
Setelah kemarin Tini dinyatakan tidak bersalah dan hanyalah sebagai korban, maka Rustam mengantarnya ke Banjarmasin untuk bertemu keluarganya. Sedangkan Adi seperti biasa masih libur untuk bersantai di rumah. Anggara datang untuk menjenguknya.
"Kalau jenguk bawa makanan, kek. Ini hampa sekali!" protes Adi.
"Yang ada tamu yang dijamu. Bukan tamu menjamu tuan rumah!" bantah Anggara.
"Binimu mana, kenapa tidak diajak?"
"Kutinggal di rumah," jawab Anggara ketus. "Cari perempuan lain, sana!"
Adi meminta Anggara untuk duduk di depan teras rumahnya dengan bahasa isyarat. "Carikan, dong!"
"Ada tetanggaku. Orangnya manis, baik dan juga agresif."
"Yang mana itu?"
"Itu yang bawa rantang dulu," jawab Anggara sambil tersenyum mengejek.
"Malas, ah. Buat kamu aja. Kayaknya naksir kamu!" tolaknya.
"Ngapain, aku dah ada bini."
"Buatku aja binimu!" godanya.
"Huu!" Anggara memukul lengan pemuda itu. Yang dipukul hanya tertawa.
***
Rustam mengantar gadis itu tiba di kampungnya. Ia disambut oleh ibunya gadis itu.
"Siapa itu?" bisik Ibunya. Ia memandang pemuda tampan bertubuh besar, bercelana hitam kemudian berkemeja biru malam. "Calonmu?" tambahnya lagi.
Tini tersipu malu saat Rustam tiba-tiba memandang ke arahnya. "Bukan, Mak. Dia cuma ngantar, Tini pulang."
"Kalau tidak ada yang disampaikan, saya akan ke kantor dulu. Nanti saya datang lagi," kata Rustam.
"Masuk dulu, Pak," tawar Ibunya Tini.
"Tidak perlu." Rustam tersenyum sembari mengangguk. Ia meninggalkan rumah Tini.
"Tini, ke mana saja kamu. Terus itu kalau bukan siapa-siapa kenapa bisa di sini sama kamu?"
"Dia polisi, Mak."
"Jangan-jangan kamu macam-macam, ya di kota?" tudingnya.
"Enggak, Mak. Tuti cuma kesandung sedikit masalah." Tuti tidak akan menceritakan kesusahannya di rumah ini. Biarlah rahasia, daripada nanti malah menimbulkan kepanikan.
"Bapak kira tadi orang yang nyari, Bapak." Lelaki berkumis berumur lima puluh tahun keluar dari rumah.
__ADS_1
"Ngapain sembunyi tadi?" sindir si ibu.
"Cuma takut aja sama orang yang tubuhnya besar. Takut dihajar."
"Dasar!" ejek Ibu. "Masuk!" perintahnya kepada Tini.
***
Rustam tiba di kantor pusat. Ia duduk di depan Komisaris Fian.
"Kemarin kamu bilang apa, nggak jelas di telepon?" tanya Fian. Padahal ia sudah menerima Email dari Rustam.
"Soal si Tini. Dia sudah di rumahnya," jawabnya.
"Enggak takut dia di sana? Itu masih saksi."
"Enggak enak nginap di sana kalau belum dapat surat perintah dari situ," jawabnya.
"Oh, hahaha ... lupa. Nanti saya suruh Udin yang buatkan. Mau minum apa?"
"Kopi, deh."
"Bentar, saya keluar dulu." Fian segera pergi.
Rustam meraih berkas di meja orang itu. Ia membaca-baca. Tidak lama Fian datang membawa secangkir kopi hangat.
"Diminum," katanya seraya menaruh kopi di meja. "Soal gadis yang namanya Hana, itu gimana ceritanya?" tanyanya sembari duduk.
"Ih! Masa, sih? Kanibal dong, ya?" Fian merinding.
"Entahlah. Masih dalam proses."
"Menurutmu kasus ini bisa selesai dalam berapa hari?"
"Tergantung ingatan Tini dan orang kita," jawab Rustam seadanya. Ia pun tidak tahu dapat atau tidak.
"Ada baiknya dipancing saja agar mereka keluar."
"Maksudnya dengan mengambil risiko nyawa Tini begitu?"
