TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
140


__ADS_3

Talia terjaga dari tidurnya. Ia gelisah kemudian menguap dan mengambil air mineral di dalam kulkas. Ia terheran saat membuka pintu. Merasa melihat sesuatu. "Dara?" Namun, setelah menutup pintu Dara tidak ada di sana. Untuk memastikan ia lantas menengok ke kamar. Dara tertidur pulas di kamar. Ia hendak berbalik, lantaran merasa ada yang hilang. "Ha?" Anggara! Ia segera menelepon Anggara yang memiliki jam malam di lapangan.


"Anggara, pulang segera!" Ia lantas mematikan hubungan telepon.


"Bro, aku pulang dulu. Ada urusan mendadak!" Ia berseru kepada Ali yang kini sedang bersandar pada mobil dinas.


"Oke!"


Anggara segera menjalankan mobilnya. Sementara Talia mengendap mencari-cari sesuatu. Mulai dari kolong hingga menyingkap selimut. Ia pandangi lagi Dara yang tertidur pulas. Motor Anggara terdengar. Talia segera membuka pintu.


"Kenapa bisa hilang?" Anggara segera masuk ke kamar. Ia bangunkan Shabita. "Ma, Lani mana?"


Shabita mengeliat, ia memandang Anggara dan Talia secara bergantian. "Di-eh! Mana?!" Shabita segera mencari-cari Lani. "Tadi kususui dia di sini!" Wajah cemas Shabita sangat pucat sekali.


"Kamu yakin tidak menaruh atau menitipkan anak kita?" tanya Anggara.


"Tidak, aku yakin di sini!" Shabita lantas berdiri. Ia bongkar semua kasurnya. Termasuk memindahkan Dara.


Anggara mengusap kepala, ia mendesah. Ingin marah rasanya, tapi masih sadar mana mungkin Shabita teledor dengan anak mereka. "Cari ke semua ruang ini!" Ia segera keluar kamar lebih dahulu. Mencari Lani.


Talia hanya diam, ia curiga pada Dara. "Ketemu?" tanya Talia saat mereka berkumpul di ruang tamu.


Tidak," jawab Anggara lemah. Ia terduduk di sofa.


Shabita menangis sejadi-jadinya sembari membongkar kamar. Ia merasa yakin Lani tidur di sampingnya. "Di mana dia? Lani!"


Anggara mendengar suara isak Shabita. Tidak tahan rasanya, ia pun berdiri dan merangkul istrinya. "Tenang, kita cari. Pasti dapat!"


"Aku yakin dia di situ! Aku nggak bohong!" Ia takut Anggara marah lantas meninggalkannya.


"Susst, cukup! Jangan panik dulu. Nanti kita cari, ya."


"Kamu pasti marah sama aku. Sumpah aku nggak sembarangan naruh dia!"


"Iya, sayang. Aku tahu. Kamu ibu yang baik dan sayang aku." Anggara lantas menuntun Shabita ke ranjang. "Jangan terlalu panik, lihat anak kita di sana. Dia juga perlu perhatianmu," tunjuknya pada Dara yang kini tertidur pulas. "Biar aku yang pusing, biar aku yang cari. Kamu urus Dara dengan baik."


Talia masih berpikir, ia berhenti saat Anggara kembali. "Mau ke mana?" cegahnya saat Anggara membuka pintu.


"Cari Lani."


"Aku curiga sesuatu, Anggara."

__ADS_1


Anggara berbalik, ia berkerut dahi lantas menghampiri Talia. "Ada apa?"


"Dara," bisiknya.


"Kamu ngaco! Mana mungkin anak kecil bisa membawa bayi seberat tiga kilo." Bantahan Anggara beralasan mengingat Dara adalah anak berusia empat tahun.


"Mungkin saja. Dia bukan anak biasa. Dara adalah sang Ratu."


Anggara memandang ke kamar. Ia kembali dan mendatangi Dara. Shabita melirik Anggara yang kini menggendong Dara. "Aku pinjam Dara," pamitnya.


