TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
110


__ADS_3

Tini terbang tinggi melesat mencari mangsa, ia melewati persawahan. Di saat dirinya terlihat oleh satu orang di antara dua pemuda. Ia segera merendahkan diri, bersembunyi di antara daun padi yang telah menguning. Ia meringis saat salah satu daun ilalang melukai organ dalamnya.


"Tadi ada bintang kelap-kelip di sana. Terlihat seperti bola!" tunjuk pemuda kurus berbaju putih suram kepada sahabatnya bertubuh sedikit gemuk darinya.


"Huss, diam! Jangan ditegur. Itu Kuyang!" kata pemuda berbaju biru itu sambil menarik sahabatnya agar lebih cepat berjalan.


"Kata nenek harus ditegur biar dia tidak jadi!" bantahnya sambil berjalan terseret oleh sahabatnya.


"Diam!" bentak temannya.


Tini naik, ia terbang kembali setelah mereka menjauh. Seorang ibu berumur dua puluh tujuh tahun sedang mengandung. Ia menyuapi putrinya yang sedang menangis tidak mau makan, lantas ia memukulnya untuk memaksanya makan. "Makan!" paksanya.


"Akut nggak mau akan!" tolak putrinya. Umurnya baru berusia empat tahun.


"Makan, sayang!" bujuknya sambil memaksa makanan itu masuk ke mulut putrinya.


"Akut, Ma. Akut!" rengeknya.


Perempuan itu menghela napas, ia kemudian meringis menahan sakit di perutnya. Usia kandungan yang kini telah mencapai delapan bulan membuatnya kesulitan bergerak dan bernapas, ditambah lagi rengekan putrinya membuatnya bertambah parah. "Papamu datang sebentar lagi. Ayo makan."


"Ma, akut."


"Apa yang ditakutkan, Nak! Ayo habiskan makanmu sayang." Namun, putrinya tetap menggeleng tidak mau makan. Akhirnya ia menyerah.


Perempuan itu bangkit dan segera menuju dapur. Karena dapurnya terbuka di belakang maka terlihatlah persawahan. Ia harus mencuci piring di luar rumah.


"Mama ... akut!"


"Ah, anak itu!" omelnya. Ia tidak peduli, masih sibuk mencuci piring.


Tini berada di belakangnya. Ia segera merendah mengincar belakang perempuan itu.


"Mama!"


"Ah, anak itu!" Akhirnya ia menuju ke dalam.


Anak itu bersembunyi di bawah kolong meja, ia memeluk lututnya lantaran takut. Ia melihat kaki ibunya berjalan melewatinya. Kemudian ia melihat Tini mengikutinya di belakang mengintai ibunya.


Dikiranya itu putrinya karena tinggi gadis kecil itu hanya sepinggang orang dewasa. "Kamu ini--" Ia berbalik dan segera terkejut memandang kepala dengan usus yang menjuntai. Maila!" teriaknya sambil berlari keluar. Tini mengejarnya,


"Kenapa kamu lari?" tanya suaminya saat ia tiba tepat waktu.


"A--ada Kuyang!"

__ADS_1


"Bercanda kamu," ejek Suaminya, tetapi karena melihat wajah istrinya yang pucat. Ia segera menyadari sesuatu. "Maila mana?"


"Dia ... Maila!" Ia lupa putrinya.


"Mama!"


Mereka segera mencarinya dan tidak menemukan di manapun jua. "Di mana dia?!" bentak suaminya.


"Biasanya dia kalau takut selalu ...." Ia diam dan memeriksa meja makan. "Maila!" pekiknya histeris sambil menutup mulut.


Suaminya segera meraih Maila yang bersimbah darah. "Maila!" Ia menggerakkan putrinya. "Maila, papa pulang, Nak," katanya seraya menangis.


"Maila!" Perempuan itu meraih anak gadisnya yang telah tiada. Menyesal telah meninggalkannya.


Sebelumnya Maila melihat ibunya diikuti oleh Kuyang. Ia segera berlari di saat mendengar suara papanya. Rupanya Kuyang itu malah berbalik, ia kemudian bersembunyi kembali di bawah meja. Maila ketakutan, ia memejamkan matanya. Saat membuka mata ia berteriak histeris memanggil mamanya. Kuyang itu tepat berada di depannya sedang menyerigai. "Mama!"


Setelah menghisap darah Maila, Tini kembali ke tempat asalnya. Ia menghampiri tubuhnya dan mengambang di atasnya. Gadis itu tersenyum kemudian memberi isyarat agar mereka membawa satu lagi gadis untuk dites.


