
Chang He memandang Shabita yang kini sibuk menyusun folder pada laci kabinet di ruangannya. Pemuda itu tersenyum beberapa kali ketika Shabita tidak sengaja menjatuhkan beberapa folder itu ke lantai. Gadis itu terlihat ceroboh, namun sangat lucu di mata Chang.
"Van, perlu bantuan?" tawarnya seraya menghampiri Shabita.
"Jangan panggil saya Vanesa, Pak. Nama saya Shabita," kata Shabita.
"Saya bisa panggil kamu semau saya," kata Chang yang segera meraih folder yang sedang dipegang Shabita.
Shabita diam, ia malas menanggapi pemuda ini. Sikap pemuda itu sangat ramah tetapi terkesan seperti sedang menggodanya dengan perlakuannya. Tampan, memang diakuinya, semua gadis pasti tertarik padanya, tetapi ia sudah menambatkan hatinya pada pemuda lain yang tidak mungkin ia bisa dapatkan. Hati kecilnya menangis ketika mengingat dia.
"Bisa ambilkan saya pulpen itu?" pinta Chang.
Shabita menuruti perintahnya, saat hendak mengambil pulpen yang berada pada meja Chang, gadis itu tanpa sengaja tersandung dan memeluk Chang. Dengan cepat ia berdiri tegap dan mengambil pulpen lalu diberikan pada atasannya itu. "Maaf, ini pulpennya," ucap Shabita.
"Em," jawab Chang dengan menatap pulpen pemberian Shabita. Ia memandang Shabita yang kini sibuk mengalihkan perhatiannya pada berkas laporan bulan kemarin.
"****! Kenapa lari, kau, kan bisa lebih lama lagi. Kapan lagi coba," omel Sariani.
Shabita melirik Sariani yang sudah ada di dekatnya. Arwah itu menatapnya dengan wajah masam. Wajah Shabita tiba-tiba merah dan tubuhnya panas-dingin.
"Kamu malu, ya?" goda Sariani.
"Bukan," bisik Shabita.
"Masa," godanya lagi.
"Ada yang sejenis denganku di sini, aku rasa dia sedang berada di sekitar kantor," gumam Shabita.
"Kau bisa merasakannya? Kemudian kenapa aku malah tidak merasa sama sekali?" tanya Sariani heran. "Tunggu, aku akan mengelilingi perkantoran ini. Akan kulihat apakah dia berbahaya untukmu atau tidak." Setelah berkata Sariani segera menghilang.
__ADS_1
Sariani melayang dan menembus setiap halat ruangan kantor. Ia sedang mencari-cari sumber keberadaan Kuyang yang dimaksud Shabita. Semua orang ditelitinya. Ia memerhatikan leher dan mengendus bau tubuh mereka.
"Ih, kok aku merinding, sih?" kata salah seorang karyawan perempuan yang saat ini sedang diawasi Sariani. Ia mengusap lehernya dan memandang ke sana-kemari.
Sariani meninggalkan karyawan tadi dan pergi lagi ke arah barat, di sana ada meja yang diduduki seorang lelaki tinggi, tegap dan gagah. Sariani memerhatikan pemuda itu dengan sorotan tajam. "Bisa jadi bukan Kuyang, tapi Palasik lelaki," gumamnya. "Tampan juga orang ini, tapi kok, ketampanannya aneh?" gumamnya.
Sariani terus memerhatikan pemuda itu, saat pemuda itu berjalan dengan membawa berkas masuk ke ruangan Chang. Kebetulan Shabita sudah duduk di tempatnya. Pemuda itu sempat memandang Shabita dengan tatapan tajam. Yang dipandangi panas-dingin, keluar keringat yang membasahi pelipisnya.
"Ini, Pak. Berkas yang diminta," katanya seraya menyerahkan berkas.
"Berikan saja sama dia. Biar diperiksa dulu," kata Chang.
Pemuda itu datang dan menaruh berkas di meja Shabita. "Tolong diterima," katanya.
Shabita tidak berani menatap wajah pemuda itu, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Sariani terus memerhatikan pemuda tadi dengan teliti. Saat pemuda itu pergi barulah Shabita bisa bernapas lega, dan Sariani segera mendekati Shabita.
"Kamu merasakannya, Van?" tanya Sariani.
"Bagaimana bisa keuangan kita merosot terus begini!" bentak Chang saat ia menerima telepon dari bagian keuangan.
Shabita sempat tersentak mendengar Chang membentak. Gadis itu segera menunduk saat Chang menatap wajahnya dengan marah, namun kemudian secara cepat tersenyum memandangnya. Shabita seperti air sejuk baginya saat semua kepusingan yang ia alami ini mencair karena satu wajah dari Shabita.
