
Malam semakin larut, waktu telah menunjukkan pukul 00:00. Dua
orang anak magang sedang diberi tugas oleh perawat untuk berkeliling
mengawasi seluruh Rumah sakit. Mereka bercanda dan kadang bercerita
seram ketika melewati tempat-tempat yang sepi pengunjung.
"Kamu tahu gak, di sini juga ada mayat yang bisa ngomong sendiri pas ditanyain siapa yang ngebunuhnya?" tanya pemuda remaja berkulit sedikit kecoklatan dengan rambut ikal.
"Yang benar, Man. Baru dengar aku cerita begitu?" Rino temannya
mengusap tengkuknya karena merinding. Wajar saja ia bertanya karena ia bukan berasal dari Kalimantan.
"Di Borneo ini, mana ada yang mustahil. Orang mati saja bisa hidup lagi," kata Aman pemuda berkulit gelap tadi.
Pemuda berbaju putih sama seperti yang dikenakan Aman itu nampak penasaran. "Masa sih, Man? Bagaimana caranya?" tanyanya.
"Kamu mati dulu. Nanti kutetes minyak bintang, baru tahu kamu rasanya hidup lagi," katanya.
Rino memukul bahu Aman karena jengkel. Yang dipukul hanya
cengar-cengir. "****! Biar bagaimanapun aku masih mau hidup," omelnya seraya berjalan mendahului temannya.
Saat mereka melewati toilet, ada banyak orang yang mengantre di sana.
Rino terpaksa menunggu, sedangkan Aman malas untuk menemani Rino di
sana.
"Aku jalan duluan deh. Kamu susul ya?" katanya sewaktu di depan toilet tadi.
Rino hanya mengangguk sebagai jawaban setuju darinya. Aman mengambil sebatang rokok dari saku baju depannya dan menyalakannya. Ia menghisap dengan tenang seraya berjalan.
"Hey, tidak boleh merokok di Rumah sakit!" Seorang pemuda merebut rokok yang sedang dihisap oleh Aman.
Aman tadinya ingin marah, tapi setelah melihat yang memarahinya
adalah seorang polisi, ia mengkerut seraya menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. "Hehehe...," kekehnya. "Anu, Pak."
"Anu apa, kenapa kamu nge-rokok di sini?" tanyanya. Pemuda itu tidak lain adalah Irwan.
"Anu ... anu ...."
"Anu melulu jawaban kamu. Tidak bisa ngomong?"
"Eh, kenapa teman saya, Pak?" tanya Rino setelah ia menyelesaikan misinya di toilet tadi.
"Kamu merokok?" tanya Irwan pada Rino.
"Tidak, Pak," jawab Rino.
"Sini," suruhnya.
Rino panik saat tubuhnya digeledah oleh Irwan dan lebih takut lagi
saat Irwan menemukan korek api dan sebungkus rokok di saku celananya.
"Itu punya Bapak saya, Pak. Bukan punya saya!" eleknya cepat.
"Anak kecil kok, sukanya bohong. Kalian itu masih anak-anak, jangan
belajar merokok. Merokok itu tidak baik bagi badan dan dapat mengeringkan isi dapur," nasehat Irwan yang disertai dengan candaan
darinya.
"Iya, Pak. Akan kami ingat," kata Aman.
"Ingat ya. Nge-rokok itu tidak mengenyangkan. Walaupun kalian
menghabiskan dua atau tiga bungkus rokok, tapi perut kalian juga perlu
nasi. Kalau duit kalian habis buat beli rokok, maka kalian tidak bisa membeli makanan," nasehatnya lagi. "Ingat pesan saya dan sampaikan ke anak-cucu kalian kelak. Jangan lupa nama saya disebut sebagai penasehat
yang baik." Irwan berkata begitu dengan membawa rokok yang disitanya dengan perasaan bangga karena berhasil mengeluarkan kata mutiara tadi.
__ADS_1
"Man, itu tadi orang ngomong apa?" tanya Rino yang gagal paham dengan nasehat Irwan barusan.
"Ternyata dibalik kebodohanku, adalagi yang lebih bodoh. Syukurlah ternyata dunia ini selalu adil," ejek Aman.
