
Zakaria menghela napas saat menatap pada ujung jalan yang di sana telah berada Shabita. Gadis itu sepertinya sedang memandang Masjid, entah apa yang dilakukannya saat itu. Zakaria segera menghampirinya dan berdiri tepat di sebelahnya.
"Sedang apa?" tanyanya.
Shabita yang masih mengenakan kemeja ungu dengan rok kantor, kini melihat Zakaria dengan heran. "Kamu?" tanyanya.
"Kamu sedang apa?" tanya pemuda itu lagi.
"Em, enggak." Shabita ingin beranjak dari situ, tetapi dicegah oleh suara Zakaria.
"Salat yuk, mempung udah masuk waktu Juhur," ajaknya.
Tanpa sadar Shabita meraba lehernya. "Ti-tidak, ah. Kamu saja," jawabnya.
"Kenapa, PMS?" tanya Zakaria spontan tanpa malu apalagi ragu.
"Em," jawab Shabita pelan.
"Tuh, suara mixropon." Zakaria menunjuk pada kubah Masjid. "Kamu bisa salat atau duduk di kursi sana. Soalnya dari tadi kamu berdiri terus di sini, takutnya ada yang kemarin lagi mengganggu," sarannya.
"Tidak perlu, saya akan salat di kantor saja," tolaknya.
"Jadi ini jam istirahat kamu?" tanya Zakaria.
Shabita mengangguk pelan. Zakaria tersenyum dan memberikan kartu namanya pada Shabita. Gadis itu terperangah heran memandang kertas yang berada di tangannya itu.
"Tiap malam sehabis Magrib. Aku biasa adakan pengajian di Masjid dekat gangmu, datang ya? Kita mengaji bareng," katanya, setelah berkata begitu Zakaria segera menuju Masjid.
Shabita masih bingung dengan kartu nama yang ia pegang saat ini. Saat azan berkumandang, gadis itu dengan tergesa-gesa segera lari ke toilet umum dan menguncinya rapat-rapat.
"Akh! Panas! Akh! Sakiit!" Darah keluar dari luka-luka yang memanjang di lehernya. Gadis itu segera mengambil tisu toilet sebanyak-banyaknya dan membalut luka dengan cara dililit ke leher. Ia segera merogoh sesuatu dalam tasnya, yaitu lakban atau isolasi besar untuk melilit balutan pada lehernya tadi.
"Van, jangan halangi aku untuk keluar. Aku lapar, aku haus. Sampai kapan kau puasakan aku begini?!" kata Shabita yang dirasuki Kuyang.
__ADS_1
"Gak!" teriak Shabita histeris. Masih mencoba mengambil alih atas dirinya.
Tok, tok, tok. "Lama amat di WC-nya. Cepat dong!" teriak seseorang dari luar seraya mengetuk pintu toilet dengan sedikit keras. Tidak lama pintu terbuka. Alangkah kagetnya si pengetuk pintu itu mendapati Shabita dalam keadaan mengerikan dengan darah mengotori baju bagian atasnya. "Mba, ngak papa? Mau saya antar ke Rumah sakit?" tanyanya panik.
Shabita bukannya menjawab, ia malah melengos keluar tanpa permisi. Perempuan yang mengetuk pintu itu hanya memandang kasihan melihat gadis itu.
Shabita kembali ke kantor dengan acuh dari pandangan mereka yang langsung berdiri menatapnya heran, ada yang bertanya, tapi adapula yang diam saja. Gadis itu berjalan melewati mereka tanpa mau memandang ke sana-kemari. Toni memandang Shabita seraya berkerut dahi, pemuda itu masih penasaran dengan sosok gadis yang menjadi incarannya sekarang.
"Vanesa! Kenapa kamu?!" tanya Chang heran. Ia sempat kaget mendapati kerah baju dan bagian dadanya berdarah.
"Maaf, saya terlambat. Tadi ada kendala sedikit," Shabita menolak untuk menjawab.
"Itu kamu kenapa?!" tanya Chang dengan nada panik dan segera menelepon dokter.
"Nggak perlu, Pak. Saya tidak kenapa-napa," tolaknya. Sakit sangat tahu! Kayak dirobek ini, dasar iblis saraf! maki Shabita dalam hati.
"Kalau begitu kamu ganti baju. Pakai kemeja saya dulu," tawar Chang. Ia segera menuju lemari penyimpanan baju cadangannya dan memberikannya pada Shabita.
Shabita menerimanya dan segera masuk ke kamar mandi khusus disediakan di ruangan itu. Sariani berdiri tepat di belakangnya. Arwah itu memandang Shabita dengan kasihan.