"Enggak mau!" ronta seorang gadis manis berbaju putih, berumur lima belas tahun.


"Jangan!" kata salah seorang dari korban. Mereka berusaha memegang gadis itu agar tidak dibawa ke sana.


Namun, usaha mereka gagal lantaran mereka para penjaga mengancam dengan senjata tajam. Gadis itu diperlakukan seperti Tini. Ia diubah menjadi Kuyang.


"Bawa mereka berdua nanti. Akan kita jual mereka." Gadis itu kemudian pergi.


***


Tini terbangun di sebuah kamar. Ia tersentak saat memandang gadis muda tidur di sebelahnya dengan bersimbah darah. Mulai dari bibir hingga ke dada. Tini mendekat dan memeriksa, ia terkejut memandang goresan panjang di leher gadis itu. Tini mersa gatal pada lehernya, ia kemudian menggaruk. "Apa ini?" gumamnya, karena mersa ada kerak yang menempel di leher. "Darah?" Ia melihat darah kering.


Tini penasaran kemudian memandang pada cermin. Ia terkejut memandang dirinya yang kondisinya nyaris serupa dengan gadis di kasur sana. Ia meraba goresan itu. "Ah!" Tini terpekik. Ia mundur saat memandang matanya di cermin berubah menjadi merah.


"Kata bos gadis itu hari ini kita kemas kemudian dikirim."


"Sussstt ... diam."


Tini mencuri dengar pembicaraan mereka dari pintu kamar. Ia tersentak saat langkah itu menuju kamarnya. Tini segera berlari membangunkan gadis itu.


"Bangun!"


"Ada apa, Kak?" tanya gadis itu setengah mengantuk. Ia tidak menyadari kejadian semalam.


"Kita harus pergi dari sini!" bisik Tini.

__ADS_1


"Bagaimana caranya, Kak?"


Tini menunjuk jendela. Ia kemudian membuka perlahan. "Ayo!" Ia meminta gadis itu agar melompat lebih dulu.


Gadis itu menurut, ia lebih dulu melompat dan pergi. Kini giliran Tini, tapi naas baginya ia malah ditarik kembali di saat akan melompat.


"Mau kabur ya?" kata pemuda yang mengoleskan minyak semalam padanya.


"Lepas!" Tini berusaha berontak. Namun, ia tidak berdaya, dirinya terpaksa tidak sadarkan diri di saat suntikan melukai lengannya.


"Masukkan dia ke peti!" perintah pemuda tadi.


"Setelah itu saya berada di rumah baru. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ada di sini, tapi yang jelas saya tidak ingin di sini. Saya mau pulang, mau kumpul keluarga." Gadis itu menangis. "Di sana saya enggak dapat makanan yang layak. Saya diberi nasi basi, tulang bahkan sampah busuk! Saya tersiksa di sana, saya dipaksa mencuri, mengguna-gunai bahkan saya salat saja tidak bisa. Kalau sampai ketahuan saya disiksa. Pernah saya salat, tapi tidak bisa karena badan saya langsung sakit, sangat sakit sekali!"


Tini memandangi wajah mereka, ada yang percaya adapula yang tidak, tetapi ia memandang Anggara, memintanya agar pemuda itu percaya dengan dirinya.


"Aku percaya," kata Anggara. "Kamu nggak salah. Kasihan kalau dipenjara."


"Kalau dia bohong gimana?" tanya pemuda kurus bertelanjang dada bercelana batik.


"Diselidiki dululah," jawab Anggara.


"Terus kita apakan orang ini?" tanya bapak berbaju ungu.


"Tinggal di tempat RT dulu untuk sementara."


"Lah, kok di saya?!" protes Pak RT.


"Masa di rumah saya. Kan, ada bayi," tangkis Anggara. "Pokoknya diam dulu di situ, nanti saya proses kasus ini."


"Kalau dia berubah, saya harus apa?"


"Pisau di rumah ada?" tanya balik Anggara dalam nada berbisik.


"Masa saya harus ngebunuh?"


"Cuma ngancam doang." ..."Saya nggak tanggung jawab kalau Bapak khilaf, sih."


"Dasar!" Pak RT maju. "Kamu tinggal sama saya, tapi saya nggak janji kalau kamu akan selamat di rumah saya. Kalau berubah kamu harus ikhlas saya bunuh."


"Tenang saja, kalau dibunuh paling dia masuk penjara!"


"Sontoloyo ini bocah!" Pak RT ingin menampar kepala Anggara. Namun, pemuda itu sudah lebih dulu pulang.

__ADS_1


__ADS_2