TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
39 DATUK


__ADS_3

Datuk memandang pembaringan Sukma, saat ini putrinya telah kembali dan sedang beristirahat. Ia selimuti dan mengusap puncak rambut Sukma dengan sayang. Roh Sariani muncul saat ia akan berbalik.


"Siapa kamu?" tanya Datuk.


"Sariani."


"Mau apa kamu di sini?"


"Bisakah, Datuk membantuku?"


Datuk menatap Sariani heran dan berbalik ingin menjauh.  Sariani melesat langsung mencagahnya. "Orang yang menolong putrimu dalam bahaya. Satu-satunya jalan adalah kau harus membantuku, plis!"


"Mengapa kamu turut campur urusan mereka?"


"Semua berawal dariku dan anakmu. Mereka yang menyebabkan ini terjadi."


Datuk menatap mata Sariani, roh cantik itu nampak sangat muda dikisar baru berusia 25 tahun, tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu kini telah mencapai usia ratusan. "Berapa usiamu sekarang Sariani?" tanyanya agar tidak salah dalam bersikap.


Sariani tersenyum singkat. "Kau harus menghormatiku Datuk, bila kusebut usiaku saat ini."  ... "Seratus lima puluh tahun," balasnya kemudian.


"Maaf," kata Datuk hormat. "Apa yang bisa kubantu?"


"Ada pemuda bernama Anggara. Aku ingin kaumembantunya, beri dia penglihatan agar melihatku."


"Kenapa harus-"


"Vanesa hilang, gadis yang menolong Sukma hilang dan hanya bisa ditemukan olehmu dan dia. Oleh karena itu aku meminta bantuanmu." Sariani diam sejenak. "Hanya dia yang bisa kupercaya dan hanya kamu yang dekat dengan Samma, aku khawatir Samma akan membalas dendam pada Vanesa."


"Samma tidak mungkin balas dendam!" sanggahnya.


"Samma pengganti ibunya, dia akan menyerang Vanesa!"


"Tidak mungkin!" Datuk berbalik.


"Ya! Aku merasakannya." Sariani melesat maju dan menembus Datuk. "Kurasakan itu, saat ia mengincar Vanesa, di situ aku akan mengetahui di mana Vanesa berada." Sariani berbalik dan mengelilingi datuk.


Datuk marah, "Jaga ucapanmu! Cucuku tidak mungkin menggantikan ibunya!"


Sariani lenyap di saat Datuk mulai memuncak. "Agh! Aaaa!" Suara itu datang dari kamar Samma. Datuk segera berlari ke arah suara.


"Tidak! Aku tidak mau!" Samma menjerit kesakitan. Lehernya tergores, darah mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Gadis itu bergulingan di atas pembaringan sambil memegangi lehernya. "AGH!!"  Giginya mulai bertaring. Lehernya sudah terbuka sangat lebar, ia berteriak kesakitan. "Ibu! Datuk!"


"Samma!" Datuk segera berlari dan mendapati cucunya sedang berubah menjadi Kuyang. "Samma apa yang terjadi?!" tanyanya panik.


"Agh! Germ! Hihihihi ...."  Samma telah lepas kini melayang menembus langit-langit kamarnya.


"Samma!" Datuk berusaha mengejarnya.


Samma melesat tinggi, di waktu yang sama Anggara datang dengan mobilnya. Datuk berhenti memandang Anggara, pemuda itu heran melihat Datuk terlihat cemas dan seperti kelelahan. "Ada apa, kek?" tanya Anggra heran. Tidak tahu siapa yang ada di depannya.


"Tidak apa-apa." Menutupinya agar pemuda itu tidak tahu.


"Kakek tahu rumah Sukma?" tanya Anggara kemudian.


Datuk berkerut dahi. "Ada urusan apa putriku dengan polisi?"


"Saya Anggara," kata Anggara. Berharap Sariani telah sampai pada orang di depannya.


Datuk mendekati Anggara. "Dia datang meminta bantuanku, memberimu penglihatan untuk menatapnya."

__ADS_1


"Apa?" Anggara bingung. Si kakek langsung mengusap wajah Anggara. "Apa yang ..." Anggara tak jadi melanjutkan pertanyaannya. Ia heran melihat seorang perempuan berambut panjang, berpakaian putih sekarang berada di sampingnya.


"Aku Sariani," jawab gadis itu sebelum Anggara sempat melontarkan pertanyaan padanya.


Anggara memandang Sariani dan Datuk bergantian. "Untuk apa aku di sini?"


