TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
80


__ADS_3

Shabita tidak menyangka Anggara berani berbuat begitu di rumahnya. Tanpa takut Talia menemukan mereka sedang bermesraan. Ia segera mendorong Anggara, nyaris saja pemuda itu terjatuh ke bawah sana, kalau saja Shabita tidak segera meraihnya. Maksud hati tidak ingin menarik, tapi sebaliknya Anggara yang menariknya.


"Lepas!" Ia kembali terlepas.


Suara langkah kaki terdengar mendekat, Talia mengetuk pintu kemudian masuk. "Di mana dia?" gumamnya saat memandang tidak ada Shabita di kamarnya. Ia menengok balkon. Mungkin di dapur? Talia kemudian kembali sambil menutup pintu.


"Pergi!" Shabita mendorong Anggara yang sedang mengurungnya di dinding.


"Marah terus! Kasihan anak ki--"


"Pergi!" Shabita mengambil jambangan di atas meja di balkon itu.


"Oke, iya." Anggara terpaksa mengalah.


"Kenapa lagi dia, dulu tidak seperti itu. Main sentuh sembarangan!" omel Shabita. Ia duduk di bangku sambil cemberut.


Anggara berjalan menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Talia. "Ada apa?" tanyanya saat gadis itu mencegahnya.


"Minggu depan ulang tahunku. Walau papa tidak ada aku mau mengadakannya," katanya.


"Lalu?" tanya Anggara tidak mengerti.


"Bisa kamu jaga ibuku lebih ketat saat acara itu nanti. Aku takut di saat pesta ibuku malah terabaikan," pintanya.


Anggara mengangguk. "Pasti!" jawab Anggara.


"Eh, iya. Apa kamu punya pacar?" tanya Talia.


"Punya," jawab Anggara. Rani orangnya.


Talia terlihat kecewa. "Bawa dia juga kalau kamu mau." Talia memandang punggung pemuda itu yang menjauh darinya. Ia mendesah, sakit rasanya mendengarnya.


Talia memeriksa baju pestanya. "Tidak ada satu pun yang cocok untuk ibuku," gumamnya. Ia mulai berpikir bahwa Shabita tidak mungkin memakai pakaian seperti yang diberikan papanya. Selain kepanjangan juga agak ketat. Diam-diam ia merasa kesal dengan papanya. "Apa aku ajak saja dia berbelanja, tapi aku harus memesan dekor?" Ia menijat pelipisnya.


Talia berjalan ke luar mencari Anggara. "Ang!" panggilnya sambil berlari kecil.


Anggara yang sedang berdiri di depan rumah, memandangnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Bisa kamu temani ibuku mamilih pakaiannya di toko pakaian?" harapnya sambil memandang kesediaan pemuda itu.


"Ibumu mana mau ditemani olehku," jawab Anggara. Ia kembali berbalik dan memerhatikan pagar di depan.


"Nanti kubujuk," kata Talia.


"Kamu sendiri saja, apa tidak bisa? Biar aku mengikuti dari belakang! Terus terang ibumu itu alergi terhadapku," jawabnya.


"Aduh, aku nggak bisa. Aku sibuk harus kuliah dan memesan dekor," keluh Talia. Ia kebingungan seraya menggigit kukunya.

__ADS_1


"Baiklah. Katakan pada Nyonyamu itu agar jangan galak terhadapku." Anggara tersenyum manis.


"Oke!" Talia segera berlari kecil menuju ke kamar Shabita.


Shabita mengerutkan keningnya, ia mendengar langkah kaki cepat menuju kamarnya. "Apa itu Anggara?" Ia segera meraih bantal, akan dilempar bila itu adalah Anggara.


"Sha!" panggil Talia dari luar. Ia segera membuka pintu.


Shabita membuang bantal ke kasur, ia berdecih jengkel. "Apa?" tanyanya ketus.


"Marah terus ini. Nanti adikku juga pemarah kayak mamanya," sindir Talia.


"Aku kesal denganmu dan Anggara. Kalian memberiku makanan sisa setiap hari," dalihnya. Padahal bukan itu, aku takut papamu tahu kalau pemuda itu di sini.


"Sebelum itu juga kamu kesal dengannya," singgung Talia. "Oh, ya. Minggu depan aku ingin mengedakan pesta ulang tahunku yang ke 22 tahun. Kamu cari baju, ya?"


"Kamu yang ulang tahun, kenapa harus aku yang cari baju?" sindir Shabita.


