
Vanesa mengeluh saat isi dompetnya mulai terkuras untuk bea makannya sehari-hari. Ia harus sabar dan menunggu hingga ada panggilan wawancara di salah satu perusahaan yang ia lamar.
"Duit segini mana cukup," keluhnya. Diam-diam gadis itu bersyukur bahwa dia bukanlah gadis yang gila make-up, walau tak berhias pun ia tetap rupawan. Memang tercipta sempurna dengan wajah bulat mungil dan bibir yang merona.
Sesuatu melintas di hadapannya, membuatnya berbalik dan segera bangkit dari duduknya di kasur. "Apa itu?" gumamnya. Ia tidak mengerti dan tidak ingin mengerti sebab takut. Mencoba menghilangkan resah dalam diri, kembali fokus mengira perhitungan bulanan belanjanya. Kini bayangan itu melintas lagi, membuat Sabita alias Vanesa terjingkat dan segera meringsut di ujung kasur.
"Siapa kamu?"
Angin menerpa wajahnya, ia segera memandang kipas angin di ujung ruangan, memastikan bahwa angin itu datang dari benda itu, namun ternyata benda itu pun mati bahkan colokan listriknya tidak tersambung sama sekali.
"Aku ingin masuk!"
"Masuk?" gumam Shabita. Ia sempat berkerut dahi, namun kemudian mengerti dan langsung menjauh dari tempat tidur. "Tidak! Aku bukan rumah!" tolaknya tegas. Memandang ke segala penjuru.
Tok, tok, tok! Pintu diketuk oleh oran luar. Shabita segera memandang dan berlari cepat membuka pintu kamarnya. Dilihatnya seorang pelayan membawa surat. Tanpa suara setelah memberikan itu pelayan langsung pergi.
"Dasar bisu," ejek Shabita kesal. Surat dibuka dan dibaca, "Anda bersedia datang ke caffe kami, kami tunggu segera malam ini pukul 7 malam." Shabita segera memandang jam dinding dan betapa terkejutnya saat sadar bahwa jam dindingnya menunjukkan pukul 16:00. Azan Magrib mulai terdengar dari Masjid di sekitar penginapan. Ia segera membersihkan diri dan bersiap. Lehernya berdarah lagi. Nyeri sekali hingga gadis itu mencari lakban di dalam laci meja rias dan melakban lehernya kuat-kuat. Walaupun darah masih merembes keluar dari sela isolasi, tetapi ini cukup mampu menahan agar dirinya terkontrol dengan baik.
Jangan kurung aku dalam sini! Aku mau makan! Suara Kuyang itu memenuhi pendengaran Shabita. Gadis itu tidak ambil peduli, ia sekarang mencari kain panjang untuk membebat lehernya agar mambu menampung darah yang merembes tadi.
Di sebuah caffe Shabita berdiri diam bak patung. Ia heran dengan caffe itu. Begitu ramai dan aneh, semua bercanda tawa dan tidak setenang caffe biasanya. Perempuan di sana juga memakai pakaian minim atas lutut. Sungguh ia terpukul sekali, padahal di majalah online yang disiarkan lewat media sosial memiliki persyaratan: rapi, santun, menarik, sopan. Kenyataan malah berbalik seratus persen. Memikirkan saja muak apalagi menjalani. Tetapi sudah kepalang basah. "Tak mengapa, mungkin aku bisa minta jadi tukang cuci piring aja," ucapnya pada diri sendiri.
Seorang pemuda datang memandangnya dengan penuh pesona. Dilihatnya Shabita dari segala sisi. "cantik" satu kata yang paling tepat untuk mengambarkan gadis di hadapannya. "Kamu Shabita?"
Shabita mengangguk, merasa risih dengannya. Ada beberapa orang yang memandang nakal pada gadis itu kemudian berlalu.
"Ikut saya," ajaknya. "Nama saya Candra," katanya sambil berjalan diikuti Shabita dari belakang.
Shabita mengikuti sambil sesekali waspada takut dilecehkan oleh penghuni caffe yang menatapnya dari tadi.
"Tugas kamu cuma mengantar minuman. Setelah itu tidak adalagi," kata Candra. Pemuda yang dikisar berusia dua puluh tujuh tahun itu menunjukkan dapur pada gadis itu. "Jek!" panggilnya pada pelayan berbaju hitam saat pelayan itu akan mengantar minuman.
"Ya, Pak!" sahut Jek.
"Berikan minuman ini padanya!" perintah Candra.
Shabita menerima nampan berisi minuman dari Jek dan memandang Candra.