"Kamu sudah bisa melihatnya, maka kamu akan menuju gadis itu oleh petunjuknya. Kejarlah Samma sebelum terlambat!" Datuk berucap.


Sariani tersenyum dengan wajah pucat. " Ayo, Anggara! Sebelum Samma melukainya!" Sariani segera raib dan sekarang telah duduk manis di mobil.


Anggara masih bingung, ia menatap Datuk kemudian segera masuk ke mobil. " Ke mana kita?" tanyanya.


"Jalan terus, aku akan menunjukkan arahnya."


Samma melayang melintasi jalan besar dan sedang menuju ke pemukiman. Berbelok ke kiri dan terus lurus menuju desa terpencil. Berbelok lagi menuju hutan.


****


Shabita terdiam, duduk bersandar di bebatuan goa. Ia tidak memiliki apa pun untuk menghubungi orang di luar sana. Gadis itu mulai menangis, tangisannya tiba-tiba berhenti saat Toni datang membawa bungkusan untuknya.


"Makan," pinta Toni.


Vanesa berpaling. "Tidak!" balasnya seraya mengusap airmatanya.


Toni duduk di depannya dan mengusap airmata gadis itu. "Makanlah, sudah seharian ini kamu tidak makan," bujuknya.


"Aku mau pulang!"


Toni berdiri dan tersenyum. "Jangan harap," ucapnya. Kemudian mengunci Shabita kembali.


Shabita marah, ia berdiri dan melempar makanan yang diberikan Toni. "Aku benci kamu!"


Melesat lagi membuat Shabita berbalik. "Anggara!" pekiknya Senang. Memeluk pemuda itu sangat erat, meluapkan kerinduannya.


"Vanesa," ucap Anggara lirih.


"Aku takut, a--aku sangat takut!" isaknya.


Anggara melepaskan rangkulan Shabita, langsung menyambarnya dengan kecupan hangat. Tak peduli Shabita membalas cintanya atau tidak. Ia tak mampu membendung kekesalannya karena jauh dengan gadis itu. Shabita hanya menerima bibirnya dikecup Anggara.


"Hihihi...." Suara tawa mengagetkan mereka berdua. Anggara merangkul Shabita dan mengawasi ke sekeliling mereka. Bayangan hitam melesat dan membuat perhatian Anggara tertuju ke barat.


Shabita mencengkram baju Anggara. "Dia datang!" ucapnya lemah dengan nada tertekan.


"Siapa?" tanya Anggara. Pemuda itu fokus mengawasi.


"Awas di belakangmu!" seru Sariani. Arwah itu tiba-tiba berada di sana.


Anggara segera berbalik, tetapi belum sempat ia berbalik lengannya telah digigit Kuyang Samma.


"Aaa!" Shabita berteriak histeris.Anggara langsung tumbang. Shabita berlari menangkap Anggara. "Anggara! Anggara!" Sambil mengguncang tubuh pemuda itu.


"Gigitannya beracun," terang Sariani.


Shabita berlinang airmata memandang kekasihnya yang berdarah dan tak sadarkan diri. Ia menatap tajam pada Samma yang melayang tinggi dengan mata merah. "Siapa kamu?!" teriak gadis itu marah.


"Hihihihihi. Aku adalah Kuyang yang berdiam di tubuh Sukma!"


Shabita meletakkan perlahan tubuh Anggara dan berdiri. "Sariani, bagaimana ini?"

__ADS_1


"Dia harus menghisap racunnya kalau tidak Anggara akan pergi selamanya," jawab Sariani.


"Jangan harap!" Samma melesat menyerang Shabita.


Gadis itu menghindar cepat, karena tidak tepat sasaran Samma berbalik dan mencoba menyerang kembali. Sariani tidak bisa diam, ia segera merasuk ke dalam tubuh Shabita. Shabita raib saat Samma akan mencapainya. Samma terkejut, matanya berputar mengawasi seluruh goa. Melesat dari lorong ke lorong satunya.


"Di mana kamu?" tanya Samma.


"Kembalikan Anggara!" ancam Shabita tepat di depannya. Sariani menantang dengan tubuh Shabita.


Samma sempat terkejut saat Shabita tiba-tiba muncul di hadapan. "Germ!"


"Kembalikan dia!" Kali ini Sariani meremas kepala tanpa tubuh itu dengan marah.


Samma berusaha menggigitnya. Tenaganya sangat besar hingga Sariani terlihat kepayahan. Tiba-tiba angin besar datang dan memisahkan mereka. Samma terlembar namun tidak sampai seperti Shabita yang tehepas ke tanah dan dorong angin.