"Lah, Mama!" Talia merangkul Shabita dari belakang. "Apa kamu akan di kamar pada saat aku mengadakan pesta, tidak, kan? Lagipula papa tidak bisa datang, terus siapa lagi di sana selain kamu?" rengak Talia.


"Oke, kapan?" tanyanya.


"Hari ini dengan Anggara."


"What?! Kamu sendiri tidak bisakah?" Shabita membuang napas kasar, ia berpaling dari Talia.


"Ish, sudahlah!" balasnya. Melihat Talia tersenyum mau tidak mau ia merasa senang juga.


***


Shabita tidak bisa tersenyum ketika bersama Anggara. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, walau pemuda itu beberapa kali menggodanya.


"Anda pilih saja baju-baju di toko ini. Kebetulan hari ini kami mengadakan rabat besar-besaran," kata pelayan Toko.


"Berapa rabat yang kami peroleh?" tanya Anggara. Ia pun ingin membeli sesuatu di toko itu.


"99 %."


Anggara mengangguk. "Ayo kita pilih baju, mempung murah!"


"Kere," hina Shabita. Ia sengaja membuat Anggara marah.


Anggara tidak marah, ia malah tersenyum. "Biar kere tapi oke, kan?" bisiknya.


"Huh!" Shabita buang napas. Ia kemudian memilih pakaian yang ia rasa bagus.


"Ini cocok untuk Talia," kata Anggara sambil merasakan kehalusan kain tersebut.

__ADS_1


"Angkut saja!" jawab Shabita sambil berlalu.


Shabita kembali meraih baju cantik berenda mawar dengan warna jingga. Ia tersenyum, tapi senyum itu sirna lantaran Anggara merebutnya dan berkata, "Ini juga cocok untuk Talia," godanya.


"Bungkus!" tekan Shabita. Ia berlalu meninggalkan Anggara. Shabita tersenyum memandang patung pengantin berpasangan. Terlihat dirinya dan Anggara berada di sana.


"Baju pengantin itu juga cocok buatku dan Talia," goda pemuda itu.


"Borong!" bentak Shabita. Ia kesal diganggu olehnya.


Anggara tertawa tanpa suara. Pemuda itu kemudian memandang Shabita yang tangannya diraih oleh pemuda berbaju merah. Terlihat gadis itu berusaha mengelak.


"Sha, kamu tidak mungkin lupa sama aku. Aku Leo, suami Maria!"


"Lepas! Saya tidak kenal kamu!" bantah Shabita.


"Sha, aku kenal kamu dari perutmu itu. Kalau kamu mirip itu mungkin, tapi tidak mungkin sama-sama hamil, kan?"


"Pergi!" usir Shabita sambil berlalu.


Leo mengejarnya. Dengan cepat Anggara menarik Shabita dalam pelukannya. "Mau apa dengan istri saya?" aku Anggara. Shabita kesal, ia mencubit perut Anggara. Pemuda itu menahan sakit. Awas saja nanti, Ran!


"Tidak, kamu mana mungkin suaminya. Waktu itu kutemukan dia di jalan dalam keadaan menyedihkan. Sekarang kenapa harus mengakui?" bantah Leo.


"Diam! Saya tidak mau berdebat. Segera pergi atau saya akan lapor polisi!" ancam Anggara.


Leo tidak mau mendengarkan, ia meraih Shabita dalam pelukan Anggara. "Sini!"


Anggara menampar tangan Leo. "Jangan sentuh dia!" bentaknya.


"Maaf, ada apa ini. Tolong jangan mengganggu kenyamanan pelanggan kami!" tegur Pelayan tadi.


"Dia mengganggu istri saya!" adu Anggara.


"Maaf, silakan Anda keluar. Bila ada keperluan silakan keluar saja," bujuknya.


"Tapi--" Leo ingin berdebat.


"Petugas!" teriak Pelayan wanita itu.


Terpaksa Leo pergi dan mengomel di luar sana. "Lihat saja, Sha. Akan kudapatkan kamu!" Ia memandang toko itu dan menggaruk kasar kepalanya.


"Kamu kenal dia?" tanya Anggara.


"Tidak," jawab Shabita. Ia kembali memilih baju yang diinginkannya.


Apa dia kenal Leo saat itu, saat dia melarikan diri dari adikku? Pikir Anggara. Pemuda itu mendesah. "Sainganku tambah banyak!" Ia tertawa sendiri mengingat nasib cintanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu, ketawa sendiri? Gilakah?" sindir Shabita seraya berlalu ke meja kasir dengan membawa baju pilihannya.


__ADS_2