
Sariani kembali ke rumah Sean. Pemuda itu sedang termenung sendiri di atas balkon rumahnya.
"Aku lapar! Bisakah kamu jadikan aku seperti semula agar dapat makan seperti manusia?" kata Sariani.
"Hanya untuk makanan kamu datang kemari, Sariani? Bukan untukku?" tanya Sean sambil memandang Sariani yang mengalihkan pandangannya ke arah kiri.
Hah! Kenapa dia bertanya seperti itu? "Ingin pergi, tapi aku bukan tipe hantu yang suka ingkar janji."
Sean meraup wajahnya kemudian menangkupkan kedua telapak tangan. Menaruh keduanya di mulutnya kemudian mendesah, "Pergilah kalau mau, aku nggak maksa kamu di sini!" Ia kembali memandang semu ke bawah sana.
"Oke! Aku juga nggak mau di sini," jawab Sariani senang. Ia kemudian melangkah.
"Woy! Nggak adakah rasa kasihan sedikitpun denganku?! Enak saja main pergi gitu aja! Sakit tahu!" omel Sean.
Sariani berubah cemberut, harapannya seketika kandas tatkala mendengar omelan Sean. "Dasar manusia tidak punya pendirian!"
"Sini!" perintah Shandi.
Sariani mundur, tidak berani mendekat. Ia takut dicurangi kembali Sean.
"Sini ...!" Sean menekan suaranya sambil meraih tangan Sariani.
"Jangan, Om!" tolak Sariani sambil menghindari.
"Sini!" bentak Sean sambil menarik paksa Sariani dalam pelukannya. "Aku takut kamu lepas," bisik Sean.
"Aku ..." Kata-katanya terhenti saat Sean menatap wajahnya begitu dekat. Sariani malu, ia menunduk. Sean mengangkat wajahnya kemudian mendekat. Sariani refleks memejamkan matanya, berharap lebih.
"Bibirmu biru, wajahmu pucat. Apa perlu di make over?" kata Sean.
Sariani membuka matanya. Dasar! Bikin orang salah tingkah aja! Ia segera menjauhi Sean. "Nggak perlu!" katanya jengkel.
"Karena kamu sudah datang aku punya kejutan untukmu," kata Sean sambil menarik tangan Sariani.
"Enggak perlu! Aku nggak butuh semua darimu!" tolak Sariani.
"Belum dilihat udah menolak," ejek Sean.
Sean membawa Sariani ke kamar bekasnya tidur semalam. Sean menunjuk dekorasi dan ranjang. Sariani berbinar, ia melihat banyak boneka lucu di kasurnya. Dindingnya dipenuhi dengan gambar boneka.
__ADS_1
Sariani berbalik memandang Sean. "Ini kamar bayi! Mana ada kamar dewasa penuh gambar boneka begini?!" bentaknya.
"Masa, sih?" ejek Sean. "Bagus, kan?"
"Kepalamu itu yang bagus! Di mana letak bagusnya?" hina Sariani.
"Duh, pemarahan sekali orang ini!" keluh Sean. Ia berjalan cepat untuk mengambil kembali boneka dan semua yang ada di kasur. "Kalau tidak mau dibuang saja!" katanya sambil menuju balkon dan membuang semuanya ke bawah sana.
Sariani tidak enak hati melihat Sean marah. Ia hanya diam saat pemuda itu bolak-balik membuang semua barang yang ia sediakan untuknya.
Sean menatap Sariani setelah selesai membuang semua hadiahnya. "Lihat! Sekarang kamu bisa tidur di tempat semula. Tanpa gambar, tanpa boneka!" tunjuk pada seluruh sisi kamar.
"Sean," panggil Sariani.
Sean berpura-pura tidak mendengar, ia berbalik dan pergi. Sariani memandang kamarnya yang kosong. Hanya lampu tidur dan kasur di sana. Apa dia marah sekali?
Sariani berbaring di kasurnya. Ia gelisah lantaran memikirkan Sean. Ia merasa sungguh keterlaluan dengan pemuda itu. Sariani mendengar langkah kaki Sean menuju kamarnya, segera mematikan lampu kamar dan berpura-pura terlelap. Sean hanya datang untuk menyelimutinya kemudian pergi begitu saja.
