
"Telah ditemukan bayi di dalam terowongan lama yang tidak lagi terpakai. Diduga bayi ini telah diculik dan disimpan di sini. Modus belum diketahui, saat ini kami sedang menelusuri jejak kejadian." Reporter wanita berbaju hitam sedang mengadakan siaran langsung.
Awalnya Shabita tidak peduli, tetapi mendengar terowongan dan bayi maka ia segera berhenti di depan pintu ruang tamu. Terlihat Maria sedang serius menonton televisi. Asam! Itu bayiku! Shabita segera melenyapkan diri dan melesat menuju ke terowongan. Ia berada di tengah-tengah kerumunan para pengunjung yang penasaran ingin melihat. Terlihat bayi satu per satu dibawa ke dalam ambulan dan diberi pertolongan oleh Tim medis. Mereka merusak rencanaku! Ia mengeluarkan kesaktian tanpa terlihat, langsung melesat bagai angin, meruntuhkan terowongan. Semua panik dan berlari menjauh, ada yang di dalam segera ke luar. Namun, adapula yag tertinggal.
"Cepat! Cepat! Tolong mereka!" perintah salah seorang polisi bertubuh besar sambil melambai memberi perintah.
"Ada apa ini?" tanya seorang yang mengemudi taksi. Ia hendak lewat, tetapi jalanan begitu macet.
Seorang polisi datang menghampiri. "Pak, cari jalur lain karena di sini sedang ada keruntuhan terowongan."
Sopir yang masih berada di dalam mobil itu bertanya, "Tapi terowongan di sana dan jalur bebas di sana, kenapa juga diblokir?" protesnya.
"Bapak lihat banyaknya mobil dan kerumunan di sana, mereka membuat macet karena ingin melihat kasus penemuan bayi," jelasnya,
"Aduuuuh! Nyusahin aja." Sopir itu terpaksa memutar balik.
"Ada apa, Pak?!" seru Talia saat dirinya berselisih dan akan ke jalur yang tadi akan dilalui sopir taksi.
Sopir itu memelankan laju kendaraannya. "Di depan ada reruntuhan, katanya ada bayi ditemukan di situ juga." Ia langsung tancap gas saat selesai menjawab.
Talia memutar balik arah tujuannya, setelah beberapa kilo meter ia mendapat telepon dari Sean. "Ya, ada apa Sean?" tanyanya.
"Kamu di mana?"
"Putar balik akan menuju kota Bangkok," jawabnya sambil menepikan mobil ke sisi jalan.
"Jalur itu padat, kurasa terowongan yang menjurus di sana tempat Shabita menyimpan bayi hasil curiannya."
"Hah! Aku tidak kepikiran sampai situ." Talia menepuk dahinya. "Oke, aku putar balik!" Talia segera memutar arah dan menuju ke arah terowongan. Semoga saja ada petunjuk.
"Tolong! Tolong!" teriak mereka dari dalam.
Para polisi dan Tim peledak sedang merencanakan sesuatu. Mereka berdiskusi untuk membuka terowongan itu kembali.
"Bagaimana kalau kita ledakkan saja?" usul salah satu dari Tim peledak.
"Kita tidak tahu posisi mereka di sana. Kalau mereka ternyata di depan pintu maka percuma menolong bila hasilnya menewaskan mereka yang di dalam!" tolak Kepala tim kepolisian.
"Coba hubungi, siapa tahu mereka membawa ponsel!" usul Tim medis.
Ketua dari Tim penyelamat berseru, "Siapa dari kalian yang mempunyai nomor ponsel korban di dalam?"
Reporter wanita tadi mengacungkan tangan. "Salah satu teman saya. Cameraman terkurung di sana."
__ADS_1
"Hubungi!" perintahnya sambil memandang ke tempat lain dan berjalan mendatangi mereka yag berdiskusi tadi.
Tut ... tut ... tut.... Suara ponsel cameraman pemuda bertubuh sedikit gempal berbunyi. "Nanda! Halo, Nan, aku terkurung di sini! Selamatkan kami semua!" adunya.
Nanda tidak menjawab, ia malah memanggil polisi tadi, "Pak!" Ia mengacungkan ponselnya.
Polisi tadi berbalik setelah punggungnya ditepuk oleh rekannya. Ia melihat ke rekannya dan kemudian memandang Nanda yang mengangkat ponselnya. "Ya, Anda di mana?" tanyanya setelah menerima ponsel dari Nanda.
"Siapa ini?" tanya Cameraman itu.
"Saya polisi. Di mana posisi saat ini?"
"Saya di dalam terowongan."
"Berapa jumlah kalian, apakah kamu bersama mereka saat ini?"
"Sepuluh orang." Ia memandang mereka yang memandang ke rahnya jua.
"Apakah masih ada bayi yang tersisa?"
