
Ditepi danau terlihat 2 sosok sedang duduk menikmati makan siang mereka, aroma daging panggang terasa lezat dilidah membuat air liur menetes bagi orang yang menciumnya.
"Apa kau merasakan sesuatu muridku...?", kata sang guru.
"Benar guru... aku penasaran yang berada didalam danau ini...!", kata sang murid.
"Hmm... itu maksudku... kalau yang sedang bergerak mendatangi kita biarkan saja kalau perlu ajak mereka ikut makan siang bersama...", kata sang guru.
"Hehe... baik guru...", kata YoLang.
"Apa sebaiknya aku tangani mereka dulu guru...? biar tidak merepotkan...!", kata YoLang bersemangat.
"Terserah kamu saja... asalkan jangan sampai membunuh...!", kata gurunya sambil tiduran karena kekenyangan.
Beberapa saat kemudian datanglah 5 orang pria dewasa, berpakaian seperti pemburu dan masing-masing membawa senjata menatap YoLang dan berkata,
"Nak... sedang apa disini...?", kata orang itu.
"Ohh... maaf paman... aku pikir tidak ada orang disekitar sini...! eenn... aku dan kakekku lagi istirahat paman... kami dalam perjalanan keKota Banto...!", kata YoLang.
"Disini daerah berbahaya nak... lebih baik cepat kamu bawa kakekmu pergi...!", kata sosok tersebut.
"Nah... itu masalahnya kakekku kelelahan dan itu... lagi tertidur aku kasihan padanya paman...", kata YoLang.
"Hahh... cepat pergi...!", kata yang lain.
"Ehh... periksa dulu siapa tau mereka membawa barang berharga...?", kata yang lain lagi.
"Ahh.. tidak perlu mereka hanya orang biasa dan sederhana lihat saja penampilan mereka...", kata pemimpin kelompok itu.
"Ada apa paman...? hehehe... itu paman masih ada 2 potong daging panggang bisa dibagi berlima... ambilah kami sudah kenyang...", kata YoLang menggoda.
"Ya bolehlah... silahkan istirahatlah sebentar disini... setelah itu langsung pergi ya...?", kata sang pemimpin sambil ikut duduk dan membagikan potongan daging panggang keteman-temannya.
"Beres paman...!", kata YoLang singkat.
"Mmm... kayaknya mereka ini adalah para bandit yang menguasai kawasan Danau Es... tapi mereka orang baik... hanya tutur katanya saja yang agak kasar... tingkat merah sampai coklat... lumayan juga... tapi kenapa...?", kata YoLang dalam hati.
"Paman... tinggalnya di sekitar sini ya...?", tanya YoLang.
"Hei... buat apa kamu tanya tanya hah..? cepat pergi kalau sudah selesai istirahatnya...!", kata orang itu dengan kasar.
"Maaf paman...! kan saya hanya bertanya sedikit... hehehe... jangan terlalu serius paman... nanti cepat tua lho...!", kata YoLang.
"Ehh... anak kecil... bisa diam tidak...!", kata yang lain.
"Sudahlah... habiskan makan kalian dan kita tinggalkan mereka... kita kembali kemarkas dan laporan kepada Boss...!", kata si pemimpin.
"Baik kakak...!", jawab yang lain.
"Nak... segera pergi ya...? kalau sudah cukup istirahatnya...", kata sang pemimpin.
__ADS_1
"Baik paman...!", kata YoLang.
5 menit kemudian kelima bandit itu meninggalkan YoLang setelah melihat target mereka orang biasa yang tidak mempunyai barang berharga, mereka tidak tau isi cincin jiwa milik YoLang ada gunungan koin emas dan harta tak ternilai lain didalamnya.
"Guru aku akan memeriksa kedalam danau...!", kata YoLang.
"Hmm... aku akan menyusulmu... pergilah...!", kata sang guru.
"Baik guru...", kata sang murid kemudian dengan perlahan menuju danau dan mulai menyelam.
Dengan kesadaran spiritualnya YoLang menuju titik dimana dia merasakan pancaran energi yang kuat, dikedalaman 120 meter terlihat sebuah batu bercahaya biru keemasan dan ketika mendekat YoLang merasakan kandungan energi yang kuat dari dalam baru tersebut.
"Ambil batu itu... dan ikuti aku...!", kata gurunya yang sudah ikut menyelam dan berbicara menggunakan teknik mengirim suara
YoLang hanya bisa mengangguk didalam air tanda mengiyakan.
Beberapa menit kemudian dia melihat sebuah lobang besar didinding danau, mereka memasuki lobang tersebut kemudian 3 meter berenang mengarah atas...
Byuuurrrr...
Dua kepala menyembul kepermukaan, ternyata didalam danau ada terbentuk sebuah gua dan luasnya cukup besar,
"Muridku...! batu ini dinamakan batu 'Inti Api Es'... batu ini terbentuk dalam kurun waktu jutaan tahun... kemungkinan dulunya danau ini adalah sebuah gunung berapi kemudian meletus dan berubah menjadi danau es...!", kata sang guru menjelaskan.
"Seraplah kandungan energi dari batu itu... khasiatnya akan meningkatan energi Yin dan Yang yang kau miliki... juga akan menambah tingkat kekuatan Energi Spiritualmu... mudah-mudahan bisa naik sampai 1 tingkat...! mulailah aku akan menjagamu disini...!", kata sang guru menjelaskan.
"Baik guru...", katanya kemudian mulai bermeditasi dan menyerap kekuatan energi dari batu 'Inti Api Es' tersebut.
Sehari telah lewat tapi kapasitas energi dalam batu Inti Api Es itu belum setengahnya habis terserap, dan YoLang masih khusuk dengan meditasinya dan...