"Jalan-jalan. Memangnya ada cerita apa selama aku tidak ada?" tanya Sariani.
"Seperti yang kamu lihat. Aku tetap menderita," jawab Shabita lirih sembari menghela napas.
"Sabar," kata Sariani.
"Sabar sudah, tinggal mengamuknya saja yang belum." Shabita mendengus kesal.
"Van, kamu gak kenapa-kenapa, kan di dalam?" tanya Chang dari luar.
"Tidak, saya baik-baik saja," sahutnya. "Aku keluar dulu, gak enak dia nanti khawatir." Shabita bicara pada Sariani.
Shabita segera keluar dan duduk di kursinya. Ia membuka file yang berada di mejanya. Diam-diam Chang tersenyum melihat penampilan Shabita yang memakai kemejanya. Pakaian itu kebesaran dan hampir menutupi roknya. Saat Shabita berdehem, Chang pura-pura berpikir keras dengan telunjuk diketuk-ketukkan beberapa kali ke dahinya.
__ADS_1
:::::::
Suara merdunya membuat Zakaria mengantuk. Tidak hanya cantik paras, gadis yang berada di depannya itu sangat pandai mengaji. Shabita kini sedang berada di sebuah masjid di dekat rumahnya dan Zakaria beserta para ibu ikut terlena mendengar lantunan ayat yang dibacakannya. Shabita dulu memang pernah mengaji dan mendalami agama, tetapi semenjak ia kuliah dan terpaksa harus bekerja untuk memenuhi hidupnya sendiri, maka ia sudah jarang sekali beribadah. Ditambah lagi, iblis itu sering membuatnya panas dan tidak betah dalam beribadah. Entah kenapa hari ini dia datang ke sana, kalau tidak didesak oleh Anggara mungkin ia tidak akan pernah mau. Setiap membaca ayat itu hati Shabita menjadi tentram dan hanyut akan kesejukan. Ada Anggara di luar yang menungguinya dengan setia dan membuat gadis itu bertambah tenang lagi.
Anggara melihat arlojinya. Ia baru saja sehabis patroli dan sedang akan istirahat, tapi mendengar Shabita ingin sekali mendekatkan diri pada Tuhan, membuatnya terharu dan senang. Maka dari itu, ia langsung mengajak Shabita ke Masjid tanpa mengganti seragamnya lebih dulu.
Siapa dia? Zakaria dalam hati. Shabita datang dengan seorang polisi dan membuatnya berpikir kalau Shabita ini terlalu takut hingga meminta polisi untuk menjaganya. Ia memandang ke luar diam-diam dan tanpa sadar pandangannya dengan Anggara bertemu. Mereka berdua hanya saling melempar senyum sekilas.
"Wah, suara kamu merdu sekali, Dek. Ikut acara pengajian aja lagi," kata ibu yang berpakaian biru.
"Iya, sangat merdu. Ibu sampai mengantuk loh," sahut ibu berkrudung putih.
"Udah punya suami belum, kalau nggak, mau enggak sama anak tante?" goda salah seorang dari mereka.
Shabita hanya tersenyum hambar menanggapi perkataan mereka.
"Cantik loh, sayang kalau gak dijadikan menantu."
Mereka menggoda Shabita. Gadis itu hanya meringis saat pipi dan lengannya dicubit manja oleh mereka. Zakaria tertawa maklum sembari menggeleng-geleng.
"Pengajiannya sampai di sini saja, ya Bu," kata Zakaria. Menyudahi acara bercanda mereka.
Mereka segera berdiri dan menyalami Shabita dan tidak lupa mencubiti pipi gadis itu dengan gemas. Di luar aksi mereka tambah parah, Anggara dijadikan bahan selfie. Anggara terpaksa membatu diperintah-perintah mengikuti kemauan mereka.
"Uh, kapan lagi foto sama polisi ganteng."
"Anak saya masih gadis, nanti kapan-kapan ke rumah ya?"
"Sama saya saja, laki saya sudah mati kemarin."
Begitulah kata mereka pada Anggara yang terpaksa mengukir senyum ramah di depan warga sipil.
"Itu siapa kamu?" tanya Zakaria saat Shabita ingin keluar dari pintu Masjid.
__ADS_1
Shabita memandang Anggara sebelum menjawab pertanyaan Zakaria. "Teman," katanya.
Anggara melotot saat dikatakan hanya sebagai teman oleh Shabita. Sedangkan Zakaria tersenyum senang saat ternyata Anggara hanyalah teman bagi gadis itu.