
Vanesa memandangi rumah kumuh di depan sana. Rumah kumuh dan tampak terbuat dari batang pohon kecil. Mereka tepat berada di tengah hutan nan gelap dan hanya diterangi sinar rembulan.
"Di mana kita sekarang?" tanyanya pada arwah wanita yang sekarang tepat berada di sampingnya.
"Dua ratus tahun sebelum kelahiranku," jawab arwah itu.
Vanesa memandangnya dengan tatapan nanar. "Itu artinya kau belum ada di masa ini, lalu kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya gadis itu.
"Apakah kau tidak ingin mengetahui, asal mula dirinya?" tanya arwah itu dengan pandangan tertuju pada rumah itu.
"Dia ... Kuyang?" tanya Vanesa sedikit ragu dengan tebakannya barusan.
"Em." Arwah itu mengangguk. "Di sini kamu tidak akan tampak olehnya, kita hidup di masa depan dan masa sekarang adalah seperti kilas balik kehidupan yang terekam dalam ingatanku. Itulah sebabnya dia tidak akan melihat kita," jelasnya.
"Kalau itu ingatanmu, berarti kau tidak mungkin tahu kejadian ini, bukan?" tanya Vanesa.
"Aku sama sepertimu, seseorang telah memerlihatkan cerita ini padaku. Bedanya kau dipilih, sedangkan aku adalah keturunannya," katanya.
"Aku memang tidak menganut ilmu hitam, tidak memiliki garis keturunan sebagai Kuyang dan tidak pula belajar, tapi kenapa aku dipilih. Itu pun aku yang belum paham," kata Vanesa.
"Mereka yang terpilih terkadang tidak tahu bahwa dirinya adalah hantu Kuyang. Kebetulan kau sangat kuat dan cocok untuk menjadi wadahnya," katanya.
Vanesa mengangguk dan mencoba melihat dan mendengar lebih jelas lagi apa yang ditunjukkan arwah di sampingnya.
"Lihat dan perhatikan, apa yang terjadi nanti," katanya.
Seorang wanita datang ke gubuk itu. Dia sedang membawa satu paket pinduduk(sebuah wadah baskom berisi sesaji yang yang berisi: beras, jarum, amplop berisi uang, kain batik panjang, telur ayam kampung dan lain-lain). Wanita itu sangat manis, tapi juga sangat memerihatinkan. Ia datang dengan wajah pucat pasi serta baju yang tidak layak. Siapakah dia? Itu kini yang jadi pertanyaan Vanesa.
"Mari kita masuk," ajak arwah itu.
Karena Vanesa adalah manusia, maka ia berjalan di tanah seperti manusia kebanyakan. Arwah tadi melayang di atas rumput dan menerobos masuk lewat dinding gubuk. Vanesa masuk lewat pintu yang kebetulan tidak terkunci.
"Nek, saya bawa penduduk dan juga uang, Nek," kata wanita tadi.
Perempuan tua yang dipanggil nenek itu memandangnya dengan terkekeh. Ia mengawasi tubuhnya. Sepertinya orang tua itu dalam keadaan rabun. "Kau tidak membawa darah ayam?" tanyanya.
"Ti-tidak," jawab wanita itu dengan suara sedikit bergetar.
Vanesa berjalan mendekati nenek berambut putih dan berantakan itu. Arwah itu menahan agar gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, tapi Vanesa tidak mau mengerti. Gadis itu tetap mendekatinya hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Orang tua yang duduk itu tidak merasakan adanya manusia lain di sekitarnya.
"Tidak apa, tidak apa," jawab nenek itu. "Apa kau sudah yakin ingin mempelajari ini, Nak?" tanyanya.
"Tepat, Nek. Saya sudah bosan hidup membujang dan dihina perawan tua oleh masyarakat. Saya akan ambil semua lelaki yang menghina saya dari istrinya yang selalu menyindir saya. Saya ingin kaya, saya ingin cantik, saya ingin abadi, saya ingin hanya saya saja yang segala-galanya di kampung."
"Kamu tahu, kan, ilmu ini bukan hanya bisa menambah kecantikan, tapi bisa diwariskan kepada siapa saja yang kau pilih. Kau tidak bisa mati dan tidak bisa hidup tenang, tapi kamu akan beruntung karena ilmu ini juga bisa menghidupkan orang mati," jelas si Nenek.
