Titisan Dewa

Titisan Dewa
Gelap di Siang Hari


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu, paviliun keluarga PiYo, paviliun keluarga paman Ratong beserta beberapa bangunan besar dan kecil perguruan Belati Emas telah selesai dibangun, demikian juga dengan perekrutan murid baru 'Perguruan Belati Emas' sudah dilakukan dan tidak kurang dari 500 murid telah diterima dan tinggal didua gedung asrama perguruan tapi ada juga puluhan murid yang memilih untuk tetap tinggal bersama keluarga mereka.


Kakek Surapong dan nenek LinMei menjadi pelindung perguruan, paman Ratong sebagai Pemimpin/Ketua Perguruan, Putong ayah PiYo serta para paman dan bibi ditunjuk sebagai tetua perguruan. Adapun PiYo dan tiga sepupunya menjadi Guru/Pelatih disamping para tetua, sedangkan untuk pelindung perguruan dan Ketua perguruan bisa memilih murid pribadi.


Dengan adanya 'Perguruan Belati Emas', membuat keadaan desa Klentang bertambah makmur karena banyak kedai makan, toko toko menjual pakaian, perlengkapan rumah tangga yang berdiri, serta yang membuat daya tarik adalah toko obat milik perguruan yang dikelola oleh keluarga paman Roulang. Toko obat ini selain menjual bermacam macam Pil obat dan herbal untuk umum juga untuk menyediakan kebutuhan perguruan, hal ini tidak lepas dari peran paman Roulang yang seorang alkemis tingkat ahli.


Walaupun tingkat kesibukan di perguruan dan keseharian sebagai petani, PiYo dan ketiga sepupunya tetap melakukan perburuan setiap dua bulan sekali dan hasil daging perburuan tidak dijual lagi kekota tapi digunakan untuk kebutuhan perguruan dan penduduk desa.


Siang itu PiYo baru selesai memberikan latihan penguatan tubuh kepada para murid dilapangan latihan, sebanyak 50 orang murid tingkat putih diberikan teknik-teknik dasar yang bertujuan untuk melatih otot dan tulang dengan cara berlari keliling lapangan latihan sambil mengangkat dan menarik berbagai macam beban.


Tuan... tuannn... tuannn...


PiYo terkejut mendengar teriakan seorang perempuan yang sedang berlari menuju kearahnya...


"Ada apa bi Lisa...? kenapa berlari seperti dikejar setan...? pelan-pelan dan bicaralah dengan tenang...!", kata PiYo mendapatkan kepala pelayan dipaviliunnya yang sudah berumur 40 tahun.


"I... itu tuan... nyonya berteriak kesakitan tadi... dan menyuruh saya untuk menyusul tuan agar segera pulang...!", kata bibi Lisa sambil mengatur pernapasannya.


"Apa....!!! ayo bi... ikut saya...!", kata PiYo kemudian bergegas menuju kereta kuda miliknya diikuti sang pelayan.

__ADS_1


Dengan cepat PiYo memacu keretanya yang ditarik 2 ekor kuda menuju paviliun miliknya, sementara itu di perguruan seorang murid memberitahukan berita tersebut kepada tetua Putong. Segera aktivitas diperguruan Belati Emas terhenti karena beberapa tetua meninggalkan perguruan menuju paviliun keluarga PiYo, ayah dan ibu PiYo (Putong dan Muning), paman Roulang serta Bua, paman Builang dan bibi Sailong (ayah dan ibu Tulong) dengan menggunakan kereta kuda milik mereka masing-masing.


Sesampainya rombongan itu dipaviliun milik PiYo, segera mereka bergegas turun dari tiga buah kereta kuda selanjutnya memasuki paviliun dan mendapatkan MaiLang yang sedang terbaring gelisah diatas tempat tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat kemerah-merahan seperti tomat masak dan terlihat cemas menahan sakit, terbaring diatas tempat tidur yang ditemani sang suami dan dua orang pelayan yang sedang memijat kaki nyonya mereka...


