
Siang itu Shabita sudah dinyatakan sehat dan boleh pulang. Inspektur Zamal datang untuk menjenguk gadis itu seraya menyerahkan bunga padanya. Shabita tidak menerima pemberian bunga itu, gadis ini malah mundur dan
bersembunyi di belakang Anggara. Anggara sempat heran dengan kelakuan kekasihnya itu, tapi tidak hiraukan keheranan di hatinya karena Inspektur Zamal bersikap normal seperti biasanya.
"Bunganya saya kok, tidak diterima Shabita? Saya jauh-jauh loh, bawa ini," kata Inspektur Zamal.
"Biar saya yang terima, Pak." Anggara segera mengambil bunga itu dari tangan Inspektur Zamal.
"Oh, ya. Katanya kalian akan pulang hari ini ya?" tanya pria itu.
"Iya, Pak," jawab Anggara.
"Anggara ... pulang yuk. Aku takut," bisik Shabita di telinga pemuda itu.
"Pak, saya mesti pulang cepat-cepat. Soalnya pacar saya ini merengek ingin pulang," pamit Anggara.
"Padahal saya ingin bicara empat mata sama pacarmu masalah kemarin," kata Inspektur Zamal dengan wajah kecewa.
Anggara berpaling untuk meminta jawaban darinya, tapi Shabita menggeleng kuat-kuat, wajahnya pucat. "Sepertinya dia belum ingin diganggu, Pak." Anggara berbalik dan memberi alasan.
"Sebentar aja kok. Saya gak maksud mengganggu, cuma mau tanya-tanya soal yang kemarin," kilahnya. Ia mencoba berjalan mendekati Shabita yang bersembunyi di belakang Anggara.
"Tolong pengertiannya, Pak." Anggara mencoba melindungi Shabita.
Inspektur Zamal ingin menggapai rambut Shabita, tapi diurungkannya karena Anggara segera merangkul gadis itu. Sikapnya sangat aneh di mata Anggara, seperti seorang yang sedang ingin atau merindukan Shabita untuk
menjadi kekasihnya.
"Permisi, Pak," pamit Anggara yang berjalan cepat berjalan karena ditarik oleh Shabita.
"Kamu kok aneh sih?" tanya Anggara.
diam saja tidak menjawab pertanyaan itu, ia tetap berjalan hingga ke parkiran Rumah sakit. Anggara menghela napas seraya mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
"Kita naik mobil!" ajaknya seraya menuntun gadis itu agar masuk ke dalam sebuah mobil silver.
Shabita menuruti Anggara. Ia duduk di depan di sebelah Anggara yang akan mengemudikan mobil itu. "Anggara ada yang mau kuomongin ke kamu," ucap Shabita serius.
"Ngomong apa?" tanya Anggara ia menghentikan kegiatannya yang ingin menjalankan mobil itu.
"Pak Zamal itu-" Belum sempat Shabita berucap, ia telah dikagetkan oleh suara ketukan dari jendela kaca samping mobil Anggara. Shabita menelan ludah dan memandang Anggara dengan sikap memohon agar pemuda itu
tidak menurunkan kaca jendela mobil mereka.
Kita tinggalkan dahulu Shabita dan Anggara di sana. Kini kita beralih pada Ali dan Irwan yang sedang mengawasi rekaman CCTV. Mereka masih berada di rumah sakit sedang mempelajari sebuah rekaman CCTV tadi malam.
Reno dan Aman juga di sana untuk di-introgasi.
"Dari rekaman ini sepertinya aku kenal orang itu?" gumam Ali. Pemuda itu mengetuk-ngetuk dagunya seraya berjalan mondar-mandir sambil berpikir.
Mereka sedang melihat seorang pria bertubuh besar sedang masuk secara sembunyi-bunyi di kamar mayat. Membuka semua kain penutup mereka dan menciumi aroma tubuh janazah itu. Mata mereka melebar tidak percaya saat pria itu mulai memilih salah satu janazah dan memakaninya.
__ADS_1
"Huek!!" Irwan serta staf Rumah sakit yang hadir itu mual melihatnya.
"Ini kayaknya aku kenal. Hampir sama seperti vidio rekaman pembunuhan kemarin." Ali yang tidak terpengaruh akan rekaman CCTV itu sekarang sedang mencari rekaman vidio yang ia simpan pada ponselnya. "Nah! Apa
kubilang, sama!" Ali bersorak kegirangan seraya menepuk bahu Irwan.
