
Di bagian paling terdalam hati Dara merasa tenang dipeluk Anggara. Ia merasa damai. Namun, ia cemas Anggara akan berpaling dan meninggalkannya karena keadaannya yang mengerikan. Ia sadari siapa dirinya yang mulai menunjukkan keaslian. Itu telah dijelaskan oleh roh tersebut.
"Papa," sebutnya saat Anggara memikirkan Shabita.
"Ya."
"Dingin," keluhnya. Anggara segera meraih jaket yang sengaja ditaruh di dalam laci mobil kemudian diselimutinya Dara.
"Sudah larut malam, Nak. Mama pasti menunggu kita," kata Anggara lembut.
"Aku takut!"
"Kenapa takut?"
Mama pasti marah kalau tahu aku berubah. Dia pasti akan membenciku sama seperti membenci papa kandungku. "Mama pasti marah karena pulang terlalu malam," dustanya.
"Ada papa, sayang. Dia nggak akan marah."
"Tapi-"
"Sudah malam. Kamu harus istirahat." Anggara tidak akan mendengarkan. Ia bosan di mobil. Hanya berdua dengan Dara. Ia menyalakan mesin kemudian mengemudi.
"Papa, seandainya aku bukan seperti ini. Aku berubah menjadi orang lain, apa, Papa tetap menyayangiku?"
Anggara tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas kemudian pikirannya menerawang kembali tentang kejadian silam. Ia tahu yang dimaksud Dara. Adalah berubah menjadi seperti ketika ia dilahirkan. "Apa pun itu, kamu tetap anak papa."
Dara memandang Anggara. Ia masih belum yakin walaupun Anggara menunjukkan rasa pedulinya karena selama ini Anggara terlihat terpaksa mendekati.
***
Shabita menunggu, ia mendengar suara mobil di luar. Shabita segera membuka pintu. Dara keluar dari mobil dengan diraih Anggara.
"Kenapa dia?" tanya Shabita cemas.
"Dara, istirahat sana." Anggara mendorong pelan Dara.
"Kenapa kalian pulang begitu malam?"
Anggara memandang Dara yang kini ke kamarnya. "Motornya mogok di tengah jalan. Dia berjalan ke bengkel kemudian berteduh saat hujan di bawah pohon."
__ADS_1
"Kenapa ponselnya sampai tidak aktif segala?" kejar Shabita saat Anggara melepaskan baju kemejanya.
"Kena hujan jadi rusak."
Shabita diam, ia merasa ada yang aneh dengan anak gadisnya. "Kamu bohong, kan?"
Anggara memandang Shabita, ia menghampiri. "Dia sakit, Ma. Sedang ingin kamu sayangi."
"Sakit?"
"Aku mau mandi dulu." Anggara menghindari Shabita.
Merasa belum puas Shabita kemudian ke kamar Dara. Ia melihat Dara sedang memperhatikan lehernya.
"Mama?!" Ia segera menutup leher kemudian berdiri.
"Kamu tidak papa?" tanya Shabita sembari mengusap pipi Dara.
"Enggak, Ma. Dara sehat, kok."
"Kalau ada apa-apa bilang, Nak. Jangan kamu pendam sendiri," pintanya.
"Kenapa kamu bilang begitu?"
Dara tidak menjelaskan ia hanya mengisak. Membuat Shabita bingung atas sikap Dara padanya.
***
Di dalam mimpi Dara melihat dirinya sedang menyerang Anggara, kemudian Shabita hendak menghabisinya dengan sebuah pedang. "Jangan, Mama!" teriaknya. Ia segera bangun. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Ia menangis takut dibunuh Shabita.
"Ada apa?!" tanya Anggara panik.
Dara menangis, ia memberi isyarat agar Anggara merangkulnya. Anggara segera merangkul kemudian mengusap lembut rambut Dara. "Aku takut, Pa!" isaknya. Entah kenapa ia terus bermimpi seperti itu. Sementara ia merasa aman dengan Anggara. Memori sewaktu bayi kembali mengusik ketika remaja.
"Kamu mimpi, mimpi apa?"
