TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
112


__ADS_3

Anggara pulang lebih awal, ia sengaja ingin menjaga Shabita selama Tini masih berada di sekitar mereka. Saat Shabita sedang bermain dengan Dara, ia dikejutkan oleh Anggara dari belakang dengan cara memegang punggungnya secara tiba-tiba.


"Kaget, ya."


"Nggak," jawab Shabita.


"Dara sedang apa?" tanya Anggara kepada bayi itu. Ia memandang mata Dara yang memandang dirinya kemudian tertawa. "Eh, sudah bisa tertawa," ejek Anggara dengan mencubit lembut pipinya.


"Kenapa pulang cepat?" tanya Shabita sambil menyerahkan Dara pada Anggara. "Biasanya lupa waktu," sindirnya.


"Mamamu marah," bisik Anggara pada Dara. Bayi itu hanya memandang Anggara seraya menjilat genggaman tangan kirinya. Anggara kemudian menyusul Shabita ke dapur sambil membawa Dara. "Kamu jangan marah, Ma. Aku bukannya nggak ingat pulang, tapi sibuk sekali."


Shabita beralih mengambil pisau, ia memotong sayuran. "Aku kesepian, Anggara. Setiap hari sering ketakutan di rumah."


"Mau gimana lagi," jawab pemuda itu seraya menghela napas. "Apa aku berhenti aja terus cari kerjaan lain?"


Shabita berhenti dari kegiatannya, ia memandang Anggara. "Nggak usah," katanya. Ia tidak ingin pemuda itu terlalu banyak berkorban untuknya. Sudah cukup selama ini yang dilakukan oleh pemuda ini untuk dirinya.


"Tapi kamu kesepian setiap malam," bantah Anggara.


"Biarlah, mau tidak mau harus mengerti. Maaf, aku terlalu egois." Shabita melemah.


Anggara kembali menerima telepon, ia memberi isyarat agar Shabita mau menjaga Dara selama ia menerima telepon. Shabita mendesah, ia kembali bermain bersama Dara.


"Yang, aku mau ke rumah RT dulu sebentar." Anggara kemudian mengajak Dara.


"Ngapain?"


"Mau bertemu Tini, ada yang harus ditanyakan."


"Enggak papa tuh, Dara dibawa. Soalnya ini sudah jam 5. Kalau Tini berubah gimana?" tanya Shabita cemas.


"Kujagain, mana bisa dia." Anggara kemudian pergi.


Vanesa sedang memetik jemuran di depan rumah, melihat Anggara membawa Dara, ia berseru, "Pak, apa perlu saya bantu menggendong anak itu?" tawarnya.


Anggara berhenti, ia memandang sekilas. Ingin menjawab, tetapi segera berjalan cepat karena ada Shabita di depan pintu yang sedang memandangnya. "Mamamu marah lagi."


"Pelakor!" hina Shabita. Shabita kembali masuk ke rumah.


"Eh, Anggara. Masuk!" pinta Pak RT. Ia memberi isyarat agar pemuda itu duduk. "Dara, sini sama kakek," bujuknya.

__ADS_1


"Tini-nya ada? Saya harus bertanya dengannya." Anggara menyerahkan Dara kepada Pak RT.


"Bu, Tini-nya diajak kemari! Ada Anggara!" serunya. "Tunggu, ya. Oh, ya biar nggak ganggu Dara saya bawa ke duduk di teras saja, ya?"


"Ya," jawab Anggara. Ia kemudian memandang Tini yang ke luar dari ruang tengah menuju ke arahnya.


Tini yang saat ini mengenakan daster milik Bu RT, memerah wajahnya, ia menunduk malu tidak berani membalas pandangan Anggara. "Ada perlu apa, ya Kak?" tanya Tini saat dirinya telah duduk di hadapan Anggara.


"Kamu punya sesuatu untuk bukti? Misalnya KTP atau ID lainnya. Soalnya kami akan memulangkanmu."


"Ya, pulang. Untuk kasusmu itu akan diambil alih oleh kepolisian di daerahmu sana dan untuk yang berada di sini kami yang urus."


"Tidak punya," jawab Tini lemah. Ia tidak punya apa-apa sewaktu dibawa ke provinsi ini.


"Masih ingat nomor telepon yang bisa dihubungi di sana?" tanya Anggara.


"Masih!" Tini berubah ceria.