"Coba kulihat." Irwan segera mengambil ponsel dari tangan Ali.
Semua maju ingin melihat Vidio itu. Di dalam rekaman itu ada seorang pria tinggi bertubuh kurus sedang berjalan di belakang Inspektur Zamal yang sedang merokok. Ia membawa pisau lipat dan segera membunuhnya.
Setelah Inspektur Zamal tewas, pria itu kemudian jatuh ke tanah dan Inspektur Zamal hidup kembali. Mereka saling tatap, sama-sama merinding dan mulai membandingkan dengan vidio rekaman Rumah sakit itu.
"Pak Zamal!!" teriak Ali dan Irwan secara bersamaan.
"Kita harus melapor pada atasan. Dia harus segera diatasi kalau tidak mau jatuh korban lagi!" Ali segera pergi dan meninggalkan kantor.
"Tolong disimpan dulu sebagai barang bukti. Saya harus segera mengurus masalah ini," pesan Irwan pada Lidia yang hanya bisa mengangguk.
****
Di parkiran mobil, Shabita masih memegangi lengan Anggara agar pemuda itu jangan menurunkan kaca jendelanya. Anggara tidak menghiraukan ketakutan gadis itu, ia tetap menurunkan kaca jendela mobilnya. Inspektur Zamal tepat berada di sana sedang melihat ke arah mereka.
"Anggara ... jangan," mohon Shabita hampir menangis dibuatnya.
Anggara tidak langsung setuju. Ia memandang Shabita yang merengek sembari menghentakkan kakinya dengan memohon agar ia tidak menerima pria itu. "Tidak apa, sayang," ucapnya. Ia lalu mengangguk pada antasannya dan segera membuka kunci pintu belakang secara otomatis.
"Anggara kita putus kalau begini!" teriak Shabita. Ia ingin keluar dari mobil, tetapi Anggara sudah menjalankan
mobilnya lebih dahulu. Akhirnya ia hanya bisa diam dan diam-diam mengawasi Inspektur Zamal dari kaca spion depan.
Inspektur Zamal diam, namun sesekali ia memandang pada Shabita yang juga memperhatikannya dari kaca. Sesekali ia tersenyum pada gadis itu.
Handphone Anggara berbunyi. Anggara segera menerima panggilan itu. "Halo," sapanya.
"Anggara! Hati-hati dengan Pak Zamal. Jangan lengah karena kami sudah tahu siapa dia!"
"Maksudmu apa, Ali?!" tanya pemuda itu bingung.
"Pak Zamal sudah meninggal dan itu adalah orang lain. Dia dibunuh kemarin," terangnya. "Aku berada di belakangmu sedang membuntuti kalian," kata Ali.
Anggara segera melirik kaca spion samping dan benar saja, ternyata Ali sudah ada di belakangnya dengan mengendarai motor polisi. "Oke," jawabnya kemudian mengakhiri panggilan telepon. Anggara memandang Shabita yang sedang merajuk, kini tahulah ia apa yang menjadikan gadis itu sangat bersikeras melarangnya memberi tumpangan pada atasannya.
"Van, maaf ya. Kamu benar," ucap Anggara penuh sesal terlukis di wajahnya.
__ADS_1
Shabita menatap Anggara dengan menghela napas mencoba meredam rasa kecewanya. Baru ia mau membuka suara, sesuatu yang mengejutkan terjadi. "Anggara!!" Shabita berteriak histeris saat
leher Anggara dicekik oleh Inspektur Zamal dari belakang.
"Aku cemburu Shabita! Aku tidak suka dia! Aku akan menghabisinya dan mengambil raganya!" Inspektur Zamal mencekik Anggara lebih kuat sehingga Anggara sulit bernapas.
Mobil yang dikendarainya berhenti mendadak karena Shabita berinisiatif menginjak rem dan mengambil kunci mobil itu. Ia segera membantu Anggara lepas dari cekikan mayat hidup yang mencoba membunuh Anggara.
"Biarkan aku menghabisinya Shabita!" ujarnya.
Wajah Anggara sudah membiru dan bukan waktunya Shabita untuk takut lagi. "Lepaskan dia!!" teriak Shabita
seraya menarik paksa lengan Inspektur Zamal agar lepas dari Anggara.
"Biar kubunuh dia!" katanya penuh kemarahan sembari mendorong tubuh gadis itu hingga terlempar ke ujung pintu.