"Mau bagaimana lagi?" Alfan balik bertanya. Ia pun cemas bila saksi utama malah dalam bahaya.
***
Tini memandang bulan. Ia baru saja menyelesaikan salat Isya, rasanya sakit sekali, tetapi ditahannya. "Sampai kapan aku begini terus?" gumamnya. Sebuah suara mengagetkannya. Ia berbalik dan memandang sebuah kepala melayang tinggi kemudian menghampirinya.
Tini mundur, ia ketakutan setengah mati. "Jauh!" usirnya.
"Hihihi ...." Hanya suara tawa itu yang menjawabnya.
__ADS_1
"Pergi, jangan ganggu aku!" Ia meraih sapu lidi di dekat bangku terasnya.
Tini, ada apa kamu teriak-teriak di luar?!" tanya Bapaknya sambil melangkah keluar.
Kuyang itu memandang sekilas, kemudian segera melesat meninggalkan Tini.
"Kamu ngapain teriak-teriak? Itu kenapa lagi tadi bapak dengar ngusirin orang, ada orangkah tadi?"
"Tidak ada, cuma kekelawar," ralatnya. Ia segera menaruh sapu itu di atas bangku.
Keesokan harinya ramailah kampung itu. Tini sempat mendengarnya saat dirinya sedang menyapu halaman.
"Anak Fatima nyaris dimakan Kuyang semalam."
"Masa, sih. Kok, aku aman, padahal lagi hamil lima bulan?"
"Mana kutahu. Hati-hati saja malam ini."
Ia meraba lehernya. Memastikan bahwa bukan dirinya yang mencari mangsa semalam.
Seorang perempuan berhijab hitam berbaju putih melewatinya. Ia sempat menatap Tini. Entah kenapa Tini merinding saat mata itu beradu tatap dengannya.
"Jangan percaya sama yang berselendang atau yang berhijab. Belum tentu seperti kita. Bisa jadi cuma kedok doang buat nutupin lehernya. Kita juga harus waspada sama perempuan yang memakai kerah, siapa tahu dia memakai baju itu buat nutupin lehernya." Kata-kata itu spontans membuat Tini menghentikan kegiatannya menyapu. Ia segera menaruh sapu di atas bangku kemudian masuk ke rumah. Ia menutup rapat kerah bajunya.
"Bagaimana ini, bagaimana kalau mereka menggeledah dari rumah ke rumah. Aku yang nggak salah bisa kena juga!" Ia panik.
"Tini, ngapain kamu berdiri di sana?" tegur ibunya.
"Enggak, Bu. Tini cuma bingung mau ngapain. Soalnya udah dikerjain semua."
"Kita mesti siap-siap. Soalnya nanti siang mereka akan mampir dari rumah ke rumah untuk memeriksa setiap leher warga. Kamu jangan ke mana-mana dulu." Ibu kembali ke dapur setelah berpesan.
Tini nyaris menangis. Ia tidak mungkin lari bila ternyata mereka melarang ada yang keluar dari kampung itu sebelum diperiksa terlebih dahulu.
Tok, tok, tok! Suara pintu membuatnya tersentak. Ia gemetaran.
"Tini, buka pintunya siapa tahu itu mereka!" seru sang ibu dari dapur.
Tini mundur, ia ragu. Suara ketukan itu kembali terdengar. "Tini!" bentak ibunya karena merasa Tini belum jua membuka pintu.
"Ya, Allah." Tini maju perlahan. Tangannya keram saat memutar ganggang pintu bulat itu. Ia memejamkan mata lantaran takut melihat tamu yang akan datang.
"Tini, ngapain kamu begitu?" tegur suara yang tidak asing di pendengaran Tini.
Ia membuka mata dan memandang ke luar. "Pak," sebutnya. "Masuk!" Tini segera menarik Rustam kemudian mengunci pintu.
"Ada apa, Tin?" tanya Rustam heran.
"Saya harus gimana, Pak? Mereka akan datang untuk memeriksa leher kami." Tini terisak.
__ADS_1
"Susst, jangan keras-keras." Rustam menyeka airmata Tini. "Saya yang urus itu. Pokoknya kamu diam saja," kata Rustam.
Tini menghentikan tangisnya. Ia tidak tahu apakah cemas atau senang dengan adanya Rustam di rumahnya, tetapi ia merasa aman bila pemuda itu mau menjamin keselamatannya dari amukan warga setempat.