"Saya paham, Nek." Wanita itu mengangguk.
"Sudah yakin dengan dosa yang kamu tanggung kelak?" tanyanya.
__ADS_1
"Siap, Nek," jawab Wanita itu.
"Ingat, pantang bagimu berdekatan dengan kaum lelaki yang beriman, senjata tajam dan suara azan. Bila kau sudah memilih jalan ini, maka bila kau mati karena dibunuh dan kepala serta badanmu dikubur terpisah, maka kau harus mencari tubuh baru, karena tubuhmu yang sebelumnya telah dikubur dan menyatu dengan tanah," petuah nenek itu. "Makananmu adalah janin merah tiga bulan, bayi baru lahir tujuh hari, kotoran manusia, air selokan, sampah dan darah wanita yang akan melahirkan atau dalam masa haid. Akan tetapi bila kau tidak menemukan bayi, kau bisa memakan hewan," pesannya.
"Akan saya ingat, Nek," janjinya seraya menaruh tangannya ke dada dan menunduk patuh.
"Baiklah, kita lakukan sekarang," ujar si nenek seraya menaruh tangannya ke kepala wanita itu dan membaca mantra-mantra.
"Mau cantik nyusahin orang!" Vanesa ingin menjitak kepala nenek itu, tapi suasananya tiba-tiba berubah. Kini dia tidak lagi berada di gubuk, melainkan sekarang berada di perkampungan ramai.
"Ini adalah malam di mana dia mulai menyatu dengan kekuatan itu," kata arwah itu seakan menjawab pertanyaan yang sempat terlintas di kepala Vanesa.
"Sepertiku?" tanya Vanesa.
"Ya, bedanya kau tidak inginkan kekuatan itu. Sementara ia menginginkannya," jawabnya seraya melayang menuju sebuah rumah sederhana dan sangat redup, karena hanya diterangi lampu obor di rumahnya.
Vanesa mengikutinya hingga di depan pintu saja saat arwah itu menerobos masuk ke dinding rumah. Dirasa Vanesa masih di luar, arwah itu berdecak kesal seraya menepuk keningnya dan keluar lagi.
"Masuk saja!" perintah arwah itu.
"Pintunya dikunci?" kata Vanesa bingung seraya menunjuk pintu.
Arwah itu memandang pintu sekilas. "Tak masalah, masuklah dengan menerobos pintu atau dinding," katanya.
"A-apa tidak apa, takutnya nabrak," kata gadis itu sedikit ragu dan wajahnya yang terlihat bingung.
Vanesa menggapai pintu itu untuk memastikan kata-kata arwah tadi. Benar saja, tangannya mampu menerobos pintu yang tertutup itu. Vanesa memandang pada arwah itu seraya tertawa geli dengan kebodohannya tadi.
"Masuk!" teriak arwah itu tidak sabaran.
Vanesa menerobos pintu dan dalam sekejap sudah berada di ruangan remana-remang, hanya diterangi lentera gantung. Di sana sudah berada tidak jauh darinya wanita yang tadi berada di hutan itu. Wanita itu sedang meregang nyawa, tubuhnya bergulingan di kasur dan berteriak kesakitan sembari memegangi lehernya.
"Dia akan melepaskan kepalanya," kata arwah itu.
"Paham, aku juga pernah begitu." Vanesa mencibir.
"Kupikir kamu tidak sadar," sindir arwah itu.
"Sakitnya alang-kepalang. Bagaimana tidak merasa, yang gilanya lagi aku juga merasa haus akan darah dan sering bertengkar dengannya. Ah, manusia tidak tahu agama, tidak ingat dosa. Gara-gara dia aku begini, kalau bukan karenanya hidupku pasti nyaman sekarang," keluh Vanesa.
"Curhat, Bu," sindir arwah itu seraya terkekeh geli.
Vanesa melipat kedua tangannya di dada dan cemberut seraya memandang ke depan.
Wanita yang sedang mengelinjang kesakitan itu berteriak-teriak dan anehnya setiap erangan yang keluar dari mulutnya tidak didengar sama sekali oleh para penduduk di sekitarnya. Diam dan tidak bergerak, itulah yang sedang dilihat mereka. Tubuh wanita itu diam saja dan berhenti berteriak. Kepala yang tadi menyatu dengan tubuh, kini terlepas dan mengeluarkan suara beriak air yang diperas.
