TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
34 RENCANA SAMMA


__ADS_3

Sepulang dari kerja, Shabita segera mengganti bajunya dan ikut Anggara ke pengajian Ustadz Zakaria. Gadis itu makin rajin menjalankan ibadahnya, terkadang Anggara juga ikut mengaji bersamanya.


"Sepulang mengaji, aku tidak bisa menemani Van. Soalnya ada kasus serius di kota," kata Anggara.


"Kasus apa?" tanya Shabita.


"Teror Kuyang. Aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini banyak kejadian kayak gitu?" kata Anggara seraya mendesah.


"Kami harus patroli untuk keamanan warga di sana," tambahnya lagi.


"Gak papa, deh." Shabita berusaha memaklumi pekerjaan Anggara. "Lagipula Toni sudah tidak adalagi," tambahnya.


"Sorry, ya. Aku enggak bisa berada di sisimu malam ini," kata Anggara.


Shabita tersenyum. "Kata Endraw, kita nikahnya kapan. Soalnya dia curiga kita ngapa-ngapain di dalam satu kamar," kata Shabita diselingi tawa geli darinya.


"Ngapain gimana, orang aku gak pernah ngapa-ngapain kamu. Dasar bapak satu itu," ucap Anggara dengan nada kesal.


Shabita tertawa ketika melihat wajah masam Anggara yang menggemaskan. Itulah percakapan mereka


tadi ketika dalam perjalanan menuju sebuah Masjid di depan gang penginapan mereka.


Zakaria memandang  Shabita diam-diam saat gadis itu mengaji, sesekali ia mendesah lalu mengalihkan pandangannya kepada yang lain. Ada Anggara di sana yang selalu setia bersamanya. "Kapan kalian akan menikah?" tanya Zakaria saat mereka telah selesai mengaji. Ia bertanya seperti itu dengan suara pelan.


Shabita memandang  Anggara, ia ingin Anggara yang menjawab pertanyaan itu. Anggara hanya diam saja, tidak merespons pandangan Shabita dan pertanyaan Zakaria. Akhirnya Shabita yang mengalah dan menjawab pertanyaan itu. "Secepatnya," jawabnya.


"Yuk, pulang!" ajak Anggara dengan sikap dinginnya.


"Aku permisi," pamit Shabita pada Zakaria.


Shabita mengejar Anggara yang sudah berjalan ke motornya. "Tunggu Anggara!" seru Shabita. "Kok  kamu gitu, diam saja pas ditanya tadi?"


"Malas ditanyain sama tukang ikut campur urusan orang," jawab pemuda itu.


"Apaan, sih?" protes Shabita.


"Dia tuh, naksir kamu. Masa enggak nyadar," sidir Anggara.


"Kamunya aja yang terlalu cemburuan," singgung Shabita sembari naik ke motor Anggara.

__ADS_1


Anggara tidak membalas, ia hanya diam saja seraya menjalankan motornya. Antara rumah dan Masjid


tidaklah jauh, hanya berjarak 200 meter dari penginapan Shabita. Itulah sebabnya sekali jalan mereka sudah tiba di rumah.


"Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa telepon aku," pesan Anggara saat ia telah mengantar Shabita di depan kamarnya.


"Siap, Bos." Shabita tersenyum saat kepalanya diusap Anggara.


Shabita baru akan masuk  saat Anggara pergi. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan, gadis itu langsung memandang ke sana-kemari, namun tidak ada apa-apa di  sekitarnya. "Apa tadi, kok perasaanku aneh?" gumamnya.


Sesuatu melesat begitu cepat ke arahnya. Shabita tersentak saat benda itu menembus tubuhnya dan menghilang begitu saja. Apa tadi?!  Shabita berbalik ke belakang dan memerhatikan tembok di belakangnya. Tanpa sadar ia mengusap tengkuknya yang merinding dan menelan ludah. Dadanya  turun-naik, karena menahan ketengangan di hatinya. Matanya mengawasi setiap pintu-pintu bangsal di dekatnya.


"Uwee! Uweee!!" Suara tangisan bayi terdengar memenuhi lorong bangsal penginapan itu.


Shabita sadar suara  tangisan bayi itu menandakan adanya sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak bisa diam saja mendengar suara tangisan  itu, sebagai seorang dokter, ia juga memiliki kewajiban untuk menyelamatkan nyawa yang tidak berdosa.


"Endraw! Buka pintumu!" Shabita mengetuk dengan keras pintu itu.


"Ada apa?" tanya Endraw saat pintu telah dibuka olehnya.


Shabita memandang bayi yang digendong Endraw. "Jaga baik-baik anakmu," pesan Shabita. Setelah


"Tolong! Tolong! Ada Kuyang!" teriak seorang istri dari lelaki yang pernah ditolongya dulu.