Sariani berusaha bangkit, namun ada kekuatan besar yang tak kasat mata menerjangnya. "Ah!" Ia kembali terdorong hingga membentur dinding goa.


Samma memandang semua, ia marah. Matanya merah dan menyala. "Siapa yang berani menggangguku?!"


Sebuah cahaya merah melesat menerjang Samma, membuat Samma terhempas menabrak dinding. Dinding pecah, batunya berjatuhan. Samma mencoba menghindari reruntuhan, tetapi belum sempat ia menghindar cahaya merah kembali menerjangnya. Sariani melihat Anggara terbaring di sana, pemuda itu akan dalam bahaya bila tidak segera diselamatkan maka dari itu ia segera berlari dan merangkul, mencoba membawanya.


Melihat Shabita tidak diganggu oleh sinar itu, membuat Samma geram dan merasa tak adil. Ia mencoba menerjang Shabita.


"Jangan berani menyentuhnya!" bentak sebuah suara yang gadis itu tahu datang dari Toni.


Samma berbalik memandang pemuda yang tengah berdiri di belakangnya. "Jangan usik urusanku!" Suaranya serak dan bergetar.


"Langkahi dulu mayatku kalau masih mau menyakitinya!" tantang Toni.


Samma geram, ia melesat menyerang Toni dengan cepat. kesepuluh jari Toni tiba-tiba memanjang, secara ajaib gigi taringnya tumbuh memanjang. Mengetahui kenyataan di depannya membuat Samma berhenti dan ketakutan. Ia sadar sekarang, lawannya kali ini bukanlah Palasik biasa melainkan Kuyang yang berilmu tinggi. Toni memang memiliki tingkat kesaktian yang tak mampu dianggap remeh, ia mampu beradaptasi dan meningkatkan kesaktiannya dengan iblis lain.


Aku harus pergi, dia bukan tandinganku! Saat akan berbalik cepat, Toni meraihnya dan menusuk kepala itu dengan semua jari kuku runcing miliknya.


Sariani kelabakan, ia bingung. "Toni!" serunya. Bermaksud menghentikan pemuda itu untuk tidak membunuh Samma.


Toni segera memandang tajam Sariani, ia marah dan mencengkram kepala Samma hingga pecah. Darah, otak, serta seluruh isi kepala berhamburan. Sariani panik, mencoba menghindar sambil menyeret Anggara. "Pergi!" Toni mengibaskan tangannya ke arah Sariani.


Sariani terpental bersamaan dengan itu Anggara terjatuh ke lantai goa. Sariani melihat Anggara jatuh, ingin meraihnya. Tangan Toni menghempaskan Sariani lagi, sehingga Sariani terlempar ke luar dari tubuh Shabita.


Shabita terbatuk, ia sadar dan memandang Anggara di sana. Ada Toni di hadapannya kemudian ia memandang banyak darah dan daging hancur di sekitarnya. Apa yang terjadi?


Toni memandang Anggara. "Biarkan dia pergi Shabita, biarkan. Aku akan membunuhnya kalau ia hidup!"


"Tidak!" teriak Shabita, mencoba berlari mendekati.


Toni memberi isyarat agar gadis itu jangan maju. "Dia keracunan, percuma saja kamu mencoba," ucapnya seraya menatap gadis itu. Keadaan Toni telah berangsur kembali normal.


Shabita menangis. "Aku tidak bisa hidup tanpanya."


"Aku tidak bisa hidup tanpamu." Toni berbalik dan memandang gadis itu.


Shabita memandang Anggara dan Toni secara bergantian, tidak ada waktu untuk mencari penangkal. Ia harus berpikir. Tidak mungkin aku yang menghisapnya, apa iblis dalam diri ini bisa dipercaya sedangkan ia sangat ingin Anggara pergi? Shabita memandang Toni yang masih berdiri menatapnya. "Biarkan dia hidup, maka aku akan ikut denganmu," tawar Shabita.


Toni memandang Anggara, ia tersenyum. "Dia akan hidup, tetapi kamu jangan mengingkari janjimu. Aku akan membunuhnya kalau kamu sampai berdusta!"


Shabita mengangguk setuju. "Biarkan dia dirawat," rayu Shabita.


"Baik, kau boleh membawanya ke Rumah sakit, tapi ingat! Sebelum ia sadar kau harus pergi!"

__ADS_1


Shabita setuju dan langsung membawa Anggara pergi.


__ADS_2