
Tini ketakutan saat mereka terdengar tiba di rumah tetangganya. Ia kembali memandang Rustam.
"Kamarmu di mana?" bisik Rustam.
"Di sana," tunjuknya.
"Ayo!" Pemuda itu menarik Tini ke kamar. Ia segera mengunci pintu.
"Kita mau ngapain di dalam berdua saja?" Tini ketakutan setengah mati dengan tingkah Rustam. Tubuh pemuda itu dua kali lipat lebih besar dari tubuh Andi. Ia takut bila diserang oleh pemuda itu. Bisa hancur dirinya.
Tanpa babibu pemuda itu segera membongkar semua laci meja di kamar gadis itu. "Sini!" perintahnya.
"Enggak mau, Om!" tolak Tini.
"Sini!" Rustam menarik paksa gadis itu. Ia pula menarik kerah gadis itu.
"Jangan, Om!"
"Diam!" bentaknya pelan. Rustam memandang goresan di lehernya. Sudah mulai tertutup rapat hanya sedikit membekas.
"Janga-" Rustam menutup mulut Tini saat gadis itu hendak berteriak.
"Kamu kira saya mau ngapain sama kamu?"
"Jangan diapa-apain!"
"Mau ditutupi tidak?" tunjuk Rustam pada leher Tini.
Tini memerah, malu setengah mati karena berpikir Rustam akan mencelakainya.
"Makanya mikir jernih," omel Rustam. "Sini saya akali pakai riasan seadanya."
Gimana mau mikir, dia aja nggak ngomong!
Tok, tok, tok! "Tini, buka pintu!"
"Itu suara emak!" kata Tini. Ia panik sementara Rustam belum usai menutupi lukanya.
"Jangan gerak, tidak rata nih!" omel Rustam.
"Bapak!" rengek Tini.
"Ke mana lagi, tu anak. Dia nggak buka dari tadi," omel ibu Tini sambil berjalan ke pintu. Ia membuka kemudian memandang dua orang pemuda kemudian satu perempuan. "Ada apa?"
"Kami bertugas memeriksa leher para warga di sini. Apa selain ibu adalagi yang di dalam?" tanya perempuan itu.
"Anak saya Tini," jawabnya. "Tini!" panggilnya.
"Pak, saya takut."
"Dengar, perlihatkan dari jarak dua meter atau satu meter. Jangan terlalu dekat. Buka saja kalau disuruh buka, setelah itu segera tutup."
Tini keluar dengan didorong Rustam. Ia memandang ke belakang, kemudian berjalan menuju ibunya. "Iya, Mak," jawabnya.
"Kamu ngapain lama amat di kamar?" Terlihat kesal.
"Tini lagi dengerin musik, Mak." Tini melirik mereka bertiga.
"Bisa dibuka kancing baju atas, kami mau lihat sebentar?" kata perempuan itu.
"Sekarang?" tanya Tini. Ia berusaha agar tidak gugup.
"Iya," jawabnya.
Tini gemetaran, tetapi ia ingat pesan Rustam. Dibukanya dengan cepat sambil memejamkan mata.
"Baiklah, tutup."
"Sudah?" tanya Tini. Ia tidak percaya kalau ternyata bekas lukanya tidak terlihat oleh mereka. Bagaimana bisa.
"Kami permisi. Maaf menganggu," kata pemuda di sebelah perempuan itu.
"Tini, ngapain melamun!" tegur Ibu sambil menepuk pundak Tini. "Sana!"
__ADS_1
"Iya, Mak." Tini kembali ke kamar.
"Gimana, mereka curiga?" tanya Rustam.
Bukannya menjawab, Tini malah memandang lehernya di cermin lemari. Tersamarkan walau masih ada, mungkin karena jaraknya sedikit berjauhan dari pandangan mereka. Seandainya waktu itu perempuan itu meraba dan mencermati pastilah ia tidak akan selamat.
"Bapak pintar!" puji Tini.
"Ibu kamu di mana?" tanya Rustam sembari mengintip ke luar kamar.
"Di dapur," jawab Tini.
"Saya harus keluar cepat kalau tidak mau dimarahi ibumu!" jawabnya seraya berjalan ke luar. Ia kembali mengetuk pintu.
Tini nyaris tertawa dengan tingkah Rustam, ia segera membukakan pintu sebelum ibunya sampai ke ruang tamu. "Bapak?" katanya saat membuka pintu. Ibunya ada di belakang memandangnya.
"Suruh masuk, Tini!" tegurnya.
"Masuk, Pak." Tini membuka lebar pintu dan menyilakan Rustam duduk di sofa.
"Buatin minum, Tini!"
"Iya, Mak!" Tini segera menuju ke dapur.
"Ada perlu apa ke sini lagi, ya?" tanya ibunya Tini.
"Saya mendapat perintah untuk menjaga Tini," kata Rustam sambil menyerahkan selembar kertas.
"Dalam rangka apa?" tanyanya heran setelah membaca surat itu.
"Tini menjadi saksi," jawab Rustam jujur, tetapi ia tidak berbicara prihal nasib Tini di Samarinda.
"Saksi ... apa, Pak?" Bertambah bingung lagi ibu.
"Pembunuhan," jawab Rustam seadanya. "Tini harus saya jaga keadaannya hingga sidang nanti."
"Saya nggak ngerti."
"Pokoknya begitulah, Bu. Apa boleh saya tinggal di sini untuk menjaga Tini?"
"Iya, Mak."
"Sebenarnya ada apa di kota sampai kamu bisa tersandung kasus segala?"