"Mau dibawa ke mana?" Shabita berdiri mengejar Anggara.


Anggara tidak menjawab. Ia segera keluar begitu saja membawa Dara yang sedang tertidur. Talia mencegah Shabita mengejar.


"Dia ada urusan dengan Dara. Diam lah Sha, tinggallah di rumah. Aku pula akan menyusulnya."


"Tapi kenapa, apa yang terjadi? Apa karena Lani hilang kalian mau pergi semua? Aku salah apa?!" pekik Shabita. Ia terisak.


"Tunggu saja di rumah. Kami pasti kembali." Talia segera menyusul Anggara. "Kemarikan dia!" pinta Talia saat Anggara telah berada di luar komplek. Saat ini Dara berpindah padanya.


"Ke mana kita?" tanya Anggara.


"Kita bangunkan dulu anak ini!" Talia segera menaruh Dara di bangku dekat pohon. "Dara-Dara! Bangun!"


Anggara berjongkok di bawah Dara. "Lani di mana, sayang?"


"Lani, Dala nggak tahu!" jawab Dara cepat.


"Lani di mana, Dara?" tanya Talia.


"Enggak tahu!" sentak Dara. "Dala nggak tahu!"


"Lani, jangan bohong! Di mana dia?!" bentak Talia. Ia marah hingga matanya berubah merah.


"Takut!" Dara segera meringsut ke pohon."


Anggara menarik kuping Talia. "Sana! Bukan gitu caranya!" omelnya.


Talia mengomel panjang pendek sembari mengusap kupingnya yang panas. "Dara, sayang. Papa takut Lani hilang. Papa saayaang Lani, apakah Dara sayang Lani?"


"Cayang!"

__ADS_1


"Nah, sekarang maukah Dara bilang di mana Lani?"


"Dala taruh sama mama balu," jawab Lani.


Anggara dan Talia sama-sama menggumam, "Mama baru?"


"Iya, mama baru. Mama yang akan cayang dan lawat Lani!" Ia tersenyum manis pada Anggara.


"Mama siapa mama itu? Di mana dia tinggal, Nak?"


"Nggak boleh bilang. Lahacia katanya."


"Boleh, dong, papa tahu. Kan, kita bisa main ke sana."


Dara menggeleng kepala. "Lahacia! Dala janji!"


"Tapi-" Anggara tidak bisa menghentikan Dara yang segera berlari kembali ke rumah. "Dara!"


"Biar aku yang nasihati dia. Kamu hibur istrimu." Talia lantas mengejar Dara.


"Anggara!" Shabita segera berdiri dari kasur.


"Istrahat saja, sayang."


"Dara?"


"Sama Talia." Anggara menuntun Shabita kembali ke kasur.


"Lani gimana?"


"Nanti ku-usahakan cari bersama Talia. Kamu tenang saja."


"Gimana mau tenang! Lani masih menyusu, gimana kalau dia lapar, haus?!"


"Diamlah, sayang. Aku tambah pusing kalau kamu protes terus. Kamu bikin aku tambah setres!" Anggara menjauh dari Shabita. Ia diam di sisi sebelah sana.


"Aku cuma takut. Apa nggak boleh takut?" dalihnya.


Anggara melambai pada Shabita. "Sini" pintanya. Shabita segera menghampiri Anggara. "Kamu kira aku tidak? Lebih lagi aku, sayang. Hilang Lani bikin aku gila ditambah kamu begini tambah bikin aku gila. Aku nggak suka lihat kamu nangis, rasanya aku juga mau nangis."


Akhirnya mereka menangis bersama. Talia mendengarnya. Ia terenyuh mendengar suara memilukan tersebut. "Dara tega membuat mama-papa nangis? Dara lihat ke sana!"

__ADS_1


Dara diajak mengintip mereka. Dara diam, ia merangkul Talia. "Dala calah, ya, Kak? Dala bikin mama-papa angic!"


Talia tidak berkata apa pun. Ia mengendong Dara kembali ke sofa. Di sana Dara menangis dalam pangkuan Talia.


__ADS_2