Shabita tidak kehabisan akal. Ia keluar dan segera berlari ke pintu mobil di mana Anggara duduk sekarang. Shabita
membuka paksa pintu mobil Anggara dan menarik pemuda itu dari luar. Susah payah ia menarik dan memberi pukulan pada kepala Inspektur Zamal agar pria itu melepaskan Anggara.
"Shabita!" Ali segera turun dari motor dan membantu gadis itu memisahkan Anggara dari Inspektur Zamal dengan cara membuka pintu tempat duduk pria itu dan menarik keluar atasannya.
Mereka terlepas dan saling jatuh ke tanah. Anggara yang sekarang telah bisa bernapas kembali segera dibantu oleh Shabita berdiri, sedangkan Inspektur Zamal masih belum puas kalau belum menghabisi pemuda itu, maka ia maju untuk menyerang Anggara yang belum siap akan serangan itu. Ali yang tanggap langsung menembaknya, tapi yang mengejutkan bagi Ali, bahwa ia ternyata tidak mempan senjata. Inspektur Zamal tetap maju dan menyerang Anggara yang hanya bisa menghindar dan menangkis tanpa mampu membalas. Sahabita diam sambil berpikir bagaimana caranya mengalahkan Toni yang sekarang ada dalam diri Inspektur Zamal.
Pakai aku Vanesa! Pakai aku! Kamu tidak akan mati kalau memakaiku, kamu akan kuat!
Shabita tidak mengindahkan bisikan itu, ia masih bertahan pada prinsipnya untuk tidak menggunakannya sebagai pilihan. Ia memandang Ali yang juga membantu Anggara melawan Toni. Tetapi yang namanya mayat
hidup, mana mempan dengan berbagai pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh mereka berdua. Toni tetap bugar walau sesekali terdorong atau bahkan terjatuh.
"Tabrak dia Vanesa!" perintah sebuah suara yang dikenali oleh Shabita adalah suara Sariani.
"Sariani," sebutnya dengan senyum menyambut kedatangan kawannya.
"Jangan bengong, cepat lakukan!" perintahnya.
Shabita segera sadar dari keterpanaannya karena bertemu lagi dengan Sariani. Ia segera berlari dan masuk kembali ke dalam mobil dan menghidupkannya dengan memutar kunci mobil serta bersiap untuk menginjak gas mobil. "Anggara! Ali! Menyingkir!" Shabita memberi peringatan pada mereka berdua. Saat mereka berdua mengerti akan maksud Shabita, maka gadis itu segera menginjak gas mobil dan menubruk Toni yang sedang berdiri di sana.
Tubuh Inspektur Zamal hanya terlempar tanpa mengalami cedera sama sekali. Membuat Shabita kesal dan mengulang lagi perbuatannya. Gadis itu kini menambah kecepatannya dan menabraknya lagi. Lagi-lagi tubuhnya hanya terlempar saja walaupun ada sedikit cedera yang terdapat di tubuhnya akibat ulah Shabita.
"Gilas Shabita, sampai putus kepalanya atau hancurkan tubuhnya. Karena kepala adalah kekuatannya!" perintah Sariani yang sudah duduk di sebelahnya.
Shabita segera menjalankan perintah itu ia segera mengulang perbuatannya lagi dengan menabraknya, tidak hanya itu gadis itu rupanya memiliki inisiatif untuk mendorong tubuh yang terlempar ke tanah itu menuju pohon besar dan menghimpitnya di sana dengan mobilnya itu. Gas tidak dilepas olehnya, ia memang sengaja menjepit pria itu dengan mobil agar tubuhnya hancur.
"Mundur Van, Lalu maju dengan kecepatan penuh!" perintah Sariani.
Shabita menarik mundur mobilnya dan mulai memainkan gasnya lagi. Ia maju dengan kecepatan penuh ketika Toni sudah tersungkur ke tanah. Akibatnya sungguh luar biasa, Pohon yang menjadi sasaran sebagai penghalang Toni agar tidak lari ke mana-mana, Bergoyang akibat tubrukan mobil Shabita. Gadis itu tersentak maju dan keningnya
terbentur setiran mobil dan berdarah. Shabita kembali duduk tegap tanpa menghiraukan luka di dahinya. Ia mengulang kembali perbuatannya dan terus hingga mobil berasap dan tak mampu lagi digunakan. Gadis itu
keluar dari mobil dan memeriksa keadaan Toni yang terhimpit antara mobil dan pohon yang hampir tumbang itu. Tubuh Inspektur Zamal hancur, Anggara dan Ali juga menghampiri Shabita untuk melihat keadaan atasannya.
__ADS_1