"Dia bertaring, kamu bertaring juga gak, pas jadi seperti dia?" goda Vanesa.
Arwah itu tersenyum seraya memandang makhluk menyeramkan itu. Kuyang itu mulai meninggalkan tubuhnya dengan membawa isi dalam perutnya. Kepala itu melayang menerobos atap.
__ADS_1
"Kita ikutikah dia?" tanya Vanesa.
"Tidak perlu, ilusiku akan membawamu ke masa dia dibunuh," kata arwah itu.
"Kenapa kamu tidak membawaku ke tempat dia memangsa bayi?" tanya gadis itu.
"Tidak usah dilihat, kau pun, sudah tahu rasanya," sindirnya.
Suasana berubah. Kini mereka berada di sebuah halaman dan rumah yang berbeda. Di sana wanita tadi diarak keliling kampung dan dipukuli oleh masyarakat. Mereka berteriak-teriak marah.
"Kita bunuh saja iblis ini!" teriak lelaki di sana.
"Jangan biarkan pemangsa bayi ini hidup!" teriak lelaki di sana.
"Lakukan sesuatu untuk menghukum mati perempuan ini!" teriak seorang wanita seraya mengacungkan obor.
Ketua Adat datang dengan mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan amukan mereka. Seketika semua diam dan memperhatikannya.
"Siapa perempuan yang kalian siksa ini?" tanya Ketua Adat.
"Dia, Kuyang! Dia ini yang memangsa bayi dan hewan ternak kita!!" teriak mereka.
"Ya! Bunuh dia!" teriak mereka.
"Tenang, kita tanyakan dulu padanya!" seru Ketua Adat.
"Sudah jelas dia!" tuding mereka.
"Sudah! Sudah! Biarkan saya bertanya dulu!" Suara berwibawa Kepala Adat membungkam suara mereka. Pria tua itu mendekati wanita yang kini tersungkur dan tidak berdaya dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Dia mengangkat kepalanya dan memerhatikan leher wanita itu. Ada gurat bekas luka tergaris rata melintang di lehernya. Kini tahulah dia bahwa wanita itulah dalang dari semua kejadian yang menghebohkan desa itu. "Kenapa kau melakukan semua ini, Nak?" tanyanya.
Wanita itu terkekeh seraya meludahkan darah segar ke tanah. "Kalian tanya kenapa! Kalian yang buat aku begini! Kalian membuatku tidak punya pilihan selain melenceng dari jalan lurus!" katanya.
Kepala Adat berdiri dan bertanya pada mereka. "Apa yang kalian lakukan padanya?"
"Kami tidak melakukan apa pun?!" kata kasar keluar dari mulut seorang lelaki setengah baya.
"Dia datang merebut suami kami, membunuh anak kami, memakan hewan ternak kami!" tuding perempuan di sebelah kirinya.
"Bohong!" elak wanita itu seraya berdiri. "Aku memang ingin membalas kalian, tapi kalau kalian bilang tidak berbuat apa-apa, itu sangat munafik. Kalian menghinaku, mengucilkanku!" teriaknya.
"Pantaskah itu kau jadikan alasan membinasakan keturunan kami?!" tuding seorang ibu yang datang dan langsung menampar wanita itu.
Wanita itu tertawa dan menangis. Ia meremas rambutnya hingga rambut itu berantakan. Wajah cantiknya berubah mengerikan, kelopak bawah matanya menghitam. "Aku sakit hati!" teriaknya. "Aku akan bunuh kalian semua, hingga tidak tersisa!!" ancamnya dengan suara menggelegar memekakkan telinga mereka.
"Bunuh dia!" teriak mereka karena tidak tahan dengan teriakan itu.
"Tragis," gumam Vanesa sembari menggeleng lemah. Gadis itu memandang kasihan pada wanita itu.
"Awalnya manusialah yang membuat manusia merubah jalur, sekarang dialah yang tetap salah. Intinya apa pun itu, tetaplah di jalan yang benar," kata arwah itu sembari tersenyum simpul.
__ADS_1