"Menghina!" Rino melompat untuk menampar kepala Aman, tapi tidak
kesampaian karena tubuhnya yang lebih pendek dari Aman dan pemuda itu juga menghindar sambil tertawa mengejeknya.
"Hahaha..." tawa Aman seraya berlari.
"Ke mana kamu!" Rino mengejarnya.
Aman berlari-lari ke ujung lorong Rumah sakit dan karena ia melihat
Rino, ia tidak memerhatikan di depannya ada sebuah keranda di sana.
"Aduuh!!" Aman mengaduh saat ia menubruk keranda itu.
Sebuah keranda mayat tepat berada di ujung lorong terakhir Rumah sakit itu. Rino berhenti dan hendak menangkap Aman, tapi diurungkan karena Aman menunjuk sebuah pintu di sampingnya seraya menelan ludah dengan wajah pucat ketakutan. Rino spontan menggigit semua jari kedua tangannya dengan menampilkan wajah ketakutan.
"Kamar mayat, Man," katanya dengan wajah sulit sekali digambarkan. Campur aduk antara takut, geli dan gemetaran.
Kratak ... kresek ... nyam ... nyam. Suara itu datang dari dalam
kamar mayat yang terbuka sedikit. Rino dan Aman saling pandang dan
gemetaran.
"Apa itu, Ren?" bisik Aman seraya menggandeng lengan Rino.
"La-lari, yuk!" ajak Reno.
Aman mengangguk setuju dan mengikuti langkah Reno. Mereka segera menjauh, tapi belum beberapa langkah mereka berjalan, suara itu
terdengar lagi dan membuat mereka saling tatap penasaran. Saling
mengangguk dan kembali lagi secara perlahan. Mereka mengintip di balik
pintu yang terbuka sedikit itu. Kedua remaja itu tercengang dengan
mulut yang ditutup oleh telapak tangan sendiri agar tidak berteriak dan
dengan penerangan redup sehingga wajahnya tidak nampak sedang memakani tangan jenazah yang baru saja meninggal pagi tadi. Wajahnya dipenuhi dengan serat daging yang ia makan. Rino dan Aman gemetaran dan saling pandang lagi, kemudian segera berlari ke sana-kemari.
"Setaaan!!" teriak Rino.
"Zombie!!" teriak Aman.
"Anak-anak kebanyakan nonton, makanya jadi lebay begitu," kata salah
satu dokter pria yang bertugas malam itu. Ia kebetulan akan masuk dan
akan memeriksa Shabita, tapi terhenti saat melihat Reno dan Aman
berlarian seperti sedang dikejar setan.
****
PAGI hari sedang terjadi kegaduhan karena kamar mayat berantakan
dengan kain penutup mereka berserakan di lantai, serta ada beberapa daging dan tulang mayat yang terdapat di lantai. Satu jenazah menjadi pusat perhatian mereka, mayat itu tidak karuan lagi bentuknya. tubuhnya sudah tidak lengkap lagi(hancur).
"Kenapa jenazah ini bisa begini?!" bentak Kepala Rumah sakit bernama
Lidia. Lidia adalah perempuan matang berusia tiga puluh lima tahun dengan penampilan tegas dan kacamata yang selalu menghias wajahnya.
"Kemarin malam yang jaga adalah anak-anak magang dari SMK yang bernama Reno dan Aman, Bu," jawab Suster Maya.
"Tidak diawasikah! Tidak diberi arahankah! Kalau sudah begini, siapa
yang mau disalahkan! Kita! Kita yang salah! Kenapa kalian membiarkan
anak kecil yang bekerja tanpa diawasi begitu?!" omelnya. "Sebentar lagi
keluarga mereka akan datang menjemput jenazah ini, terus kita akan
jelaskan apa pada mereka?! Dimakan tikus! digigit anjing atau dimakan
__ADS_1
kalian?!" bentak Lidia dengan suara keras dan kemarahan yang memuncak.
Ia memandangi para staf Rumah sakit yang bertugas tadi malam. Mulai dari
perawat, dokter, OB hingga satpam.