Sariani segera bangun dan mengintip Sean yang telah menghilang dari pandangannya. Ia membuka pintu sangat perlahan agar tidak diketahui Sean. Berjalan pelan ke pekarangan rumah kemudian memungut kembali boneka yang diberikan Sean padanya. Diam-diam ia membawa tiga buah boneka masuk ke kamarnya.
"Bawa sampah malam-malam ke rumah!" tegur Sean. Pemuda ini telah duduk di sisi ranjang Sariani.
Sean berjalan mendekati Sariani. Ia merebut paksa boneka itu. "Ini sampah! Ngapain kamu pungut?" Sean membawa kembali boneka kemudian hendak dibuang olehnya.
"Jangan!" cegah Sariani.
"Sampah!" Sean membuang satu. "Sampah!" Ia membuang satu lagi. Sam--" Ia gagal membuang boneka yang tersisa di tangan Sean lantaran Sariani telah merebutnya.
"Bukan!" tolak Sariani. Ia segera berlari membawa boneka itu ke kamarnya.
Sean tertawa tanpa suara seraya menggeleng memandang tingkah Sariani yang menggemaskan baginya.
***
Anggara sedang berada di Rumah sakit. Ia sengaja membawanya karena Shabita sangat lemah setelah semalam banyak menguras emosi dan tenaganya. Selain itu ia juga harus mengobati tangannya yang terluka oleh ulah kekasihnya ini. Dara terlelap di samping ibunya. Bayi mungil itu selalu dipandangi Anggara dengan senyum seorang ayah kepada anak kandungnya. Saat Dara menguap, mulut kecilnya membuat Anggara gemas, ia tidak sadar mencubit Dara hingga bayi itu menangis histeris. Anggara berlari takut disalahkan.
"Kenapa, Nak?" tanya Shabita ketika mendengar suara Dara. Ia memang tengah terlelap karena lelah sehabis menyusui. Mendengar Dara menangis membuatnya terjaga dan segera menyusuinya kembali.
"Pak, jangan usil!" tegur seorang perawat yang tadi sempat melihat perbuatan Anggara.
__ADS_1
Anggara menunduk malu, ia berpura-pura tidak mendengar.
"Ke mana bapaknya ya, Sus?" tanya Shabita.
"Pergi sehabis membuat anak ibu menangis!" adu Suster itu sambil mengganti infus Shabita.
Anggara menepuk dahinya, pertanda kecewa lantaran suster itu mulutnya tidak bisa dijaga.
"Maksudnya?" tanya Shabita heran. Ia memperhatikan gerakan suster itu.
"Eh, anak papa udah bangun!" Anggara segera masuk sebelum suster itu mengadu lagi.
"Hem," gumam Suster itu cemberut sambil meraih infus bekas di atas meja untuk dibuang. Ia kemudian pergi.
"Kamu ke mana aja?" tanya Shabita sambil memandang Anggara yang memainkan jari Dara.
"Ke luar sebentar nyari udara," jawabnya.
"Kata suster tadi kamu-"
"Suster yang mana, ya? Dari tadi nggak ada siapapun di sini." Anggara memandangi semua sudut ruangan
"Ish," decih Shabita jengkel.
"Aku udah mengurus kepulangan kita ke Indonesia. Mungkin seminggu lagi kita bisa pulang," kata Anggara.
"Tapi ... aku tinggal di mana?" tanya Shabita sambil memandang buah hatinya.
"Di rumahku," jawab Anggara.
"Kalau ada yang tanya kapan kamu bisa punya anak padahal belum nikah gimana?"
Anggara diam, ia meraih jemari Shabita. "Apa kamu malu kalau aku bilang ini anakku? Apa kamu takut kalau mereka mengira anak ini hasil tidak baik? Jangan berpikir ke sana. Nanti kita tidak bisa bersama."
"Kamu polisi sedangkan aku ... aku nggak mungkin bikin kamu malu dengan bilang ini anakmu."
"Aku nggak sudi kalau kamu bilang ini anak Toni!" bentak Anggara.
Shabita menciut melihat Anggara murka. Tidak berani ia memandang wajah pemuda itu lagi. Anggara melemah, ia mengangkat wajah Shabita. "Jangan diungkit lagi, ya," pintanya.
__ADS_1
Shabita mengangguk, ia menurut dengan perintah kekasihnya ini. Anggara kembali memainkan tangan mungil Dara.