"Tunggu saya cek dulu!" Ia mematikan hubungan teleponnya. Pemuda itu memberi isyarat agar mereka tetap berdiam diri di sana sementara dirinya memasuki terowongan terdalam.
"Apakah dia membawa camera?" tanyanya pada Nanda.
Suasana gelap gulita hanya diterangi cahaya sambaran listrik yang kabelnya terputus lantaran robohnya terowongan tadi. Ia mengaktifkan lampu camera dan impra merah. Otomatis langsung terekam dan Tim Nanda berseru, "Rekaman terlihat!"
Nanda segera berlari dan diikuti oleh Tim penyelamat. Mereka melihat suasana gelap dan hanya diterangi lampu dari kamera. Menuju ke dalam terowongan, melewati banyak liku. "Roy, di mana posisimu? Apa kamu bisa mengatakan di mana itu?"
Roy mengangkat cameranya dan berbicara lewat saluran yang memang terpasang di alat itu. "Aku masuk. Sekitar lima belokan ke kiri," jawabnya.
"Di mana bayi itu berada?" tanya Polisi itu.
"Sekitar sepuluh liku lagi!' jawab Tim media.
Talia telah tiba di sana, ia keluar dari mobil dan menerobos kerumunan. gadis cantik berbaju hijau ini segera maju dengan memiringkan tubuhnya. Terlihat mereka sedang menunggu. Di mana dia? Ia melirik ke sana-kemari mencari sosok Shabita. Matanya fokus ke pintu yang tertimbun itu sekarang.
Roy berjalan terus sambil mengarahkan cameranya untuk menerangi jalan. Ia melewati liku lagi dan berhenti lantaran ada beberapa pintu terowongan yang sedang dilihatnya. Ia mengingat pintu mana tadi tempat ia mengamera bayi. Roy memandang ke kiri dan kanan, kemudian ke bawah untuk mengecek tanda-tanda langkah mereka tadi.
"Ini, kurasa," gumamnya. Walau hanya gumaman, tetapi suara itu menggema memenuhi ruang. Ia berjalan mengikuti jejak kaki seseorang. Ia heran memandang jejak kaki telanjang itu. Sedangkan ketika dirinya dan Timnya masuk, mereka semua menggunakan alas kaki. Lalu jejak kaki siapa ini? "Aku menemukan jejak kaki yang tadinya tidak ada!" lapornya.
"Tidak mungkin, kan ada orang lain di terowongan itu sedangkan kami baru memeriksanya?" gumam Tim medis.
"Roy! Cepat temukan bayi itu dan keluar segera!" perintah Nanda.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Roy.
"Aku curiga ada orang yang bersembunyi di dalam sana! Cepatlah atau selamatkan saja dirimu!" Nanda tidak diperintah, ia memiliki insting kuat tentang itu. Sebagai seorang wartawan ia pernah menghadapi hal yang tidak terduga di tempat kejadian.
"Baik, aku akan cek dulu ke sana. Akan keluar bila sudah melihat mereka!" Roy mengarahkan cameranya ke depan dan terus berjalan.
Uwe! Uwe! Terdengar suara bayi. "Kalian dengar itu?" Roy memajukan cameranya kembali.
"Dia sudah dekat," kata Nanda.
"Roy! Apa yang kamu lihat sekarang?" tanya salah satu Tim medis yang bertubuh kecil.
Nanda dan yang lain masih memerhatikan layar monitor. Tampak samar-samar bagi mereka, hingga harus bertanya lagi pada pemuda itu.
"Tunggu!" Roy berjalan pelan. Ia sempat memandang ke kanan-kirinya. Bayi berbaring berjajar sedang tertidur di atas altar. "Aku melihat bayi!" kata Roy. Ia memasang cameranya agar lebih jeli merekam gambar.
"Itu bayinya!" tunjuk salah satu Tim Nanda.
"Roy, sekarang ke luar dan beritahukan pada yang lain agar menyingkir dari pintu. Kami akan membukanya dengan ledakan!" perintah Tim peledak.
"Baik," jawab Roy.
"Oy, pasang kabel dinamit!" perintah Ketua mereka.
"Pak, sudah siap!" lapor salah satu bawahan Tim peledak.
"Tunggu, aku menemukan seseorang!" cegah Roy.
Semua langsung memandang layar monitor. Roy merekam sosok perempuan berambut putih yang membelakanginya.
"Siapa dia?" gumam Nanda.
"Tolong!" Layar camera pecah terhempas ke lantai goa.
"Roy! Roy!" Nanda panik ketika Roy tidak lagi merekam. Ia menghubungi lewat ponsel. "Roy, di mana kamu?!"
"To-tolong! To--tolong!" Telepon terputus.
"Kenapa?" tanya Polisi tadi.
"Dia sedang meminta tolong di dalam!" Nanda panik.
BERSAMBUNG
__ADS_1