Mereka menunduk takut melihat kemarahan Atasan mereka. Lidia berjalan mondar-mandir di kamar mayat itu, ia memberi isyarat pada OB untuk membersihkan tempat itu segera. Sedangkan yang lain tetap diam dipandangi olehnya. Lagi-lagi Lidia ingin mengomel, tapi segera
diurungkan olehnya karena percuma saja mengomeli mereka dan akhirnya ia hanya mampu membuang kasar napasnya.
"Suruh anak magang itu datangi saya ke kantor!" perintahnya. "Oh, ya.
Buat laporan ini dan bawa ke kantor polisi dan jelaskan saja yang sejujurnya pada pihak keluarganya." Lidia menghela napas mencoba bersabar.
"Tapi, Bu-" Salah satu mereka ingin berkata.
"Ini kesalahan kita, walau bagaimanapun ini tanggung jawab kita. Apa pun kerugiannya kita tanggung," jawab Lidia.
Sementara di kamar Shabita, Anggara sedang menunggu Dokter Geral
memeriksa Shabita, tetapi pria itu belum datang juga hingga pukul 11:15
ini. Katanya Shabita boleh ke luar kalau pagi ini pemeriksaannya dinyatakan telah mengalami perkembangan dari kemarin.
"Kok, dokter belum datang ya?" gumam Anggara seraya melirik arlojinya.
"Sabar, mungkin sedang memeriksa pasien lain," kata Shabita. Gadis
itu kini sudah bersiap berganti pakaian yang baru saja dibelikan Irwan tadi malam, atas suruhan Anggara.
Sebuah dress berwarna merah muda, berlengan panjang dan memiliki kerah berhias manik kecil berwarna hijau. Sungguh manis bila dipakai oleh Shabita. Anggara saja tidak pernah bosan melihatnya.
"Wah, cantik sekali pacar orang ini, jadi kangen," goda Irwan.
"Kukira tadi Dokter Geral," kata Anggara kecewa.
"Tadi di kamar mayat ada kasus, makanya para dokter disuruh berkumpul dulu," terang Irwan sambil mengamati Shabita dengan teliti.
"Kasus apa?" tanya Anggara.
"Ada mayat yang dinganggu di kamarnya. Tidak tahu tuh, soalnya berkas laporannya sudah ditangani Ali," jawabnya.
Melihat Irwan memandang Shabita yang merasa risih dipandang olehnya,
membuat Anggara berdiri dari duduknya dan langsung menampar kepala bagian belakang Irwan. "Mata dijaga!" bentaknya.
Bukannya mengaduh, Irwan malah tertawa dan berucap, "Naksir pacar
orang itu lebih menantang daripada tidak sama sekali," ujarnya dan
akibat ucapannya itu membuat Anggara melingkarkan lengannya ke leher
Irwan.
Shabita hanya menggeleng melihat kelakuan mereka berdua. Tidak lama
Dokter Geral datang dengan membawa berkas yang harus diisinya agar
Shabita bisa keluar dari sana. Melihat kelakuan dua pemuda itu membuat
Dokter Geral terpaksa mendehem. Mendengar orang mendehem, membuat dua orang itu sadar dan segera memisahkan diri, walau saling sikut diam-diam.
"Maaf, saya periksa dulu," ucap Dokter Geral. Ia memeriksa pergelangan tangan gadis itu, kemudian mata lalu detakan jantungnya. "Sepertinya ada kemajuan. Kamu boleh keluar dari sini, tapi ingat jangan lupa konsumsi vitamin yang sudah saya berikan, ya."
Shabita mengangguk, ia segera berdiri dari ranjang. Dokter Geral mencatat semua hasil pemeriksaannya dan memberikan beberapa kertas yang
harus disimpan gadis itu. Dokter Geral segera pergi setelah memberi
pesan pada Anggara.
Jangan pernah bosan baca cerita
ini ya... nantikan juga cerita selanjutnya dengan seting berbeda rencana
akan setting cerita di Thailan Shabita vs Palasik Thailan. Lebih seru
dengan banyak action dan kengerian yang lebih detil Jadi plis vote,
__ADS_1
bintang serta like agar cerita ini terus berlanjut