
Saat sedang berada di pusat kota. Seorang gadis mengenakan shyal berwarna hijau dan kacamata hitam pekat. Rambut pirang bergelombang. Pakaiannya ditutupi blazer warna putih bersih dan memiliki kerah hingga menutupi seluruh lehernya.
Seorang pemuda tampan melewatinya, secara tidak sengaja menyenggol lengannya. Gadis itu mendehem saat tahu baju putihnya terkena noda fanta oleh minuman yang dibawa pemuda tadi. Ia berbalik dan mendapati pemuda itu juga terkena tumpahan dari fanta-nya.
"Tumpah," kata pemuda itu seraya menyeka baju dan lengannya yang basah.
Gadis itu segera berbalik dan buru-buru pergi dari sana. Ketika sadar bahwa ia telah menabrak seorang wanita maka pemuda itu langsung mengejar.
"Sorry, saya tidak sengaja," ujarnya.
"Don't worry," jawab gadis itu kemudian segera berlari.
"Maaf, saya akan ganti semua kerugian Anda," kata pemuda itu segera.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan segera berlalu. Pemuda itu mendesah. Merasa tidak enak hati telah membuat bajunya kotor.
Dering telepon gadis berbaju blazer itu berbunyi. Ia segera meraih telepon di dalam kantung saku bajunya.
"Hello, siapa ini?" tanyanya.
"Shabita, apakah Nona Shabita?" tanya suara yang berada di dalam telepon.
Gadis itu mengerutkan keningnya heran dan memandang ke sekitarnya. "Ya, siapa Anda?" Shabita balas bertanya.
"Dompet Anda terjatuh, di mana saya bisa mengembalikan dompet ini?" tanyanya.
Shabita segera merogoh saku dan memeriksa ke dalam tasnya. "Oh, saya tidak sadar, sekarang Anda di mana?" tanya Shabita.
"Saya ada di bangku taman dekat swalayan," jawabnya.
"Saya segera ke sana. Kebetulan saya tidak jauh dari situ," kata Shabita.
Shabita segera mengakhiri panggilannya dan bergegas berjalan mendatangi si penemu dompetnya. Seorang pemuda sudah berada di sana. Sedang duduk dan membelakanginya.
"Apakah ... Anda yang menelpon tadi?" tanya Shabita dengan nada ragu. Takut salah orang.
"Iya." Pemuda itu berbalik.
Gadis blazer itu tersentak mundur beberapa langkah.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya pemuda itu yang heran melihat tindakan gadis itu.
"Oh, tidak apa-apa," katanya.
"Ini dompet Anda," kata pemuda itu seraya memberikan dompetnya. "Maaf saya melihat isinya, tapi tidak sedikitpun saya mengambilnya, kok," jelasnya.
Shabita menerima dompet itu dengan cepat. "Terima kasih," katanya dengan terburu-buru pergi.
__ADS_1
"Nona," panggil pemuda itu seraya meraih tangan Shabita. "Nama saya Anggara," katanya.
Shabita memandang tangan yang diraih pemuda itu dan kemudian memandang sejenak dia. Pemuda yang mengaku Anggara itu menatapnya dengan inten.
"Maaf," Shabita menepis perlahan tangan Anggara.
"Oh! Sorry, saya tidak sengaja meraih Anda," kata Anggara ketika ia sadar tangannya secara lancang memegang tangan gadis itu.
"Saya pergi dulu," kata Shabita yang tidak mau meladeni ucapan lelaki itu.
"Anda mengingatkan saya padanya, Vanesa," ungkap Anggara saat Shabita melangkahkan kakinya untuk menjauh darinya. "Kamu mirip dengannya, sangat cantik dan berkharisma," tambahnya lagi dengan pujian.
Shabita tidak mengindahkan pernyataan lelaki itu. Gadis itu bahkan segera menjauh dan pergi begitu saja tanpa permisi.
Anggara yang berada di taman itu adalah Anggara yang sama. Seorang polisi yang pernah bertemu dengan Vanesa beberapa kali.
::::::
S H A B I T A melemparkan sepatunya ke sembarang tempat dan membuka blazer-nya.
"Anggara, kenapa aku bertemu dia di sini?" keluhnya seraya menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya di wastafel.
Gadis itu memandang wajahnya yang tampak pucat dan memandang pada lehernya yang menyisakan goresan bekas luka memanjang.
"Kamu tidak akan bisa cantik dan sehat seperti dulu, Vanesa. Yang kamu butuhkan adalah darah, darah segar," bisik suara di telinganya.
"Berisik!" teriak gadis itu seraya menutup kedua telinganya.
"Pergi!" Shabita melempar cermin di depannya dengan sikat cucian yang ada di dekatnya. Kaca retak dan menimbulkan banyak wajahnya di cermin.
"Hihihi ...." Iblis itu tertawa.
Shabita alias Vanesa pergi begitu saja setelah melempar cermin. Gadis ini sekarang sedang membaringkan tubuhnya ke ranjang. Suara tangisan bayi berada di sebelah kamar hotelnya. Shabita jadi resah sendiri karenanya.