"Kalau begitu hubungi mereka, suruh mengirim semua persyaratan yang kamu punya untuk dapat pulang." Anggara memberikan ponselnya kepada Tini. "Dikirim foto saja dulu, nanti kalau kami perlu baru kami minta aslinya."


Tini segera menghubungi keluarganya. Anggara hanya menunggu tanpa ada niat menyela pembicaraan mereka. "Sudah?" tanya Anggara di saat gadis itu memberikan ponselnya. "Apa kamu masih ingat nama atau tempat majikanmu itu?"


"Kalau gitu besok pagi bersiaplah. Teman saya akan datang ke sini untuk menjemputmu mencari rumah majikanmu itu," kata Anggara seraya berdiri. "Oh, ya. Jangan lupa salat walaupun itu sakit." Ia kemudian beranjak dari sana sambil meraih Dara dari Pak RT.


Shabita sudah selesai mandi dan juga membersihkan tempat tidur. Ia memandang Anggara yang sedang menghampiri kasur untuk menaruh Dara. "Sudah?" tanyanya.


"Biar Adi yang urus. Besok kita jalan-jalan, yuk! Dara dititipin aja sama Bu RT," ajak Anggara.


"Apa nggak papa ada Tini?"


"Kemarin juga dititipin Tini, kan?"


"Beda, kemarin kan banyak orang."


"Tini-nya besok pergi sama Adi."


"Ngapel?" tanya Shabita heran.


"Pergi ke rumah majikannya. Siapa tahu masih di sana," jawab Anggara. Ia tersenyum memandang Dara sedang mengoceh. "Aku mau mandi dulu, ya, Ma."


Shabita tidak menjawab, ia hanya memandang Anggara dari belakang.

__ADS_1


***


Shabita tersipu malu di saat pemuda itu membuka pakaiannya. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang setelah menidurkan Dara, memiliki kesempatan untuk berduaan dengan suaminya. Hatinya berdesir, kemudian jantungnya berdebar. Anggara mendekat kemudian mengusap rambut indahnya. Ia lalu berbisik, "Kerokin, dong! Masuk angin, nih."


"Haaa?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia nampak kesal saat Anggara memberikan minyak pijat serta koin seribu perak. "Ini serius, aku harus ngerokin kamu?" tanyanya. Ia berharap pemuda itu hanya menggodanya saja.


"Aku pegal banget. Udah beberapa hari ini nggak tidur, badanku sakit semua!" keluh Anggara sambil menelungkupkan tubuhnya di kasur.


Sial! Udah deg-degan, eh dapat kejutan! "Rasakan!" Shabita mengeraskan kerokannya di punggung pemuda itu.


"Aw, Mama! Sakit," rintih Anggara.


"Eh, maaf. Aku kurang pengalaman," dalihnya. Tidak lama pemuda itu tertidur pulas. "Huh, tidur dia." Shabita menjauh. Ia melipat kedua tangannya sambil bersandar pada kepala ranjang.


Keesokan harinya saat telah mengerjakan salat, Anggara segera mencuci pakaian kemudian dijemur di depan rumahnya.


"Eh, kita samaan, ya. Jemuran juga. Apa kita ini jodoh," goda Vanesa.


"Eh, Ibu bi--"


"Bagus, pelakor kamu ladeni sedangkan aku kamu cuekin semalam," sindir Shabita.


Anggara segera menuntaskan kegiatannya, sesekali melirik Shabita yang masih setia memandang ke arahnya. Dara menangis di dalam, maka Shabita kembali untuk mengurusnya.


"Sini, saya bantu jemurin," kata perempuan itu.


Anggara terkejut memandang Vanesa sudah berada di sampingnya sedang memegang baju yang dipegangnya pula. "Tidak perlu. Saya bisa sendiri," tolak Anggara.


"Tidak usah malu. Saya sebentar lagi juga akan jadi milikmu."


"Oh, sudah pada rebutan baju di tangan. Bagus," sindir Shabita sambil menimang Dara.


Anggara segera melepaskan pakaian itu. "Anu, Ma, tadi itu ..."


"Dia ingin dibantu, makanya saya tolongin. Kasihan punya bini cuma satu, saya rela, kok, membantumu mengurus Anggara," kata Vanesa.


"Tuh, ditawarin. Sana nikah lagi." Shabita segera masuk setelah berkata demikian.


"Istrinya ngebolehin, Pak. Ayo kita ke penghulu," ajaknya sambil meraih lengan Anggara.


Anggara tidak menjawab, ia berlari ke dalam kemudian mengunci pintu.

__ADS_1


__ADS_2