"Saya tidak mau tahu, cepat cari solusinya!" perintah Chang di telepon. Kemudian pemuda itu menutup teleponnya.
Shabita mengalihkan pandangannya pada berkas yang diberikan pemuda tadi, alangkah terkejutnya bahwa dalam laporan produksi tidak ada kendala, bahkan permintaan pasar sedang bagus. Keuangan pun makin menanjak naik, seharusnya perusahaan ini untung besar tetapi kenapa di telepon tadi Chang menerima laporan yang berbeda.
"Ini berbeda dengan berkas yang saya terima dengan laporan yang Anda terima di telepon tadi," kata Shabita.
"Mana? Sini saya ingin melihatnya!" perintahnya. "Kenapa bisa begini?" tanyanya saat berkas sudah dibacanya.
__ADS_1
Shabita diam dan menunduk patuh berdiri di depan meja Chang. Pemuda itu memijat keningnya dengan kasar. "Sudah laporan tidak jelas, uang di berangkas pakai acara kemalingan. Astaga!" Chang mengendurkan tali dasinya dan duduk bersandar pada kursinya. Ia pejamkan matanya sejenak untuk menetralkan kemarahannya.
"Pak, mau saya buatkan teh," tawar Shabita.
Chang membuka matanya dan memandang Shabita. "Tidak perlu, kembali saja ke mejamu," tolaknya.
Shabita mengangguk dan kembali lagi ke tempatnya. Ia heran kenapa perkantoran ini serumit ini, maklumlah ia hanya seorang dokter yang hanya mengurusi pasien dan diberi upah bila telah tiba gajian, jadi manalah mungkin paham. Gadis itu menghembuskan napas dan kembali memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya.
::::
Malam semakin larut saat Shabita masih sibuk di kantor sedang lembur meneliti setiap berkas yang sedang menjadi pokok permasalahan. Setiap berkas dibongkar habis olehnya, sedangkan Chang beberapa kali membanting berkas-berkas yang ia periksa ke lantai karena kesal tidak menemukan apa yang ia cari. Jam menunjukkan pukul 23:15, Shabita menguap beberapa kali dan hampir terpejam bila tidak mendengar suara Chang yang mengomel-ngomel tidak jelas.
"Dia mengomeli berkasnya, dasar pemuda aneh," tawa Shabita dalam hati.
Melihat Shabita tersenyum sendiri karena memandangnya, Chang diam dan berjongkok memandang Shabita yang sedang duduk lebih dekat lagi. "Lucu, ya?" tanya Chang dengan senyum menghias bibirnya.
Shabita menunduk karena malu sudah tertangkap basah memandang majikannya. "Tidak," jawabnya lirih.
"Saya lelah, Van." Chang membaringkan kepalanya pada pangkuan Shabita dan memejamkan matanya.
Shabita sempat kaget dan salah tingkah saat pangkuannya dijadikan bantal oleh Chang. Ada desiran halus merambat menelusuri tubuhnya. Ia ingin mengusap rambut pemuda itu, namun urung dilakukan karena tidak sopan, tetapi ketika ia menarik tangannya Chang menahannya dan meletakkan telapak tangan Shabita di pipinya.
"Pak," ucap Shabita lirih.
"Biarkan saya tidur," pinta Chang dengan masih memejamkan mata.
Shabita jengah menatap wajah tampan itu. Ia segera berpaling dan mendapati Sariani yang sedang memainkan kedua alisnya, menggoda dengan senyuman. Shabita memerah dan berpaling memandang ke lain arah, kemudian ia tanpa sadar membayangkan Anggara yang berada dipangkuannya. Gadis itu seketika tersenyum dan mengelus rambutnya, namun setelah sadar ia segera menarik tangannya dari rambut Chang. Ia meletakkan kepala Chang yang sudah tertidur pulas di tumpukan berkas. Gadis itu menangis tanpa suara.
Di tempat yang berbeda namun waktu yang sama. Sebuah kamar yang kini berbaring seorang pemuda. Anggara sedang memandang foto Shabita, foto yang diberikannya saat dulu Shabita menyerahkan kartu namanya sebagai Vanesa.
__ADS_1
"Aku tahu itu kamu, Van. Semua boleh bilang kalau kamu sudah mati, tapi aku tahu itu kamu. Aku gak peduli walaupun waktu itu aku yang menjadi saksi dan menguburmu. Bagiku kamu masih ada," gumamnya. "Bagiku kamu harus jadi milikku!" tekatnya. Air mata pemuda itu mengalir tanpa ia mampu tahan.