
Rustam tidak menyangka Anggara akan mengutus istrinya sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka bersua. Gadis jelita itu tengah memandang ke arah dalam rumah megah tersebut. Ia berucap, "Pergilah biar kutangani semua ini."
"Tapi-"
"Ini masalah gaib, bukan urusan manusia seperti kalian." Sariani di tubuh Shabita tidak memandang kepada Rustam. Ia malah memandang rumah tersebut. Kuyang yang tadi diperintahkan untuk memusuhinya menunjukkan jalan kepadanya dengan masuk ke sana. Shabita mengikuti sambil melirik ke sana-kemari.
"Mereka di dalam sini!" tunjuk Kuyang itu saat mereka telah berada di ruang tengah. Kuyang ini melayang memandang Shabita yang kini sedang membuka penutup lantai menuju ke bawah sana. Saat Shabita masuk barulah ia masuk mengikuti gadis itu yang saat ini menuruni tangga.
"Di mana?" tanya Shabita seraya berhenti saat berada di lantai bawah.
"Di sana!"
Shabita berjalan tanpa diikuti Kuyang itu lagi. Entah kenapa ia enggan menunjukkan jalan kepada gadis itu, tapi Shabita mengerti situasi, jadi tidak merisaukan itu semua.
"Hihihi ...." Suara seperti Kuntilanak terdengar. Shabita melangkah lebar tanpa alas kaki menuju ke arah suara. Ia terkejut memandang betapa banyaknya mereka. Sungguh ia sangat kasihan pada mereka yang sekarang sedang makan ada pula yang tergeletak tidak berdaya dengan tubuh terpisah.
"Betapa jahatnya orang itu?" gumam Sariani.
Ya, mereka jahat. Aku tidak tahu bila Tini akan seperti ini juga. Suara Shabita terdengar olehnya, sedang berbicara di pikirannya.
"Hikz ... Hikz.... Mama, Ane mau pulang!" tangis seorang gadis kecil berusia tujuh tahun.
Shabita syok melihatnya. Bagaimana bisa mereka menumbalkan gadis kecil ini? Namun, itu terhenti saat sebuah suara datang dari arah belakangnya. "Germ!" Suara Kuyang yang menyambar langsung ke arahnya. Shabita segera bergeser sembari memiringkan tubuh ke kanan. Kuyang itu marah saat sasarannya tidak mengenai lawan. Maka ia berbalik menyerang kembali. Shabita segera berkhayang saat dadanya akan digigit oleh lawan, tetapi akibatnya usus yang menjuntai dipenuhi darah mengenai pakaiannya sehingga dada gadis itu penuh dengan darah. Bau amis menyebar membuatnya ingin muntah. Ia kembali menegakkan tubuh sambil memanjangkan kuku hitam miliknya.
"Hihihi ...." Kuyang itu terkikik menyeramkan. Ia kembali melesat cepat ke arah Shabita. Kras! Agh!" Ia tewas saat Shabita menyerangnya dengan kuku tajam miliknya. Kepala itu meleleh bersamaan dengan tubuh yang ada di sisi kirinya. Tubuh di dalam kurungan berbaju hijau bercampur biru itu mengelepar, bergerak-gerak kemudian hilang tenaga alias tiada.
Shabita prihatin, mereka mati sia-sia tanpa dosa, tetapi hanya itu caranya. "Kakak!" Gadis kecil itu memanggilnya. Ia berlari menuju besi terali. "Kakak, tolong aku!" mohonnya.
__ADS_1
Shabita terenyuh, ia segera membuka pintu. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil mengawasi keseluruhan gadis kecil ini.
"Jangan bebaskan dia!" bentak Kuyang yang membawanya ke mari.
Shabita terheran, ia memandang Kuyang itu dengan seribu tanda tanya.
"Ya, jangan bebasin aku. Hihihi ...!" Gadis kecil membuat Shabita terkejut. Gadis itu segera mundur setelah menyadari kesalahannya.
"Dia ratu Kuyang!" kata Kuyang tadi.
"Kakak, cantik. Aku suka Kakak, karena mau melepaskanku," kata gadis kecil dengan suara lembut. Namun, senyumnya sangat menyeramkan.
Shabita mundur, mendekati Kuyang tadi. "Kenapa tak bilang, dodol!" Ia marah. Ingin rasanya menjitak kepala Kuyang tersebut.
"Seharusnya kamu sudah menduganya," belanya.
"Ibunya tadi kubunuh, sekarang anaknya yang di sana," jelasnya.
"Karena ..." Belum sempat Kuyang itu menjelaskan. Gadis kecil itu maju dengan kecepatan penuh menyerang Shabita. "Awas!" Terlambat, Shabita telah terdorong mundur oleh terjangan gadis kecil itu.
"Kuya sekali anak ini!" Shabita menghalangi tangan hitam gadis itu yang hendak menyentuh jantungnya. Tenaganya kuat sekali! Shabita terus terdorong mundur didesak oleh gadis kecil ini.
"Hati-hati, dia itu perpaduan Kuyang dan Sima!" jelas Kuyang itu sambil memandang pertarungan mereka.