Bhuumm.....
Bhuumm....
Terdengar 2 kali ledakan energi dari dalam tubuhnya, pertanda kenaikan 2 tahap tingkatan kekuatannya sekarang berada pada tingkat Raja Akhir. YoLang masih terus menyerap, dia tidak khawatir karena pondasi kekuatan tubuhnya sangat kokoh. 2 hari kemudian kembali gejolak energi yang meledak-ledak terjadi didalam Danau Dantiannya,...
Bhuumm.....
Bhuumm.....
Kembali naik 2 tahap membuat saat ini YoLang berada di tingkat Kaisar Awal. Selama 3 hari dia menyerap seluruh kandungan energi dari batu Inti Api Es tersebut, kemudian dia mulai menstabilkan kekacauan aliran energi dalam tubuhnya dan terlihat danau Dantiannya semakin meluas juga merasakan peningkatan kekuatan elemen-elemen Api dan Es miliknya dan 2 jam kemudian dia berdiri dan melemaskan otot-ototnya.
"Bagus muridku...! peningkatan yang sesuai perkiraanku... hehe... ayo kita lanjutkan perjalanan kita yang sudah tertunda...!", kata sang guru.
"Tapi bagaimana dengan bandit-bandit itu guru...?", tanya YoLang.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap mereka...?", kata sang guru.
"Begini guru... dari yang kulihat... pada dasarnya mereka orang baik dan mereka semuanya berasal dari kota Lamur... mereka menjadi perampok karena terpaksa melakukannya... ada yang hanya ikut-ikutan saja... ini mungkin karena terdesak oleh tuntutan hidup mereka...! seperti yang lain akhirnya mengambil keputusan pindah dari kota itu...!", kata sang murid menjelaskan.
"Hmm... terus apa tindakanmu...?", tanya sang guru.
__ADS_1
"Saya juga melihat mereka masih bisa disadarkan dari perbuatan jahatnya... jadi saya bermaksud membantu mereka kembali kejalan yang lurus... bahkan akan membantu penduduk yang lain... bagaimana guru...?", kata sang murid menjelaskan.
"Ya... terserah kamu... itu idemu...?", kata gurunya sambil tersenyum karena bisa membaca pikiran muridnya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua melesat keluar dari dalam danau Es dan menuju markas para bandit itu, sesampainya mereka di markas bandit, terlihat sekelompok orang yang sedang duduk kemudian melihat kedatangan YoLang dan gurunya segera mereka bergerak menyambut dengan menghunus senjatanya....
"Berhenti...! mau apa kalian kesini...? apa kalian mata-mata pemerintah kota Lamur...?", kata seorang bandit.
"Maaf paman... kedatangan saya kesini ingin berbicara dengan pemimpin paman disini...", kata YoLang.
"Hei... anak kecil mau mengantar nyawa kesini ya...! hahaha...", kata bandit yang lain.
"Diaaammm...! kalian semua...!", suara keras terdengar dari dalam pondok.
"Bawa kedua orang itu kesini...", kata suara keras itu lagi.
"Baik boss...!", kata salah satu bandit.
Dengan siaga YoLang mengikuti para bandit menuju pondok dimana suara keras tadi terdengar, kemudian YoLang dan gurunya berdiri didepan pintu pondok itu.
Krriiieeekkkk....
Pintu pondok terbuka dan keluarlah seorang pria dewasa, berotot kekar, tinggi 180 cm dan berkumis tebal tapi terlihat pucat seperti sakit.
"Siapa kalian...!", kata sosok tersebut.
"Maaf paman... namaku YoLang dan ini kakekku Yao... kami dari daratan tengah sedang menuju kota Banto menemui kerabat kami disana...", jawab YoLang.
"hmm... apa maksudmu anak kecil... ingin menemuiku...?", kata bos bandit itu.
"Sebelumnya maafkan saya paman... sepertinya paman sedang sakit...? apakah aku boleh memeriksa tangan paman...?", kata YoLang.
"Tahu dari mana kamu anak kecil... apa tidak kamu lihat saya bicara yang keras dan masih bisa berdiri...?", kata bos bandit sepertinya membantah.
"Mmm... saya bisa melihat... paman terluka sebelumnya dan mengeluarkan banyak darah... jadi paman kekurangan darah dan luka paman belum sembuh... kalau tidak diobati akan membahayakan jiwa paman...!", kata YoLang menjelaskan.
"Apa kamu seorang tabib kecil...? atau kakekmu itu...?" tanyanya kemudian.
"Saya bisa sedikit mengobati paman... dan saya juga membawa obatnya...!", kata YoLang.
"Ahh... coba kesini dan periksa...! dan kalian lanjutkan pekerjaan kalian jangan ganggu kami...!", kata si boss bandit.
"Baik boss...!", jawab mereka serempak.
YoLang mendekati boss bandit tersebut dan mulai memeriksa denyut nadinya,...
"Paman bisa buka bajunya saya mau memeriksa luka paman...!", kata YoLang.
"Mmm....", si boss bandit bergumam sambil membuka bajunya.
"Baiklah... paman sudah selesai silahkan paman pakai kembali bajunya...", kata YoLang.
__ADS_1
"Dan ini obatnya... ini untuk menyembuhkan luka paman... dan ini untuk mengembalikan stamina akibat kekurangan darah... keduanya diminum dengan air hangat... masing-masing 1 butir sehabis makan pagi dan malam... dan yang ini paman minum sekali sehari jika paman merasakan demam...", kata YoLang menjelaskan sambil menyerahkan 3 botol giok berisi pil.