Tini bingung, ia melirik Rustam. "Tini nggak tahu, Mak. Tini cuma korban, Tini--"
"Dia nyaris jadi korban penculikan," sela Rustam.
"Kamu nggak papa, kan?" tanya ibu cemas.
Tini hanya mengangguk. Rustam memandang Tini yang diam-diam meliriknya.
"Kamu tidur sama mamak aja. Rustam tidur di kamarmu," katanya. "Tunjukin kamarmu!"
"Ayo, Pak!" ajak Tini.
"Kamu kenapa gugup?"
"Saya takut kalau mamak tahu. Saya takut kalau nanti mak ngamuk!" Tini membuka pintu kamarnya. Ia mengambil barang miliknya untuk dibawa ke kamar ibunya. "Maaf, kamar Tini berantakan."
Rustam hanya memandang Tini yang keluar dari kamar.
***
Malam pukul 22:00, Rustam membuka jendela kamar. Entah kenapa tidak dapat tidur sama sekali, padahal perutnya telah kenyang lantaran disodori beberapa makanan berat oleh ibunya Tini.
"Apa itu?" gumamnya saat memandang bintang berwarna warni terbang melewati rumah di sampingnya.
"Kuyang! Kuyang!" Terdengar suara lelaki berteriak.
Kuyang? Rustam terkesiap, ia segera menuju kamar ibu Tini. Namun, pintu kamar itu terkunci.
"Bapak, ngapain di sini?" tegur Tini tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Ada Kuyang. Apa kamu itu?" tanya Rustam sambil memperhatikan seluruh tubuh Tini.
Tini menggeleng, ia tidak mengerti maksud Rustam. Kriet! Pintu terbuka. Rustam segera memandang ke pintu. Ada Tini di sana.
"Tini?!"
"Iya, apa Pak, kok di depan pintu?" tanya gadis itu heran saat memandang Rustam yang melihat kepadanya kemudian berbalik memandang ke belakang.
"Tadi di sini kamu ... apa kamu di luar?"
"Nggak, saya baru buka pintu," jawab Tini.
"Tadi jelas kulihat kamu di sini sedang menegurku!" katanya. Ia yakin tidak sedang bermimpi.
"Pak, sepertinya lelah. Istirahat saja," nasihatnya.
Rustam menggaruk kepalanya. Ia bingung. Ponselnya berdering. "Ya," jawabnya.
"Kamu di mana?" tanya Adi.
"Di Tanjung," jawab Rustam.
"Kabar Tini gimana?"
"Baik."
"Gimana, sudah ada perkembangan?"
"Baru kemarin tiba sudah ditanya!" omel Rustam.
"Kuyang! Kuyang!" Suara itu kembali terdengar.
"Aku ke depan," kata Rustam.
"Memangnya ada apa di depan?"
"Enggak tahu. Kudengar ada suara berteriak 'kuyang'," jawab Rustam sambil membuka pintu. Ia terkejut melihat banyak warga berkumpul mengepung sesuatu dengan api dan benda tajam.
"Ada apa, Om?" tanyanya kepada sembarang warga.
"Kuyang," jawab seorang bapak kurus berbaju kuning.
Kuyang? Rustam membelah kerumunan. Ia tersentak kemudian merinding memandang kepala dengan isi perut sedang mengeram di tanah ingin menyerang mereka yang menghalangi jalannya. "Adi, nanti kuhubungi lagi!" Rustam segera menyimpan ponsel di saku celana depan.
"Germ!" Kuyang itu marah.
"Bakar! Bunuh!" teriak mereka sambil memainkan benda di tangan masing-masing untuk menakuti Kuyang tersebut.
Tini berlari ke luar, ia mendatangi kerumunan. Tini terkejut saat Kuyang itu menatap wajahnya. Rustam heran memandang sikap si Kuyang. Sepertinya ia mengenali jenisnya.
"Tini," panggil Rustam. Ia menyembunyikan Tini di belakangnya.
"Germ!" Sekali lagi Kuyang itu mencoba lari. Namun, selalu diserang dengan api. Ia marah, mencoba menggigit salah satu penyerang.
"Jangan biarkan dia kembali ke tubuhnya!" seru seorang bapak berbaju putih dengan sarung sebagai bawahannya.
"Tini, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur," bisik Rustam. Ia menarik Tini agar menjauhi mereka.
"Germ!" Ia marah lantaran Tini pergi. Hendak menyerang Tini, tapi sekali lagi, api hendak mengenai kulit ususnya. "Egh!" jeritnya saat panas api mengenainya.
Tini segera masuk ke rumah. "Kenapa saya disuruh masuk. Saya ingin melihat?"
"Kamu ini pintar atau bodoh? Tadi kamu tidak lihat dia sedang marah sama kamu."
"Masalahnya?"
"Mungkin saja salah satu dari yang pernah menjadi korban dulu," duga Rustam.
Tini merinding, ia takut mereka datang kembali untuk mengambilnya.
Maaf baru up. Karena NT sedang eror. Oh ya jangan lupa baca cerita saya di lapak sebelah judulnya HUTAN GAIB dan SEKRETARIS GALAK DAN BOS BAPERAN bila mau baca nanti saya kasih linknya wa aja 081253288361
HUTAN GAIB ada di lapak lain, sudah tamat. Dukung karya saya di sana beri bintang lima dan like.
__ADS_1
SEKRETARIS GALAK DAN BOS BAPERAN cocok bagi kamu yang suka ngakak tanpa henti. Ceritanya komedi, sangat beda dan sungguh gila. Status on going