Shabita segera berlari mendatangi kamar itu. Kebetulan pintu kamar mereka tidak terkunci, sehingga dengan mudah ia masuk ke dalam. Kuyang sedang mendekati bayi yang digendong ibunya. Sang ibu sangat ketakutan dan tidak ada suaminya di sekitarnya. "Pergi!" usir Shabita.


"Kamu selalu menjadi penghalangku, Shabita. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Akan kuhabisi kamu!" ancam Kuyang itu.


"Pergi!" Shabita merentangkan kedua tangannya untuk melindungi ibu dan bayinya.


Kuyang itu terkikik kemudian menghilang dari hadapan mereka. Bayi yang menangis tadi berhasil didiamkan oleh Shabita melalui lantunan shalawat nabi. Sementara di tempat lain, Kuyang itu melesat terbang ke rumah Samma dan mengadu pada gadis itu tentang Shabita.


"Gadis itu bukan gadis biasa. Ada yang sepertiku di dalam tubuhnya," adunya.


Samma memandang heran pada Kuyang Sukma yang sekarang melayang di atas tubuhnya sendiri.


"Maksudmu ... gadis itu juga Kuyang?" tanyanya sedikit meragu.


"Ya, dan aku tidak sanggup melawannya karena ia juga memiliki iman yang cukup mampu untuk membuatku takut." Kuyang Sukma memandang majikannya yang sedang berjalan mondar-mandir seperti sedang berpikir.

__ADS_1


"Lalu bagaimana caranya agar kita bisa membalas dendam?" tanya gadis itu.


"Aku harus membawa tubuh Sukma bersamaku. Dia hanya bisa dilawan dengan tubuh manusia," saran Kuyang Sukma.


"Bagaimana caranya?" tanya Samma antusias sekali. Matanya nanar menatap mata Kuyang itu.


"Teteskan minyak Bintang itu ke mulut ibumu. Maka ia akan sakti, tidak mempan senjata dan bisa lenyap begitu saja. Aku akan semakin mudah menguasai ibumu untuk membunuh Shabita," katanya disertai kikikan menyeramkan.


"Ide hebat. Aku sering mendengar kesaktian minyak bintang ini dan sekarang waktu yang tepat kita harus mencoba itu semua. Hahaha!" tawa Samma dengan niat jahat di kepalanya. "Besok malam aku akan memberinya minyak itu. Sekarang kembalilah sebelum datuk tahu perbuatan kita!" perintahnya pada Kuyang Sukma.


Kuyang Sukma kembali ke tubuhnya dan merapat pada lehernya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Sukma


tidur dengan pulas tanpa dosa. Kini nasib Shabita ditentukan hingga esok hari. Samma tersenyum memikirkan bagaimana menyakitkan kematian Shabita nanti.


****


Pagi hari Shabita sudah berpakaian rapi, mengenakan kemeja hitam dan celana levi's hitam. Rok yang biasa dipakainya belum sempat dicuci olehnya karena terlalu sibuk jalan-jalan kemarin dengan Anggara. Saat membuka pintu kamarnya, ternyata pemuda itu telah berada di depan kamarnya.


"Yuk," ajak Anggara.


"Kamu, 'kan, semalaman sudah capek. Biar aku naik taksi aja," tolak gadis itu.


"Pulang dari mengantarmu, baru aku bisa istirahat. Ayo, mempung aku lagi mau ngantar nih," kata Anggara


Shabita tersenyum seraya mengikuti langkah Anggara yang berjalan lebih dulu darinya. Shabita diantar hingga di depan kantornya. Setelah mengusap rambut Shabita, Anggara kemudian pergi. Satpam yang melihat Shabita dengan Anggara tadi menggodanya dengan bersiul-siul. Shabita hanya tertawa sekilas seraya berlari ke dalam kantornya.


"Kenapa kamu lari-larian kayak orang gila sambil ketawa begitu?" tanya Chang saat ia melihat Shabita masuk mendahuluinya yang ingin masuk ke ruangannya.


Shabita tidak menjawab, ia segera duduk di kursinya dan terkikik sendiri seraya memandang handphone-nya. Kikikkannya seperti Kuntilanak, sehingga membuat Chang manampar mulut Shabita dengan map yang ada di meja Shabita sendiri.


"Apaan sih, Pak?!" protes Shabita marah karena ditampar oleh Chang.


"Seram sekali ketawamu itu, bikin saya merinding."


Shabita tertegun dengan teguran Chang padanya. Ia memijit keningnya yang bingung memikirkan tertawanya tadi. "Yang tertawa itu aku apa Kuyang di badan ini, ya?" gumamnya.


"Nah, sekarang ngomong sendiri. Apa kamu enggak ada kerjaan?" tegur Chang.


Shabita tersadar dari lamunan dan segera membuka program komputernya. Kembali fokus dengan

__ADS_1


pekerjaannya. Chang diam-diam memandang Shabita seraya tersenyum.


__ADS_2