__ADS_1
"Ke nomor berapa tadinya?" tanya Candra.
"Nomor tiga," jawab Jek.
"Sekarang bawa itu ke nomor tiga!"
perintah Candra.
Shabita hanya mengangguk dan akan segera pergi. Candra meraih bahunya, Shabita sempat kaget dan ingin menghindar.
"Pakai seragam dulu," sarannya sambil menyerahkan seragam itu.
Shabita menghela napas sambil tersenyum, menyadari kebodohannya. Ia terlalu curiga. Setelah berganti gadis itu meraih nampan yang berada pada pelayan tadi dan segera pergi menuntaskan pekerjaannya. Candra memerhatikan dari jauh.
"Hey, anak baru ya? Baru muncul," tegur seorang gadis manis berpakaian minim dengan banyak darah di tubuhnya.
Shabita sempat tersentak, tetapi segera bersikap normal kembali karena sebagian pengunjung menatapnya. "Ini silakan," kata Shabita pada tamu bangku nomor tiga.
"Hey, apa kamu bisa melihatku?"
"Ada pesanan lagi," tegur Candra.
Shabita segera pergi lagi dan mengantar pesanan. Dua lelaki sedang asyik berbincang sambil tertawa membicarakan hal yang tidak semestinya didengar oleh orang lain. Terkesan no moral. Kenapa urusan rumah tangga mereka bongkar, sih.
"Kamu kan tahu, Lan. Biniku itu jelek, bau dan suka marah! Aku mau yang baru, Lan!"
"Biniku apalagi tiap hari cuma ngeluh. Aku tuh maunya bini kerja aku yang di rumah."
"Kau di rumah ngapan, Lan?"
"Diamlah nunggu nasi masak sama uang beli minuman!"
"Jadi kau tidak kerja?"
"Ngapain! Dia yang harusnya masak, cuci baju, cuci piring, jaga anak dan layani aku. Pokoknya aku maunya kayak raja! Makan-tidur!!"
"Wadduh! Enak betul. Aku juga mau, Lan. Biniku sekarang udah malas tidak mau masak kalau tidak diberi uang. Padahal kita kerja capek, eh, enak aja mau minta uang. Sial, kan?"
__ADS_1
Shabita hanya menaruh minuman di atas meja mereka sambil menelan rasa jengkel dalam hati, bagaimana tidak. Orang di depannya tidak bisa dikatakan lumayan, bahkan terlalu buruk. Dekil, jorok, bau ditambah lagi mulutnya yang membuat gatal tangan ingin menampar.
"Silakan diminum," ujar Shabita. Ia ingin pergi namun kedua lelaki beristri namun tak mau mensyukuri itu malah mencegahnya dengan memegang erat lengan Shabita.
"Cewek cantik, mau temani Abang?" godanya.
"Maaf, Bang. Saya sedang sibuk," tolak halus gadis itu sambil melepas lengannya.
"Temani, dong." Tangannya kembali diraih Lan si Alan tadi.
"Saya--"
"Udah jangan nolak. Kita ada uang lebih, kok. Buat bayar kamu."
Shabita geram tangannya tanpa sadar bergerak menampar Alan. Suaranya nyaring hingga pengunjung caffe terdiam dan menonton mereka. Candra segera berlari mendatang mereka. Melihat wajah Alan yang merah menahan malu serta marah, ia hanya meminta maaf dan membujuk Alan agar tidak marah lagi.
"Dia anak baru. Tolong dimaklumi," kata Candra.
Alan mengusap kedua ujung bibirnya yang berdarah kemudian berbisik pada Candra. Shabita penasaran apa yang kedua lelaki beda usia itu bincangkan.
"Maaf, tidak bisa," kata Candra. "Yang lain saja tapi bukan dia."
Alan geram. "Aku akan menuntut kalian!" ancamnya.
Candra mulai geram, tetapi ditutupinya. Ia berbisik pada gadis itu. "Dia mau kamu," ucapnya.
Shabita langsung menatap Candra, tidak percaya dan mundur perlahan. "Saya berhenti!" Segera berlari.
"Hey!" Alan tidak terima dan akan mengejar, tetapi usahanya dicegah Candra. "Mau apa?"
"Kalau kamu begitu saya bisa saja menuntut kamu dengan tindakan pelecehan!" ancam Candra.
Alan dan temannya diam tidak berkutik sementara Shabita membuka seragamnya dan menitipkannya pada meja pos penjagaan.
"Ini?" tanya Satpam heran.
"Tolong berikan ke bosmu itu!" perintah Shabita dengan emosi. Ia segera pergi.
__ADS_1