Dara bingung untuk menjelaskan pada Anggara. Ia tidak mungkin bercerita tentang mimpinya, dia juga tidak tahu bila mimpi tersebut adalah kenyataan.
"Sekarang kamu tidur, ya. Jangan mikir macam-macam." Anggara segera menyelimuti kembali Dara.
__ADS_1
Ia mengecup kening Dara, hingga gadis ini terpejam barulah ia pergi. Namun, saat hendak menjauh Dara meraih tangannya.
"Papa, Dara takut. Temani Dara!" pintanya.
"Baiklah," jawab Anggara. Ia berbaring di sebelah putrinya.
Dara menggenggam tangan Anggara, ia takut Anggara meninggalkannya saat ia telah terlelap. Di saat jam menunjukkan pukul 02:00, tiba-tiba tangan Anggara bergetar. Ia terjaga dan memandang ke arah tangannya. Bukan dia tetapi Dara yang kini tengah terguncang hebat.
"Dara! Dara!" Anggara panik. Ia segera duduk dan menyalakan lampu meja di sebelah ranjang. "Dara!" Anggara mencoba membangunkan gadis ini. "Ha?!" Ia terkejut saat melihat leher Dara mengalami goresan yang makin lama makin memanjang. Darah keluar dari sana. "Dara, sadar, Nak! Cepat bangun!" Anggara kebingungan. Ia mencari sesuatu. Sebuah handuk tergantung di belakang pintu segera diraih. Ia lantas mengikat leher Dara dengan itu. Sembari membaca doa ia menangis menyaksikan putrinya kini tengah berjuang menahan agar tidak terlepas dari lehernya. Mata Dara terbuka. Anggara tersentak, mata itu menyala kemudian taringnya mulai memanjang. "Dara!" Anggara berusaha menyadarkannya dengan merangkul Dara. Ia mengusap lembut rambut Dara. "Sadar, Nak. Ini papa. Cepat bangun."
"Hihihi...," tawa Dara terdengar. Anggara terkejut. Namun, ia tidak akan melepaskan Dara yang kini tengah memandangnya dengan wajah menyeramkan. "Lepaskan aku! Aku lapar, ingin makan!" Namun, Anggara tidak membiarkan.
"Dara, bangun!" bentaknya.
"Ada apa kalian ribut?" tanya Shabita tiba-tiba. Bersamaan dengan itu Dara tertidur kembali. Ia terkulai. "Kenapa dia, kenapa kamu memanggil dia?" Shabita menghampiri.
Anggara segera menyelimuti Dara. Ia segera memadamkan lampu. "Dia mimpi. Aku terpaksa membangunkannya." Anggara berdiri. Ia kini tersenyum pada Shabita.
"Oh, kukira kamu ke mana ternyata malah tidur di sini."
"Dia ketakutan, sayang."
"Dari apa?"
Apa aku harus ceritakan padanya tentang tadi, sedangkan Dara takut padanya? Anggara harus mencari cara lain untuk mengalihkan kecurigaan Shabita. "Kita ke depan. Akan kuceritakan semua padamu."
Shabita menurut. Ia mendengarkan sembari duduk di sofa. Anggara hanya menceritakan tentang pristiwa diculik Dara, tapi dia menyembunyikan kenyataan tadi. "Kenapa tidak bilang? Kenapa harus diam? Aku nggak nyangka Dara sampai bernasib begitu."
"Tapi itu sudah lewat. Akan kucari biar tidak ada korban lagi," jelas Anggara.
"Aku akan lihat dia."
"Jangan! Dia baru bisa tidur. Sebaiknya besok saja," dalih Anggara saat Shabita menatap heran padanya.
"Tapi aku cemas. Aku hanya ingin melihatnya saja."
"Besok, ya," bujuk Anggara. "Ini sudah mau pagi."
"Oke," jawab Shabita pasrah. Ia kembali ke kamar.
__ADS_1
Anggara duduk di ruang tamu. Ia tidak dapat memejamkan mata walau tengah mengantuk berat. Ia cemas Dara akan menjadi seperti ibunya.