"Pantas ingin merebut jantungku!" gumam Shabita dengan mulut tidak bergerak.
"Menyerah saja, Kakak. Relakan jantungmu untuk kumakan!"
__ADS_1
"Tuh, jantung Kuyang banyak!" bentak Shabita. Bersamaan dengan itu ia menghimpun tenaga saktinya untuk menembak musuh. Shabita memerah lantaran tenaga gadis itu terus mendesaknya, mencoba menembus jantung dengan kuku meruncing. Ia memejamkan mata sembari mempertahankan diri.
"Agh!" erang gadis itu saat mata Shabita terbuka. Gadis itu menembaknya dengan sinar merah dari matanya. "Sial! Akan kubalas kamu!" Ia segera maju dengan kecepatan penuh menerjang kembali Shabita. "Hah, ke mana dia?" Gadis kecil itu mencari-cari kesemua tempat. Hingga matanya kini tertuju pada Kuyang tadi. "Di mana dia?" bentaknya seraya akan meraih Kuyang yang hendak berlari menghindarinya.
"Di sini!" sela Shabita seraya menggores leher gadis itu dengan kuku runcingnya.
Gadis itu berbalik, ia kehilangan lawannya kembali. Namun, lehernya terasa perih, maka ia mengusap belakang leher. Terkejut saat darah hitam menempel keluar darinya. "Racun!" Ia panik.
"Hihihi ...." Suara itu didengarnya. Ia merasa suara itu bukan suara Kuyang di sini, tetapi siapa yang bersuara itu?
Shabita muncul di antara Kuyang-Kuyang yang tadinya terkurung. Kini lepas dan menatap gadis kecil itu dengan marah. "Kalian mau balas dendam? Bantai!" serunya. Ia hanya diam berdiri saat mereka semua melesat menyerang gadis kecil.
"Asam!" umpatnya seraya mengarahkan cakaran kepada mereka yang hendak melukainya. Ia berhasil menangkap satu, kemudian memakan jantungnya. Dibuangnya, ia menangkap lagi yang lain dan hal yang sama terjadi.
Shabita tercengang tidak percaya. Gadis kecil itu memakan jantung mereka. Menyesal ia telah menghasud mereka melawan musuhnya. Ibu, aku pinjam kesaktianmu! Setelah menyampaikan permintaan, Shabita meruncingkan kembali kukunya. Kini, kuku mengalir banyak darah hitam menyerupai cairan oli dan akan terbakar bila mengenai benda atau siapa pun lawan yang tak dapat menandingi pamor dari darah hitamnya. Mata Shabita berubah dari hitam menjadi merah darah.
Gadis kecil itu terkejut, ia baru kali ini menyaksikan sendiri kesaktian Kuyang yang tidak pernah dilihat atau didengarnya. Namun, begitu ia tidak akan gentar. Sebagai ratu Kuyang, ia harus bisa menaklukan Kuyang satu ini.
Ia berlari cepat untuk menerjang Shabita yang hanya berdiri di sana. Shabita berkacak pinggang, ia membuka lebar mulutnya. Maka keluarlah lidah panjang yang siap menangkap lawannya. Gadus itu cukup gesit menghindari sambaran lidah Shabita, bahkan ia sempat memiringkan tubuh kemudian melukai lidah tersebut. Shabita menyesal telah mengandalkan lidah, akhirnya lidah ini terasa perih. Merasa Shabita menarik serangan lantas gadis kecil ini maju untuk menyerang dada.
"Asam! Kau genit amat! Dada mulu jatuhnya!" omel Shabita. Ia benci harus melindungi dadanya.
Gadis kecil ini tetap menyerang dada walau beberapa kali usahanya gagal ditangkis Shabita. Gadis itu menendang gadis kecil kemudian tidak sampai di situ, hingga gadis kecil terdorong ke tembok, Shabita menerjang dengan tendangan lagi. Hingga gadis kecil tadi menubruk dinding hingga jebol. Suaranya amat keras hingga Rustam terkejut mendengarnya dari luar sana.
"Apa yang terjadi?" gumamnya.
"Aku muak!" teriak Shabita. Ia segera menembakkan sinar matanya ke arah gadis tersebut. Dar! Meledak bersamaan dengan hancurnya lantai atas.
__ADS_1
Kuyang tadi menghampiri tubuhnya seraya menangis. "Aku sudah lama mati. Tubuh ini tidak berfungsi lagi, " lirihnya. "Tolong jenguk anak dan suamiku di sana, aku di sini akan mati dengan tenang," ujarnya seraya menjatuhkan diri kemudian tewas.
Shabita tidak ada waktu lagi untuk berlama-lama di sana. Ia segera melompat menembus lantai atas sebelum seluruh tempat itu terbakar habis. Ia keluar dari sana dengan membawa tubuh Kuyang yang telah lengkap. Dar! Rumah itu meledak bersamaan dengannya yang sudah berada di depan Rustam. "Kuburkan dia dengan layak," pinta Shabita seraya meletakkan tubuh itu di tanah. Ia berjalan meninggalkan Rustam yang kebingungan sendiri.