"Kenapa menantuku...? apa kamu terjatuh...?", tanya Muning ibu mertuanya penuh selidik.


"Ti... ti... tidak bu... tadi habis makan buah mangga tiba-tiba perut saya terasa sakit sekali seperti teriris-iris...!", keluh MaiLang kesakitan sambil meremas pinggang dan mengelus perut buncitnya bergantian.


Segera paman Builang sang tabib mendekat dan memeriksa keadaan MaiLang, tangan dan leher serta beberapa bagian tubuh disentuhnya.


"mmm... sejak pemeriksaan pertama menurut perhitunganku kandungamu saat ini sudah 7 bulan lebih sedikit... istirahatlah akan kubuatkan resep obat pereda rasa sakit...!", kata paman Builang.


"Terima kasih paman...", kata PiYo kemudian membelai rambut istrinya.


"Saudara Roulang tolong kau racik obat ini biar aku menemani PiYo disini...", kata paman Builang.


"Baik...! nak PiYo... dimana tempat penyimpanan herbal kalian...", kata paman Roulang.


"Digudang paman...! bi Lisa... tolong antarkan paman Roulang kegudang penyimpanan tanaman herbal...", kata PiYo.

__ADS_1


Kesibukan terus berlanjut dipaviliun keluarga PiYo, beberapa kerabat dekat termasuk kakek neneknya juga datang. Tanpa mereka sadari suasana langit diluar paviliun mulai berubah, siang hari dengan cuaca panas terik berubah menjadi seperti sore hari dan perlahan terlihat matahari mulai tertutup oleh sesuatu benda berwarna kehitaman-hitaman. Sepuluh menit telah berlalu dan didalam kamar pribadi terlihat MaiLang semakin gelisah karena merasakan sakit yang berulang-ulang setiap 2 sampai 3 menit, PiYo dan paman Builang terus mendampingi MaiLang yang kesakitan sambil terus memeriksa keadaan MaiLang. Kemudian beberapa saat sang tabib berkata...


"Pelayan... segeralah masak air dan bawa kesini...!", kata paman Builang sambil menatap kearah PiYo.


"Nak...! istrimu akan segera melahirkan... tetaplah tenang...! pamanmu ini akan mengurusnya...!", kata paman Builang.


Kemudian paman Builang meminta untuk mengosongkan kamar pribadi itu yang menyisakan sang Tabib (paman Roulang), Muning (ibu PiYo), LinMei (nenek PiYo) dan MaiLang sendiri. Sementara itu diluar terlihat langit mulai gelap padahal hari baru menjelang siang, sementara itu didalam kamar MaiLang yang terbaring gelisah sedang menahan rasa sakit karena dari antara kedua pahanya mulai keluar cairan bercampur darah yang deras mengalir keluar membasahi kasur. Tepat tengah hari langit menjadi gelap seperti malam hari dan tiba tiba...


Jjeeedddeeerrr...


Suara petir yang sangat keras menggelegar dari atas langit Desa Klentang yang bersamaan dengan terdengar nya suara dari dalam kamar pribadi PiYo...


Ooo... oooeeekk... ooo... oooeeekk...


Suara tangisan bayi yang keras terdengar dari dalam kamar. Diluar kamar PiYo dan kerabat dekatnya dengan wajah serta perasaan gelisah seketika tersentak mendengar suara petir dan tangisan bayi secara bersamaan.


Krriiieeeek...


Suara pintu kamar terbuka bersamaan keluarnya paman Builang...

__ADS_1


"Selamat nak PiYo...! putramu sudah lahir dengan selamat dan sehat...! begitu juga dengan ibunya... tunggulah beberapa saat... karena nenek dan ibumu sedang membersihkan putramu dan MaiLang...", kata paman Builang yang barusan keluar dari dalam kamar.


"Hahaha...! akhirnya aku menjadi seorang ayah...!", kata PiYo senang kemudian menerima ucapan selamat dari seluruh kerabatnya yang berada diluar kamar pribadinya.


__ADS_2