Tok, tok, tok. Suara pintu kamarnya di ketuk dari luar. Gadis itu segera bangkit dan mengintip dari lubang kunci. Seorang Bapak dan pelayan hotel berdiri di depan kamarnya.
"Iya, ada apa?" tanya Shabita setelah membuka pintu.
"Maaf sebelumnya, apakah Nona Shabita ada waktu?" tanya Pelayan lelaki itu.
Shabita tidak langsung menjawab, ia memerhatikan orang di depannya. Seorang bapak yang sangat tampan berusia paling banyak sekitar empat puluhan tahun. Berpakaian kaus oblong dengan celana training santai. Wajahnya terlihat cemas.
"Tidak," jawab Shabita singkat dan sangat ingin masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Bapak ini datang, hanya ingin meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan Anda," jelas Pelayan itu.
"Iya, saya mendengar suara kaca dilempar. Mungkin suara tangisan anak saya membuat kamu kesal?" tanya Bapak itu.
__ADS_1
Shabita memandang pada bapak itu dan tersenyum kecut karena merasa tersinggung. Bukan karena masalah tangisan bayi, tetapi karena kesalahpahaman ini.
"Untuk itu saya mohon maaf, saya akan pindah ke kamar lain saja," kata Bapak itu dengan menunduk.
"Iya, tak masalah. Memangnya anak Anda kenapa menangis. Laparkah dia?" tanya Shabita.
Pelayan tadi hanya menunggu dan memerhatikan mereka berdua berbicara.
"Saya tidak tahu, padahal kemarin ia baik-baik saja. Saat pindah ke hotel ini, anak saya menangis sekeras-kerasnya tiada hentinya. Hingga saya pun kewalahan dan sekarang ini anak saya sedang menangis. Anda pasti mendengar, kan?"
"Bersama siapa anakmu?" tanya Shabita.
"Terpaksa saya tinggal sendiri di kamar," jawabnya.
Shabita melotot marah. "Bodoh! Anak bayi, kamu tinggal sendirian menjelang Magrib begini!" bentak gadis itu seraya berlari.
Pelayan dan bapak tadi terkejut mendengar Shabita menghardik mereka berdua.
"Di mana kamarmu?!" desak gadis itu.
"Di sana, dua pintu dari sini," jawab Bapak itu.
Suara bayi masih terdengar bahkan lebih keras dari tadi. Makin lama makin serak dan mengisakkan hati yang mendengarnya. Ada nada ketakutan di balik tangisan histeris itu.
Bapak tadi segera membuka pintu itu, namun ia lupa pintunya terkunci dan kartu kunci malah tertinggal di dalam.
"*****! Anakmu bisa mati karena ini!" maki Gadis itu.
"Saya pergi dulu ambil kunci di kantor," kata pelayan itu panik. Namun niatnya terhenti ketika Shabita menendang kuat-kuat pintu itu hingga ambruk.
Shabita segera berlari dan menggendong bayi yang tadi menangis di atas ranjang. Bayi itu mengejang dan matanya sudah berubah putih semua. Tidak ada manik hitamnya. Seluruh tubuhnya biru. Tangannya mengepal dan keras seperti kayu. Ada busa keluar dari mulutnya.
"Tenang Nak, tenang. Jangan panik, jangan takut. Cup, cup, cup." Shabita menimang bayi itu.
"Sini, kemarikan anak saya," kata Bapak itu panik.
Shabita tidak menghiraukannya. Gadis itu masih menimang-nimang bayi itu. Berusaha menenangkannya. "Apa yang kamu lihat itu cuma mimpi, Nak," kata Shabita. "Katakan begini bila dia mengganggumu 'Jangan ganggu aku, jangan ganggu aku. Pergi jauh-jauh, aku tidak takut padamu kecuali ibuku dan Tuhanku. Tuhan selalu menjagaku'," bisik gadis itu dekat dengan telinga bayi itu.
Perkataan itu terus diulang Shabita hingga bayi itu melemah dan mampu bersuara lagi. Tangisan langsung pecah memenuhi ruangan itu. Shabita langsung memberikan bayi itu pada orang tuanya.
"Nak, kamu tidak apa-apa, kan sayang?" kata Bapak itu sembari memerhatikan bayi yang berada di gendongannya.
"Lain kali, jangan meninggalkan bayimu sendirian," nasehat gadis itu seraya mengusap kening bayi dan segera pergi keluar.
"Apa perlu saya panggil dokter, Pak?" tanya Pelayan itu.
"Baiklah," jawabnya seraya menciumi anaknya dengan sayang. "Maaf, apa kau tahu siapa orang tadi?" tanyanya.
__ADS_1
"Namanya Shabita, dia baru dua hari di sini, kalau begitu saya permisi, sekalian menghubungi dokter," pamitnya.
Bapak itu memandang kepergiannya. Suara azan berkumandang. Bapak tadi segera mengucapkan dua kalimat syahadat di telinga bayinya.