang saja... ada 25 anak-anak dan 10 orang pemuda dan belum ada dari luar desa yang ikut berlatih...!", kata pamannya.
"Ohh... begitu...! kira-kira apa masalahnya paman...? sehingga kurang peminat dari luar desa... apa didesa lain ada juga perguruan seperti kita...?", kata PiYo.
"Setahu paman di sekitar kota Sawang ini ada puluhan desa... dan hanya didesa kita ini yang punya perguruan untuk kalangan umum... karena perguruan milik para keluarga elit dikota hanya untuk anggota keluarga dan kerabatnya saja...!", kata paman Ratong menjelaskan.
"hmm... paman...! bagaimana kalau kita membuat pengumuman untuk menerima murid... dan pengumuman itu kita sebarkan kedesa-desa yang berada disekitar Kota Sawang... termasuk kota Sawang sendiri...!", kata PiYo menjelaskan rencananya.
"Idemu bagus juga nak... hanya bagaimana kalau peminatnya banyak sedangkan kondisi gedung perguruan seperti ini...? kalau masalah guru untuk melatih... paman rasa kakek nenekmu akan turun tangan... juga ayahmu dan paman-pamanmu yang lainnya pasti akan membantu...!", kata paman Ratong menjelaskan.
"Itu sudah pasti paman...! dan saya bersama sepupu-sepupu lainnya juga bisa ikutan membantu sebagai asisten pelatih...!", kata PiYo menambahkan.
"Hmm... otakmu memang cerdas nak...! hehehe... paman setuju dengan rencanamu itu...", kata paman Ratong.
"Nah... kalau paman sudah setuju saya akan membantu sepenuhnya...! pertama kita akan membangun gedung perguruan yang baru...! termasuk rumah tinggal paman... agar supaya ketika saudara Randang menikah rumah paman sudah siap menampung anggota keluarga yang baru...!", kata PiYo tersenyum sambil memainkan alis matanya.
__ADS_1
"Biayanya pasti sangat mahal nak...! paman tidak punya uang banyak untuk itu...!", kata paman Ratong.
"Tenang paman...! semua biaya pembangunan akan saya tanggung...! dan hal ini juga sudah saya bicarakan dengan istriku...! dan juga sudah saya konsultasikan dengan mandor yang sedang membangun paviliun saya...!", kata PiYo.
"Hmm... paman akan sangat berterimakasih... dan juga paman akan membantu sebisanya...! ", kata paman Ratong.
"Setelah paviliun saya selesai... mereka akan pindah ketempat ini untuk mulai melakukan pembangunan paviliun paman dan gedung perguruan Belati Emas yang baru...!", kata PiYo menambahkan.
"Baiklah... paman akan mengikuti seperti keinginanmu... dan juga berterimakasih karena akan membuatkan tempat tinggal yang baru...!", kata paman Ratong tulus.
Setelah bertukar pikiran tentang semua hal mengenai rencana pembangunan, mereka berdua beranjak meninggalkan gedung perguruan menuju kediaman keluarga paman Ratong. Diruang keluarga terlihat sudah duduk menunggu bibi Jamilah dan Randang dengan sepoci teh hangat...
"Ayo diminum tehnya nak PiYo...!", kata bibi Jamilah.
"Iya bibi... terimakasih...", kata PiYo.
Menjelang sore PiYo kembali kerumah dan seperti biasa membersihkan diri dan duduk minum teh hangat ditemani sang istri.
__ADS_1
"Bagaimana kabar paman Ratong dan bibi Jamilah suamiku...!", kata MaiLang.
"Mereka sehat-sehat saja dan menitipkan salam untukmu...?", kata Piyo.
"Bagaimana rencanamu membantu keluarga mereka...? apa paman dan bibi setuju...? ", tanya sang istri.
"Iya... mereka setuju dan mengucapkan terimakasih kepada kita... aku juga menyampaikan bahwa setelah paviliun kita ini selesai para pekerja akan langsung pindah kesana untuk melakukan pembangunan...!", kata PiYo menjelaskan.
"Baguslah...! tadi mandor pembangunan mengatakan kalau paviliun kita akan selesai tidak lama lagi... mungkin 20 hari lagi selesai katanya...", kata MaiLang.
"Ohh ya...! bagus sama dengan perkiraanku... tapi setelah paviliun selesai tetap masih ada beberapa pekerja yang tinggal untuk menyelesaikan gerbang dan pos penjaga... kemudian akan membongkar rumah lama kita ini...", kata PiYo menjelaskan.
"Suamiku...! nantinya aku ingin ada beberapa pelayan yang akan tinggal bersama kita... agar aku punya teman bicara jika kamu tidak berada dirumah...", kata MaiLang.
"Baiklah...! aku serahkan urusan itu kepadamu... pilihlah beberapa yang dapat dipercaya dan diskusikan dengan mereka masalah gaji bulanan mereka.... untuk urusan penjaga dan pengawal sudah diatur oleh ayah... kita tinggal pakai dan membayar gajinya nanti...", kata PiYo menambahkan.
Setelah bercengkrama dan makan malam berdua, MaiLang beranjak masuk kedalam kamar pribadi mereka kemudian beristirahat. Sementara itu PiYo bermeditasi seperti biasa sampai lewat tengah malam.
__ADS_1